
Sonia terbangun dari tidur duduknya sembari senyum- senyum sendiri. Diraihnya telfonnya, melihat jam menunjukkan pukul setengah empat pagi, Sonia membelai pipi mami Anjani untuk membangunkannya.
" Bangun mi, Saatnya sahur. " Ucapnya lembut.
Anjani membuka mata lalu mengucek matanya beberapa kali.
" Sayang lagi apa? Tanya Anjani melihat Sonia sibuk menulis pesan.
" Ngajak ketemuan, Sonia sudah tau mau minta mahar apa. " Ucap Sonia.
" Apa? " tanya Anjani kepo dan segera duduk.
Sonia merapikan rambut Anjani dan memakaikan penutup kepalanya. " Nanti aja lah mi, biar surprise. " Balas Sonia seraya membimbing Anjani turun dari ranjang.
Detik berikutnya Sonia sudah menggendong mami Anjani seperti mengangkat karung beras.
" Nia ! Nanti mami jatuh, Nia kan kecil! " Pekik Anjani dalam gendongan Sonia.
" He...he .Tenanglahlah cantik... walau tubuhku imut, tapi aku olahragawati, aku kuat, bahkan menggendong Frem aku bisa, emang mami mau Sonia duluan gendong orang lain daripada mami sendiri. " Ujar Sonia membuat Anjani akhirnya diam dan tersenyum manis.
" Jadi nanti mantu bakal digendong juga ya? tanya Goda Anjani.
" Ngak lagi mi, cuma bercanda. " Jawab Sonia malu.
" Ngak apa juga sih sayang, sekalian surprise. " Ujar Anjani.
Sonia hanya menjawab dengan menggeleng saja. Lalu membawa Anjani hingga mereka sampai diruang makan. Semua keluarga yang berkumpul dan siap untuk bersantap, sejenak terdiam menatap Sonia yang baru menurunkan Anjani disamping meja, dengan menggeleng- geleng. Sedang Wiliam batuk- batuk kecil.
" Uhuk..Uhuk...Sepertinya ada mamak yang berubah jadi anak ni malam, pantas disisi kiriku kosong. " Ujar William berpura- pura tidak tahu istrinya tidur dikamar Sonia.
Anjani melenggang tanpa merasa ia yang sedang disindir. Menarik kursi kosong disamping William dan duduk disana. Sedang Sonia duduk dikursi samping Nabila. Anjani mengisi tiga piring sekalian ,untuk William, Sonia dan dirinya.
Setelah semua siap, kegiatan santap sahur itupun dimulai, tanpa banyak protes.
Hanya Boy yang sesekali mencuri pandang pada adik bungsu yang sebaya putranya itu. " Barangkali direktur Permana Jaya memang pria yang ia inginkan, lihatlah betapa sedang makan saja ia terlihat bahagia, aku masih ingat, waktu belum jelas status hubungannya, dia tidak bisa makan selahap ini. " Boy mencoba mendalami jiwa adik kecilnya didalam hati.
Kafe forest menjadi tempat pertemuan Frem dengan Sonia sore ini. Frem sudah duluan sampai sejak sepuluh menit yang lalu dengan didampingi oleh Wafi Tian dan Edi, karna nanti bakda taraweh mereka akan menghadiri pernikahan Jean dikediaman utama keluarga Permana.Sedang Sonia baru diizinkan pergi dengan membawa Nabila dan dikawal oleh Erlan, Abizar dan Gatot, sebagai syarat dari sang Abang.
Baru sampai didepan pelataran Cafe, Sonia sudah dicegat oleh seorang pria muda nan tampan.
" Hai...dokter putri!!! " Sorak riang pria muda nan tampan dengan wajah berbinar.
" Dokter Jamil!!! Abang kesini dengan siapa? " Sahut Sonia tak kalah antusias, bahkan dengan panggilan kesayangan.
" Dengan Mama dan itu.." Tunjuk Lemas pria
yang dipanggil bang Jamil itu dengan sedikit menaikkan ujung bibirnya.
" Mama dengan calon mantu? " tanya Sonia tak kalah pelan.
"Ya dik, mama tetap gigih menjodohkan
__ADS_1
abang dengan Mika, walau berkali Abang tolak. " Ujar Jamil sembari mengulurkan tangannya menyalami Nabila dan Sonia.
Sonia memicingkan matanya, mencoba menepis ingatan, kalau dua tahun lalu Jamil pernah memintanya jadi kekasih. Sebenarnya Sonia bahkan pernah berharap pria muda yang merupakan seniornya ini adalah Seno, tapi ketika melihat mama Jamil tiba dikampus diacara Wisuda S2Jamil, Sonia sadar kalau itu bukan Seno, karna Seno tidak memiliki mami yang over protektif seperti mama dokter Seno Jamil Abdillah ini.
Sedang Jamil menggengam erat tangan gadis yang dirindukannya.
" Mimi...Gu Zhang ada dipintu, menatap kesini dengan mata merah. " Bisik Nabila mengingatkan Sonia yang masih digenggam Jamil.
Sonia cepat- cepat menarik tangannya." Baguslah sebaiknya bang Jamil segera menerima perjodohan itu, Putripun sudah bertemu dengan orang yang Putri cari, insya Allah pernikahan kami Minggu depan, malam 27, pesta nyusul habis lebaran." Ujar Sonia bangga, tanpa melihat wajah Jamil yang berubah pias.
Mata pria itu merah dengan bibir bergetar. " Sebenarnya aku masih berharap menemuimu dan membicarakan lagi perasaanku dik, makanya kutunda terus desakan mama untuk mempercepat pernikahanku, kiranya dirimu sudah akan menjadi milik orang." Jamil bergumam dalam hati, ditelannya salivanya yang tiba- tiba terasa sangat pahit.
Detik berikutnya Mama Jamil sudah bergabung dengan gadis yang bernama Mika. " Teman kuliahnya ya nak? " Tanya wanita sebaya Bella itu mengingat- ingat.
" Iya Tante, Junior bang Jamil, tak sengaja jumpa disini, saya juga ingin bertemu dengan tunangan saya dicafe ini, buka bersama, sekalian membicarakan mahar. " Sonia kemudian mengulurkan tangannya dengan sopan pada mama Indri, mamanya Jamil, bertepatan ketika Frem sudah tiba disamping Sonia dengan dada yang berkecamuk, namun mendengar penuturan Sonia bibirnya spontan mengulas senyum.
Nabila yang menyaksikan dari tadi dengan dada berdebar juga sedikit lega, melihat Gu zhangnya ( Paman ) tersenyum.
Mika menatap Frem yang menggamit pinggang Sonia dengan posesif." Sudah punya gandengan yang pas, kalau tidak aku pasti sudah melabraknya, berani- berani berpegangan tangan dengan cowokku. " Batin Gadis itu menatap Frem dan Sonia bergantian.
Sonia yang mengerti makna tatapan Mika mencebikkan bibirnya, melepas tangan frem dari pinggangnya, lalu melangkah selangkah kedepan Mika. Sonia menunduk seperti ingin mencium Mika." Cepat ambil hati bang Jamil, sebab akan masih banyak pasiennya yang bakal meleleh dengan ketampanan dan kelembutannya, Awas nanti ada yang lebih pantas dari anda lho, Buruan!" Ujar Sonia dengan berbisik dikuping gadis itu. Kemudian ia menarik Frem menuju kekafe.
Meninggalkan Mika dengan muka merah padam.
" Ayo Tante... Bang Jamil, Mika...kami duluan masuk ya. " Ucap Sonia berbasa- basi dengan berbalik sedikit. Ia tahu kekasihnya kesal, itu Sonia rasakan dari beberapa kali Frem meremas tangan dan pundaknya dengan kasar. Namun Sonia mencoba bersikap sesantai mungkin.
Kala tersadar tidak ada Nabila disisi mereka.
" O...Ini sebabnya ia bersemangat sekali menemaniku, sudah janji juga kiranya." Gumam Sonia.
Sampai diruang private yang sudah di booking oleh
Frem, Frem menarik Sonia kepangkuannya.
" Senang sekali berpegangan mesra dengan pria lain di belakangku ya! Bahkan berani mengancam pacar orang." Ujar Frem marah, sampai giginya gemerutuk.
Sonia dengan santai menilik jam tangannya, lalu beralih menatap pemandangan indah didepan Cafe." Kau punya nona Zhi sebagai teman kuliah bukan? Dia bahkan memelukmu, tapi aku tak protes. Aku hanya bersalaman saja dengan pria yang pernah kukira adalah dirimu dimasa lalu. Kurasa itu belum impas" Ucap Sonia.
Wafi mengalihkan pandangannya, mendengar Sonia menyebut nama Zhi Yang . Sedang Nabila sudah tak mendengar apapun karna ia sedang Asyik menikmati pemandangan sore yang indah.
" Aku tak pernah menyukai Zhi dan menyambutnya hangat seperti yang kau lakukan tadi girl..
" Frem kembali meremas kuat tangan Sonia untuk melampiaskan kecemburuannya.
Sonia melengos, dan berbicara seperti pada angin.
" Ada yang belum tahu, jika aku bersikap hangat pada siapapun! " Ujar Sonia.
Itu membuat Frem makin geram. " CK, bukannya merasa bersalah, dia malah membanggakan sikapnya." ketus Frem.
" Sudahlah...Anggap saja impas! Jangan marah lagi, aku hanya bersikap seperti diriku yang biasa. Tidak mungkin menjadi orang lain, untuk bersamamu." Balas Sonia pelan terdengar keji ditelinga Frem.
__ADS_1
" Berbuka!!! Sorak Nabila, Edi dan Wafi bertepatan ketika Frem mendaratkan bibirnya kepipi Sonia.
Seakan bisu dan tuli, Frem meraba seluruh sisi wajah kekasihnya, lalu menggigit bahunya."Setelah ini hanya boleh bersikap hangat pada Seno yang ini saja, mengerti!." Bisik Frem penuh tekanan. Lalu membalikkan Sonia menghadapnya.
Sonia tidak berontak, ia malah tersenyum sembari menatap Frem, lalu mendaratkan kecupan singkat dibibir Frem.
" Kau membuatku berbuka pake ini saja ya sayang.... " Ujap Sonia lembut seraya secepat kilat melepaskan diri dari pangkuan Frem. Setelah Frem tersadar dari keterpanaannya.Ia menatap tajam pada Sonia yang sudah mulai menyantap hidangan dimeja, sembari duduk manis dikursi samping Nabila.
" Kamu! " Pekik Frem sembari menggeleng- gelang.
Nabila, Wafi dan Edi hanya berlagak begok saja.
" Berbukalah tuan! Kalau merasa puasamu masih
ada tertinggal, sebab sejak Jam Enam sore, kau selalu marah." Ucap diplomasi Sonia disela suapannya.
Sonia lalu menuntaskan makannya dengan cuek, kemudian mengambil mukena ringan dari tasnya.
" Cepat ikut Mimi! " Titahnya pada ponakannya.
Nabila mendorong piringnya kehadapan seseorang." Kalau mau habisin ya bang..Kalau ngak tak apa. " Ucapnya sembari berdiri, lalu berbalik dan mengikuti langkah Sonia.
" Tian! " Panggil Frem.
" Ya Bos..." Dengan tergopoh Tian disusul Gatot menuju ruangan itu.
" Jaga ruangan ini dan makanan kita, juga tas nona.!Kami mau magrib dulu." Ujar Frem.
" Pasti Bos!! Jawab Tian dan Gatot bersamaan.
Sehabis Magrib, mereka kembali kekafe." Sepertinya Abang tidak mengizinkan kami kepernikahan wakil Direktur PJG. Kami langsung pulang ya...Pamit Sonia pada Frem. Ia mulai menulis pesan pada pengawalnya yang sedang makan diruangan lain.
Frem menatap Sonia dengan menautkan kedua alisnya. Sonia berdiri dan mendekati Frem." Aku minta maharnya 1000 Dinar saja." Bisik Sonia sembari mengusap pipi Frem. Baru saja Frem memejamkan matanya untuk menghayati sentuhan tangan lembut Sonia diwajah hingga telinganya, Sonia langsung berlalu dengan menarik tas dan Nabila. Nabila yang ditarik ontynya meski kaget, tidak berani protes. Sehingga Frem tak sadar kepergian kancilnya itu.
Ketika Frem membuka mata, Sonia sudah tidak kelihatan lagi batang hidungnya. Yang ia lihat hanya Wafi, Edi dan Tian menatapnya seperti anak- anak harimau yang siap menunggu perintah belajar
berburu dari induknya.
" Dia??? Frem menggeleng putus asa.
" Ya Bos! Nona sudah pergi. " Ujar Wafi.
Frem menarik nafas beberapa kali, untuk mengatasi suasana hatinya, lalu pria itu mengusap dadanya, memastikan jantungnya masih disana. Merasa sudah aman dan tenang, Frempun berkata.
" Dia hanya minta 1000 Dinar saja, siapkan untukku
dengan bingkisan spesial paling lambat sehari menjelang malam itu."
" Pasti Bos! Bos sekalian hafalkan Ayatnya, siapa tahu maksud nona sekalian. " Wafi mencoba menyampaikan saran.
" Oke! Aku sudah hafal. " Jawab Frem mantap.
__ADS_1
Bersambung...