
Masih pagi buta, Jessi sudah mengintip kerumah utama, karna semalaman ia tidak tidur sepicingpun.
Wajah oplosan Jessi terlihat sangat kusut, dengan garis hitam melingkar dan kantong mata yang makin jelas. Tidak sempat juga ia cuci muka saking mau cepatnya mengintip pria muda yang dikenalkan sebagai Sen Taiyong oleh putranya itu. Mata dan bibir pria itu mengingatkannya pada Fredy, ia jadi berfikir semalaman tentang reinkarnasi dan balas dendam, itulah sebabnya Jessi tak bisa tidur. " Mungkinkah pria itu reinkarnasi Seno atau malah Seno yang kulihat waktu sebelum dikebumikan sebenarnya orang lain? Apakah selama ini Fredy menyembunyikan anaknya dinegara lain? atau menyerahkan anak itu pada saudaranya, bukankan Fredy juga keturunan? " Berbagai pertanyaan memenuhi otaknya semalaman.
Jessi kembali dikejutkan oleh keamanan rumah yang diperketat pagi ini.Begitu Jessi menuju pintu utama, langsung dicegat oleh petugas." Tidak ada yang boleh bertamu sekarang nyonya, tuan Jean melarang siapapun masuk selagi tamunya masih dirumah." Ucap seorang penjaga yang membuat Jessi naik pitam.
Ditariknya lengan baju salah seorang penjaga itu.
" Hey, Bodoh, Aku bukan tamu! Aku ibu suri dirumah ini." Hardik Jessi dengan membelalakkan matanya, pengawal itu dengan mudah menyingkirkan tangan Jessi. Kemudian menatap rekannya dengan tersenyum.
Rekannya balik menatap Jesi dengan tatapan Tajam." Maaf nyonya, kami hanya menjalankan perintah , tuan Jean putra anda sendiri yang meminta kami dan mengatakan jika anda termasuk tamu nyonya." Balas penjaga itu.
" Ya! Ini perintah tuan Jean. " tegas pria yang tadi dilawan Jessi.
" Keterlaluan Jean! Masak aku ibunya diangap orang luar! Anak itu makin tak teratur sejak kecelakaan, sepertinya kecelakaan itu membuatnya jadi anak durhaka." Gerutu Jessi sembari kembali kerumahnya dengan menghentak- hentakkan kaki.
Sementara Frem dan Jean sudah siap mandi. Mereka bersiap untuk kekantor PJY group. Memang rapat akan diadakan pukul Sembilan Pagi, tapi kedua pemuda Itu tidak mau berlama- lama, takut terlibat macet dijalanan.
Edi mengetuk pintu kamar Frem ketika Frem baru selesai memakai. Kali ini Frem tampil dengan Kemeja Biru, celana dasar berwarna dongker, dengan dasi dan jas warna senada.
" Pagi tuan muda. " Sapa Edi ketika pintu dibuka dan Frem muncul didepan pintu dengan gagahnya.
" Pagi juga Ed! Apa Jean sudah siap? Kalau sudah siap kita langsung berangkat! " Ujar Frem sembari menilik jam tangannya.
" Ti- tidak sarapan dulu? " tanya Edi yang tadi dipesan oleh Jean.
" Tidak! Kita sebaiknya sarapan dikantor saja! " Titah Frem sepertinya tidak terbantah lagi.
Walau Jessi tidak ada dirumah, tapi Frem tetap tidak ingin makan dirumah ini, karna diantara para pelayan, entah masih ada orang Jessi.
Frem sekilas teringat kembali peristiwa saat ia berumur 5 tahun, kejadian yang hampir merenggut nyawanya, ketika Jessi memberinya makanan yang sudah ditetesi Arsenik saat picnik dengan memanfaatkan bibi Cang. Bibi Cang membawa Seno makan jauh dari rombongan. Cang yang tidak tega membunuh anak tak berdosa, mengganti makanan Seno dengan yang lain, tapi Seno sudah terlebih dahulu menyentuh makanan itu, Walau sudah cuci tangan sebelum makan, namun Seno kecil tetap sakit karna menyentuh makanan yang bercampur itu saja sudah membuat tubuh Seno melemah.
Cang memberi tahu Fredy melalui pesan dan Seno secepatnya dilarikan kerumah sakit secara diam- diam oleh anak buah Fredy.
Seno dirawat intensif selama setahun dirumah sakit dan setahun lagi tinggal dengan Day Cang didesa H. Fredy merekayasa kematian putranya, untuk melihat reaksi Jessi.
Cang mau bersaksi atas peristiwa itu, tapi ia malah mengalami kecelakaan motor tabrak lari, diminggu ia memberanikan diri buka suara.
Seno yang baru masuk TK terpaksa berhenti, karna trauma dengan kematian tragis Day Cang pengasuhnya.
Frem pindah ke ibukota, dijaga ketat disalah satu Unit Apartemen mewah kawasan JKS bersama paman Sen Tayong, saudara jauh Fredy.
Diusia jelang delapan tahun Tayong memasukkan Seno sekolah, tapi anehnya
Seno memilih masuk TK, disitulah ia bertemu dengan Sonia, dihari pertama ia masuk TK negri, TK tempat Sonia sekolah. Seno sangat kecewa karna setelah hari mereka dihukum, Sonia tidak datang lagi kesekolah. Seno sedih sekali, tapi ia berusaha mencari tahu tentang Sonia.
Ketakutan akan keselamatan putranya, akhirnya membuat Fredy memutuskan mengirim Frem keluar negri. Seno sebenarnya tak ingin pergi, tapi keputusan Fredy tak dapat dibantah.
Sebelum pergi Seno meminta untuk menemui Sonia dikediamannya, yang alamatnya sudah Seno caritahu dengan susah payah. Untuk mencari data tentang Sonia, Seno bersedia menyapu ruang kepala TKnya setiap hari. Hingga akhirnya ia mendapatkan berkas Sonia, Seno membaca dan menyimpannya dalam fikirannya.
Di Malam keberangkatannya, ia memaksa para pengawalnya untuk mengantarnya ke Istana Peninggalan MR. Kims.
" Kalau kalian tidak mau mengantarku, aku akan lompat dari mobil! " Ancamnya saat itu pada para pengawal utusan papinya.
Frem tersenyum pahit mengingat itu, apalagi mengenai cincinnya " Kenapa semua perempuan disisiku suka membunuh ya.
Jessi berniat membunuh nyawaku, sedang Sonia membunuh hatiku, Setega itu memberikan cincinku pada anak pelayannya. " Geram Frem dalam hati.
" Gimana tuan? Jadi berangkat sekarang? " tanya Edi lagi, melihat Frem malah termenung.
__ADS_1
" Eh Iya, maaf. Ayo segera berangkat! " Jawab Frem dengan wajah Sendu.
" Mari kak! " timpal Jean yang baru tiba didepan kamar Fredy Permana.
Frem mengangguk, dan merekapun melangkah tegap menuju kegerbang utama.
Mobil Jean Melaju dengan disopiri Edi, dikawal oleh tiga pengawal Jean.
Wafi menelfon ketika mereka dalam perjalanan menuju kantor PJG.
" Tunggu didepan Gedung saja! " titah Frem kemudian.
Begitu sampai dipelataran gedung, Frem disambut oleh Wafi dan kelima pengawalnya.
" Kami sudah membawakan sarapan pagi
sesuai pesanan Bos. " Ujar Wafi menenteng kresek dan menghampiri Frem dengan senyum.
" Baik! Saya sarapan diruangan tuan Permana saja. " jawab Frem tegas dan segera melanjutkan langkah.
Kantor PJG berada dilantai 18 gedung itu. Wafi menekan tombol Lif dan mereka semua masuk setelah Frem.
Rapat dewan direksi berlangsung dengan lancar. President Group yang baru disambut dengan baik, walau masih ada yang kurang senang dengan nama calon direktur yang baru yang tiba- tiba muncul, tapi begitu Frem berbicara dengan aura maskulin, kuasa, simpatik, karismatik, semua terdiam, menatap kagum dan mendengarkan tanpa berkedip. Setelah Frem menutup rapat, barulah mereka mengangguk- angguk, lalu sontak bertepuk tangan.
" Saya Tuan muda Seno Pramudya Permana, pemilik 60 persen saham Permana Jaya Group, sekaligus putra pertama Tuan Fredy Permana. " Ujar Fredy memperkenalkan diri, membuat semua hadirin rapat membuka mata lebar- lebar, kemudian saling berbisik.
Berikutnya suara deheman Frem, menghentikan suara bisik- bisik itu.
Frem sebagai pimpinan tidak diragukan lagi, bahkan dinegri tirai bambu ia terkenal sebagai CEO paling muda, cerdas dan bijak dalam mengatasi setiap masalah, apalagi urusan bernegosiasi dan mengambil simpati publik, tidak sulit bagi Frem. Tapi kalau urusan wanita, pria ini juga terkenal sebagai CEO berwajah datar, seakan ketampanannya menjadi musuh baginya, karna setiap wanita yang berurusan bisnis dengannya akan jatuh hati, namun berakhir patah hati setelah mengenalnya.
Dihati Frem hanya ada satu nama, Diamond princess Sonia. Ia siap mematahkan hati setiap wanita, hanya untuk menanti dimana hari ia bisa bertemu lagi dengan Sonia. Tapi sekarang Sonia membuatnya patah hati.
Frem dan Wafi pulang setelah Jam Lima Sore dengan pengawalnya.
" Kita kepanti Terlebih dahulu Waf. " Ujarnya sebelum menaiki mobil.
Wafi mengangguk, dan semua memasuki mobil setelah Frem.
Wafi menjalankan mobil dengan santai, sebelum mobil mereka dihadang oleh sebuah mobil hitam, yang dikendarai oleh
seorang brandal dengan Empat orang bersenjata api.
Dor....Dor...dor....
Empat buah tembakan mendadak, yang satunya mengenai sisi mobil Wafi.
Dag Dig dug...
Jantung Wafi mulai memacu dengan kencang." Anjir ! Serangan atas perintah siapa pula ini! " teriak Wafi Panik mulai gemetaran memegang Stir.
Melihat Wafi yang pucat dengan tubuh gemetaran, Frem segera merebut kemudi. " Geser! " pekiknya melihat Wafi yang masih terpaku.
Sedang Para pengawal Frem mulai mengeluarkan senjata dan membalas serangan dengan menarik pelatuk.
Dor...Dor...
Dor...
Suara tembakan balasan dari pihak Frem.
__ADS_1
Wafi menyeka keningnya yang keringatan, menatap Frem yang terlihat santai, pria muda itupun mulai mengarahkan pelatuknya setelah duduk didepan kemudi.
Dor....Dor...Iuuut....Iuuut...Suara tembakan seiring desingan mobil saling berputar, berkejaran kemudian berhadapan.
Dengan satu tangan Frem memegang kemudi, sedang tangan kanannya terus menembak.
Tembakan Frem tepat mengenai Bahu pengemudi mobil lawan.
" Semua pakai rompi anti pelurunya! " titah Frem terus menembak kearah mobil lawan dengan beruntun. Laju mobil keseok- Seok, karna Frem mengemudi sambil bakutembak.
" Hati- hati Bos...." Wafi mengingatkan dengan suara yang nyaris tertelan, seperti suara orang yang sedang bermimpi.
Semua anak buah Frem bergegas melaksanakan perintah, Melihat sang Big Bos berpakaian aman, dan membalas serangan tanpa kenal takut.
Keberanian Frem membuat semua anak buahnya makin bersemangat.
Berkali- kali amunisi diisi.
Dor...dor...dor.
Suara tembakan terus menggema, disusul teriakan dan lolongan dari lawan yang tertembak.
Dor....dor...
" Aaaaaaaaaak"
Cukup lama bakutembak itu berlangsung. Satu persatu tembakan mencapai sasaran. Hingga terhenti akibat kedua mobil bertabrakan, karna mobil lawan sudah tidak ada yang bisa menyetir.
Dor...dor...
" Aaaaaaaaaaakk...".
Brakkk....
Wafi masih pucat ketika Frem menariknya untuk melompat keluar dari mobil, disusul kelima Pengawal Frem. Mereka berlari kencang menjauh.
Kemudian suara dentuman dari ledakan besar dua mobil menggema dijalanan X.
Wafi mengusap dada, untuk merasakan jantungnya apa masih ada ditempatnya, setelah mereka selamat dari ledakan itu.
" Ya ampun Bos. Ini pengalaman pertamaku terlibat langsung kejadian seperti ini, kukira ini hanya terjadi dinegara luar." Celetuknya kemudian.
Sebuah mobil Biru berhenti tepat didepan
mereka.
" Masuk! " Ujar seseorang melongok kan kepala dari dalam mobil. Seperti hipnotis suara panggilan itu menuntun Frem menurut. Semua mengikuti Bosnya.
Kemudian suara serene mobil polisi meraung mendekati lokasi.
Mobil biru melaju balap meninggalkan lokasi.
" Orang- orangku akan mengurus kalau ada petunjuk yang tuan butuhkan nantinya. " Ucap pengemudi
mobil itu.
Frem menjawab dengan anggukan.
Hallo Say...Sory ya...Semalam ngak Up, agak sibuk gitu...Selamat menyambut puasa bagi yang muslim ya... Marhaban ya Ramadhan untuk yang menjalaninya.
__ADS_1