
Sonia menggeleng pelan. " Sepertinya perutku sedikit bermasalah karna mabuk perjalanan. " kilah Sonia. Ia belum siap berterus terang pada Frem.
" Sayang...Sakit perut tak boleh diabaikan! Ayo kita segera berobat." Ajak Frem dengan wajah cemas.
" Ajo sayang...Nia hanya mulas biasa, tidak perlu diperiksakan, lagian apa Ajo lupa istrimu ini seorang dokter? " Tanya Sonia mengedipkan matanya jenaka.
" Tentu Ajo tak lupa Nia.. Tapi jangan lupa juga kalau suamimu ini tidak mau istrinya jadi sibuk merawat orang tapi lupa menjaga kesehatan sendiri. " Ujar Frem.
Sonia balas dengan tersenyum hangat pada Frem dan kakek bergantian. Senyum yang penuh arti, namun Frem tak dapat mengerti makna tersembunyi dari senyuman itu.Lalu Sonia berkata setelah curi pandang pada kedua kakek dan suaminya. " Kalau tak salah, istrimu belum ada merawat selain satu orang saja selama sepuluh hari penuh, bahkan kakek sakit saja sampai Nia tak tahu, padahal Nia salah satu dokternya kakek! " Lalu Sonia menatap kakek Han dengan tatapan bersalah.
" Maafkan Nia ya kek..." Ucapnya lirih. Kemudian kakek Han menggenggam jemari Nia, membuat jengah dua orang lainnya.
" Ya...Ya...Maaf Bu dokter, setelah ini suamimu yang paling baik sedunia ini akan coba ikhlas berbagi dengan pasienmu yang lain, tapi untuk pasien pria cukup hanya mereka bertiga, yang lain ngak boleh! "
" Apa??? Baik sedunia begitu? hanya boleh merawat papi, kakek Han dan kakek Tiono? Bagaimana dengan warga panti yang lain, juga pasien dirumah sakit? Ngak mungkin aku pandang gender kan?" Sonia sampai terlonjak karna kaget dengan peraturan baru dari Frem.
" Harus mulai sekarang! Pasien yang lain serahkan saja pada dokter yang lain. Kalau ngak mau begitu, berarti mulai besok jadi dokter pribadi kami saja. "
Stay in the home! " Ucap Frem dengan nada tak mau disanggah.
" Ngak mau Ah..." Bantah Sonia sengit dengan bibir mengerucut.
" Harus mau! Mulai besok sudah tak boleh bebas mengambil pasien sebelum pasiennya diperiksa oleh pengawal khusus." Timpal kakek Han yang membuat kedua Alis Sonia menaut sempurna.
Nih cucu sama kakeknya sama aja, enak aja main lokdown dirumah kayak ancaman Korona. Pokoknya Nia mau tetap bekerja, selagi kesehatan Nia tidak terganggu. " Ujar Sonia menggerutu.
Saat Sonia sedang bersikukuh melawan kedua pria posesif itu, Tim dokter tiba memeriksa kakek karna barusan mendapat kabar kakek sadar dari pesan kakek Tiono.
Sejenak hening beberapa waktu,ketika kakek diperiksa secara intensif.
" Syukurlah dokter Putri...Kakeknya sudah stabil dan kalau tidak kambuh lagi , besok sudah bisa dirawat jalan. " Ucap dokter yang paling tampan berwajah bule.
" Syukurlah... Terima kasih dokter. " Ucap Sonia.
" Sama- sama dek Putri....Kita akan melakukan yang terbaik, apalagi itu menyangkut orang terkasih pemilik rumah sakit ini. " Timpal dokter yang satunya.
" Kita akan melakukan yang terbaik untuk semuanya pak Arsel." Ralat sonia.
" Tentu ! " Balas seluruh tim serentak. Kemudian mereka pamit untuk berlalu dari ruang rawat kakek Han.
__ADS_1
" Kalau begitu besok kakek kita bawa kerumah saja ya Jo..." Pinta Sonia setelah kembali duduk diposisi semula, yakni dibangku sisi pembaringan kakek.
" Tanya saja pada kedua orang tua itu, apa masih kukuh ingin tinggal dipanti." Jawab Frem dengan mengedikkan bahu.
"Masih!
" Tidak!
Sonia dan Frem saling pandang karna mendapat jawaban yang berbeda dari Jackie Chan kembar ini.
" Tumben kalian berdua pecah kongsi? " protes Frem bingung.
" Aku akan pulang dan menjaga Sonia dan babbynya. " Ujar Han tegas membuat semua melotot.
Tapi tak seorangpun berani menyanggah, bahkan Sonia hanya membalas dengan senyum dikulum.
Sedang kakek Tiono malah memilih berjalan keluar ruangan dengan menarik Wafi. Sebenarnya berita seperti ini yang sangat ia nantikan, namun ia tak mau membebani Sonia dengan menuntutnya secepat ini. Andai sudah, ia sangat bersyukur, tapi jika belum, ia tidak akan memaksa cepat." Bukan salah mereka bila masih ingin bebas pacaran halal dulu. Salahku lah yang sudah terlalu tua. " Ucap kakek dalam hati.
" Kami Izin sholat Ashar dulu. " Pamit kakek begitu mau menarik pintu keluar.
" Baiklah....Hati- hati bang..." Ujar kakek Han.
Tinggal mereka bertiga diruangan ini. Setelah Frem berdehem beberapa kali, barulah Sonia mengalihkan pandangannya dari kakek pada suaminya.
" Ada apa Jo?"Tanya Sonia lembut.
" Ng...Ngak...Ajo cuma ingin tahu apa Nia masih ingin kita disini sampai kakek dibawa kerumah kita besok?. " Frem balik menanyai Nia,melihat istrinya masih betah duduk dibangku sembari menggenggam jemari Kakek.
Sebenarnya Frem sangat penasaran dengan apa yang barusan disebut kakek, apa benar dugaannya sama dengan kakek Han, jika didalam rahim istrinya sudah tumbuh bibit kwalitas premium miliknya. Ingin segera ia membawa Sonia memeriksaksakan diri pada dokter kandungan. Tapi Frem khawatir Sonia akan meledeknya lagi. Walau sebenarnya ledekan istri sekalian hiburan bagi frem. Yang lebih jelasnya Sonia terlihat sangat enggan jauh dari kakek. Untuk ketoilet saja guna bersuci, Sonia berkali- kali memeriksa kakek sebelum meninggalkannya. Padahal disana ada Frem yang menjaga sang kakek.
" Sudahlah...Jangan begitu cemburu padaku, jaga saja istri dan calon pewarisku. " Ujar sang kakek pada Frem begitu Sonia sudah dikamar mandi.
Frem tergelak sembari menatap kakeknya yang terlihat seperti orang yang masih mengigau.
" Hei! Mengapa menatapku begitu, aku bahkan sudah bermimpi." protes kakek Han, mencubit tangan Frem yang ditempelkan pria itu dikeningnya
dengan tangan yang tidak dicokoli jarum infus.
" Kalau saja keinginan kita yang sama ini benar- benar sudah terjadi kek..." Akhirnya Frem mengungkapkan isi hatinya sembari menatap istrinya penuh harap yang baru keluar dari kamar mandi.
__ADS_1
Sonia tersenyum cuek, lalu berjalan mengambil peralatan sholatnya dan siap untuk Menunaikan Ashar tanpa meminta Frem memgimaminya.
*
*
*
" Sepertinya harapanmu benar kek, tapi ini masih terlalu muda untuk digembar- gemborkan. " Bisik Sonia usai sholat, tatkala Frem sudah dikamar mandi.
Kakek Han mendadak menitikkan airmata. " Bangsat sekali wanita itu, berarti apa yang ia perkirakan benar, mulai besok jangan kerumah sakit dan kepanti tanpa pengawalan yang ketat, kalau perlu cuti saja sampai bayi ini lahir. " Ujar kakek Han yang membuat Frem yang baru keluar dari toilet terlonjak kaget.
Selama beberapa detik pria itu membeku dengan degup jantung yang memacu lebih kencang. Setelah tersadar benar dari perasaannya yang bagai dalam dunia mimpi, Frem segera menarik Sonia kedalam pelukannya.
" Kakek benar! Ajo tak mau terjadi apa- apa dengan kalian sayang... Stay in the home." ucap Frem sembari mengusap perut istrinya.
Frem tak merasa perlu bertanya dimana, kapan dan
bagaimana istrinya tahu kalau dirinya sedang berbadan dua, karna ia tidak mau lupa lagi, kalau Sonia seorang dokter, walau bukan spesialisasi kandungan.
" Kalau Tuhan mau menyelamatkan hambanya, pasti akan menjaganya kemanapun kerada. Ajo sama kakek tak perlu khawatir, kami Insya Allah akan jaga diri, kalau memang ada ancaman, kemanapun ancaman itu akan terus mengejar kita. Dan kita harus yakin kalau Allah tidak pernah terlelap. Kalau ditetapkan akan selamat, selamatlah walau kemanapun, namun jika sebaliknya sudah takdir, maka kemanapun kita tak bisa menghindar. " Ujar panjang kali lebar Sonia.
" Ya sayang...tapi tetap saja kakek akan mati khawatir jika Sonia berkeliaran, karna iman kakek tak cukup kuat untuk tenang- tenang saja. " Balas kukuh kakek Han.
Frem lalu menggendong istrinya dan menciuminya didepan sang kakek. " Kali ini Ajo setuju dengan kakek, bukan dengan Nia, iman kami tak cukup kuat melepas kesayangan kami berkeliaran semaunya seperti biasa.
Detik berikutnya senyum dibibir kakek Han menghilang, tatkala ponsel disisinya berbunyi, dan ketika ia membuka pesan masuk, masih berisi ancaman pada Sonia dan calon bayinya.
" Siapa kek??? Apa katanya? Masihkah ada hubungannya dengan wanita siluman itu? " Tanya Frem beruntun. Setelah menurunkan istrinya, ia segera merebut ponsel kakek Han, karna melihat wajah pucat sang kakek.
Frem mulai melacak lokasi sang pengirim pesan.
" Lokasi peneror didaerah Bali! " Ujar Frem begitu mendapat lokasi.
" Siapa? mamikan stay dirumah." Teringat Jesi yang sudah tidak fit lagi.
" Ia mungkin dirumah, tapi bayangannya bisa kemana- mana! " Ujar kakek Tiono didepan pintu dengan diiring Wafi.
Semua memandang kearah pintu dengan raut dan perasaan masing- masing.
__ADS_1
Bersambung.