
Jelang hari pernikahan, Sonia diminta kembali kekediaman utama.Dirumah berkumpul semua keluarga besar. Termasuk Mami Anjani dan papi Wiliam. Mereka ingin menghabiskan waktu bersama dengan sikecil, sebelum ia resmi memiliki keluarga sendiri.
Sonia yang baru kembali malam ini, sibuk menyusun barangnya dikamar.Mami Anjani tidak sabar menunggunya, segera mendatangi kamar Sonia. " Pokoknya malam ini tidur bareng mami. " Ujar Anjani mendominasi begitu memasuki kamar Sonia.
Sonia menyusun pakaiannya di walk-in wardrobe
Begitu tiba Anjani langsung membantunya.
"Tidak mi, tidak seperti waktu usiaku 15 tahun kekuatan badan mami, sekarang sudah 7 tahun bertambah, putrimu yang seharusnya memanjakanmu, duduklah dulu disofa sementara aku berkemas, habis ini biar kuperiksa kesehatan mami, sekalian pijit buat enak badannya ya.
Kalau ngak disofa golek aja ditempat tidur.
" Rayu Sonia untuk mencegah Anjani terus membantunya.
" Padahal mami masih menganggap Sonia kecil lho sayang, tidak disangka bentar lagi akan menjadi milik orang." Anjani berbalik dan berjalan, lalu menggolekkan tubuhnya disofa panjang.
" Usiaku memang tak muda lagi, bahkan Citra sudah 7 tahun kembali kesisi Yang Kuasa." Tiba- tiba Anjani merasa sendu, terkenang pada besannya itu, Anjani menahan isaknya, agar
tidak terdengar oleh Sonia yang masih asyik menggantung pakaian di walk-in closet. Begitu Sonia selesai dan ingin berbalik,Anjani cepat- cepat
mengusap airmatanya dan menutup mukanya dengan bantal Sofa.
" Mami kenapa tutup muka? " tanya Sonia curiga.
" Lagi terapi kecantikan, biar wajah lebih kencang pas nikahan sikecil. " Ujar Anjani berkilah.
" Kan bisa pake kream, ngapain pake itu, Sonia menarik bantal kecil itu dari wajah Anjani.
" Mami menangis???
Anjani menggeleng, Jempol kaki mami tidak sengaja membentur pinggiran Sofa, jadi sakit bangat, airmata mami keluar, mami malu makanya tutup muka. " Anjani berkilah lagi. Sonia secepatnya memeriksa jempol kaki Anjani. Setelah melihat tidak apa- apa disana. Sonia meneruskan saja memijiti kaki orang tua itu, ia tidak bertanya lagi karna ia tahu Anjani sedih pasti karna dirinya.
Sembari memijiti kaki Anjani, Sonia menatap maminya dalam- dalam. " Mami tidak usah khawatir, walau sudah menikah, Sonia tidak akan melupakan mami, bahkan kalau mami mau mami dan papi boleh tinggal dirumah kami, ia membelikan rumah sekitar 1 KM dari panti, kemaren transaksinya. " Ujar Sonia.
" Rumah lagi? Emang anak mami minta mahar apa?" tanya Anjani berbinar, bahkan sekarang lenyap sudah kesedihannya barusan.
" Balum dijawab, kemarin dia nanya, tapi Nia minta waktu untuk memikirkannya. " Sonia beralih memijiti tangan mami Anjani.
" Kita minta apa ya? Tiba- tiba Anjani terkenang saat dilamar William dulu, itu membuat wajahnya jadi bersemu merah. Waktu itu Anjani minta seperangkat perhiasan emas, tapi itu zaman dulu, zaman dimana Anjani belum pernah memiliki itu. Sedang Sonia sekarang sudah memiliki segalanya.
Sonia tersenyum geli melihat wajah bersemu Anjani. " Mami teringat kisah dengan papi dulu ya, apa papi orangnya agresif, atau malah mami yang centil? " tanya Sonia menggoda.
" Mami gadis kampung yang masih muda, mana pandai menggoda, tentu bule itulah yang menggoda, setelah kami menikah. " Anjani menatap langit- langit kamar sembari mengingat masa lalu.
" Mami takut ngak sama papi pas nikahan? " Sonia makin penasaran.
" Takut bangat sayang, apalagi kami menikah karna
dipaksa almarhum kakekmu, karna papimu mengincar mami dengan mendekati bapak dan membuat bapak berhutang Budi padanya. Jadi mami takut sekali, apalagi belum ada cinta diantara kami. " Kenang Anjani.
" Trus kapan cintanya? Kan papi gantengnya level atas, pasti mami langsung klepek- klepek pas dah dekat. " Tebak Sonia.
Anjani menarik nafas panjang, kemudian menggeleng." Ngak, mami baru mau disentuh papi hampir setengah tahun setelah menikah, setiap dekat mami takut, apalagi teman- teman mami bilang orang luar itu besar dan ganas diranjang, mami selalu menangis setiap didekati papi. Untung
dianya sabar dan pelan- pelan mendekati mami, hingga akhirnya mami tidak takut lagi, malah lama- lama mami yang tergila- gila dengan sentuhan papi. He...He...
__ADS_1
Sonia turut tertawa, walau dia tidak mengerti apa yang ditertawakan oleh Anjani.
Tidak berapa lama terdengar ketukan dipintu. Sonia berjalan menuju pintu.
Ceklek... pintu dibuka oleh Sonia.
Chalista, Raisa, dan Bella sudah berada didepan pintu dengan mengusung selimut masing- masing.
" Ka- kakak semua pada mau ngapain? " tanya Sonia gugup.
" Semua kaum ibu bakal nginap dikamar Nia, mau ngasih Penataran gratis." Ujar Chalista cuek.
" Masuklah..." Sonia mempersilahkan para kakak dan kakak iparnya masuk, walau bingung Penataran macam apa yang akan mereka berikan pada dirinya.
Anjani duduk dan segera berlari ketempat tidur Sonia, takut tidak kebagian tempat.
" Mami jangan lari- lari, nanti jatuh..." Bella menatap
cemas pada tingkah childish ( Kekanakan ) maminya kalau sudah bersama Sonia.
Anjani tidak menjawab, dia malah menghempaskan tubuhnya diranjang, lalu memejamkan mata.
Sonia menarik selimut untuk menyelimuti tubuh mami Anjani. " Dia barusan dipijiti, pasti ngantuk sekali. " Ujar Sonia, tidak mau kakak ipar memprotes Anjani lagi karna ia tahu orang semakin tua akan semakin mudah tersinggung.
Sonia berbaring disisi Anjani seraya memeluknya. Baru saja Sonia mau memejamkan matanya, ia sudah ditarik oleh Chalista.
" Belum boleh tidur, Penataran belum dimulai." Ujar Chalista.
Sonia mengernyit. " Apaan sih kak, nanti kelamaan tidur jadi susah bangun. " Sonia kembali menggulung tubuhnya dalam selimut.
" Apaan sih, namanya Seno, kalau mau dipanggil Frem juga boleh. " Ujar Sonia tak mau calon suaminya dipanggil yang bukan- bukan oleh kakaknya.
" Emang kayak Ita, sampe calon suami diasingkan gara- gara nyicil mesum. " protes Anjani.
Chalista terdiam, dengan wajah cemberut.
" Mami! tadi tiduran, pas mau bela Nia langsung bangun. " Bella memprotes dengan bersesungut.
" Kamu, sudah mau punya cucu masih saja iri dengan putriku." Sekarang Anjani duduk seraya menunjuk Bella.
" Udah...Jangan pada berantam, sekarang Nia pasang Antena lebar- lebar, kalau ada yang mau kasih wejangan silahkan, mami no peotes- protes ya. " Bujuk Sonia seraya menepuk bantal agar Anjani kembali berbaring. Sedang Sonia mulai bersandar dikepala ranjang.
Ketiga kakaknya saling pandang, tiba- tiba saja mereka kehilangan nyali untuk menceramahi Sonia.
" Kok pada diam sih kak? Padahal Sonia sudah siap Lo, mami juga takkan protes lagi." Ujar Sonia.
" Apa kamu sudah yakin menikahi Seno dik? " Sekarang Raisa yang memberanikan diri bertanya.
" Ya gitulah, dicoba dulu." Jawab Sonia santai.
" Dicoba? Emang ada pernikahan coba- coba? " sekarang Bella menimpali, darahnya mulai naik mendengar ucapan Sonia.
Anjani ingin menyentil putrinya yang selalu panas pada Sonia, tapi ia teringat tak boleh protes.
" Maksudnya bukan pernikahannya yang dicoba- coba, tapi kadar cintanya yang dicoba." Jelas Sonia.
__ADS_1
" Emang sudah cinta ya? tanya Chalista.
" Sonia belum tahu kak, tapi ada rasa rindu, pengen digodain atau semacamnya lah. " Jawab jujur Sonia.
" Dia sudah mengatakan cinta? " Desak Raisa.
" Belum, hanya melamar saja, tidak bilang ILove you. " Ujar Sonia.
" Melamarnya gimana? " Chalista balik bertanya.
" Ini Cincin yang sudah Seno titip dari kecil, Sonia sudah menerima Seno dan memakainya sendiri, tapi didepan semua, Seno akan memakaikannya lagi, di sekolah kita, ditempat pertama Seno kenal dan jatuh hati dengan Nia, didepan teman, ibu guru, dan yang hadir di Reuni ini, kemudian memakaikan cincin dan mengecup tangan Nia. " Begitu saja ia melamar Nia, jadi Nia ngak tahu apa itu bagian ungkapan cinta, yang jelas Nia tidak bisa menolak. " Kenang Sonia dengan mengulang ucapan frem.
Ketiga kakaknya merapat, dengan semenanya mereka menoyor kepala Sonia. " Itutuh sama dengan pernyataan cinta dek!!! " Teriak mereka bersamaan, membuat Sonia terpaksa menutup kupingnya.
" Kalian ini! Jangan sampe putriku budeg apalagi sampe hilang ingatan ya!!! Protes Anjani seraya mencubiti Chalista, Bella dan Raisa.
" Mami kok belum tidur juga? " tanya Bella menggeleng- gelengkan kepalanya.
" Gimana aku bisa tidur, kalian kakak- kakak yang sadis, kasar, pantas Sonia selama ini lebih memilih tinggal dipanti daripada tinggal dengan kalian. " Ucap Anjani yang membuat ketiga wanita itu terdiam.
" Jangan gitu dong mi...bukan karna itu Sonia tinggal dipanti. " Sangkal Sonia. Tapi ketiga kakaknya tak ada yang berani bicara lagi.
" Mungkin benar, sejak ia masih dalam kandungan mami, aku sudah menolaknya. " Batin Chalista.
" Aku juga entah mengapa selalu cemburu padanya. " Fikir Bella dalam hati.
" Aku bahkan tidak pernah sempat bersamanya, setelah dari Arab keburu nikah dan pergi. Aku yang paling berutang kasih sayang pada adikku ini. " Sesal Raisa seraya menatap sendu Sonia yang sudah sibuk membelai mami Anjani.
Detik berikutnya ketiga Wanita itu menarik Sonia kedalam pelukan mereka, mencium Sonia bergantia. " Maafkan kami dek, sebentar lagi Sonia akan menjadi milik orang, belum pernah sempat merawatmu. " Ujar mereka sendu. Ketiganya menangis, sedang Sonia tersenyum geli.
Mereka berniat memberikan Penataran gratis, tapi ujung- ujungnya mereka yang ditatar sampai keluar
air telinga. Eh, salah airmata!
" Apaan sih kalian, Sana balik kekamar masing- masing, disana suami kalian menunggu, daripada disini hanya untuk menangis saja, mending manja- manja sama suami sana! " Ujar Sonia.
" Kami diusir? " Baiklah...Chalista kembali menggulung selimutnya dan berdiri. Diikuti yang lainnya.
" Mat tidur sayang..." Ujar mereka serentak sebelum
beranjak.
" Tidur apaan sudah jam setengah Dua, nanggung. Ujar Sonia.
Begitu Sampai para istri didepan kamar masing- masing, langsung ditarik ketempat tidur oleh tuan suami.
" Ngantuk yang...Pengen bobok." Ujar Bella menghindar dari serangan tangan nakal Boy.
" Nanggung tidur, nanti terlambat sahur, mending ditiduri. " Seringai Boy.
Bella tidak bisa menolak, ia mulai melancarkan serangan balik. Tidak butuh waktu lama bergelut, pasangan yang sudah tidak muda lagi itu kemudian menyatukan diri.
Bulan Puasa malam hari, percintaan terus berlanjut, bahkan makin hangat.Tapi Adegan di Skip, takut terbaca disiang hari. He...He...
Bersambung...
__ADS_1
Selamat menunaikan ibadah puasa....