
Sementara dikediamannya Jessi sudah terbangun.
Setelah berkali- kali mengucek matanya,dan menguap, barulah Jessi benar- benar tersadar. Ditatapnya sekeliling." Ternyata aku ada ditempat tidurku, dan malam sudah tiba." Gumamnya melihat kamarnya yang sudah gelap.
Jessi kemudian meraih telfon genggam yang ada disisi kirinya, dibukanya pesan." Sayang, beristirahatlah, jangan banyak fikiran, dikulkas sudah tersedia makanan, panaskan di microwave sebelum dimakan." Bunyi pesan Hendra.
Jessi meraba perutnya yang memang terasa lapar, ia kemudian duduk, beringsut turun dan berjalan menuju dapurnya.Jessi membuka kulkas LG dua pintu kepunyaannya. " Dia memang sangat mengerti apa yang kumau." Pujinya melihat Seekor ayam panggang yang ada didalam kulkas.
Saat Jessi makan, ia menghidupkan televisi. Kebetulan acara gosip sedang berlangsung. Baru beberapa suap wanita itu makan, matanya membulat sempurna melihat pertunangan Jean dan Ella. Jessi menghentikan makannya, tiba- tiba rasa laparnya hilang. Diraihnya telfonnya dengan marah.
" Kenapa kau membuatku tidur lama, lihatlah anak bodoh itu telah meresmikan hubungannya dengan Ulat sagu itu." Ketus Jessi begitu Hendra menyambungkan telfon.
Hendra tersenyum santai dari sebrang telfon." Barangkali ulat sagu jauh lebih baik dari ulat bulu sayang...Jean memilih ulat Sagu, sedang aku sudah lama menghabiskan hidupku dengan ulat bulu." Sahut Hendra dalam hatinya.
Hening terdengar dari sebrang, hingga Jessi makin kesal.
" Hen... Mengapa diam? " tanya Jessi dengan nada kesal.
" Jean sudah mengambil jalan yang tepat sayang, sekarang tinggal maminya, sudah bersediakah menghalalkan hubungan kita, jika sayang belum siap juga untuk dinikahi, maka mulai dari sekarang sebaiknya kita berpisah, tidak pantas lagi rasanya orang setua kita terus melanjutkan hidup bergelimang lumpur seperti ini. Aku sangat mencintaimu Jessi, tapi kalau harus mati dalam kubangan tanpa ada penyelamatan dan penyelesaian, rasanya aku tak rela, walau tidak ada Syurga yang layak untukku, setidaknya aku ingin keluar dari kubangan ini sebelum mati. Kurasa sudah tiba saatnya, dan rasanya kematian itu tidak akan lama menghampiri kita." Ujar Hendra lembut, namun penuh penekanan.
" Putus? Apa tidak salah yang aku dengar, Hendra membuat Ultimatum menikah atau putus? Gumam Jessi, tiba- tiba saja dada perempuan itu menjadi sempit, nafasnya sesak, kepalanya pusing, pandangannya gelap, detik berikutnya, ia sudah tidak ingat apa-apa lagi.
" Sayang....Kamu marah? tersinggung? Maaf ya? Ini
sudah tiba saatnya aku diujung kesabaranku menantimu Jessi, bahkan sudah melewatkan banyak waktu, hidup tanpa keturunan demi dirimu." Ujar Hendra. Masih tak ada jawaban, hingga Hendra akhirnya sadar, kalau dirinya bicara sendiri, tidak ada telfon tersambung lagi. Pria itu mulai khawatir. " Apa ucapanku keterlaluan? " tanyanya dengan bergumam. Mengingat kondisi kejiwaan kekasihnya itu tidak baik, Hendra segera mengambil langkah seribu. " Jika ada pasien yang datang, rekomendasikan Konsul dan perawatan dengan dokter Chen." Ujarnya pada resepsionis kliniknya sebelum keluar untuk menemui Jessi.
Hendra mendapatkan Jessi tergeletak dilantai, disamping meja makan.Dengan cemas Hendra memeriksa kondisi Jessi. Diperiksanya kepala Jessi apa ada yang terluka." Syukurlah ia hanya pingsan dan tidak ada luka luar, semoga tidak ada luka dalam juga. " Ucap Lirih Hendra seraya mengangkat tubuh Jessi.
Hendra menggendong Jessi ala bridal, membawanya turun dan melarikan kemobil, Hendra tidak takut lagi terlihat oleh siapapun." Saatnya sudah tiba, tak ada yang perlu disembunyikan lagi, andai setelah ini hancur,biarkan semua terjadi sesuai kehendak alam. " batin Hendra.
Mobil Jean baru saja tiba menuju pelataran rumah utama, melihat Hendra tergesa- gesa membawa maminya, Jean mengernyit curiga.
" Paman dan bibi turun disini ya, aku dan Edi mau mengikuti kemana pria itu membawa mami, sepertinya mami sedang tidak sadarkan diri." Ujar Jean pada Feihong dan Meiwa.
" Ya sayang, bibi dan paman sudah mengurusmu, sekarang saatnya telah tiba untuk kau urus mereka, kalau perlu nikahkan mereka, tidak mau, kau boleh memaksa, masalah dengan tuan Permana sudah lama selesai, bahkan papimu sudah menceraikannya dihari kelahiranmu, paman jadi saksinya. " Ujar Feihong sebelum turun.
__ADS_1
Jean mengusap airmatanya yang luruh tak terbendung, setelah Paman Fe dan Meiwa turun.
Edi yang membawa mobil, memandang iba pada Jean. " Kasihan bos, baru saja senang, sekarang sesak lagi dadanya karna tingkah maminya." Batin Edi. Tanpa perintah Jean, ia mengikuti mobil Hendra.
Mobil berhenti dipelataran rumah sakit. Hendra sadar Jean mengikutinya, tapi Hendra sudah siap dengan cacian model apapun yang akan keluar dari bibir Jean. Digendongnya Jessi keluar dan dibawa kerumah sakit, tanpa takut dan canggung sedikitpun.
" Gimana Bos?Apa kita langsung masuk? " tanya Edi ragu, begitu Hendra sudah didalam rumah sakit dengan Jessi.
" Tunggu sebentar, aku mau mengatur nafas dulu. "
Balas Jean sendu.
Jessi segera disambut petugas medis dan dilarikan ke IGD.
Seperempat jam kemudian, pintu ruangan terbuka,Hendra segera mengejar kepintu." Gimana keadaan istri saya dok? " tanya Hendra, bertepatan saat Jean tiba ditempat yang sama.
" Nyonya sudah sadar, ia hanya Syok berat yang menyebabkan ia kehilangan kesadarannya. " Ujar dokter.
Hendra baru akan melangkah, saat Jean mencekal lengan lelaki yang masih tampan, walau usianya sudah sebaya Predy.
" Saya sudah lama siap nak, hanya ibumu yang tidak mau. " Ucap Hendra mencoba lembut.
" Aku bukan anakmu! tapi kau sudah lama berbuat bersama dengannya, menyakiti otak, mata dan hatiku .Sekarang sudah saatnya kalian mempertanggung jawabkan ini. " Ujar Jean seraya memutar Vidio mesum Jessi dengan Hendra didepan orang tua itu. Memang Vidio itu di Catt, tapi tak urung membuat Hendra memucat dengan keringat dingin mulai merembes melalui pori kulitnya. Tak ada yang bisa ia ucapkan karna malu,
Hendra berusaha keras supaya tidak pingsan dihadapan putra kekasihnya ini.
Edi tiba mendekat, menopang tubuh Hendra agar tak jatuh, bagaimanapun juga, Edi tidak mau sampai bosnya jadi pembunuh berdarah dingin pada pria yang sudah jelas berusia lanjut.
Perawat mendorong Jessi menuju ruang rawat, karna kondisinya dinyatakan stabil oleh dokter.
Edi membimbing Hendra mengikuti Jessi ,disusul oleh Jean. Perawat pergi melihat suasana yang nampak tegang. " Tolong bicara yang tenang dengan pasien. " Ucap salah satu dari empat perawat itu sebelum keluar.
" Pasti, kami akan lebih tenang menghadapi ibu kami. " Sahut Edi.
Jessi menatap gelisah pada Jean dan Hendra bergantian. Nafasnya kembali tidak beraturan. Sedang Hendra segera mengusap kening Jessi.
__ADS_1
" Ka- kamu baik- baik saja kan sayang? " tanyanya konyol.
Jean menggerutukkan giginya menahan kesal. Edi menyentuh pundak Jean." Tenang Bos...." Bisiknya.
" Cepat Carikan penghulu, beri bonus yang lebih agar ia mau kerumah sakit, malam ini juga, aku mau pasangan yang tak sadar usia ini segera dihalalkan malam ini juga! " Titah Jean.
" Ta- tapi mengapa kami harus nikah sekarang? " tanya protes Jessi seraya menepis tangan Hendra dari tubuhnya.
" Tak usah menepis tangannya saat dekatku mami, bahkan sudah berkali- kali aku melihat kalian diatas
tempat tidur, aku baru saja memperlihatkan satu diantara adegan kalian yang pernah kupergoki pada pacarmu ini. " Ujar Jean dengan tatapan membunuh.
Kedua orang tua itu terdiam dengan fikiran masing- masing. Hingga satu jam kemudian, tibalah seorang penghulu, berikut dua orang pendampingnya. " Dengan tuan Jean Permana? " tanyanya seraya mengulurkan salam pada Jean.
" Saatnya sudah tiba pak, tolong nikahkan mereka." Ujar Jean seraya menunjuk Keranjang Jessi.
Tak ada yang bisa membantah, tatkala Edi memakaikan Jas pada Hendra, dan menyerahkan peci pada pria itu, lelaki itu hanya tersenyum malu
seraya memakai pecinya.
Juga ketika penghulu menanyakan kesediaan mereka. Hendra menjawab mantap, sedang Jessi menhawab Lirih.
Malam itu, pukul 03. 10 dini hari, Hendra
Syah menikahi Jessi, dengan wali terwakil Kurnia K SH. Saksi Wahid S.S.Pdi dan Zainal temannya.Tak ada acara syukuran, hanya pak panghulu yang melantunkan doa, diaminkan oleh Hendra dengan lega dan para saksi.
Sedangkan Jean tersandar ditembok dengan mata berkaca- kaca, perasaan anak muda itu sulit untuk diungkapkan dengan kata- kata.
Hendra dengan sadar segera menulis cek dan menyerahkan pada pak penghulu. " Terima kasih banyak, bapak sudah bersedia datang untuk memenuhi panggilan anak kami. " Ujar Hendra.
Setelah penandatanganan, dan memberikan alamat kantornya. Pak penghulu pamit.
" Belum pak, Kita sahur bersama dulu, Ayo! Ajak Edi
membawa rombongan menuju restouran terdekat.
__ADS_1
Meninggalkan Pasangan yang baru menikah itu.