Cool CEO Couple Stubborn Girl

Cool CEO Couple Stubborn Girl
Berita Pagi Ini


__ADS_3

Pagi sekali didalam kamarnya, tiba- tiba saja Fredy teringat menonton televisi. Sebagai mantan Orang bisnis, tentu yang ia buka berita. Tiba-tiba mata Fredy membola dengan bibir bergetar ketika melihat berita di televisi menayangkan peristiwa kekacauan yang terjadi di perusahaannya. Dimana pagi ini para investor sibuk menuntut Frem untuk segera mengadakan rapat pemilik saham. Mereka menganggap Frem tak mampu memegang PJG karna telah terjadi hal- hal diluar kendali diperusahaan besar ini.


" Tidak sanggup serahkan saja kepemimpinan ini, karna masih banyak yang berkompeten! " Seru kejam para pemilik saham.


Sonia tiba dengan kepala pelayan disana untuk melihat sang papi mertua. Melihat Wajah Fredy yang menegang dengan bibir pucat, Sonia segera mematikan televisi. " Papi tak usah memikirkan ini,


lihatlah ia tenang saja menghadapi orang- orang itu. Artinya dia akan sanggup mengatasinya." Ujar Sonia sembari mengatur sarapan untuk sang papi mertua dibantu oleh kepala pelayan.


" Ta_ tapi bagaimana ia bisa terjadi hal sebesar ini dalam semalam. Papi tak mau usaha papi membuat Frem menjadi orang terkuat di PJG malah berakhir seperti rencana para pemilik saham


itu." Fredy menatap Sonia dengan wajah yang sangat cemas.


" Tenanglah Pi...Dalam keadaan sadar Frem memiliki fikiran- fikiran yang tidak terduga. Dalam waktu setengah jam ia akan mengatasi semua ini, pokoknya papi berdoa saja, dan mari sarapan, karna papi tak boleh drop dalam situasi begini, ntar konsentrasinya pecah pula kalau ada sesuatu terjadi dengan papi." Ucap Sonia berusaha menenangkan Fred,walau sesungguhnya ia sendiri


sebenarnya tidaklah tenang, mengingat suaminya sepertinya kehilangan orang- orangnya, ia melihat sekilas tadi Frem benar- benar sendiri.


" Kemana Wafi? Kok tadi aku tak melihat wajahnya tersorot kamera." Batin Sonia bertanya- tanya. Sonia ingin cepat- cepat memastikan ayah mertuanya sarapan dan minum obat, agar ia bisa segera mencari kabar tentang semua ini. Bagaimana ia bisa tenang sedang suaminya entah bagaimana mengatasi kesulitan ini. " Anak ini datang terlalu cepat, hingga aku menjadi lemah karnanya, cik. Aghhhh...tidak! Ia tak salah apa- apa, kami sedang diuji saat ini. Tapi herannya Jean kok ngak ada juga ya? Kalau mami yang buat kekacauan ini, tentu Jean akan muncul sebagai pahlawan. Ini Jean saja seperti hilang ditelan bumi sejak semalam. Ada apa ini? Apa ada musuh diatas


musuh?" Batin Sonia gelisah.


Bertepatan ketika Sonia tenggelam dalam fikirannya yang kalut, kedua kakek tiba dikamar Fredy. " Cucu! Sepertinya kakek ada hal penting yang harus dibicarakan denganmu, tolong ikuti kami! " Ajak langsung kakek Han yang membuat Fredy menghentikan suapannya.


" Ada apa pi?Sebaiknya kalian bicara disini saja." Ujar Fredy.


" Tidak Fredy! Ini urusan orang dewasa, kau teruskan saja sarapanmu, biar papa, papimu dan Sonia yang mikirkannya." Timpal Han seraya menyampaikan pesan isyarat pada sang cucumantu.


Sonia yang mengerti langsung mengikuti kedua kakek, merekapun berkumpul diruang baca Frem.


" Semalaman kakek berdua tak bisa tidur memantau masalah ini. Dan dari kesimpulan kami, ada musuh lain yang menginginkan kehancuran keluarga kakek sejak lama, dan sekarang ia melancarkan puncak aksinya, ia seseorang yang sudah lama menunggu waktu ini." Ujar Tiono menjelaskan sembari memutar Vidio berita televisi yang mereka rekam beberapa menit yang lalu.

__ADS_1


" Kau Lihat orang ini sayang...Dia adalah provokatornya, lihat betapa terlihat santainya dia dalam senyuman, saat ini ia sudah mengurung semua orang- orang Frem, termasuk adiknya Jean, semalaman kami meneliti masalah ini, dan inilah yang kami temukan." Jelas Han pula sembari menunjukkan wajah tua dibalik kamera.


" Siapa dia kek? Dia sudah setua kakek, apa urusannya dengan keluarga Permana? " Heran Sonia melihat wajah pria yang sudah tidak layak menjadi musuh itu, karna untuk berjalan saja ia butuh kursiroda dan banyak pelayan.


" Dia mantan rekan bisnis kakek, tapi sejak kakek menikahi nenek Thalia, ia seperti menghilang ditelan bumi. Entah apa masalahnya, ia hanya meninggalkan sepucuk surat untuk nenekmu berikut penyerahan saham miliknya atas nama nenek Thaliamu dengan mengirimkan seorang pengacara." Ucap Tiono dengan mengerutkan seluruh dahinya, untuk bisa mengumpulkan memory 40 tahun silam.


" Astaga kakek....Bagaimana bisa kisah cinta tak usai hampir setengah abad yang lewat bisa bikin gawat sekarang." Ucap Sonia sembari memijit keningnya yang tiba- tiba terasa pusing.


Kedua kakek mulai mendekati Nia karna khawatir. Namun cepat- cepat Sonia tersenyum." Aku tak apa


kek, hanya pusing bawaan. " Ujarnya dengan tersenyum.


" Mudah- mudahan ia, karna kami tak mau sesuatu terjadi denganmu sayang." Ujar Han tulus yang diangguki Tiono.


" Benar aku tak apa kakek..." Balas Sonia sedikit manja, hingga kedua kakek tenang.


" Kau benar cucuku, kesimpulanmu benar! " Ujar Tiono kembali kepokok permasalahan sembari melangkah mendekati Sonia, lalu menatap Sonia dalam- dalam.


" Berarti mami Jessi juga korban dalam hal ini, Jean diculik oleh komplotan kakek Dal, dan ia menghasut para investor untuk mengambil alih perusahaan, agar keluarga Permana tidak berkuasa lagi dipermana jaya Group. Artinya mami juga sekarang pusing, rencananya ada yang menikung." Ujar Sonia yang diangguki kedua kakek.


" Ya! Tapi awal kekacauan tetap saja wanita itu penyebabnya!" Timpal marah Kakek Han.


" Pria itu mengambil keuntungan dari rencana yang dibuat Jessi. " Ujar Tiono.


"Artinya mami Jessi tetap bertanggung jawab untuk hal ini. Tentang kakek itu, ia sepertinya sangat tak punya belas kasih, hanya nenek saja kelemahannya didunia ini. Cinta pertama dan terakhirnya. Apa ada kemiripan diriku dengan nenek Kek?Biar aku sendiri yangmenemui kakek dalton itu?" Usul Sonia langsung.


" Tentu ada Nia...Kau wanita yang cantik dan mudah menaklukkan hati orang. " Jawab sembarang Kakek Han.


" Wajah tentu tak ada mirip Nia...Tapi mata kalian sama, dan juga gaya bicara. Rambut panjang bergelombang ini juga mirip." Ujar Tiono.

__ADS_1


"Tapi Tunggu dulu Nia! kita fikirkan caranya, karna kakek tak mau mengambil resiko kehilanganmu dan calon pewaris kami, untuk menemui ketua kerajaan Iblis yang tak punya tujuan hidup yang jelas seperti Tuan Liu." Ujar Kakek Tiono berfikir keras.


*****


Sementara Jessi dikediamannya menatap kosong kelayar televisi. Apalagi dia sudah sejak semalam tak berhasil menghubungi Jean. " Ya Tuhan....Ada apa ini, kenapa malah kacau begini, padahal aku hanya minta anak buahku mencuri File Frem dan menyabotase mobilnya, kok malah Jean pake menghilang segala? Disini bukan lagi antara aku, Jean dan Frem, tapi sepertinya ada orang lain yang membonceng penyerangan semalam." Ujar Jessi pusing.


" Siapapun orang lain itu, aku akan memastikan ia harus melepaskan putraku." Ujar Jessi mulai bergegas bersiap mencari Jean.


" Aku temani ya..." Tiba- tiba Hendra menghampiri Jessi dan siap mengantarnya.


" Tidak! Ini urusanku,aku tak mau terjadi sesuatu denganmu. Ingat! ada putri kita yang masih membutuhkan papinya, bukankah kalian telah berjumpa? Tolong jaga dia untukku." Ucap Jessi dengan mata yang mengembun. Ia kemudian memeluk Hendra. " Ternyata aku salah Bang...kukira akulah yang paling licik didunia, ternyata ada yang lebih dariku, aku akan menyelesaikan urusan ini, dan tidak akan melibatkan kalian." Ujar Jessi dipuncak sesalnya. Sekarang dadanya sebak.


Detik berikutnya ponsel Jessi berbunyi. Dengan Cemas diangkatnya telfon dari nomor takdikenal itu.


" Ha....ha....ha...Wahai Wanita beracun! Cun..cun... Jangan kaget ya...Ha....ha... sekarang aku datang membuat perhitungan denganmu, dalam hitungan sepuluh detik mundur dari sekarang akan ada yang menjemputmu, bersiaplah....lah... lah...untuk mati bersama dengan putramu dengan racun racikanmu sendiri. Hi....hi.....hi... " Ujar suara tua menggema yang membuat bulu kuduk Jessi berdiri. Dipagi yang masih dingin ini ia seperti mendengar suara hantu yang baru bangkit dari kubur.


Hendra yang dapat mendengar juga bergidik ngeri, ia kembali ingin memeluk Jessi. Namun belum sempat ia menarik sang istri kedalam pelukannya, sekelompok orang dengan kostum seperti kelelawar sudah menyerang mereka. Mereka melempar Hendra dengan mudah, lalu membawa Jessi bersama mereka secepat angin.


Hendra berteriak minta tolong, namun suaranya seperti disedot, ia tak bisa mendengar suaranya sendiri. Padahal ia sudah teriak keras. Hendra merasakan seluruh tubuhnya dingin.


Lain lagi dimarkas C21, Erlangga makin bingung karna menemukan Fakta lain. Ternyata yang mereka tangkap memang orang- orang Jessi, dan disisi lain orang- orang Frem menghilang bukan karna orang ini, melainkan kekuatan lain.Mereka segera melakukan pengusutan lebih lanjut. Namun Merasa perlu menghubungi sang Bos.


" Nona! Ada musuh lain." Lapor Erlan begitu telfonnya tersambung pada Sonia.


" Aku tahu! Kalian fokuskan saja anggota mengamankan Frem, untuk rencana selanjutnya, tunggu perintahku! " Ujar Sonia tegas. Erlangga sungguh bingung secepat itu bos cantiknya mengetahui semua kondisi. Apalagi wanita ini hanya dirumah dan tidak terhubung dengan satupun anggota. Tapi mendengar suara tegas Sonia, Erlan tak berani banyak protes.


" Fokus dengan keamanan Tuan! Faham!


" Ya Nona..." Jawab Erlan masih bingung.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2