
Resepsi Pernikahan pun digelar sesuai tempat yang sudah disepakati. Pagi- pagi sekali, Sonia sudah dijemput oleh kedua kakek dengan menggunakan mobil pengantin menuju lokasi dengan dikawal oleh pengawal yang dikendarai oleh Wafi. Sedang Seno diminta duduk diam menunggu dirumah. Dirumah sudah rame oleh petugas wedding organizer yang sudah bekerja dari semalam.
Ballroom, kamar pengantin sudah dihias dengan indah. Ditaman sudah dipasang tenda besar dan pelaminan. Konsep pesta dadakan ini bertema room and garden party. Karna ada pelaminan mini tempat bersanding di ballroom dan pelaminan besar untuk pengantin menyambut tamu ditenda yang berdiri ditaman. Keindahan semua belum dapat dinikmati sedikitpun oleh mata setengah lebar milik Frem. Karna pengantin wanita belum juga tiba dilokasi pesta sampai pukul delapan pagi.
Selama satu jam lebih Frem mondar- mandir dirumah barunya menunggu kedatangan kakek dan pengantinnya. " Mudah-mudahan tak ada halangan dijalan." Batin Seno resah setiap kali ia berjalan memandang kearah jalanan karna belum juga nongol mobil yang akan membawa istrinya.
" Andai terjadi apa- apa, aku pasti menuntut mereka yang sudah membuat aku dan Sonia sengaja dijauhkan setelah Syah." geramnya mengepalkan tangan.
" Mengapa sih ketiga orang tua itu pada sok ngatur." Ucap Frem lagi.
" Tenanglah Bos, nyonya beserta kekasih masa depanku sudah dekat kok, mereka Insya Allah akan aman- aman saja." Ucap Edi menenangkan Bos besarnya.
Eh tu mobilnya sudah tiba! " teriak Edi, tanpa sadar Pria itu sampai terjingkrat saking senangnya, sebenarnya ia juga resah dari tadi, mengingat gadis remaja pujaannya turut jadi P2W.
Tak terkira betapa senangnya hati Frem melihat mobil pengantin Aman tiba dipelataran rumah besar mereka.Cepat- cepat ditariknya Edi dan dibawanya menuju ruang kerjanya. Disana sengaja ia sediakan lemari hias selain rak buku dan meja kerja. Edi pasrah ditarik walau bingung. Begitu sampai didalam ruangan, Edi menggeleng- geleng dengan perut sakit menahan tawa. Kiranya direktur Utama Permana ini menariknya hanya untuk menemaninya berkaca. " Ya ampun Bos...Ntar lagi juga kalian akan jadi raja dan ratu sehari, MUA sudah menunggu dari tadi untuk merias, kenapa ngak langsung saja kekamar pengantin? " Ujar Edi.
" Aku tidak mau sampai Sonia melihat wajah kusutku yang tadi. " Jawab Frem santai seraya merapikan rambutnya dicermin. Pria muda itu beberapa kali mengusap wajahnya dan membasahkan bibir yang sudah berwarna merah muda sejak dari Sononya. Apalagi Frem suka sekali mengkonsumsi buahan, tak pernah meneguk minuman ataupun merokok, membuat bibir itu selalu tampak segar.Tapi tetap saja ia masih perlu berkaca sebelum bertatapan langsung dengan pengantinnya.
Di ballroom terdengar suara Orang- orang sudah rame. Edi sudah tak tahan untuk tidak curi pandang pada Nabila." Cepatlah Bos! Nanti nona mengira bos sengaja tidak mau menyambutnya." Ucap Edi mencoba mencari alasan untuk segera cabut dari ruangan itu.
" Mhem...Oke! Aku sudah siap." Frem menatap cermin besar itu sekali lagi sembari tersenyum
mengagumi pantulan dirinya.Lalu berputar dan menarik Edi. Sebenarnya Edi juga ingin memeriksa dan memperbaiki penampilannya, tapi mana berani ia melakukan itu didepan Frem, bisa gagal nanti jadi P3 kalau tak bisa menjaga sikap. Edi cari aman dengan kembali kepasal satu, demi untuk menjaga agar tak digantikan dan mendapat nilai baik dari calon paman. He...He...
******
Sementara Sonia yang baru tiba dengan didampingi Nabila, langsung disambut oleh juru rias dan dibawa kekamar pengantin.
Matanya mencari- cari sosok suaminya." Kalau tak salah tadi aku melihat dia diteras." Gumam Sonia sambil meletakkan bokongnya dikursi depan meja rias kamar pengantin.
" Aku juga melihat mereka tadi Mi, kurasa mereka memasuki salah satu ruangan dimansion ini untuk berbenah." Nabila mencoba menebak- nebak.
Sonia menatap Nabila dan tersenyum. " Barang kali
Iya." Sahut Sonia kembali menatap cermin.
__ADS_1
" Sudah siap di make Over nona? " tanya MUA dengan menatap kagum wajah cantik Sonia yang masih polos.
" Ya...Silahkan mbak Nanda, Nia sudah siap." Balas Sonia dengan membagi senyumnya pada MUA terkenal itu.
_
_
_
Edi cemberut begitu sampai diluar ia tidak bisa melihat Nabila lagi. " Kan iya, mereka sudah masuk kamar kok Bos, aku jadi ngak punya kesempatan lagi sampai pengantin wanita siap dibawa kepelaminan." Sungut Edi.
Frem menepuk pundak Edi. " Ini resikonya menunggu bunga yang belum mekar, kau harus bersabar lebih lama lagi, sekalian menyiapkan segalanya untuk menghadapi Mr dan Miss perfect yang bakal jadi mertuamu. " Bisik Frem.
Edi menghela nafas, wajah cerianya berubah jadi sendu mengingat siapa dirinya. " Nabila suka padaku sejak aku masih jadi Muazim, waktu ia masih ingusan. Aku tak boleh patah semangat, aku akan berusaha agar suatu hari jadi layak. " Ucap Edi dalam hati menghibur diri sendiri.
Melihat Edi yang tiba- tiba terdiam, Frem mengurungkan langkahnya untuk pergi." Maaf..Bukan untuk membuatmu patah semangat, aku hanya ingin kau bersiap untuk itu, sebagai paman, aku mendukungmu Edi, yang penting harus punya niat yang baik dan berjanji menjaganya dengan baik sebelum masanya tiba, Kalau dari segi
performance dan nama, aku merasa kamu pantas bersanding dengannya, namamu seperti nama keturunan orang ternama." Tiba- tiba Frem teringat pada rekan bisnisnya yang memiliki nama akhir seperti Ujung nama Edi. Sempat terfikir Edi turunan keluarga itu, tapi Edi sendiri mengaku hanya ponakan buruh pabrik biasa, sedang orang tuanya tidak pernah diceritakan.
" Sudahlah Bos, aku sudah melupakan kesedihanku,Ayo kita keluar, semoga bos berkenan aku jadi P3nya. " Ucap Edi seraya tersenyum penuh arti. Seperti yang ia katakan, tak terlihat lagi sendu dimatanya.
" A__Aku mau dibawa kemana Bos? tanya Edi gugup, karna melihat arah Frem membawanya.
" Sudah kuingatkan, bersikaplah biasa saja, atau kuminta yang lain saja pendamping pengantin prianya?" Tanya Frem sedikit memelototi Edi.
" Tidak... Aku tak mau pria lain dekat- dekat dengannya." Balas Edi dengan berbisik. Pria itu berusaha keras menetralkan degupan jantungnya untuk bertemu dan bersama dengan gadis remaja pujaannya menjadi pendamping pengantin.
" Kalau begitu bersiaplah, setelah aku, kau juga akan dirias ala aktor Bollywood...He...He...." Goda Frem.
Deg..
Edi tanpa sengaja meraba hidung dan dagunya.
" Aku punya ketampanan Indonesia ORI, kalau didandani ala India bisa ngak mirip Hrithik Roshan?
__ADS_1
He...He...tidak! tidak! mau didandanin kayak apapun, Edi B Mulia akan tetap seperti diri sendiri." Ucap Edi dengan bergumam.
Tanpa terasa mereka sudah tiba didepan pintu.
" Mhem....Apa kami sudah boleh masuk? " Tanya Frem yang membuat empat orang didalam sejenak
menjeda kegiatan mereka, menatap kesumber suara berat didepan pintu.
" Aaaaaaa." Jerit senang bercampur kaget Nabila.
Sonia memutar dan menatap tajam ponakannya untuk mengingatkan. Karna tidak jauh dari belakang mereka tadi sudah menyusul mobil kedua orang tua gadis belia itu. Sonia tak mau ada kericuhan dipestanya karna kemarahan Abang dan kalak iparnya.
Nabila menutup mulutnya dengan tangan lalu mengangguk.
Sonia beralih menatap Frem dan mengulurkan tangannya untuk salam hari Raya. Sonia tersenyum
semanis mungkin agar Frem sendiri yang mendatanginya. Sesuai keinginan hati Sonia, Frem melepas tangan Edi dan melangkah maju. Sonia berdiri setelah Frem lima cm didepannya. Wanita yang disambut uluran tangannya itu langsung menyalami suaminya. " Se- selamat hari Yang Fitri, mohon maaf lahir batin ya Suamiku..." Ucap Sonia sedikit parau sembari mencium tangan suaminya.
" Aku juga, sempat kesal karna Nia mau saja dipingit lagi oleh mereka. Maafkan aku juga ya istriku..." Balas Frem seraya mengembangkan tangan kirinya. Pasangan yang sudah halal itupun saling berpelukan.
MUA cantik dan MUA tampan menatap kagum pada adegan mesra pasangan ideal didepan mata
mereka.
Sedang Nabila tertunduk dengan wajah tersipu, karna tanpa sengaja Edi menatapinya, menghindari pemandangan didepannya, pria muda itu justru menatap pemandangan lain yang lebih membuat salivanya terasa ingin berceceran.
" Lihat boleh, pegang tunggu proses pematangan yang lama, karna memegangnya sama dengan menggenggam bara.Jangan sampai tergoda hingga membakar tangan sendiri." Batin Edi terbayang wanti- wanti Bosnya.
" Selamat bersama dirumah baru pengantin baru!!! " Seru dua kakek tua penuh semangat dari depan pintu.
Baru saja Frem mau bicara setelah mengurai pelukannya dari istri, Kakek Han sudah duluan. " Setelah ini orang ketiga dan keempat tidak akan menghalangi lagi." Janji kakek itu.
" Iya...Sekarang kami juga langsung berkeliling supaya tak mengganggu, hanya akan datang ketika acara foto- foto nanti dimulai. " Timpal Tiono.
" Tidak perlu keliling. Cukup duduk manis menunggu disini.Tunggu setengah jam,pasangan ideal ini kami sulap dulu, agar kilaunya kian menembus langit, baru kita jungkir balik fhoto bersama dengan mereka ." Ucap sarkas Nanda.
__ADS_1
Hahaha...Semua tertawa renyah dan melupakan kegugupan yang barusan.
Sampai tuan Bhalendra dan nyonya Bella tiba dikamar pengantin, semua sudah bersikap wajar, hingga tak ada tatapan senis apalagi curiga yang didapatkan Edi atau Nabila dari Miss dan mister perfect itu.