Cool CEO Couple Stubborn Girl

Cool CEO Couple Stubborn Girl
Janji yang Terucap.


__ADS_3

" Maaf...Salah tempat! " Ucap Sonia saat merasakan pergerakan gelisah Frem disisinya. Sonia menurunkan tangan suaminya buru- buru yang tadi ia peluk didadanya.


Tapi semua sudah terlambat, tak ada lagi yang difikirkan oleh Frem selain dari secepatnyabergelut dengan Sonia. Dengan seringai licik Frem menggandeng Sonia turun."Setiap tindakan pasti ada resiko,gara- gara Nia, Ajo jadi Doble lapar nich. Setelah makan harus bertanggung jawab untuk yang satunya. " Bisik Frem.


Sonia tersenyum kecut , benar apa yang dikatakan Frem, ini salahnya, membangunkan singa yang sedang lapar. " Baiklah...Kita coba nanti, tapi biarkan Nia makan sampai kenyang dulu." Pinta Sonia.


" Pasti sayang...Ajo juga butuh asupan." sahut Frem antusias. Pria ini rasanya ingin terbang kemeja makan agar secepatnya dapat menerbangkan istrinya kelangit ketujuh , bibir frem tak dapat menahan diri untuk tidak tersenyum lebar, menunjukkan betapa pria muda ini senang bukan kepalang, akan merajut malam yang panjang.


." Sepertinya tidurku selama dipesawat tadi adalah untuk bekal begadang malam ini. Aku selalu salah berucap dan bertingkah yang membuat diriku harus menanggung akibat. Nia...Nia, mengapa didepan pria ini susah sekali bersikap biasa. Apa semua orang merasakan sepertiku pada pasangannya? " Nia menyerepeti diri sendiri dalam hati.


*


*


Makan malam itu terasa lama bagi Frem, namun begitu singkat terasa oleh Sonia.


Setelah melihat Sonia menghabiskan makannya, Frem yang dari tadi sudah siap, berpura-pura menguap, sebagai alasan membawa istri beranjak dari meja makan itu." Kalian istirahatlah semua! Aku sudah sangat ngantuk sekali, kami duluan keatas ya." Ucap Frem menatap keenam orang kepercayaannya bergantian.


" Ngantuk Apa? Bilang saja mau ngajak istri enak- enak, orang Bos didalam pesawat tidur Mulu, dasar orang baru." gerutu Wafi dalam hati. Pria itu menatap Bosnya dengan tatapan menelisik.


" Hguuuuuh..." Frem kembali menguap dan menutup mulutnya dengan tangan tatkala sang asisten menatapnya dengan curiga.


Wafi benar- benar geli melihat sandiwara bosnya, pria yang selama ini tidak pernah mengambil jam tidur normal manusia biasa, sekarang berdalih mengantuk dan ingin cepat tidur.Wafi tersenyum, walau nampak jelas senyum itu penuh ejekan.


Wafi memang susah menghilangkan sikap jeleknya ini, terlalu berani pada frem.Bahkan dari awal ia sudah menganggap Frem sebagai kakak yang bisa dijadikan teman bergurau dan tempat mengadu. walau sering dapat semburan dari sang CEO dimasa karna sikap sok dekatnya ini,tetap saja Wafi sulit berubah,baginya kemarahan Frem sama dengan kemarahan seorang kakak atau ayah yang ingin mendidik putranya,sebab itulah Wafi tidak pernah tersinggung. Nyatanya memang Frem tempat mengadu dan bergurau satu- satunya yang ia punya.Frem memang terkesan dingin dan kasar, tapi ujung- ujungnya ia selalu mampu menerima Wafi apa adanya, sebagai asisten dan saudara yang dikasihi.Inilah yang mungkin membuat Wafi benar- benar merasa memiliki Frem, dan suka bersikap spontan pada Bosnya itu.


" Udahlah Bos... Jangan banyak drama, sana melanjutkan Malam Panjangnya." Ucap Wafi kebablasan. Ketika melihat semburat merah dipipi nyonya muda mereka, Tian disisi Wafi menyikut lengan Wafi untuk mengingatkan pemuda itu.


" Astaga...aku memang keterlaluan, masak aku lupa ada nona Sonia yang akan malu dengan ucapan tak berbandrol ku ini." Wafi mengumpati diri karna merasa tak enak hati menilik sekilas wajah nyonya bos yang sudah seperti tomat masak.


Frem menatap tajam asisten bandelnya ini,Apalagi ketika semua mata tertuju pada wajah istrinya, ingin sekali Frem melempar Wafi.Namun begitu mendapat sentuhan dibahunya dari sang istri, yang mengajaknya berdiri, Frem kemudian beralih menatap wanitanya ini dengan lembut, lalu menganggukkan kepala tanda mengerti.

__ADS_1


Pasangan baru itu akhirnya meninggalkan meja makan dengan perasaan campur aduk.Namun keduanya tetap gandengan erat, seperti sedang menyebrang sungai yang sangat deras.


Begitu sampai didepan pintu kamar, Frem menghentikan langkahnya sejenak, yang membuat kedua alis Sonia nyaris menaut." Ada apa? Tanya Sonia bingung. Wanita inipun urung meneruskan langkah masuk.


" Kirim pesan untuk Siance dan kawan - kawan agar mengambil cuti seminggumulai besok, tadi terlupa saking mau cepat naik ranjang." Ujar Frem mengeluarkan ponsel dari saku celananya, dan mulai menulis pesan, tidak sadar wajah istrinya kembali merah karna ucapan absurtnya.Namun Sonia secepatnya mendengup Saliva, untuk menenangkan debarannya. Lalu kembali menatap Frem.


" Kalau mereka libur, Apa Wafi saja yang akan menemanimu keperusahaan?."


" Wafi juga akan berkencan, Ajo dua hari ini kekantor, sisanya kita akan terbang kekrusan untuk honeymoon." Ucap Frem dengan wajah berbinar.


Detik berikutnya pesan telah berhasil terkirim.


Frem kembali fokus pada wajah istrinya yang bersemu merah. Dibawah cahaya lampu Sonia terlihat makin cantik dan seksi Dimata pria ini.


Sonia tertunduk mendapat tatapan intens suaminya." Sayang apa sudah siap melewatkan malam panjang berdua? " bisik Frem diujung kuping Sonia.


Sonia mendengup untuk membasahi tenggorokannya yang mendadak terasa kering karna hawa panas yang tiba- tiba ketika tangan suami sudah mulai menyelusup kebalik piyama tidurnya. Detik berikutnya, bibir Sonia yang sedikit terbuka, sudah dilahap oleh Frem dengan rakusnya. Ciuman yang melelapkan cukup lama berlangsung,menghadirkan suara- suara aneh dan terlepas ketika pasokan udara sudah mulai menipis. Keduanya sudah saling tatap dengan sorot penuh damba.


Merasa gayungnya bersambut, Frem segera membopong Sonia dan tidak butuh waktu lama, Frem sudah merebahkan istrinya diperaduan mewah mereka. Kini keduanya saling mengikis jarak, melepas semua benang penghalang dan berpetualang riang di bagian dan titik tubuh pasangan yang dikagumi dan diinginkan. Hawa kamar menjadi panas dan suara- suara aneh mulai lolos dari bibir keduanya tanpa terkendali, ketika keduanya sudah larut dalam cumbuan panas nan menggetarkan.


Tatkala tatapan mereka kian sayu, Sonia dengan sukarela membuka kedua kakinya, hingga Frem dengan mulai menyatukan tubuh mereka dan mulai mengayun dari lembut,sedang hingga menciptakan getaran gempa bersklala tinggi akibat dorongan dari atas dan dibawah yang saling bersambut.


Pergulatan berbagi keringat ini berakhir dengan leguhan panjang bersahutan dari keduanya, disambut seulas senyum bahagia Frem.


" Makasih sayang...dan selamat datang anak- anakku." Ucap Frem setelah merasa nafasnya kembali dari nirwana. Baru saja mulut Sonia membuka mulutnya untuk memprotes ucapan sarkas suami, mulutnya kembali dibekap oleh bibir tebal Frem.


Pergulatan kembali berlanjut, dengan pemanasan yang lebih lama. Deru nafas yang lebih berkejaran, dan hasrat yang kian membara. Entah sudah berapa kali mereka mengerang bersama, hingga Frem terkulai lemas diatas tubuh Sonia, berteduh sejenak diceruk leher Sonia. Setelah merasa nyawanya yang tadi melayang kenirwana kembali, Frem mengecup kening Sonia berkali- kali." Makasih sayang...I love you." Ucap Frem, kemudian turun dan berbaring disisi Sonia.Frem menarik selimut untuk menutup tubuh mereka, lalu memeluk Sonia dengan sayang. Sonia balas mendongak dan mengecup daguFrem.


" Nia juga sayang Ajo."


Frem tersenyum geli, teringat panggilan sayang mereka yang sangat kuno, tapi asal Sonia senang baginya tak apa. Tangan Frem yang lebar bergerak dibalik selimut, turun keperut istrinya. " Selamat datang bayiku." Ucapnya lembut dan wajah penuh harap.

__ADS_1


" Secepat itu mau jadi papa rupanya? Umur baru 24, ntar cepat jadi kakek lho."kali ini baru Sonia berhasil mengajukan protesnya.


" Tak apa? Jadi kakek itu banyak enaknya, apalagi kayak kakek Tiono dan Han, disayang cucu mantu cantik. Sepertinya Ajo harus bisa ngalahin kakek, punya anak lebih banyak, agar punya cucu yang rame." Ucap frem sembari mencium- cium bahu Sonia.


" Punya anak banyak??? Enaknya diajo, beratnya pada istri. " Balas Sonia mengerucut.


" Enaknya sama- sama dong sayang...Kalau sakitnya itu sudah kodrat seorang perempuan manis... Kita sama- sama melewati semuanya, Ajo janji akan memanjakan Nia samampu diri.Walau prosesnya Nia yang akan menjalani, tapi Ajo akan mendampingi Nia disetiap kesulitan apapun, apapun yang terjadi kita akan tetap bersama." Ucap


panjang frem.


Sonia duduk dari pembaringan dengan buru-buru, Frem mengernyit dengan respon istrinya itu.


" Apapun yang terjadi??? tantang Sonia.


" Ya apapun yang terjadi! " tegas Frem.


Sonia kemudian merebahkan kepalanya di dada Frem. Mendengar dengupan jantung pria ini sembari memejamkan mata.Tangan Frem terulur membelai rambut panjang istrinya, merapikan dengan jemarinya. " Dalam hidup pasti banyak rintangan dan cobaan, tapi kita akan melewatinya bersama. Ajo janji tidak akan pernah meninggalkan Sonia kecuali jika maut menjemput." Janji Frem.


Nia mengangguk dan meraih tangan lebar Frem.


Frem balas meremas jemari istrinya. " Kita akan mengarungi bukit lembah,pendakian dan penurunan dalam hidup dengan tidak pernah saling melepas genggaman barang sekejappun." Ucap Frem lagi.


" Aku akan setia mendampingi Frem disetiap perjalanan hidup kita yang sudah digariskan oleh Tuhan, dan pasti akan menuntut setiap janji yang terucap malam ini." Balas Sonia.


" Semoga Allah mengukuhkan,menjaga cinta dan rumah tangga kita selamanya." Ucap Frem.


" Aamiin...Seru Sonia sembari duduk yang kemudian diikuti Frem. Lalu keduanya berjalan berbimbing tangan menuju kamar mandi untuk bersuci.


Bersambung...


Maaf ya pembaca cerita kita yang setia. Penulis baru bisa Up alakadarnya. Saat kita harus melepas yang dikasihi dengan ikhlas, ternyata tidak semudah mengucapkan. Penulis dalam Minggu ini harus melepas pahlawan hidup penulis,Untuk kembali pada Sang pemilikNya. Seluruh tubuh bergetar menahan duka, airmata bercucuran sepanjang hari tanpa bisa dicegah, ini hari ketujuh kepergiannya. Sudah coba aktifitas sejak tiga hari ditempat kerja, tapi untuk Up baru ini, sekali lagi mff dan mohon jangan tinggalkan tulisan kita ini ya..

__ADS_1


__ADS_2