
Seminggu sudah tidak bicara dengan Sonia, rasanya bagi Frem sudah berbulan- bulan. Walau pria itu sibuk mengurus perusahaan, tetap saja ia tidak bisa berhenti memikirkan Sonia setiap waktu.Beruntung ada banyak orang dekat yang bisa dimintai menyusupkan Camera pengintai untuk memantau aktifitas pautan hatinya ini.Jadi Frem melepas rindunya melalui layar ponselnya.Walau itu ternyata makin menyiksa,saat lihat boleh , bicara tidak, apalagi menyentuh boneka porselen cantiknya.
Demikian juga dengan Sonia, walau ia tahu kekasihnya sedang dalam penghukuman abangnya, gadis itu tak mau ambil pusing.Ia tidak bisa tidur nyenyak kalau tidak melihat Frem tiap hari. Jadi ia meminta Edi memasang kamera tersembunyi dimobil, ruang kerja bahkan kamar tidur Frem, hingga ia bisa mengintai aktifitas kekasihnya itu melalui Camera yang tersambung dengan telfon genggamnya. Sedang Frem mengetahui kamar tidurnya dipasangi Camera pengintai dari gadisnya,sengaja sesering mungkin memperlihatkan bagian terseksi dari tubuhnya." lihat ini sayang. " batinnya. Pria itu sengaja menghadapkan tubuhnya kecamera. Membuat Sonia tersipu malu bahkan terpaksa memalingkan mukanya bila melihat tubuh sixpack Frem dari balik layar. Terjadilah saling mengobat rindu dengan cara begitu. Tapi itu semakin membuat rasa rindu itu memuncak.Dihari kepulangan nona Zhi Yang, Frem segera menelfon kakak ipar nya untuk bertemu.
Boy menerima permintaan pertemuan dari Frem dengan Syarat Frem datang kekediaman Utama keluarga besar. Tentu Frem menyanggupi, karna ia juga ingin mengenal keluarga besar calon pasangan hidupnya itu.
Frem disambut oleh semua anggota keluarga disore Sabtu.
" Selamat datang calon adik ipar." Sambut Chalista seraya mengulurkan tangannya disusul putrinya.
" Terima kasih kakak. " sahut Frem mencoba bersikap sehangat mungkin walau sebenarnya ia Kurang pandai basa basi seperti ini.
" Senang berjumpa denganmu saudaraku. " Timpal Amer seraya memeluk Frem. Frem yang tahu Amer putra Arif dan Adel menerima dekapan saudaranya itu dengan antusias.
Sedang Alfiano beserta istri tidak mau kalah menyambut calon pasangan hidup sibungsu mereka. Pasangan ini baru datang dari Sumatra pagi tadi, mereka tidak membawa anak- anak karna mereka datang khusus untuk menguji Frem layak atau tidak masuk sebagai anggota baru dikeluarga Kims.
"Adik ipar, sepertinya karna besok hari libur,malam ini kami akan mengurungmu disini, kita mulai dari Buka bersama, sholat bersama, makan bersama dan tidur bersama. " Ujar Alfiano.
" Baik kakak. " Jawab pendek Frem menyanggupi.
" Apa dia benar- benar tenang, setenang wajahnya. " Batin Alfiano, mengingat Berbagai pelonco yang sudah disiapkan istri syar'i nya.
Sedang Bahri dari tadi hanya tersenyum- senyum diruang baca. Bahar berkali- kali menyikut adiknya, mengapa adik kembarnya ini terlihat meremehkan Onty mereka yang sudah mempersiapkan rangkaian ujian untuk Frem.
" Kenapa? Sepertinya kamu sudah kenal betul dengan direktur muda PJG ini. " Bisik Bahri.
" Kita lihat saja pertunjukan malam ini, makanya jadi orang jangan sibuk mengencani gadis kecil, jadi tak tahu perkembangan Zaman. " Ujar Bahri.
" Enak saja, Emang dirimu merasa paling update
karna punya kekasih kepala panti. " Ketus Bahar.
" Gitu aja marah, pantas cocok dengan Alin yang masih berusia belasan. " Balas Bahri dengan berbisik.
" Ini gara- gara kamu, nyerobot gebetan Abang, jadi dengan rendah hati Abang mundur teratur." Bahar berlagak Abang paling bijak didunia.
" Isss, bilang saja emang Abang sukanya sama daun muda, dasar ulat daun. " Ujar Bahri.
" Yang muda lebih lembut dan wangi. " Balas Bahar.
" Cih, lebih bawel dan banyak mau tentunya, abang harus sabar menanti sama sabar menghadapi." Cibir Bahri.
" Ngak masalah mau yang muda atau yang sudah dewasa, yang penting jangan gadis yang sama. " Timpal Nabila adik mereka yang baru tiba.
__ADS_1
" He...He...Cantik ada apa datang keruang baca?. " tanya twins berpura tidak mendengarkan ucapan sok dewasa sang adik.
" Kalian lihat dari Camera kan, calon Gu Zhang sudah datang, mengapa kalian berdebat disini, tidak menyambutnya keruang tamu." Ujar Nabila.
" Kami kan sudah kenal sayang. " Ujar Bahri.
" Walau sudah kenal, berpuralah baru kenal dihadapan ayah dan bunda, Sambut Gu Zang sebagaimana yang lain yang baru kenal, bantu Mimi biar secepatnya bisa menikah, ngak kasihan apa, Mimi tinggal diluaran sana tanpa didampingi pasangan yang bisa menjaganya." Cerocos Nabila.
" Oke cantik, kami akan menyusul keruang keluarga ." Jawab patuh Bahar.
" Ya iyalah, lagian waktu berbuka hampir tiba, kali ini tak ada pelayan yang delivery makanan. " Ujar Nabila sembari beranjak.
Kedua abangnya angkat bahu, lalu menyusul adik cantik mereka menuju ruang keluarga. Di ballroom
keluarga sudah dihampar karpet dengan berbagai hidangan sudah tersusun ditengah seperti akan ada hajatan besar. Bertepatan ketika twins tiba dengan Nabila, rombongan keluarga juga masuk
dengan mengiring Frem.
Bahar dan Bahri mengulurkan salam mereka, lalu mengajak Frem duduk di karpet.
" Ayo Gu Zang, sepertinya waktunya sudah dekat. " Bahri mengajak Frem duduk. Frempun duduk bersimpuh diapit Bahri dan Bahar.
Waktu berbuka tiba, Raisa meminta Frem memimpin acara buka bersama itu. " Aku seperti sedang memasang jerat disini, sedangkan kancil sasaranku ada disana." Frem teringat Sonia dipanti.
Frem mengatur nafasnya yang tiba- tiba sesak menahan rindu. Membuat Raisa sempat berfikir calon adik iparnya gerogi atau bahkan tak bisa.
datar itu mampu memimpin acara berbuka dengan berdoa dan wejangan pendek yang membuat semua terkesima.
Semua peloncoan yang sudah disiapkan oleh semua orang, terutama Raisa dan Al, dilewati dengan nilai plus.
" Bagaimana? Masih ada yang punya tantangan? " tanya Boy melihat saudarinya mati kutu didepan pria pilihan adik mereka. " Kami sudah sangat mengantuk, sebaiknya pamit tidur saja ya Frem. " Ujar Raisa angkat bahu.
Frem menyalami semuanya. " Karna semua sudah mengantuk, bagaimana kalau Frem pamit juga, tidur dirumah ini rasanya belum pas, karna belum resmi jadi anggota keluarga baru." Balas Frem.
" Baiklah! Kalau begitu secepatnya kita resmikan." Ujar Bella yang dari tadi hanya diam dengan telinga tajam dan tatapan menusuknya.
" Kami semua setuju adik ipar, tapi awas kalau sampai menyakiti sikecil kami, kami pasti mengulitimu sama- sama. " Ujar Chalista.
Sedang Amer menatap istrinya dengan tatapan peringatan.
Chalista yang mengerti arti tatapan Amer, hanya tersemyum simpul.
Frem membalas dengan tersenyum juga . " Semoga aku bisa mengatasi sikancil nakal Abang dan kakak itu." Canda Frem.
__ADS_1
Semua tertawa kecil, lalu mengantar Frem kedepan. Didepan, dalam mobil Siance dan kawan- kawan sudah menunggusejak seperempat jam yang lalu. Begitu sang Big Bos terlihat batang hidungnya, Tian langsung keluar untuk menjemputnya. Mobil melaju menjelang pertengahan malam menuju satu tujuan yang sudah seminggu ini Frem tahan.
Frem bahkan sudah tahu pin pintu utama panti Jompo itu. Sedang Manaf, Asep, Johan atau Akbar security panti tidak ada lagi yang berani mencegatnya apalagi mengatakan tidak boleh bertamu, karna mereka sudah merasa Frem sudah menjadi pemilik panti seperti nona mereka, walau sebenarnya baru calon.
Frem masuk dengan anak buahnya. Memilih tidur sehamparan diruang lapang. Sementara pengawalnya yang belum ngantuk menonton televisi, Frem tertidur dengan berbantalkan jasnya.
Walau tidak dekat Sonia, satu atap saja, rasa sudah satu selimut.
Saat Frem terbangun, ia menatap para pengawalnya yang sudah tertidur nyenyak, sedang ia mendapatkan dirinya dalam balutan selimut wangi dan sudah berbantal. " Ternyata yang tadi bukan mimpi, ia benar- benar datang. " gumamnya sembari mengecup selimut tebal dengan wangi aroma khas Sonia.
Kemudian Frem memejamkan matanya, tidak begitu lama, ia sudah merasakan tangannya disentuh oleh tangan halus. Frem membawa tangan itu kebibirnya. " Ayo kita menikah."
" A- apa? Aku datang untuk membangunkanmu sahur Frem." Ucap Sonia terbata mendengar kalimat spontan Frem. Apalagi sekarang Frem sudah menariknya hingga terjatuh diatas tubuhnya,
membuat pipi Sonia makin bersemu karna malu.
Namun itu tidak lama, baru saja Frem menyentuh dagu gadisnya, orang ketiga sudah tiba.
" Jangan menyentuh kesayangan kami, sebelum menikahinya." Ujar Tiono seraya menarik Sonia berdiri.
Cik...Frem mendecak kesal.
" Salahmu juga, masih ileran berani- beraninya mau mencium adik Ipar. " Timpal Han Yang datang barusan.
" Ma- mana? Aaaaah...Frem segera berdiri dan berlari mencari cermin, membuat para pengawal terbangun mendengar teriakannya.
Melihat Bosnya yang kalang- kabut, serta Sonia dan kakek tertawa terpingkal- pingkal. Yonghi segera mengeluarkan cermin kecil dari saku celananya. " Ini Bos." Yonghi dengan terteleng- teleng karna masih ngantuk menyerahkan cermin kecil itu pada Frem.
Bukan Iler yang ia temukan diwajahnya. Tapi bekas liblam Sonia yang ada dipipinya.
" Dasar gadis nakal! berani mencuri ciuman selagi aku tidur, tapi giliran aku mau, kekasih tuamu itu selalu menghalangi." Sungut Frem dalam hati. Sekarang ia menatap Sonia penuh dendam. Membuat Sonia yang tadi tertawa jadi menunduk.
" Secepatnya aku akan menikahimu dan membuatmu punya banyak anak! " Pekik Frem seraya menarik Sonia kepelukannya dihadapan semua. Mendekapnya erat, tidak peduli Sonia meronta- ronta ingin melepaskan diri.
Semua orang yang ada diruangan itu terpaku, bahkan kedua kakek menyerah, takut pada kemarahan Frem.
Sonia yang malu memukul- mukul punggung Frem.
" Diamlah sebentar saja, aku sangat rindu. " Bisik Frem magnetis.
Sonia terdiam, dilingkarkannya tangannya dipinggang Frem. " Aku juga rindu, jawabnya didalam hati. Tentu Sonia tidak bisa menjawabnya langsung, karna tenggorokannya seakan terkunci, tubuhnya gemetaran, lidahnya berat dan bibir manis itu bergetar.
Tiono yang sudah sadar, segera menarik Frem." Ayo makan, kalau kalian masih belum melepas pelukan didepan umum ini sampai detik ketiga. Kakek akan meminta Tuan Bhalendra memisahkan kalian seperti Adam dan Hawa! " Ancam Tiono.
__ADS_1
" Jangan kakek!!! " Seru mereka berdua serentak setelah mengurai pelukan. Sedang pipi keduanya sama- sama bersemu merah.
Selanjutnya....Jangan lupa dukung cerita ini dengan cara komen, like, fote, hadiahin dan faforitkan.