
" Disana rencananya berapa lama? " Sonia menghentikan kunyahannya, teringat suaminya akan berangkat kenegara tempat pria itu dibesarkan.
Frem menatap Sonia sejenak, mendengar nada tak rela dari ucapan istri dan raut muram yang tidak tersembunyikan oleh Sonia, Frem pelanmenggeser kursi agar makin dempet kekursi makan Sonia." Kalau tidak diizinkan pergi, aku akan menundanya, Chengyi kan mampu menghendel semuanya." Ujar Frem.
Sonia menggeleng." Jangan! Walau kita sudah mempercayai kemampuan seorang asisten, tapi tidak boleh yakin sepenuhnya, sudah lewat satu bulan ia menjalankan tugas tanpamu, sepantasnya diadakan SIDAK, agar tahu bagaimana hasil kerja nyatanya, bukan hanya dari laporan saja." Saran Sonia.
" Rencananya memang begitu, aku tidak memberi tahu akan kesana secepatnya. Ia juga tidak akan mengira kita bakal kesana, karna masih dalam masa bu_" Frem tak sanggup melanjutkan ucapannya, teringat apa yang sudah terjadi, wajah pria itu kembali murung.
Sonia tersenyum,lalu mencuci tangan dan melapnya dengan tisu, menyudahi makannya sebelum kenyang. Frem mengikuti Sonia, setelah menghabiskan suapan terakhir, iapun cuci tangan.
" Kenapa berhenti? Tidak mau nambah?"
" Tidak! sepertinya sudah kenyang."
Sonia mengangguk, lalu tangannya terulur, mengusap lembut lengan suaminya, Lengan kekar nan bagus dengan balutan kaos putih lengan pendek yang Frem kenakan, dipadu dengan celana Coklat selutut, memamerkan betis putih dengan tungkai panjang nan kuat, yang ditumbuhi rambut- rambut halus yang tersusun eksotis, sepertibarisan semut beriring.
" Badannya sungguh bagus, tidak dikira tubuh kecildulu, akan tumbuh jadi gagah perkasa begini. " Sonia mengagumi fisik Frem dalam hati. Sedang tangannya tanpa sengaja membelai danmeremas lengan berotot itu.
Frem memejamkan mata, merasakan sentuhan lembut tangan halus Sonia. Ingin rasanya ia menarik Sonia kepangkuannya, mendekap wanita cantik ini seperti hewan primata yang sedang memanjakan bayi kecilnya dalam gendongan. Namun Frem masih ragu, mengingat kesalahan besar yang sudah ia buat kemaren, wajah Frem kembali murung dengan kepala menunduk.
" Kita memang sedang berbulan madu,kalau soal caranya itu tergantung kita, tidak akan ada yang berani mengintip, apalagi bergunjing, kan hanya kita berdua yang merasakan, jadi jangan tunjukkan wajah aneh dihadapan yang lain." Ucap Sonia dengan berbisik, kemudian mengarahkan pandangannya pada dua orang Koki yang masih bekerja didapur, menyiapkan menu spesial untuk papi Fredy.
Darah Frem berdesir hebat, merasakan hangat nafas istri dibawah daun telinganya.lembut sentuhan tangannya, merdu suara bisiknya.Sorot mata teduh namun mampu menghipnotis.Tatapan yang tenang dan penuh kasih, seperti awal jumpa mereka setelah dewasa. Bedanya sekarang wajah itu tidak lagi ditutupi sedikitpun oleh masker.
" Ya Tuhan...Terima kasih sudah memberikanku gadis yang hebat,setelah apa yang terjadi, dia masih bisa bersikap lembut dan hangat padaku, senyumnya juga nampak tulus, apa yang ia ungkapkan semalam sepertinya telah terbawa bersama angin. Apa yang terasa ia katakan, dengan spontan, jujur. Simpel sekali caranya membuang rasa sakit, ajaibnya ia berhasil melakukannya dengan mudah. " batin Frem takjub dengan kelapangan hati istrinya.
" Sayang...Seno minta maaf ya..." Ucap Frem lagi dengan suara lirih dan mata sendu, mencoba membalas tatapan Sonia.Setelah berlaku tak baik,
kadang diri sendiri lebih tersiksa rasa bersalah ketimbang orang yang menjadi korban. Hal ini ternyata berlaku juga bagi Seorang Seno Premudya Permana.
" Suut...Jangan ulang kata itu lagi, apalagi disamping meja makan begini." Sonia menutup mulut suaminya dengan ujung telunjuknya, sedikit mendongak untuk mencapai Frem. Frem memutar kursinya membelakangi meja makan, lalu menarik kursi Sonia, agar menghadap padanya, setelah merasa posisi mereka nyaman, Frem meraih tangan istrinya ,membawa tangan Sonia kebibirnya untuk dikecup. Suara pergesekan kursi dengan ubin memancing perhatian kedua juru masak, tapi begitu melihat pengantin baru yang membuat kegaduhan, keduanya memutuskan berpura- pura tidak melihat apapun. Juna dan Rey melanjutkan pekerjaan mereka tanpa menoleh lagi.
*
*
" Makasih..." Ucap Frem dengan memejamkan mata. Ketika pria tampan itu membuka matanya lagi, ia mendapati Sonianya mengangguk dan tersenyum manis, mata Sonia mengerjab indah. Frem terlonjak senang, merasakan tak ada dendam yang tersirat dari sorot sepasang bola mata itu ,Frem memberanikan diri meraih istrinya dan mendudukkan Sonia dipangkuannya, menghadap padanya.
Deg
__ADS_1
Frem menunduk, menatap lekat wajah Sonia, lalu membelai pipi mulusnya." Istriku cantik luar dalam." Puji Frem dengan bergumam. Sonia tak langsung menjawab,tapi gadis itu membenamkan wajahnya didada bidang Frem.
" Tak ada yang sempurna selain pencipta alam semesta... Setiap orang pasti punya kekurangan dan kelebihan. Dari diary Daddy yang kubaca,
katanya itulah gunanya pasangan, untuk saling melengkapi dan menutupi kekurangan pasangan kita."
" Ya...Kalau begitu mulai sekarang kita belajar untuk saling memahami dan melengkapi ya sayang...Suamimu ini sungguh lebih banyak kurangnya dari lebihnya, belum berapa hari kekurangan itu langsung nampak jelas." Balas Frem masih memelas.
" Oke...Istrimu ini juga kadang bandelnya suka nyebalin."
" Ya! Tapi istriku baik hati. Bagaimana kalau kita coba dengan panggilan pasangan resmi. Nia pilih mau panggil Seno apa?"
" MHum...Boleh juga. Gimana kalau Panggil Ajo?
" Ajo???Ngak ada panggilan lain? "tawar Frem.
" Ajo itu Panggilan sayang untuk seorang suami lho sayang. Di Sumatra Barat bagian Utara." jawab Sembarangan Sonia sembari menahan geli.
" Mana ada begitu, Yang kudengar itu panggilan pada tukang sate dikaki lima." Sahut Frem mengerucut.
" Emang pernah jajan ditempat begitu?" tanya Sonia dengan mata membola.
" Pernah sekali, diajak Bahri bareng- bareng dengan
" Wow...Luar biasa! ngak nyangka bangat CEO Permana Jaya pernah mangkal dikaki lima untuk ngantri sate."
" Demi mengambil hati calon ponakan." Balas Frem.
" Lumayan keras perjuangan Ajo untuk dekat dengan keluarga Nia ya? He..He..He..
" Lumayan! tapi ngak rugi juga, satenya Enak kok."
" He...He...Bahri...Bahri, ngapain juga kekaki lima, padahal ada restoran sate yang bisa delivery." Sonia geleng- geleng kepala, terbayang gimana Ponakannya itu sengaja menguji Frem.
" Tak apa, selain enak murah! Kan bisa ngirit untuk makan lima kali anak- anak.! " Balas Frem.
" Isssh...Sok pelit! He...He...
Melihat Sonia tertawa, Frem turut senang. Sekarang ia makin yakin, Nia benar- benar memaafkannya."Tak apalah dipanggil seperti panggilan untuk tukang sate, yang penting tetap disayang. " Ujar Frem.
__ADS_1
Sonia mendongak dan menaikkan kedua tangannya untuk meyentuh wajah Frem, Frem menggenggam kedua tangan mungil Sonia yang berada dikedua pipinya, dengan tangan lebarnya.
Cukup lama mereka bertatapan dengan jarak dekat, sampai Frem menunduk untuk mengecup puncuk kepala Sonia, turun kekening, terus nyangkut lama dihidung bugir kekasih halalnya, lalu tenggelam dibibir manis Sonia.Keduanyasekarang lupa, kalau mereka masih diruang makan.Bunyi decapan kecupan panas itu mengisi ruangan makan yang cukup luas ini, membuat langkah biCici menuju dapur hendak mengambilkan sarapan untuk tuan Fredy terhenti, kepergok majikan muda sedang bermesraan, wanita paroh baya itu tertunduk malu, dan akhirnya memutuskan untuk balik kanan.
" Ki_ Kita masih diruang makan." Bisik Sonia dengan nafas masih berkejaran setelah ciuman bibir mereka terlepas. Dengan wajah bersemu, Sonia melepaskan diri dari Frem, berdiri dan melangkah pergi.
Frem mengejar langkah Sonia,lalu meraih tangan Sonia, untuk berjalan bergandengan.Tidak butuh waktu lama, mereka sampai dikamar mereka dengan nafas sedikit ngos- ngosan keduanya duduk bersandar kepala ranjang.
" Nanti baik- baik disana ya, kalau bisa jangan lama,Nia takut jadi kangen, kan sejak ketemu lagi belum pernah pisah jauh." Ucap Sonia memecah keheningan.
Frem menarik lembut Sonia, membawa istrinya itu kepangkuannya." Kita akan pergi bersama, setelah disana kita putuskan, mau cepat atau lama kembali, kita luangkan waktu untuk bulan madu ke Brusan.
" Apa?" Sorak Sonia terkejut. " Kita terbang dari Beijing ke Korsel?" tanya Sonia berbinar.
" Yes! Kan dekat! " Balas Frem tak kalah semangat.
" Tunggu! Kemaren katanya pergi dengan Wafi, kok bisa berubah?"
" Tidak ada yang berubah, hanya rutenya ditambah dari satu negara jadi dua negara.Bukankah istriku sedang cuti, gimana bisa ditinggal begitu. Wafi tetap ikut sampai Beijing,ia kesana ada misi cinta, kurasa sebagai Bos yang menganggapnya sudah seperti adik, aku akan belajar mendukung kebahagiaannya. Disini ada Jean dan Edi yang bisa menghandel selama masa cuti kita, sebelum Edi ditarik oleh papanya untuk mengurus bisnis papanya."
" Bisnis? Emang Edi anak pengusaha juga???
Bukankah kata Bila ia hanya mantan Muazzim??"
" Ya, ia dititip pada sepasang suami istri yang bekerja sebagai buruh pabrik oleh kakeknya sejak bayi, dan terpaksa menjalani hidup sederhana dan melakukan apasaja, walau untuk makan dan pendidikan tetap ditanggung kakeknya, dengan dalih bantuan dan beasiswa.
" Tega amat kakeknya! Gimana sampe begitu? " Sonia makin bingung. Sampai- sampai kedua alisnya menaut. Frem memijit pelipis Sonia.
" Nantilah sayang...Biar Edi sendiri yang menceritakan kisah hidupnya, kalau ia jadi keluarga kita, dan sudah menerima papanya. Untuk sekarang mending Nia istirahat, Ajo menyiapkan bawaan kita untuk berbulan madu! Untuk gosip pending dulu,mending Nia istirahat. " Potong Frem membaringkanSonia dengan lembut, walau bibir Sonia masih mengerucut karna masih sangat ingin tahu kisah mantan Bilal tampan yang sudah mencuri hati ponakan kecilnya.
" Tunggu dulu! Ia menyebut dirinya sendiri Ajo. Ha..ha...ha..." Sonia terhibur kembali dan tertawa dalam hati, sementara bibir bawahnya dimajukan kedepan.
" Jangan memainkan bibir begitu, tar ada yang gigit lho " Goda Frem yang membuat Sonia cepat- cepat menutup mulutnya dengan tangan kiri, sedang tangan kanannya dikibaskan. " Cepatlah berkemas, nanti kalau di sana baru kita fikirkan apa kita sudah siap jadi mama papa." Ujar Sonia tak sengaja.
" Oke!!! Dengan senang hati! " Sahut Frem penuh semangat, lalu melangkah besar menuju lemari pakaian untuk bersiap.
Deg
" Ya Tuhan...Aku salah ngomong lagi." Sonia menggeleng pasrah. Rasa ingin menolong suami berkemas ia tekan. Sonia memilih patuh, jadi penonton pria tampan itu sibuk beberes dari pembaringannya.
__ADS_1
" Kita lihat sepintar apa Ajo menyiapkan semua dan packing keperluan kami." Sorak Sonia dalam hati. Perempuan itu berusaha menahan geli teringat panggilan sayang untuk suami yang sudah disetujui.
Jangan lupa tinggalkan jejak bagi yang mampir ya say...Komen, like, fote, hadiahin dan Faforitkan karya kita ini.