Cool CEO Couple Stubborn Girl

Cool CEO Couple Stubborn Girl
Kotak Ajaib


__ADS_3

Tak sabar Hendra ingin melihat Jessi insyaf, walau Hendra mengakui kepicikan hati kekasihnya, Hendra tak pernah putus harapan. Baginya Jessi segalanya, ia sadar sepenuhnya bila cintanya buta, tapi Hendra tidak pernah menyukai wanita lain, sejak kecil ia sudah menyukai Jessi. Tapi obsesi dan kelainan Jiwa Jessi membuat Hendra harus bayak bersabar menghadapi wanita yang sudah sejak kecil dirawat oleh ayahnya ini.


Sementara Frem yang baru menyelesaikan makan dan meminum susunya, juga tak sabar untuk menemui Wafi. Ia ingin tahu secepatnya dengan gadis masa kecilnya itu, dan ingin menanyai langsung pada Sonia, mengapa memberi cincinnya pada Mimi. Tapi entah karna apa, didekat Mimi terasa sangat nyaman. Frem menatap Mimi


lekat, ingin menanyakan soal cincin itu, tapi seperti sebelumnya, ia terpaku menatap mata itu, apalagi bibir itu,ditambah kulit Mimi yang entah mengapa subuh ini menjadi lebih cerah. Gimana tidak Sehabis Sholat Sonia tidak sempat make Up lama, jadi wajah cantiknya tidak  tersamarkan dengan sempurna.


Azan subuh memangkas tatapan hangat Frem. " Kalau puasa ya harus Sholat, sudah sunatan kan?" Tanya Mimi Gamblang, membuat pipi Frem merah karna malu.


" Gadis ini, tidak malu sedikitkan menanyakan hal seintens ini, jangan-jangan ia tiada ubahnya dengan gadis metropolitan lainnya, sudah sering dipakai, kalau tidak begitu, bagaimana ia tidak punya segan menyentuh pria, biar itu muda atau kakek-kakek. " Frem mulai berburuk sangka.


"Tapi Ia melakukan setiap pekerjaan dengan tulus dan tanpa beban, andai Sonia tak menyukaiku setelah dewasa,  aku bersedia menikahi Mimi demi kebahagiaan kedua kakekku, tak peduli gadis ini sudah tak suci sekalipun. Tidak! apa yang kau fikirkan Frem? Bisa- bisanya menghianati Sonia sebelum bertemu, hanya karna gadis biasa ini, Bahkan seluruh gadis dinegara tempatmu dibesarkan tak satupun membuatmu berfikir begini." Frem kembai bertikai dengan hatinya.


" Hey tuan, hallo.. dengar tidak ucapanku tadi? " Mimi mengipaskan tangannya dengaan lancang dimuka Frem, tapi sekali lagi Frem tak bisa marah.


Malah lidahnya mengucapkan hal yang selama ini


jarang keluar dari mulutnya. " Ma- maaf, aku sedang mengingat doa yang pernah diajarkan paman Syam. Guru ngajiku dikota B saat kecil.


" Jawab Frem berkilah.


Mimi tersenyum, berarti disana Tuan belajar agama juga, artinya tuan Frem sudah sunat. " Ujar Mimi tanpa canggung sedikitpun.


Prem geleng- geleng kepala. Sekali lagi menguatkan prasangkanya kalau Mimi gadis hanya sekedar status. Apalagi detik berikutnya Mimi sudah mencekal tangannya, dan menyeretnya meninggalkan dapur. " Benar-benar terlalu berani untuk seorang gadis. " batin Frem.


Begitu sampai dikamar, Frem segera  menuntut Wafi Cerita. " Bagaimana kau menemukan data tentang Sonia. " Ujar Frem setelah mengunci  pintu. Wafi tidak menjawab, tapi pria muda itu menyodorkan sebuah kotak makan yang


didalamnya ada saputangan, surat Frem, dan surat yang ditulis tangan Sonia sendiri, berikut sebuah Chip.Frem tidak mengambil Chip itu, tapi ia hanya mengambil yang miliknya saja. Digenggamnya sapu tangan itu dengan bergetar. Kemudian meraih surat Sonia.


Hanya sebaris kalimat tertulis disurat itu.


Seno Fremudya Permana. Munkinkah Cucu kakek ini Senoku?


Deg


Deg


Deg

__ADS_1


Sebaris kata yang cukup membuat jantung Frem memacu lebih cepat.. Berkali dirabanya dada sendiri. " Aku tak sabar secepatnya menemui papi, mengatakan padanya calon menantunya sudah bertemu, dan memintaya melamarkan Mimi


pada Bule tua itu." Sorak Frem tanpa bisa menyembunyikan wajah cerahnya.


" Walaupun ia tak secantik yang bos fikirkan selama ini? " tanya Wafi menguji tuannya.


"  Aku tidak peduli, dia sudah banyak menipuku, aku akan menghukumnya seumur hidup menjadi milikku." akan menyamarkannya selamanya dari dunia, hingga aku saja yang boleh menatap cantik


atau jeleknya dia." Ujar Frem mantap.


Semua pengawal Frem merapat, secara bergantian mengulurkan tangan pada bos mereka.


" Selamat Tuan! Kami memang sudah mengira sejak awal, Mimi adalah Dokter itu,


dia juga gadis yang ada di layar tuan, tapi kami


takut menyampaikannya, takut mata kecil kami divonis salah lihat. " Ucap Tian, pengawal Frem yang paling pendiam.


" Maaf...kalau  selama ini saya terlalu ketus dan kadang meremehkan kalian. " Sahut frem dengan senyum hangat.


" Cinta bisa menurunkan Ego beberapa Kilo Lho Sian. " He...he..." Kekeh Wafi.


"  Emang hati sama dengan bawang? ditimbag- timbang! " Sanggah Yonghi.


" Emang! Hati bos memang banyak pertimbangannya, makanya lodingnya lelet. " Sambung Lim, yang paling imut.


" Enak saja, mulai berani kalian pada ngatain aku ya! " Sanggah Frem membelalakkan matanya.


He...He...Santai aja Bos,Jaga Emosi, kan puasa.


" Balas Wafi


Kemudian Gelak tawa membahana diruangan pribadi Sonia itu. Belum berhenti derai tawa itu,


pintu sudah digedor dari luar.


" Frem... Wafi, Cepat Sholat Subuh, habis itu keluar! dik Mimi Kami mau siap-siap berangkat kerja!

__ADS_1


" teriak kedua kakek.


" Dasar Jeckichan kembar. Brisik saja. " Gumam frem yang disambut senyum oleh semua anak buahnya.


" Baik Kakek ! " teriak Frem tak kalah keras, kemudian berdiri untuk kekamar mandi.


" Simpan kembali kotak ajaib itu ketempat dimana kau temukan Waf, jangan ada yang bersikap


berbeda setelah ini."Titah Frem sebelum masuk kekamar mandi.


Semua mengangguk. Sedang Wafi bergegas merapikan kotak Sonia.  Setelah itu tak lupa juga Wafi menghapus rekaman CCTV." Mudah-mudahan sebelum ini nona belum memeriksa telfonnya. " harap Wafi dalam hati. Wafi tak mau rencana tuannya lebih dahulu diketahui gadis bandel itu.


Sementara Sonia yang baru saja menyelesaikan kewajban subuhnya, mencoba membuka telfon genggamnya, untuk memastikan keamanan kamarnya yang dipijami semalaman untuk cucu kakek dan anak buahnya." Ya ampun...Gimana bisa aku seceroboh itu ya, kalau saja kamar kakek tempat mereka, kakek yang nginap dikamarku ini takkan terjadi. " Sesalnya begitu tahu rekaman CCTV yang ia pasang dikamarnya semalam sudah dihapus.


" Tak Usah dipusingin, cucu kakek itu semalaman cuma dipos satpam, jadi mana sempat memeriksa


barang-barang adik. " Bujuk Tiono sembari duduk bersila disisi sajadah Sonia.


" Mungkin mereka tak ingin saja, diintipin saat buka baju, tubuh mereka kan Bagus semua, takut dik Mimi ngiler. " timpal Han menggoda Sonia.


Begitu Sonia ingin menghukum kakek Han, Tiono Bersorak. " Nanti terlambat kerumah sakit,sayang!


  katanya hari ini mau mendampingi para ahli Forensik itu melakukan Autopsi."


" Iya ya kek, sampe lupa. " ucap Sonia segera bergegas rapi- rapi, lalu pamit menuju kamarnya.


Baru saja Sonia didepan hendak mengetuk pintu,  anak buah Frem keluar dipimpin Wafi.


" Makasih sudah dikasih tumpangan ya Mi. " Ucap Wafi Lirih.


" Ya, sama-sama. " Balas Mimi curi pandang pada  Frem yang berjalan paling belakang.


Semua anak buah Frem menunduk dan tersenyum tipis. Sedang Frem kembali menunjukkan wajah datarnya saat berpapasan dengan Mimi.


" Berarti tak ada yang mengintip kotak ajaibku. " batin Sonia.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2