
Aulia mengangguk bukan berarti ia percaya begitu saja dengan Rianti. Bagaimana Rianti yang ceria menjadi sering bengong, ngak fokus dan sensitif. Waktu gagal tunangan itu Rianti sedih dan sampai kabur, tapi dari pantauan Aulia, putrinya itu ngak sampe bingung begini, ia malah berpetualang riang dinegri orang, bahkan dengan cepat membuka diri berkenalan dengan laki- laki yang bernama Tian.
Selama ini dalam sedihpun, Ria masih tetap bisa berkonsentrasi penuh.
" Tidak bisa dibiarkan, pasti ada persoalan berat yang disembunyikan putriku." Batin Aulia.
Tiba- tiba saja telfon Rianti berdering. Rianti mengeluarkan benda pipih itu dari sakunya dan menatap layar. Melihat itu dari Jessi, ia menolak panggilan.
" Mengapa di reject panggilan dari mamimu sayang? Ada apa? apa kalian bertengkar? " tanya Aulia karna ia sempat melihat panggilan siapa yang
sengaja ditolak sang putri.
Rianti mengelap bibirnya dengan tisu setelah menyimpan telfonnya kembali.
" Nanti telfon balik, sekarang kita siap- siap untuk jalan- jalan, andai mama punya waktu. Pliss...Kita baliknya besok aja ya ma, sudah lama ngak liburan keluarga. Walau_
" Walau tak ada papa masih akan tetap rame!
Hari ini mama khusus untukmu sayang..." Aulia
sengaja meneruskan ucapan Rianti.
Rianti terdiam menatap Aulia penuh selidik.
" Mama mohon jangan banyak mikir. Masa lalu kita pinggirkan dulu. Oke! " Ucap Aulia begitu melihat raut ragu Rianti.
" Yes!!! Mama memang ibu sejati! " Sorak girang Rianti.Setelah yakin ibunya benar- benar tak apa- apa.
" Apapun akan baik kalau ada permata hatiku." Balas sarkas Aulia, seraya menarik sang putri lembut.
Keduanya lalu berjalan berpegangan tangan menuju kamar Rianti.
Sementara Jessi yang sudah siap dengan strategi barunya, begitu kesal karna telfonnya sengaja ditolak oleh Rianti.
" Anak ini! Apa ia sengaja membuatku kesal. " Ujarnya dengan mengusai rambut didepan cermin
hias.
" Tenang Jessi...Sepertinya harus banyak sabar menghadapi bocah itu. Dan sekarang lebih baik menundukkan suami. " Seringainya licik.
Jessi barusaja selesai mandi dan siap- siap untuk menemui suaminya agar mau menurutinya,dengan mengunjungi Hendra diklinik pria itu.
Hendra sudah pergi keklinik sejak pagi sekali.
Seperti biasa Jessi ditinggal dengan banyak pesan pada ART dan penjaga karna wanitanya itu belum bangun saat suaminya sudah siap untuk beraktifitas.
Karna telfonnya direject Ria, ia mengirim pesan, lalu melanjutkan dandanannya.
Di Klinik pribadi dokter Hendra, lumayan rame pasien hari ini. Ada artis, model, pasien sumbing dan juga pasien bekas luka bakar ingin memperbaiki penampilan. Hendra bekerja dengan semangat menangani pasiennya dengan didampingi beberapa dokter bedah yang lain.
Menjelang makan siang, Hendra baru selesai melakukan satu operasi bersama perawat.
Ia menyeka keringat dan mencuci tangan dengan bersih di wastafel.Setelah bersih ia segera menemui dokter Lee.
" Dokter Lee... " Panggilnya begitu melihat pria itu hendak keluar ruangan operasi sebelah.
__ADS_1
Pria muda itu berbalik, lalu menatap Sang pemilik klinik. " Ya pak, saya siap. " Jawab tanggap Lee min young.
" Jam istirahat, apa operasi kalian lancar? " Tanya Hendra berbasa- basi.
" Aman dan terkendali pak! " Jawab lebai dokter Lee.
" Bagus kalau begitu. Selanjutnya bisa dihandel kan habis istirahat? Soalnya kalau boleh bapak mau izin keluar, kalian saja yang melanjutkan pasien yang masih belum ya, bapak ada urusan penting. " Ucap Hendra terdengar sangat sopan ditelinga Lee.
" Tentu Bos, Amanlah.Kami akan berkarya dengan baik dan teliti, bapak kalau ada keperluan silahkan , kan yang cerewet sudah bapak tangani sendiri tadi." Jawab mantap Lee.
Hendra mengangguk senang." Kalau gitu bapak langsung cabut aja ya." Pamit Hendra seraya melewati pria muda itu dengan menunduk sopan.
Dokter Lee terbengong menatap Hendra, sampai punggung pria itu menghilang dari pandangan, mata sipit Lee masih membola.
" Ada apa dokter? kok kayak lihat hantu." Sergah seseorang seraya menepuk pundak dokter Lee.
" Bukan hantu, tapi malaikat! " Ujar Lee dengan tersenyum.
" Malaikat? Kamu indigo ya? " Tanya Dokter
"He...He....Bukan Indigo tapi Indome! lapar nich.." Kelakar dokter Lee.
Ha..ha.. ha...
Tawa kedua dokter sontak terhenti bersamaan dengan langkah kaki Jessi masuk keruangan itu dengan membawa bekal makan siang untuk suaminya.
" Apa kalian digaji hanya untuk cekakakan saja! " Sergah Jessi.
" Anu...Bak..Buk..." Gagap dokter A.
Kedua lelaki muda dan tampan itu mengusap dada.
" Baiklah nyonya Jessi. " Balas Dokter Lee yang tak Sudi memanggil Jessi kakak, karna ia tahu wajah muda belia Jessi hasil karya dokter Hendra.
" Mana dokter Hendra suamiku?" Tanya langsung Jessi.
" Beliau sedang pergi nyonya, katanya ada urusan penting." Jawab Lee spontan pula.
" Apa???." Wajah Jessi mendadak gelap.
" Urusan penting! Jangan- jangan...Ahhhh!" Jessi menghentakkan kakinya kesal terfikir suaminya bergerak sendiri mencari putrinya. Wanita itu marah bercampur gugup, sampai menghempaskan taperware keatas meja. " Ni makan kalau mau! " Kesal Jessi lalu memutar tubuh dan berjalan cepat menuju pintu keluar. Meninggalkan kedua dokter muda itu melongo.
" Kalau barusan namanya Siluman! " Ucap serentak kedua dokter setelah Jessi benar-. benar pergi.
" Ada juga seorang yang berhati malaikat berjodoh dengan Siluman ya..Kasihan pak Hen, tua dulu baru married, dapatnya yang begitu." Ujar Dokter A.
Dokter William tiba dan matanya langsung tertuju pada tapperware tiga tingkat dimeja.
" Kok pada bergosip disini, siang masih banyak pasien lho. Ayo makan! " Ajaknya seraya mengambil tapperware itu.
" I...Itu_
" Ngak apa, Kita bagi tiga aja, kan pas, nanti tinggal pesan minum aja lagi, kan irit." Potong William seraya membawa kotak makan itu.
Kedua dokter menggeleng, tapi mereka tetap mengikuti rekannya berjalan menuju kantin.
__ADS_1
Dimeja paling sudut kantin , ketiga dokter itu mengambil tempat. Pesanan menu pembuka sudah tiba, berikut minuman. Begitu Dokter W membuka kotak makan dari Jessi, Dokter A mencegahnya.
" Sebaiknya kita pesan makanan saja, apa kalian tidak pernah dengar rumor tentang nyonya pak kepala. " Ucap Dokter A.
" Wanita beracun?" jawab langsung Lee.
" Tu kan tahu. " Gumam A.
" Ini pasti aman kok, kan bukan niat buat kita, lagian kita tak ada urusan tahta dengannya." Jawab santai dokter William sembari tersenyum,
ia mulai menyendok isi kotak warna biru itu, kebetulan sekali menu itu faforitnya.
Kedua temannya mengangguk, lalu merekapun membuka kotak dihadapan mereka.
*
*
*
Sedangkan Dokter Hendra telah dalam perjalanan menuju rumah putrinya.
Semalaman setelah menggauli Jessi ia tidak langsung tidur. Ia mengumpulkan semua Info tentang putrinya melalui petunjuk rekaman CCTV Kegiatan Jessi dua minggu terakhir.
Dari petunjuk itu ia terus menggali. Ia mengetahui jika putrinya disediakan rumah oleh keluarga angkatnya dikawasan P sejak mulai SMP.
" Ternyata Riantiku begitu berarti bagi orang tua angkatnya, sampai untuk sekolah diIbukota saja ia dibelikan rumah." Kagum Hendra begitu mobilnya sampai didepan rumah mewah dikawasan P. Rumah itu berpagar tinggi dan dijaga oleh satpam yang memiliki pos yang juga bagus dihalaman depan.
Setelah cukup puas memandang kediaman putri yang baru ia ketahui keberadaannya. Hendra meraih telfonnya yang berdering.
" Ada kabar bagus tuan! " Ujar seseorang setelah telfon tersambung.
" Apa sudah berhasil masuk kerja disitu? " tanya Hendra tak sabaran.
" Yes tuan! Saya diterima kerja sebagai perawat taman, kebetulan nona muda akan balik, ia penyuka tanaman, aku datang tepat waktu, tugasku mengembalikan keindahan taman yang sudah tak terawat sejak setengah tahun ini, selama
nona diluar negri. " Ujar riang dari sebrang.
Hendra terdiam sembari tersenyum lebar. " Persis diriku, pecinta bunga dan pemuja keindahan. " Batin Hendra.
" Tuan... kalau ada perintah lewat pesan aja ya.
Aku buru- buru mau lanjut kerja habis makan siang, nona akan balik lusa kabarnya, mesti kerja rodi nih, nanti kebanyakan nelfon ditepak pula dari sini, maklum pekerja baru, takutnya masih dipelonco." terdengar lagi cerocosan dari sebrang.
" He...He....he...Ya Jay ! God Job! " Jawab senang Hendra. Kemudian memutus sambungan.
" Hidupku akhirnya sempurna. Walau aku takkan bisa mengambil putriku begitu saja, tapi setidaknya aku sudah tahu dimana dan kemana saja dia. Kota C, ibukota dan Bali untuk dalam negri. Kalau luar Beijing dan Korsel. Tinggal menunggu waktu yang tepat untuk bertemu. " Ucap Hendra tersenyum puas, bersyukur karna ternyata dipenghujung hidupnya ia masih diberi kejutan yang indah dari pencipta Alam semesta, ia tidak memikirkan apalagi selain bisa bertemu dan memastikan kebaikan untuk putrinya itu.
Nyiut....Bunyi perut sang dokter kecantikan.
Ia tersenyum kembali seraya mengusap perutnya, sabar ya, bentar lagi diisi. Maaf... tuan terlalu bersemangat hingga melupakanmu." Ucapnya bicara konyol pada siSumatra tengah.
Sementara.
Bersambung...
__ADS_1