Cool CEO Couple Stubborn Girl

Cool CEO Couple Stubborn Girl
Jamaah Pertama.


__ADS_3

Dua hari telah berlalu, pasangan muda itu cuti untuk dirumah saja. Sebagai orang yang biasa sibuk dua- duanya merasa cukup jengah dirumah tanpa menyibukkan diri.Sonia melewati haridengan mengurus ayah mertua, membantu koki dan asisten rumah tangga didapur memasak. Membereskan rumah dan mengganggu tukang kebun mengurus taman.Ya pak Mudin,sipengurus kebun sangat terganggu, karna tak enak hati tugasnya dibantu oleh Sonia, apalagi melihat tuannya yang menatap kearah mereka dengan wajah datar dan tatapan sinis.


Kali ini adalah Sore kedua, Sonia meminta selang penyiram tanaman dari Mudin. " Jangan nyonya, biar saya yang kerjakan, tak enak saya nganggur sedang nyonya bekerja, apalagi hari sudah sore begini, sebaiknya nyonya mandi dan setelah itu duduk santai dengan tuan sembari minum teh dibalkon, sejak pagi ada- ada saja yang nyonya kerjakan, kami ngak enak sama tuan, saya ini direkrut oleh tuan untuk bekerja, bukan memandori Bos sendiri." Tolak Mudin sembari mendongak ke balkon kamar pengantin.


" Tenanglah pak...Kalau sudah kembali bekerja dirumah sakit dan dipanti, dijamin kerja bapak takkan Nia ganggu lagi, karna Nia tidak akan punya waktu untuk ini. Untuk sekarang, bersantailah sebentar, jangan merasa tak enak hati." Balas Sonia.


" Berikan padaku, dan pergilah minum teh dengan bi Cici didapur. Ingat! Jangan panggil nyonya lagi, tapi panggil nak saja, karna bapak sebaya dengan Abangku yang seharusnya seumuran dengan ayahku. " Ujar Sonia yang membuat kedua alis pak


Mudin menaut sempurna. Walau bingung dan tak rela,Mudin pasrah, lalu mengangguk dan menyerahkan selang itu, dan membiarkan Sonia menyiram tanaman.


" Ingat! panggil nak saja! " Sonia mengingatkan sekali lagi, sebelum pria paruh baya itu melangkah jauh meninggalkan taman.


" Baik Nyo, Eh,nak Nia. " Ucap pak Mudin dengan gagap.


" Sip! itu baru namanya bapak yang baik." Puji Sonia sembari mengacungkan jempolnya.


Menit berikutnya, Sonia sudah asyik menyiram bunga sembari bernyanyi- nyanyi kecil.


"Besok aku dan Wafi berangkat ke Beijing." Ucap Frem menghampiri Sonia dari belakang, membuat Sonia tersentak kaget, sehingga tanpa sengaja selang air yang ia pegang terlempar dan arah empat kepala selang berbalik pada Nia dan frem, tak ayal keduanya tak dapat kesempatan menghindar dari semprotan air yang kuat dan siap membuat keduanya basah kuyup.


" Nia!" teriak Frem yang tak terima mandi lagi, padahal ia sudah mandi dan rapi sore ini.


" Salah sendiri, datang- datang langsung bawa berita ngak enak! ngak pandai cari situasi." Sanggah Sonia yang tak mau disalahkan atas kuyupnya mereka.


" Oh ya...Baiklah...aku akan mandikan istriku dialam terbuka." Ujar Frem mengambil slang dan menyemprot Sonia. Sonia tentu tak mau kalah, ia merebutnya lagi dari Frem menyerang balik.


Pak Jaka kepala pelayan yang mencari tuan dan nyonya itu karna panggilan tuan Fredy, dengan terpaksa memundurkan langkahnya, melihat tuan dan nyonya nya sudah main serang- serangan.


Pak Mudin hanya geleng- geleng kepala,mendapat tatapan sinis dari kepala pelayan." Aku tidak mau, tapi nyonya yang memaksa." Ucapnya sembari menggedikkan bahu.


Keduanya lalu merapat dan sejenak mengintip dari balik pintu utama, melihat ada adegan- adegan yang diluar area bocil, mereka sadar diri dan menyingkir sejauh mungkin. Tidak berani mengintip lagi.


Demikian juga dengan Security yang berjaga dipos, dengan terpaksa tutup mata.

__ADS_1


***


Ditaman, dinginnya air kran tiba- tiba berubah terasa panas ditubuh pasangan baru itu.Frem pasrah basah- basah, apalagi melihat tonjolan dari bagian- bagian terindah istrinya jadi terekspos jelas didepan matanya. Tangan pria muda itu mulai bergerilya menyentuh miliknya, yang awalnya berniat menutupi dari pandangan jahat orang lain, tapi berakhir dengan sentuhan panas.Sejenak pria itu larut, Mereka saling mengecup, dan meremas disaksikan bunga- bunga dan selang air yangsudah tergeletak. Setelah cukup lama tenggelam dalam sensasi bercumbu dialam terbuka, frem teringat sesuatu." Nia! Mengapa tidak ada aliranmerahnya?" tanya Frem setengah berteriak seraya memeriksa terusan warna putih bersih panjang semata kaki yang dipakai istrinya yang tidak bernoda sedikitpun.Pun cucuran air yang jatuh semua bening.


" Apa? " Sonia masih belum mengerti mengapa Frem tiba- tiba berteriak dan mencengkram bahunya dengan tatapan penuh kemarahan.


"Kamu membohongiku!apa maksudnya semua ini Nia?" Ujar Frem sembari menggerutukkan giginya menahan emosi. Para pelayan yang dari tadi hanya berani menonton dari kejauhan, turut tegang, dan penasaran apa yang sedang terjadi sebenarnya dengan tuan dan nyonya mereka.


" Aaa_Sonia tercekat dan tak dapat melanjutkan kata tatkala ia sadar apa yang dimaksud oleh Frem.


Detik berikutnya Frem sudah mengangkat Sonia laksana mengangkat karung beras. " Kita selesaikan urusan ini dikamar!" Ucap frem dengan langkah besar mengusung Sonia menuju kamar mereka dilantai dua.


Para pelayan terdiam dan menunduk ketikadilewati oleh Frem yang membawa Nia.. Tanpa perintah mereka bergegas membersihkan bekas tetesan air dilantai yang ditinggalkan oleh Jejak sang majikan.


*


*


Frem sampai dikamar membawa Sonia kekamar mandi. Dengan kasar Frem membuka penutup tubuh Sonia dan dirinya sendiri dan melemparnya sembarangan dilantai ruang mandi itu,tak peduli wajah Sonia yang sudah pucat karna takut.


Sebenarnya Sonia bisa meloloskan diri dari Frem dengan bekal beladiri yang ia punya. Tapi setelah ketahuan berbohong, lutut kakinya menjadi bergetar hebat.Jangankan melawan, menatap suaminya saja saat ini ia sungguh tak berani. Apalagi ia sadar, dirinya sudah Syah milik lelaki ini.


Dengan satu handuk berdua, Frem menyeret istrinya dalam pelukannya menuju ranjang." Minta dengan cara begini kita memulai malam pengantin


kita ya Sayang! " Teriak Frem dalam marah berbaur gairah. Pria itu sekarang sudah kembali menggerayangi istrinya yang sama- sama polos dengan dirinya diatas tempat tidur. Frem mencium, mengesap, meremas, dan menandai seluruh bagian yang ia sukai tanpa minta persetujuan sedikitpun.


Sonia bergetar dalam kungkungan Frem, titik- titik air mulai mengalir dari sudut kedua bola matanya.


" I_ Ini belum malam Seno...Masih sore, tolong jangan__'' Tutur Gagu Sonia terhenti, karna bibirnya sudah dibekap lagi oleh mulut Frem.


"Bicaranya nanti saja sayang! Sekarang bekerja dulu! " Pangkas Frem tak terbantah,setelah istrinya hampir kekurangan Oksigen.Kemudian Frem melanjutkan permainannya pada Sonia. Permainan yang jauh dari kata lembut.


Sonia tidak berontak, tapi tidak pula membalas,ia berusaha menahan diri agar tidak bereaksi maupun bersuara sekuat tenaga saat Frem bergerilya didaearah sensitifnya. Bagai singa lapar, Frem melahap apasaja yang ia hendaki pada Sonia. Sedang Sonia menggigit bibirnya menahan beraneka gejolak yang ia rasakan.

__ADS_1


Saat Frem Ingin menyatukan tubuh mereka, Sonia berusaha menjepit miliknya. " Tolong tunggu malam dulu Seno..." Rengeknya menahan Isak,tapi suami yang merasa terluka karna kebohongan kekasih halalnya itu seakan buta dan tuli saat ini.


" Buka!"


Sonia menggeleng.


" Buka atau tidak untuk selamanya! " Ancam Frem yang membuat Sonia akhirnya pasrah. Dengan berurai airmata, Sonia membiarkan Frem menembus benteng pertahanannya.


Frem mulai bergerak pelan,setelah penembusan jalannya.Merasakan ruang sempurna yang dilalui baru dimasuki oleh dirinya saja, ia mulai mengusap airmata Sonia.


" Kalau tidak Nia Bohongi, Seno tidak akan sekasar ini Nia." Sesal Frem dalam hati.


Sonia memberanikan diri menatap manik Frem diatasnya. Walau tidak berani berucap, ia mulai menarik Frem agar makin dekat padanya. Membusungkan dadanya sebagai tanda menerima pergerakan Suaminya. Cukup lama Frem berayun dengan kecepatan rendah, setelah marahnya reda. Sampai merasakan nafas keduanya berkejaran, Ritme dipercepat. Akhirnya keduanya alami saling merapat. Sonia bahkan menggigit Bahu Frem saat penyatuan mereka mencapai puncak secara bersamaan. Rasa marah,perih, sakit, akhirnya berujung dengan sensasi indah jua.


Lama keduanya saling diam dalam berpelukan erat, hingga hilang lelah. " Maaf..." Satu kata terucap dari bibir keduanya serentak.Kala keduanya sadar mengucapkan kata yang sama, keduanya saling menatap lekat.


Sekarang Frem ambruk disisi istrinya. " Tidak seharusnya aku melakukan yang pertama sekasar tadi Nia.Sekali lagi maafkan Seno. " Ucapnya penuh


sesal. Air mata Frempun mengalir, apalagi saat Sonia menyentuh pipinya dengan tangan kanan memakai cincin kawin mereka.


" Seno kasar! Seno menyakiti Nia. Hiks... " Seno menangis disisi Sonia.


" Nia Juga tidak seharusnya membohongi Seno, Nia sangat gugup, dan Nia masih ingin menguji Seno sekali lagi, tapi cara Nia salah. Hiks...Hiks.. Sonia terisak kembali.


Frem Merengkuh Sonia dalam pelukannya, kemudian mengecup kening Nia dengan lembut berkali- kali." Setelah ini jangan ada kebohongan yang dibuat lagi ya sayang.. " Bisik Frem parau


sembari mengusap bulir yang mengalir dipipi mulus Sonia.


" Ya...Nia akan belajar menyampaikan segala yang terasa pelan- pelan." Balas Sonia tak lupa mengecup balik suaminya dan menghapus airmata


prianya itu.


Matahari tenggelam diufuk barat. Dengan lembut Frem membawa istrinya duduk. Frem kembali menggendong Sonia untuk kekamar mandi, tapi kali ini ia menggendongnya ala Bridal, matanya tak luput menatapi Sonia dengan penuh sayang. Demikian juga dengan Sonia, walau tubuh dan dirinya sakit karna perbuatan suami, ia menerimanya karna sadar itu salahnya. Kedua tangan Sonia terulur untuk melingkar dileher suaminya.

__ADS_1


Ritual mandi berakhir. Frem dan Sonia berwudhu, lalu mereka bersiap untuk jamaah pertama mereka.


__ADS_2