
Frem masuk kepanti dengan berbagai dugaan,perasaanya juga berkecamuk, entah apa maksud Wafi dengan
menyampaikan itu. Sedangkan Manaf dan Asep tersenyum Lega, apapun yang akan diketahui pria tampan
yang barusan membuat mereka kalang-kabut, bukan lagi urusan mereka, andaipun rahasia penyamaran nona
mereka dikeahui oleh Frem, mereka tak kuatir lagi, jika itu bukan dari mulut mereka. Bagi semua yang bekerja
dengan Sonia, kesetiaan adalah harga mati,
Wafi menjemput Frem kedepan pintu, begitu melihat wajah asistennya, Frem Langsung memburunya dengan
berbagai pertanyaan. " Bagamana bisa bertemu, dimana kamu menemukan data tentang dia, apa kamu meretas
media sosialnya, kok bisa severnya sekarang sudah melemah?"
Bukannya membalas, Wafi malah tersenyum simpul,itu membuat Frem melihat wajah asistennya itu tampak
menjengkelkan. Sebuah bogem panas hendak melayang kemuka Wafi, tapi baru saja tinju Frem ingin mendarat,
sebuah tangan cantik menangkisnya. Sekarang tangan besar Frem sudah dicekal. " Jangan memperlakukan orangmu seperti musuh Tuan... " satu kalimat dengan nada sedang, keluar dari bibir mungil, yang membuat Frem
berhenti bernafas sejenak. " Kamu- hanya kata itu yang bisa terucap dari bibir Frem, setelahnya bagai tersihir, Frem tak bisa membantah saat Mimi menyeret langahnya menuju meja makan panti.
Disana para karyawan panti sudah Menunggu siap untuk bersantap sahur.
" Silahkan duduk tuan muda. " sambut Umi Rahmi, seraya menarik kursi untuk Frem.
Frem mengulurkan tangannya untuk berjabatan tangan dengan Umi Rahmi. " Maaf umi, tadi sore datangnya
belum sempat lapor. " Ucap Frem santun. Tiono dan Han saling pandang.
" Pandai berlaku hangat juga dia pada seorang ibu." Puji kedua kakek Frem dalam hati.
" Tidak masalah, laporannya sudah terdahulu dari kedua mantan CEO tampanmu. " Balas Umi Panti
sedikit becanda seraya memandang Tiono dan Han.
" Ini Sahur pertama kita Frem, jadi makan yang banyak biar ngak lemes puasanya. " Ujar Tiono dengan senyum
senang.
Frem yang baru sadar ada kedua kakeknya diantara para karyawan tercengang." Kakek dan kakek Han kok makan disini? Bagaimana penghuni yang lain.
Bukannya menjawab Tiono malah tersenyum manis dan mengalihkan pandangannya pada Mimi.
" Ayo semua mulai makannya dimulai, nanti keburu Imysak." Ajak Mimi yang langsung dituruti oleh semua orang.
" Bismillah...Gema basmallah dan doa terdengar hampir bersamaan bak paduan suara yang diarahkan seorang
dirigen.
__ADS_1
Frem menatap kagum pada semua karyawan yang begitu konsisten dalam mematuhi Mimi, hanya dengan
satu kalimat saja semua sudah melakukan permintaannya dengan patuh, dan nampak semuanya senang.
Mimi tersenyum melihat Frem yang belum juga memulai makannya. " Tenanglah tuan...
Kalau penghuni panti yang lain sudah pada sahur kok.
mereka tidak semuanya kuat puasa, sebagian diantara mereka ada yang membayar Fidyah. Sedang yang
non tentu tidak punya kewajiban puasa. " Jelas Mimi.
Frem mengangguk mengerti, namun kemudian ia mengernyit lagi.
" Asep dan bang Manaf bagaimana? " tanya Frem kemudian.
Belum sempat Mimi menjawab, seorang pelayan lewat membawa mempan.
" Itu untuk kang Asep dan bang Manaf. " Ujar Mimi.
Frem mengangguk sembari tersenyum tipis.Sedang kakek Tiono dan Han yang lagi
menikmati makannya, curi pandang pada Frem dan Mimi. " Ternyata kehangataan
putri Sonia bisa nular kayak virus sama tuan Cool itu ya Ko. "bisik Han.
" He,,he...Biarkan saja Virusnya berkembang, Tiono terkekeh sembari mengelap bibirnya.
" Balas Tiono juga dengan berbisik.
Beberapa menit berikutnya.
Para karyawanpun menyelesaikan makannya, juga para pengawal Frem, sedang Frem
masih sibuk menatapi Mimi yang lagi makan.
" Buka Mulutnya! " titah Mimi yang sudah memindahkan kursinya kesamping Frem.
" Ka- Ucapan Frem terhenti karna mulutnya sudah dibungkam oleh sesendok nasi yang disuapi oleh Mimi.
" Gadis bandel, masak aku disamakan sama para Lansia yang ngak kuat makan sendiri . " Sungut Frem dalam hati, karna mulutnya penuh. Tapi Frem tetap mengunyah dengan baik, tanpa ia sadari bibirnya mengulas senyum
tipis.
"Ck, Manja Amat sih, ternyata sahur pertamanya mau disuapi segala ya.
Kakek Tiono mendecak sebelum meninggalkan ruang makan.
" Iya ko, ia sudah curang, merebut kekasih kita diam-diam. " balas Han dengan mencibir.
Kedua kakek kembali kekamar. Sedang Wafi dan kelima pengawal Frem tanpa komentar mengikuti kedua kakek.
__ADS_1
Frem berlagak tidak mendengar umpatan kedua kakeknya.
" Makasih Mimi, aku makan sendiri aja, kalau bisa buatkan saja obat herbal kakek Han dan susu kakek
sebelum keburu imysak, ini juga sahur pertama bagi kedua kakekku. " pinta Frem.
Mimi mengangguk dan Menyelesaikan makannya, lalu Mimi berdiri dan segera kepantry
untuk mengambil susu dan obat herbal kakek. Membuat kedua
minuman itu, tidak lupa juga ia membuat susu rasa stowberi untuk dirinya dan Frem.
Sebenarnya Sonia juga akan membuat tanpa meminta, tapi mendengar betapa Frem
memperhatikan kedua kakeknya,cap pria dingin untuk Frem mulai terhapus beberapa huruf awalnya.
Sementara diVilla Jessi mengusap Wajahnya dengan kasar. setelah menonton berita tentang
kebakaran dua mobil dijalan X. Orangnya Jessi sudah memeriksa identitas mayat,
tak ada satupun dari kelompokFrem.
" Anak itu, mengapa punya banyak sekali nyawa ya!!! Auhhhhhhhhh!!! teriak Jessi kesal.
" Sudahlah sayang, Jangan membunuh lagi. Kita menikah saja, aku sudah menyiapkan bekal hari tua yang sederhana namun memadai untuk kita.Kita mulai hidup yang baik ya. Sahur Yuk....." Ajak
Hendra sembari mendekap Jessi.
" Bagaimana kalau anak itu mendapatkan bukti kematian mami dan neneknya, aku pasti diseret kepenjara.Bagaimana bisa hidup baik coba? " Jessi mencebik.
Hendra menghirup nafas panjang. " Kalau hari itu terjadi, aku akan menghidupi kamu dipenjara,
tetap mencintai kamu sampai akhir hidup kita, yang penting cukup membunuhnya, Ya...
" Bujuk Hendra dengan tatapan memohon.
Jessi tidak menjawab, tapi ia juga tidak melawan. Ketika disuguhi sepiring makanan untuk sahur,
Jessi mulai menyuap. " Sahur pertamaku sepanjang hidup. " Ucapnya lirih.
Semula Hendra mendukung Jessi, tapi setelah kematian Fredy,tujuannya berubah,
ia tidak lagi memikirkan tentang harta, baginya apa yang sudah ia capai cukup,
tidak perlu mengharap harta Jean Lagi.
Sebagai seorang yang bekerja dibidang medis, ia sadar Jean tidak akan sanggup memegang PJG
sebagaimana keinginan Jessi, anak itu sudah syukur bisa pulih.
Disitulah Awal Kesadaran Hendra.
__ADS_1