Cool CEO Couple Stubborn Girl

Cool CEO Couple Stubborn Girl
Masak Ngak?


__ADS_3

Pukul tiga dini hari, Bahri bangun dan melihat Frem yang sudah sibuk meeting dengan klien dari Amerika melalui Vidio Zoom. Bahri pamit dengan berbisik untuk sahur disebelah bareng Cery dan anak- anak yatim.


Selang seperempat Jam dari kepergian Bahri, kedua kakek terbangun dan mengajak frem sahur. Frem mengikuti langkah kakeknya setelah menutup meetingnya. Dengan langkah gontai pria muda itu berjalan menuju ruang makan pegawai .


Begitu tiba mereka langsung disambut dengan berbagai menu yang sudah tertata dengan bagus dimeja makan, tapi dalam pandangan Frem semua terlihat hambar.


Ternyata makanan itu terlihat dan terasa lebih sedap tatkala yang makan suasana hatinya sedang senang. Makan ngumpul dengan orang yang dihati juga sebuah trik meningkatkan selera makan. Sahur kali ini tidak seperti malam kemarin. Frem berkali menatap kursi yang biasa diduduki Mimi yang sekarang kosong,makanan yang ia makan rasanya agak kasar ditenggorokan.


" Ini pasti masih Efek ngantuk." Frem mencoba mengingkari perasaannya, tidak mau terlalu lemah hanya karna memikirkan seorang gadis. Walau ia sudah tahu Mimi dan Sonia adalah gadis yang sama, gadis masa lalunya, tapi sekali lagi Frem mengingatkan dirinya, jika Sonia belum tentu merasakan hal yang sama, benarpun Sonia sudah memakai cincin pemberiannya, belum jelas baginya alasan gadis itu memakainya, mereka belum pernah membicarakan itu, baik dimasa dulu maupun dimasa sekarang. " Heh cepatlah makan! karna malam ini kekasih kami tidak akan menyuapimu." Han sengaja datang kesamping Frem dan berbisik dikuping pria muda itu.


Tidak berapa lama sejak adiknya kembali kekursi makannya,sekarang Tiono yang berjalan dan berdiri disisi Frem." Makanlah, bahkan kami belum menghukummu setelah berani tidur dengan Sonia kami, sekarang saja kau sudah seperti orang yang sangat lemah, bagaimana bisa mempertanggung jawabkan perbuatanmu? " Bisik Tiono menantang Frem, sengaja ini Tiono lakukan, agar Frem membuat pengakuan tentang perasaannya pada Sonia, karna sampai detik ini, pria kesayangannya belum pernah cerita ataupun bertanya apapun padanya.


" Kek, kembalilah kebangkumu dan selesaikan makanmu, tidak kau lihat orang- orang memandang aneh pada kalian." Balas Frem.


Tiono menatap pada orang- orang yang sempat menghentikan makannya menatap pada Tiono, Tiono pun balas tersenyum pada mereka, hingga orang- orang kembali makan. Tionopun kembali kekursi nya.


Frempun kemudian meneruskan makan, walau tidak terlalu berselera. Frem berusaha keras agar tidak bersisa, syukurlah ia mengambil porsinya kecil, jadi masih bisa dipaksa menghabiskan.


Selesai makan dan membuatkan susu dan obat pada kakeknya, Frem mulai sibuk dengan telfonnya, mulai melakukan peninjauan perusahaannya yang diluar negri, membaca laporan- laporan yang dikirim oleh berbagai departemen yang dimintanya kemarin.lalu mengirim beberapa draff tugas pada asistennya yang disana, sampai Azan subuh tiba. Lalu tanpa bicara, Frem kekamar mandi, mandi cepat dan bersuci.


Setelah Frem bersuci, ia meminta kedua kakeknya melakukan hal yang sama. " Cepatlah! Kutunggu kalian, biar subuh bersama, sebab setengah jam lagi, asistenku akan tiba menjemputku, karna semalam kalian sudah menculikku." Ucap Frem.


Kedua kakeknya saling mencebik, namun mereka tetap patuh. Sesuai Janjinya Frem benar- benar pergi sebelum kedua kakeknya sempat bicara.


" Frem... kami! " teriak Han saat Frem siap untuk melangkah. Frem mengangkat tangannya tanpa berbalik." Tunggu sabar, aku masih banyak urusan penting. " Ujarnya tak terbantah.


" Koko, bagaimana ini? Kenapa ia selalu begitu, tidak mau mengungkapkan perasaannya langsung pada kita, bahkan setelah kejadian semalam, pria itu cuek saja, malah bicara dengan orang saat kita tidur." rengek Han pada Tiono.


" Biarkan dia bekerja, tugasnya tidak mudah, sebagai orang baru diPJG, kita bicara saja dulu dengan Sonia, setelah itu baru mengatur langkah." Tiono mencoba menenangkan Han dan hatinya sendiri, walau ia tak yakin bisa tenang- tenang saja.

__ADS_1


Sementara diRumah utama keluarga Kims, Sonia juga tidak bisa makan dengan lahap, bagaimanapun juga sebagai seorang gadis, ia merasa malu sudah tertidur disisi seorang pria muda, apalagi Boy menyatakan kalau akan segera berbesan dengan keluarga Permana, entah karna ia bekerjasama dengan tuan Fredy tanpa izin abangnya, atau kesal dengan peristiwa semalam, Sonia masih belum faham maksud dari abangnya, tapi entah mengapa kalau menyangkut Cucu pertama kakek Tiono ini, Sonia kehilangan kecerewetannya untuk bertanya, bahkan setiap dikatakan soal Frem Sonia merasa malu, dan baru dengan pria inilah Sonia merasa Salting begitu.


" Aku harus tanyakan pada kakek tentang Seno yang ia bilang waktu itu, segera memintanya untuk mempertemukan kami, kalau kakek salah tingkah, berarti yang dia katakan adalah pria ini, ia mungkin sengaja berbohong untuk mengetahui perasaanku." batin Sonia.


" Makanlah yang banyak Sonia, tidak mau melihatmu kurus sekali saat jadi pengantin lebaran nanti." Ujar Bella mengejutkan Sonia.Sekali lagi Sonia salah tingkah, pipinya menjadi merona kembali.


" Kak, jangan begitu, belum ada juga yang melamarku." Elak Sonia.


" Harus segera ia melamarmu, baru kamu adikku yang sudah kubebaskan kemanapun, tapi kalau sudah sampai ditahap begitu aku masih diam, apa artinya diriku sebagai Abang satu- satunya." Ujar Boy disela suapannya.


Deg


Deg


Deg


" Sudah, kalian jangan membully putriku saat makan, lihatlah makanannya terasa bagai batu karna ulah kalian." Cegah sarkas Willim.Bukannya reda Sonia malah makin salah tingkah.


" Pa- papi apaan sih, kok ngomongnya gitu, ini makanan enak bangat sih, Sonia melahap makanannya dengan besar, hingga hampir saja makanan itu termuntahkan saking kasarnya ditenggorokan.


" Sayang, makan baik- baik, jangan dengarkan mereka, dengarkan saja kata hatimu, bagi mami kau masih saja gadis kecil mami yang dulu, tidak akan membiarkan mereka memaksamu, andai itu bukan yang kau mau." Sekarang Anjani mengeluarkan suara emasnya untuk membela putri kesayangannya.


" Ya, Onty jangan mau dibully sama ayah dan bunda, apalagi dipaksa menikah, jika Onty merasa belum siap dan semua baik-baik saja, mana boleh mereka memaksa." Timpal Nabila yang sudah remaja. Nabila mendapat polototan oleh Bundanya, tapi gadis remaja itu tidak peduli.Sejak kecil ia memang sudah kagum dengan kemandirian ontynya, jadi ia percaya ontynya bisa jaga diri dan jaga hati sendiri.


" Onty sudah besar, jangan main menikahkannya sebelum tahu pasti isi hatinya." Ucap Nabila berlagak dewasa.


Boy tersenyum menatap wajah polos dan jujur Nabila putrinya." Kadang orang dewasa pun susah memahami isi hatinya sendiri sayang, perlu diingatkan dan diuji oleh sekelilingnya agar paham." Balas Boy. Sedang Sonia yang jadi bahan hanya pura- pura bisu. Meneruskan makannya dalam diam sembari memberi kode, kalau lagi makan jangan brisik.


" Dasar gadis bandel, sudah dia yang menyebabkan orang jadi kacau ketika makan, malah menyalahkan orang melanggar aturan makan." Kesal Bella.

__ADS_1


" Entah mengapa hanya Sonialah adik ipar yang paling banyak menguras perhatianmu Bella, seperti barsaing saja." Anjani menatap Bella dengan sorot mengingatkan. Bellapun akhirnya diam.Kemudian hening diruang makan itu,sampai terdengar dentingan piring- piring yang dibawa bibi menuju wastafel.


Sedangkan dikediaman Utama keluarga Permana. Jean Sahur bareng Edi, paman Fe, bibi Mei." Paman, sepertinya mami sudah merestui pernikahanku dengan Ella, buktinya dia sampai meminta orang untuk membuatku tidur bareng Ella dan mengurus fotografer untuk membuat gambar kami." Ketus Jean.


" Apa? ini tak mungkin, semua pasti meleset Jean, bukankah selama ini nyonya Jessi selalu menunjukkan sikap tak suka pada non Ella." Balas bingung Feihong.


" Ya paman, aku tahu ini salah, tapi ini akan kujadikan alasan kuat untuk menikahi Ella, setelah ini mami takkan bisa menolak." Besok malam lamarkan Ella untukku." Ujar Frem yang membuat semua menatap Jean dengan mata membola.


" Jean! Apa kau sudah yakin nak? " tanya paman Fei yang sudah bisa mengatasi suasana hatinya.


" Kalau empat tahun yang lalu tidak, tapi waktu empat tahun telah mengajariku, kalau tidak semua perempuan seperti mami, dulu Ella mencintaiku karna harta, tapi setelah aku sakit dan melewati banyak hal, akutahu sekarang ia jauh berubah, ia mencintaiku dengan tulus, bahkan akupun sudah merasa sangat ketergantungan padanya. Akupun mulai mencintainya paman, jadi tunggu apa lagi? " Ucap mantap Jean.


" Ya, jika ada orang yang beriktikad jadi lebih baik, dan menunjukkan kesungguhannya untuk berubah, kita tidak boleh melihat masa lalunya." Timpal bibi Meiwa.


" Tidak perlu menunggu lagi, tinggal beli cincin, lamar dan kawinin.He...he..." Balas Edi yang dari tadi diam.


" He...He...Jean turut tertawa, pipinya juga sedikit merona." Kalau Lu kapan nunjukin gebetan lu Di? buat paman Fei bantu lamarkan juga." Ujar Jean mengatasi kegugupannya.


" Tunggu dan urus Bos dulu, habis itu baru aku! " Balas Edi berbinar.


" Emang sudah ada? paman lihat kau hanya sibuk mengurus Nak Jean saja " tanya Fei bingung.


" Adalah paman, masak ngak?akukan bukan kunsa, lagian masak Galteng Aliyas Gagah Teleng gini ngak ada yang kepuncut." he...he...Canda Edi.


Ger....


Semua tertawa, hingga Jean merasa makin bahagia. " Inilah keluargaku, mereka begitu tulus padaku, aku beruntung tidak seperti mami Nabila, punya sahabat dan asisten penghianat, semoga karmaku atas perbuatan mami Jessi sudah cukup. " Harap Jean dalam hati.


Mat Pagi Senin..,Walau mungkin tidak sesuai ekspektasi, tapi kalau mampir kasih tanda juga ya say...Like, komen, fote, hadiahin dan Faforitkan karya ini.

__ADS_1


__ADS_2