
Tak dapat diungkapkan dengan kata- kata betapa kesal dan kecewanya Jessi dengan apa yang terjadi, ia sudah dengan rapi merencanakan malampenyatuan Jean dan Sonia, dengan mengambil gambar putranya dengan Sonia, tapi sekali lagi Jessi lupa, kalau dia salah masuk arena." Aaaaaa." teriak marah Jessi, ketika mendapat laporan dari anak buahnya kalau Missi ini bukan hanya gagal, tapi malah meleset total.
" Kan sudah kuingatkan sayang, jodoh seseorang itu diatur oleh Yang Kuasa, bukan manusia. " Ucap Hendra membujuk kekasihnya.
" Diaaaaaaaam! " Jessi teriak dan mengamuk, sedang mereka dirumah Jessi. Hendra mulai cemas karna sepertinya Jessi tidak bisa membendung perasaannya,seakan wanita ini lupa, kalau ia lagi bersama kekasih gelapnya, bagaimana jika ada yang dengar teriakannya dan datang memeriksa, itu akan lebih memalukan. Hendra dengan berat hati menyuntik Jessi, agar wanita ini berhenti teriak- teriak yang tidak Jelas.
" Maaf sayang, ini terpaksa kulakukan,Apa lagi yang bisa kulakukan selain menenangkanmu dengan ini, jika ucap ku sudah tak didengar? Bahkan aku sudah lelah mencegahmu, tapi kau tetap mau mencoba juga, tidak tahu kalau anak cucu Rendra sangat berbeda dengan dia. Mereka tidak tandinganmu sayang, semakin mendekati mereka, sama saja kau melempar dirimu sendiri pada kehancuran, karna mereka selain jenius juga kuat dan dinaungi kekuatan besar. " Ucap Hendra dengan tatap penuh sesal, setelah membaringkan Jessi ditempat tidur.
Sejak berita kematian fredy, tak pernah lagi Hendra menggauli Jessi, bahkan sekarang pria itu jauh berubah, ia sering mengingatkan Jessi. Tapi kemarin Jessi berjanji ini rencananya yang terakhir untuk Jean, bila tidak berhasil, ia janji akan berhenti, tapi nyatanya kegagalan ini membuatnya seperti orang gila.
" Apa memang penjara tempat yang terbaik untukmu sayang? " Hendra menatap Jessi dengan perasaan hampa dan putus asa, hari kehari semangat Hendra kian memudar. " Kalau kata nenekku dulu, wajah yang susah dirobah, perangai tidak. Namun kenyataan sekarang yang kuhadapi, tidak sulit merobah wajah, yang susah merobah tingkah laku." Ucap Hendra masih berbicara sendiri.
🤍
🤍
🤍
Sementara Frem, sesampainya dipelataran panti, terbangun mendengar suara para anak yatim piatu yang sedang tadarus.
"Syukurlah Uncle Frem sudah terbangun, segan rasanya kalau mesti bangunin. " Ujar Bahri Bhalendra putra dengan tersenyum senang.
" Kalau bukan karna efek obat itu, sangat jarang aku tertidur dijalan Bahri. Maaf, ini sudah membuatmu sepi saat menyetir." Frem mengucek matanya sedikit, lantas turun dan membuka pintu depan. Frem menggendong kakek Tiono.
" Tidak masalah, Bahri paham kondisi Uncle saat ini. " Balas Bahri.lalu, tanpa diminta, Bahripun menggendong Han.Kedua pria muda perkasa itu dengan enteng membawa kedua kakek kedalam.
" Terima kasih banyak Bahri, dan maaf juga mereka sudah merepotkan mu, sebaiknya kalau mau kita tidur disini saja. " Ajak Frem.
" Tentu mau paman, segan mengganggu anak Yatim disebelah, walau sebagian masih Mengadakan tadarus diMesjid. " Balas Bahri.
" Senang bakal melewati malam dengan calon ponakan tampan ini." Ujar Frem sedikit menggoda sembari tersenyum malu- malu.
" Ya Tuhan...Bisa aja Gugu Zhang merayu.Bahri juga senang melewatkan malam ini denganmu Hansome Uncle, sekalian pendalaman."Balas Bahri.
Frem manautkan kedua alisnya seraya mengedikkan bahunya.dan mengembangkan Sofa bed.
" Maksudku pendekatan lebih dalam." jelas Bahri.
Frem mengangguk, namun terlihat rona merah dipipinya. Sekali lagi Bahri bergumam." bisa juga ia malu- malu."
Selang beberapa menit kemudian, Lantas kedua orang itu melempar diri disofa bed." Lain kali kalau ada waktu, kita tadarusan ya Uncle."Ucap Bahri ragu, hingga suaranya begitu kecil.
" Oke, Kau kira paman tidak bisa, paman pernah juara satu MTQ disana lho Bahri." Ujar Frem masih menyunggingkan senyuman.
__ADS_1
" Wah...hebat dong paman! " Sorak riang Bahri.
Tapi ya gitu- Frem menggantung ucapannya.
Bahar mendekat dan menatap Frem denganwajahpenasaran."Tapi bagaimana Uncle?" tanyanya tak sabar.
" Tapi pesertanya hanya 3 orang..." Ucap Frem malu- malu.
Ha...ha...ha..." Bahri tak kuasa menahan tawanya
Tanpa diduga, Frem juga ikut tertawa, hingga Bahri tidak segan lagi. Setelah puas tertawa, Bahri berkata lagi." Tetap saja paman hebat, masih sempat belajar dan bertanding dinegara yang minoritas begitu. " Puji Bahri.
" Oh, ya kita belum shalat Isya ya? Sekarang paman akan menunjukkan padamu, kalau paman juga bisa jadi Imam lho." Usul Frem.
" Ide bagus, kalau bisa, baru kubantu mengurus pernikahan paman dengan mimiku." Janji Bahri kelepasan saking penasaran.
" Baik, tapi Janji adalah hutang! " Frem mengulurkan tangannya. " Deal ya! " Ujarnya meminta kepastian.
" Deal! " Jawab Bahri menyambut uluran tangan Frem.
Bahri kembali dibuat tercengang dan tidak bisa menahan dirinya untuk tidak memuji Frem, setelah mereka selesai berdoa, karna mereka bahkan sudah tarawehan berdua." Ternyata bacaan Uncle sungguh mengagumkan, aku tak pernah menduga ini.Setelah ini takkan ragu lagi, mendukung Uncle jadi Gugu Zhang kami. "
" Kakek paman dari pihak mami seorang guru besar, bagaimana Uncle tidak wajib pandai sedikit saja sebagai generasi penerus, walau tidak besar dalam pengasuhannya. " Ujar Frem.
" Hanya sekedarnya saja, yang pantas- pantas harus bisa."
" Menurutku ini luar biasa paman." Ucap Bahar tulus.
Frem tidak bicara lagi, sebagai gantinya, ia mengambil selimut untuk mereka dan meletakkan diatas Sofa bed.Kemudian kedua anak muda itu memutuskan untuk tidur setelah berbenah. Begitu Tiono terbangun ia tercengang, melihat kedua anak muda itu tidur disofa bed." Ternyata pandai juga pria kaku itu menaklukkan calon ponakan, dengan begini rencanaku tidak akan terlalu sulit." Esok akan kubicarakan soal pernikahan, begitu adik Sonia sudah kembali. " Ucap Tiono bicara sendiri.
" Ya, sepertinya ia sudah berhasil mencari dukungan." Timpal Han?
" Sudah bangun dik? " Tiono mengernyit.
Han tersenyum bangga." Aku belum pernah tidur."
" Jadi ngorokmu?
He...He...Buatan! " Jawab Han enteng, tapi tak telak dapat satu jitakan dari abangnya.
******
Sementara Sonia yang sudah kembali bersama Boy, baru tiba langsung sibuk mengurus papi William.
__ADS_1
Baru saja Sonia selesai memberi obat pada papi dengan didampingi mami Anjani, Boy dan Bella tiba diruangan itu.
Melihat tatapan kakak ipar yang menyapu wajah seluruh badannya, tiba- tiba gadis ini deg- degan.
" Papi, sepertinya dalam waktu dekat, papi akan besanan dengan tuan Permana." Boy yang duluan bicara.
Wajah Sonia mendadak merah, seperti tomat masak, dibawah cahaya lampu, terlihat makin tampak indah.
Wiliiam dan Anjani saling pandang, lalu menatap Sonia dengan intens." Papi sudah menduga, sejak tuan Permana dikirim kerumah Tante Adel untuk diamankan." Ujar Wiliiam.
" Sejak kapan kalian berhubungan dengan keluarga Permana?" Sekarang Anjani yang bingung.
Semua saling pandang, selama empat tahun mereka merahasiakan ini pada Anjani.Siapa yang akan berani bercerita?
" Sejak putra kedua tuan Permana menabrak mobil Papi empat tahun yang lalu." Boy yang mulai menjelaskan.
" Jadi transferan 2 Milyar itu untuk itu? mengapa sembunyikan ini dariku, aku sampai menduga papi selingkuh." Ketus Anjani sembari menatap tajam William.
" Maaf sayang, saat itu papi benar- benar cemas, anak muda itu nyaris kehilangan nyawanya, tak ada
orang yang papi beritahu selain Sonia, karna Sonia kenal dengan anak muda itu." Ucap William sembari menarik Anjani kedalam pelukannya.
" Mereka kenapa tahu? " protes Anjani.
" Kayak ngak tahu aja mami, Boy dan Bella pasangan pengintil, suka cari tahu urusan orang dengan menyusupkan kamera." Willi mencebik.
Sedang Boy dan Bella cengengesan.
" Jadi pria itu calon Sonia?" tanya Anjani kemudian.
" Bukan!!!" Seru Boy dan Sonia bersamaan, membuat Anjani kian bingung.
"Tuan muda pertama Permana Jaya Group,pemilik SGG Grup dan President baru Permana Jaya Group." Jelas Bella menimpali.
" Wahhh, sayang...Bakal jadi orang sibuk juga ni anak mami!Katanya ingin santai sebagaidokternya para lansia saja." Sorak Anjani riang seraya menarik Sonia kepangkuannya.
" Itukan dia, aku tetap jadi diriku." Ujar Sonia.
" Cie....cie...sudah mulai panggil dia ya!!! " Goda Boy dan Bella hingga pipi gadis itu makin memerah menahan malu.
" Dasar keluarga lucnut, adik sendiri diledekin." Sungut Sonia menatap Boy tajam.
Ger...
__ADS_1
Semua tertawa melihat wajah Sonia yang terlihat makin lucu dan menggemaskan.