
Semalam ini Frem ingin tidur dalam pelukan Fredy, sudah belasan tahun ia tidak merasakan peluk kasih sang ayah, sejak ia pindah keluar negri.
WalauFrem sekarang pria yang sudah dewasa, tapi jiwa kekanakannya datang dengan sendirinya setelah melihat sang papi.
Frem berjalan keluar untuk mencari yang lain,menemukan Om Arif, Tante Adel Wafi dankelima pengawalnya sedang bercengkrama diruangtamu sembari menikmati cemilan." Cepat sekali mereka akrab! " Sorak Frem dalam hati.
" Ada apa nak? tanya Arif, saat melihat Frem tiba diruang tamu. Semua beralih menatap Frem." Wafi, jam berapa Jadwal meetingku besok?Aku ingin tidur dengan papi." tanya Frem.
" Kebetulan besok Jam dua siang bos, dengan MJ Group, setelah itu ada rapat bulanan dengan petinggi perusahaan." Jawab Wafi sambil melihat catatan Jadwal Bosnya diponselnya.
" Mhem, kalau begitu besok hari yang tidak padat dari pagi hari, aku bermaksud tidur disini dekat papi kalau Om dan Onty mengizinkan, dan kalian carilah hotel terdekat! Pagi sekali segera kembali jemput aku, kita balik keIbukota." Ujar Frem.
Arif datang menghampiri Frem, menyentuhpundak anak muda itu." Kalian semua boleh menginap disini, rumah ini banyak kamar kosongnya, anak cucu dan menantu om dan Onty lebih senang tinggal dirumah sendiri, kedatangan papimu membuat kami merasa lebih rame, semalam ini apa salahnya kalau kita tidur bersama disini biar lebih rame, jika kurang suka makan sahur yang dihidangkan juru masak rumah Om dan Onty, nanti kita pesan makanan. Disini banyak sedia makanan delivery sampai sahur." Ujar Panjang Arif.
Frem menatap Arif dan Adel secara bergantian, merasa segan begitu banyak merepotkan mereka.
Baru saja Frem ingin bicara Adel telah mendahului.
" Frem, Onty akan marah kalau kamu sampai memaksa orang- orangmu pergi mencari tempat, berarti rumah Onty kau anggap tidak layak." Ucap Adel cemberut.
" Bukan begitu Onty, aku hanya merasa seperti pasukan ranger menyerang rumah Onty ini. " Frem tersenyum malu- malu.
" Sudah masuk sana tidur!, Onty sama om masih ingin les Mandarin sampai jam duabelas. " Ujar Adel sembari mengibaskan tangannya.
Frem tersenyum dan mengangguk, lalu berjalan kembali kekamar papinya. Cukup geli juga Frem dengan keinginan Adel tantang belajar bahasa, padahal mereka sudah tua, untuk apa lagi bahasa itu, untuk jalan- jalan keluar negri, sepertinya kondisi mereka tidak memungkinkan lagi, tapi Frem tak mau protes." Mungkin hanya sekedar bercengkrama saja." batinnya.
Tanpa terasa waktu semalaman berlalu, dengan berat sekali, Frem bangun Sahur dalam pelukan papinya. " Sebenarnya aku masih ingin disini Pi, tapi sepertinya siap sahur kembali ya." Pamit Frem seraya memeluk Fredy sekali lagi.
" Papi tahu sayang, papi belum lupa bagaimana sibuknya seorang pimpinan. "
" Ya, Frem yang lupa. " Balas Frem sembari tersenyum.
***********
Perjalanan kembali ke Ibukota mudah- mudahan tanpa hambatan. Frem tiba pukul sembilan lewat dikantornya. Seperti biasa Frem disambut hormat oleh pegawainya. Frem kembali bekerja dengan penuh semangat, sampai tiba jam istirahat, ia mendapat pesan dari sang kakek.
" Reunian disekolah kelas nol yang dulu. Kakek sudah mengurus semua dengan kepala sekolah dan gurunya.Ternyata kepala sekolah yang lama sudah meninggal, tapi gurumu yang dulu menggantikan kepala lama, dia lulus CPNS dan jadi**kepala TK. Jangan banyak tanya lagi, nanti datanglah reunian disekolah itu." Bunyi pesan Tiono.
" Innalillah...ternyata ibu kepala sudah tiada, berarti kepalanya sekarang Bu Nuri.
Reunian? Ide kencan apa pula ini, kalau reunian sekolah menengah lumrah, tapi reunian TK jarang atau ngak pernah kali ya? Dari mana tu kakek dapat semua data tentang sekolah dan gurunya, secepat itukah kakek bekerja. Untung sudah kenal sama Sonia, kalau ngak pasti sangat bingung mencarinya. " Gumam Frem.
Wafi tiba diruangan saat Frem sibuk berfikir tentang ide kencan yang sudah diatur oleh sang kakek.
" Kebetulan Waf, siapkan kemeja putih, dasi merah kotak- kotak, celana Merah, ukuran badanku, nanti sore mau reunian ke TK CN. Jangan lupa tas dan kotak makannya ya, sekalian diisi dengan nasi sama dadar telur tanpa cabe. " titah Frem.
" Apa? Bos mau reunian TK? Apa pernah ada reunian seperti ini? " protes Wafi.
" Cari saja yang kubutuhkan, jangan banyak tanya! " Ujar Frem.
" Terpaksa nanya juga kayaknya." Cicit Wafi.
" Apa?"
" Celananya panjang apa pendek?
__ADS_1
Frem berfikir sejenak. " Yang panjang sajalah, ngak enak juga persis kali, bahan dasar terbaik."
Wafi menarik nafas panjang, kemudian berucap." " "Oke, segera dimulai pencarian. " Ucap Wafi menahan sebal bercampur geli.
Waktu menjelang Sore terasa begitu panjang terasa bagi Frem. Usai mengadakan meeting, dan rapat dengan pegawai. Frem dengan tidak sabar mencoba kan pakaian yang sudah disediakan Wafi.
" Syukurlah ukurannya pas. " Ucap Frem sembari memandangi wajahnya dicermin kamar istirahat ruangannya.
Pukul Lima sore Frem sudah turun kelantai dasar. Frem sudah memakai pakaiannya, tidak peduli para karyawan yang mau pulang memandang silau pada sang Big Bos." Tumben Bos sore- sore pake celana cerah begitu. " Batin mereka dengan kening mengernyit. Tapi karna Frem sangat tampan, itu tidak terlihat mengurangi ketampanannya.
Jam Enam lewat, barulah Frem tiba dipelataran TKnya. Dadanya berdegup tak karuan karna melihat mobil lamborgini Sonia sudah terparkir disana. Didepan sudah tersedia meja berbentuk hati dengan dua kursi.
Deg...Jantung Frem memacu lebih kencang.
" Waf....A- aku gugup sekali, kenapa tak ada orang? " tanya Frem gelagapan.
" He...He....tenang Bos. Yang mau reunian kan Bos sama Nia, ngapain juga orang pada ikut. Lagian puasa gini TK Libur, mau kembali ke masa lalu, tetap saja anak- anak tak sekolah. " Ujar Wafi.
Frem memantapkan langkahnya turun, saat Wafi sudah membukakan pintu. Frem sampai memejamkan matanya, saking gugupnya memulai langkah.
" Seno! " teriak bi Nuri seraya berjalan cepat menyambut Frem.
" Gimana buNuri langsung mengenalku? Apa kakek mengirim fhotoku juga. " Ujar Frem mengernyit.
Frem mengulurkan tangannya begitu sudah sampai didepan buNuri. BuNuri menyambut tangan Frem " Ya ampun! Bisa batal nih puasa bu Nuri saking ngiler liat tampannya dirimu nak, padahal tinggal Lima menit lagi. " Puji sarkas bu Nuri yang membuat Frem tertawa kecil.
" Ibu bisa aja, ini masih Seno yang dulu kok Bu, hanya sudah besar saja seiring waktu. " Ucap Frem merendah.
" Pokoknya Ibu sampai setengah hari membandingkan fhotomu, sampe bapak yang dirumah cemberut. " Kicau bu Nuri sembari menyeret Frem kedalam kelas.
Deg.
bertatapan dengan Sonia yang lagi duduk dengan diapit oleh lima orang gadis. " Kayaknya waktu buka tiga menit lagi. Silahkan nak Seno dan Wafi duduk bersimpuh. " Ujar seorang lelaki sebaya Bu Nuri.
" Ya, duduklah nak. " Sambut Bu Ceni. Frem.tak lupa menyalami semua sebelum duduk.
" Yang ini bapakmu yang dirumah Seno! Ia memaksa ikut acara reunian ini, takut ibu macam- macam karna punya anak tampan sepertimu." Ujar buNuri sembari menghidang, dibantu oleh Sonia yang nampak santai saja.
Ger....
Empat Orang gadis tertawa.disusul tawa besar suami Bu Nuri, bu Ceni, seorang anak muda dan pria sebaya Bu Ceni.
" Kalau bapak suami Bu Ceni. Ucap bapak itu.
" Kalau Kamu pasti Adam, soalnya hanya Adam anak lelaki yang waktu itu komplotan kalian. " tebak Frem.
" Tebakanmu pas pak CEO PJG. " Balas Sarkas Adam.
" Bukan! Disini Yang ada Seno. " Tolak Frem sembari mencuri pandang pada Sonia.
Sementara Sonia, hanya membalas dengan tersenyum santai.
" Ck, bisa- bisanya dia santai, padahal aku keringatan begini." Sungut Frem dalam hati.
Waktu berbuka tiba, Sonia segera menyuguhkan sekotak kurma dan segelas susu pada Frem.
__ADS_1
" Yang ini dulu, nanti baru yang lain. " Ajak Sonia seraya duduk bersimpuh disamping Frem.
Frem menerima uluran tangan Sonia, semua yang memandang menahan nafas.
" Berbuka!!!" Sorak Mereka saat Frem tidak melepas tangan Sonia yang mengulurkan susu murni untuknya.
" Eh, maaf...Ayo....Sama- sama..." balas Frem kemudian.
Semua tersenyum dan mulai berbuka.
Malam ini kita akan Tarawehan disini, diImami oleh nak Seno. " Ujar Bu Nuri yang membuat Sonia tercengang.
Kebingungan Sonia terjawab setelah Magrib yang juga diImami Frem. " Ternyata dia diluar dugaan. " Puji Sonia dalam hati. Tanpa bisa dihindari ia semakin sering curi pandang pada Frem.
Pukul sepuluh malam tarawehan selesai. Masih dengan bermukena, mereka menarik Sonia menuju keluar.
Bapak Burhan, suami Bu Nuri yang menarik Frem.
Kedua pasangan itu didudukkan dikursi yang sudah disediakan, Entah siapa yang sudah menghias, semua sangat cantik disana bahkan sudah tersedia kotak makan TK Seno dan Sonia.
Sekarang barulah terlihat pipi Sonia yang merona.
Apalagi saat Frem menatapnya Intens, disekeliling teman yang lain, Kiki, Mimi , Adam dan yang lain berteriak.
" Ayo Seno!!! Kan Waktu kecil berani mau nikahi Sonia, Sekarang mana janjinya!!! " Sorak mereka bersamaan.
Nyali Frem tiba- tiba naik, apalagi melihat Adam, teman Sonia yang dulu pernah mengingatkan dan menakuti Frem agar tidak mendekati diamon princess.
Frem Segera turun dari kursi, melangkah, dan berlutut didepan Sonia. " Seno datang untuk memenuhi janjinya Sonia, dia datang untuk meminta Sonia." Maukah Sonia menikah dengan Seno? " Ucap Frem sembari menggenggam tangan Sonia yang sudah memakai cincinnya.
Sonia tertunduk malu, apalagi karna ia lupa membuka cincin itu. Frem mengecup cincin itu, membuat semua menarik nafas, heran mengapa Sonia sudah punya cincin.
Seno menarik Cincin itu Lembut, lalu memasangkan kembali didepan semua teman- temannya.
" Ini Cincin yang sudah Seno titip dari kecil, Sonia sudah menerima Seno dan memakainya sendiri, tapi didepan semua, Seno akan memakaikannya lagi, di sekolah kita, ditempati pertama Seno kenal dan jatuh hati dengan Nia, didepan teman, ibu guru, dan yang hadir di Reuni ini. " Ujar Seno seraya memakaikan cincin berlian itu kembali dijari manis Sonia.
Tepuk tangan dan sorak riang menggema dipelataran TK itu. Sonia tidak mampu berucap apa, apalagi menolak. Semua bergantian mengucapkan selamat.
Acara berlanjut dengan makan malam, semua bergabung diteras makan malam dengan kotak makan masing- masing. Sebagai menu tambah sudah tersedia dimeja, semua boleh mengambil
sendiri.
Pak Burhan menyuapi buNuri. Pak Alif melakukan juga pada Bu Ceni. Saat Seno ingin menyuapi Sonia." Belum boleh! Kalau mau, Cepatlah Menikah biar bisa seperti kami." Ujar pak Alif dan pak Burhan memamerkan kemesraan mereka.
" Uuuiiiiiii" Sorak anak- anak yang lain.
Sementara Boy sedang memonitor kegiatan adiknya dari mobilnya sembari geleng- geleng kepala.
" Awasi nona, sampai aman tiba dipanti! " Titah Frem pada seseorang ditelfon.
" Pasti Bos. " Jawab dari sebrang.
" Aku sudah besar." pesan Sonia pada Boy.
" Sebandelnya kamu dik, tetap ada yang lebih nakal darimu. " Gumam Boy, setelah membaca pesan adiknya.
__ADS_1