Cool CEO Couple Stubborn Girl

Cool CEO Couple Stubborn Girl
Kunci Pintunya!


__ADS_3

Tiono dan Han sedang duduk santai disofa ruang tamu mewahnya sembari menikmati susu kedelai.


Kedua kakek itu tercengang dan saling pandang melihat mobil Frem kembali kepelataran istana Han, masih sepagi ini. Frem turun dari mobil dengan sigap, lalu masuk kerumah dengan langkah tergesa- gesa.


Dahi kedua kakek mengernyit sempurna, melihat lelaki muda tampan yang biasa dengan ekspresi datarnya, sekarang menghampiri mereka dengan raut yang sangat berbeda. Dipandangi mereka Frem, dengan tatapan penuh selidik. Melihat mata Frem sembab dengan hidung merah, rambut sedikit acak- acakan, tiba- tiba menghadirkan fikiran buruk dihati Tiono.


Deg.


Dada Tiono berdebar, darahnya berdesir, mata berkedut, disertai telinga yang berdengung.


Apalagi begitu tiba didepan Tiono, Prem langsung menghambur kedalam pelukan kakeknya itu.Walau belum ada kata yang terucap dari bibir frem, selain airmatanya yang membasahi kaos putih tipis yang dikenakan Tiono, Tapi fikiran Tiono sudah terbang jauh, terbayang putranya ditanah


air.


" Ya, Tuhan...mudah- mudahan mimpiku


hanya sekedar bunga tidur. " Batinnya diguncang ketakutan yang besar.


" Sayang, ada apa?. "Han Tanoe tak tahan untuk tidak segera bertanya, karna cucu mereka jarang mengeluarkan airmata, apalagi sampai terisak begini. Lelaki itu memandang Frem yang nampak lemah dan berduka dalam pelukan kakaknya.


Frem melepas pelukan kakek Tiono, lalu beralih melempar tubuhnya kedekapan kakek bungsunya. Dua orang Pelayan yang ke kebetulan mau menemui Kedua kakek untuk menanyakan kebutuhan mereka, menyurukkan langkah karna merasa situasinya tidak pas, mereka terdiam sejenak.


少爷怎么了 Shàoyé zěnmeliǎo ( Ada apa dengan tuan muda? ) " Pria paruh baya itu bertanya pada rekan kerjanya.


Temannya balas menatapnya dengan wajah bingung, lalu pria itu menggidikkan bahu seraya menggeleng. Akhirnya keduanya memutuskan berbalik kanan.


" Kita pulang ! " Satu kalimat pendek bernada perintah keluar dari bibir Frem, setelah anak muda itu mengurai pelukannya dari Han.


Han yang kurang mengerti kembali menatap cucunya. " Aku ikut? Ada apa sebenarnya?." tanyanya lagi melebarkan mata sipitnya dan mengerutkan kening.


Bukannya menjawab, Prem malah balik memerintah. " Siapkan apa yang kalian anggap penting dibawa, Sepuluh menit lagi kita mengudara!, hanya menunggu pilot dan pramugarinya sedang dalam perjalanan menuju kesini!" Ujar Frem kuat, hingga menggema di seluruh ruangan. Para pelayan yang mendengar, langsung bergegas menghampiri tuannya.


Sedangkan Tiono kian cemas.


Deg


Deg


Tiono terdiam sejenak mengusap dada, tanpa perlu bertanya ia sudah tahu jawabannya, tiada yang kan membuat cucunya panik dan sedih seperti ini selain dari papinya. Ketika adiknya masih bingung dengan sang Abang yang bergegas berkemas dengan dibantu para


pelayan, Tiono berkata." Hanya Fredy putra kita didunia ini Han, saat ini tentu ada yang terjadi dengannya, makanya kau juga harus ikut.


Mendadak keringat dingin merembes dari selimut tubuh Han yang putih dan mengeriput. " A- Apa kita para pria tua yang berumur kepanjangan, bakal ditinggal lagi Ko? Hik.. Sekarang Han menangis sesugukan.


" Jangan menangis, Sebutkan apa yang kau pinta mau dibawa, katakan pada Soyin biar diambilkan. " Ucap Tiono berusaha menenangkan adiknya, walau hatinya berkecamuk, dan matanya sedari tadi berkaca- kaca. Tapi Tiono berusaha keras menahannya.


" Hik, aku tak butuh apapun, disana pakai apa yang kau punya saja. " Ucap Han masih terisak.


Para pelayan dengan sigap menyiapkan semua yang diperintahkan Tiono dalam sepuluh menit.


Frem turun dengan menggeret kopernya, ketika Chengyi tiba." Semua surat sudah didalam Jet. " Ujar Chengyi dalam bahasa Mandarin.


Serombongan pelayan mengantar Frem dan kedua kakeknya menuju Bandara khusus milik Han Tanoe. Kelima Pengawal juga sudah tiba didepan private jet itu.


Burung raksasa itu akhirnya mengudara. Prem menyampaikan beberapa peraturan pada kakek dan kelima anak buahnya. Semua manggut- manggut patuh.


Kemudian tiada lagi pembicaraan dalam perjalanan selama tujuh Jam lebih ini, yang terlihat hanya tubuh gelisah, mata berembun dan jantung yang memacu sangat cepat dari orang- orang tercinta Fredy Permana Tanoe. Juga takpula mata tua Tiono dan Han sanggup terlelap, walau berkali mereka merebahkan diri dikasur.


Semuanya menatap kosong seperti mata ikan asin.

__ADS_1


Pesawat mendarat di bandara pukul 16. 25. Semua turun bergiliran, Seorang pria muda sudah menunggu mereka diBandara sejak satu jam yang lalu.


" Kakak, Selamat datang ditanah air. " Sapa pria muda itu menyambut Frem.


" Mhem...Terima kasih, ayo kita berangkat." Ajak Frem sembari menatap kelima anak buahnya satu- persatu. Mengerti maksud tatapan big bossnya, mekanik segera memeriksa mesin, rem, sedang yang lain masuk untuk memeriksa seluruh isi mobil.


Mereka keluar dan mengangguk pada Frem sebagai pertanda semua aman. Edi hanya geleng- geleng kepala ketika dilakukan pemeriksaan pada mobil yang ia bawa.


Sedang kedua kakek yang sudah disamarkan Frem penampilannya hanya diam saja, pasrah dengan apapun yang dilakukan cucu kesayangan mereka.


Semua memasuki mobil, dengan sedikit bersempit- sempit didalam mobil, Mobil melaju menuju rumah sakit dengan kecepatan sedang, dikendarai oleh Edi.


" Ini kakak, masak mau melihat Papinya yang lagi kritis saja pakai pengawal sampai tujuh orang, seperti mau perang saja, pake curiga lagi dengan mobil yang kubawa, kalau tahu gini mendingan tadi bawa Fuso. " Sungut Edi didalam hati, Merasa jiwanya bersih dan tak ada dendam apapun terhadap tuan muda permana itu, ia keki juga dicurigai begitu.


" Bukannya tidak percaya padamu, tapi siapa tahu kau dikerjai pula oleh yang lain dan belum sempat memeriksa. " Ujar Frem seperti mengerti yang difikirkan Edi.


" Ma- maaf kakak, aku tidak terfikir kesitu, mengingat tuan besar diracuni, wajar kakak harus hati- hati, entah bagaimana lagi rencana musuh, kita tidak


tahu. " Ujar Edi merasa bersalah karna menganggap Frem berlebihan.


" Hhem..Frem menjawabnya dengan berdehem saja.


Sedang yang lain hanya diam dengan sikap siaga.


Sebentar kemudian notifikasi pesan Frem berbunyi.


" Bos, Tuan sudah melewati masa kritisnya, racunnya sudah bisa ditawarkan. Bunyi pesan wafi.


Frem mengusap dadanya dan tersenyum,


lalu menulis pesan balik. " Jaga tuan baik- baik, jangan sampai wanita itu menyuntikkan racun yang lain pula. Kami sudah hampir tiba." Balas Frem.


" Papi sudah melewati masa kritisnya." Jawab Frem sekali lagi menarik nafas lega.


感谢上帝 Gǎnxiè shàngdì ( Syukurlah ) " Balas semua hampir bersamaan.


Sedang Edi hanya tersenyum, Entah mengerti atau tidak apa yang diserukan ketujuh pengawal Frem. Edi menjalankan mobil dengan hati- hati. Karna tak ada desakan, ia memilih tetap dengan kecepatan sedang.


Sebentar kemudian datang balasan pesan dari Wafi.


" Baik tuan, wanita itu disini berjaga sejak tadi, dengan airmata buayanya." Balas Wafi.


" Selalu begitu dia dari dulu, begitu pandai bermain peran, berhati- hatilah, jangan memanggilku tuan muda dirumah sakit. Jean Bagaimana?


Tuan Jean tidak pernah komunikasi lagi dengan maminya. Dia juga ada disini bersama kekasihnya. " Balas Wafi.


" Usahakan Jean pergi dari situ sebelum aku tiba, tak mau Jean memanggilku kakak didepan ular itu." Titah pesan Frem.


" Ya, Perintah dilaksanakan."


Sementara .


Dirumah sakit, Jessi terus menangis, bahkan tangisnya makin keras saat dokter menyatakan masa kritis tuan Predy sudah berakhir. Jean dan Ella menatap kesal pada ratu akting itu. Tapi Jean diam saja, tak mau terlihat melawan maminya.


" Wajah sudah berubah, tapi hati tetap sama." Geram Jean dalam hati.


Menit berikutnya seorang dokter perempuan bermasker biru memerintahkan para perawat untuk memindahkan pasien keruang rawat VIP.


Wafi mengajak Jean dan Ella untuk keluar mencari makanan.

__ADS_1


" Nyonya juga sebaiknya pergi makan supaya lebih kuat setelah ini. " Ujar Wafi menyindir Jessi, sebelum melangkah.


Jessi yang sudah bosan turut keluar, ia ingin segera mencurahkan kekecewaannya pada seseorang.


" Mengapa tua bangka itu punya banyak sekali nyawa. " Umpatnya didalam hati.


Sedang Wafi tersenyum sinis, menatap kepergian wanita itu kearah lain.


" Nyawa manusia tetap urusan Tuhannya nyonya " Gumamnya lirih.


Lima menit setelah Jean, Ella dan Wafi pergi, Frem dan rombongan tiba dirumah sakit.


" Jangan Ikut! Mulutmu suka tak sopan memanggilku kakak didepan orang lain. " Titah Frem membuat Edi menghentikan langkahnya.


" Ternyata mulai hari ini tak boleh lagi memanggilnya kakak." Batin Edi.


Frem melangkah besar diikuti rombongannya.


Setelah bertanya pada resepsionis, ia segera menuju ruang rawat ayahnya.


Ceklek...


Pintu dibuka oleh Frem.


Dahi Frem Mengernyit melihat hospital bed Papinya kosong. Pemuda itu segera berlari kedalam, memeriksa keseluruh isi ruangan diikuti yang lainnya. " Tidak ada siapapun kemana Papi!. " Teriaknya keras.


Han terduduk lemas dilantai.


" Frem geram dengan muka merah. Bagaimana bisa dirumah sakit sebesar ini papi hilang diruangan VIP! " Pekiknya marah.


Sedang Tiono mematung dengan muka memucat seperti mayat hidup.


Ketika bayangan seorang gadis yang ia rindui muncul didepan pintu. Tiono merasakan ia sudah dialam lain.


" Tuan Permana diamankan oleh seseorang ketempat yang lain! Ruangan ini sudah dipasang alat kedap suara oleh seseorang, tiada gunanya anda berteriak tuan! " Ujar gadis culun sembari tersenyum smirk.


" Mimi... " Terdengar panggilan lirih dari bibir pucat Tiono sebelum pingsan. Untung pengawal Frem cepat menangkapnya.


" Angkat kakek ketempat tidur, sebentar lagi dokter akan datang memeriksanya." Ujar Mimi setelah menyentuh kening Tiono sekilas.


" Siapa kau! Aku akan menutup rumah sakit ini, kalau sampai papiku tak ditemukan! " Ancam Frem.


Gadis yang dipanggil Mimi oleh sang kakek tersenyum santai. " Terserah mu tuan! Aku hanya seorang OB. Ayahmu sudah aman, sekarang urus dulu kakekmu. " Ujar Gadis itu.


Frem dengan kesal menangkap tangan gadis culun itu. Tapi dengan entengnya Mimi menepis tangannya. " Jangan melecehkan perempuan karna kesal, Ayahmu aman tuan, ada orang lain yang berani turut campur mengatasi masalah keluargamu. " Bisik Gadis itu diujung kuping Prem dengan berjinjit.


Frem mengepalkan tinjunya, ingin marah, tapi hatinya lemah didepan gadis biasa ini.


" Siapa dia? Kenapa kakek memanggilnya


Mimi? Siapa sebenarnya gadis panti kakek? Kenapa wajahnya banyak? Gadis jelek ini lagi, menyebalkan sekali, tapi mengapa aku tak berdaya didepannya. " Batin Frem berkecamuk. Sementara gadis itu sudah menghilang dibalik pintu.


Sebelum Frem tersadar dari lamunannya.


Sementara ditempat makan, Jean dan Wafi sudah pusing, tak hentinya mendapat telfon dari para pemilik saham yang mendesak mereka untuk mengadakan rapat. Kabar tentang tuan Permana membuat para investor Gelisah.


" Tuan Fredy meninggal! Kami butuh president group yang baru. " Ujar pak Hari dari sebrang telfon.


" Apa? Mana!" Wajah Wafi memucat, perasaan tadi Bosnya baru saja melewati masa kritisnya, Bagaimana bisa tersebar kabar seburuk ini pada pemilik saham

__ADS_1


Belum sempat Wafi menjawab sudah banyak wartawan yang menunggui dibalik pintu kaca kafe itu. Dalam kepanikan Wafi berteriak. " Kunci pintunya! " titah Wafi.


__ADS_2