
Akhirnya kakek Han dan kakek Tiono sepakat untuk tinggal dirumah Frem. Sebagaimana dulu janji hatinya, ia akan menjaga Sonia dan calon pewaris keluarga Permana dengan segenap jiwa raga, sampai akhir nafas. Tiono mantap untuk tinggal dengan Frem dan Sonia demi memenuhi janjinya itu.
Semula kedua kakek memang kukuh tinggal dipanti. Tapi karna tak ingin Sonia sibuk bolak- balik rumah dan panti yang akan membuat cucu menantu itu kelelahan. Apalagi Han dan Tiono sangat takut Bahaya mengintai kesayangan mereka.
Walau Sonia memiliki kepandaian beladiri yang tinggi, untuk kondisinya sekarang, Sonia harus membatasi pergerakannya demi kesehatan dan keselamatan calon anaknya.
Apalagi Fredy sekarang sudah dirumah itu.
Membuat kedua kakek tak ragulagi pindah. Mereka ingin menghabiskan sisa hidup dengan berkumpul bersama, anak,cucu, cucu menantu dan cicit mereka, semoga masih diberi umur oleh Yang Kuasa untuk dapat melihat cicit lahir kedunia.
Sudah cukup malam mereka tiba dirumah,karna dari rumah sakit mereka kepanti dulu, untuk Cek out dan mengemasi barang- barang kedua kakek.
Begitu sampai dirumah, Sonia, Frem dan kedua kakek disambut haru oleh Fredy permana. Papinya Frem menitikkan airmata karna bahagia melihat papa Hannya sehat kembali, bahkan terlihat sangat bahagia dan semangat. Apalagi melihat anak menantu yang turut bersama dengan membawa kabar gembira. Fredy hampir tak percaya kalau hidupnya sekarang benar- benar diberkahi anungrah yang banyak oleh Allah SWT.
Setelah menyambut salam Sonia dan memeluk menantu yang sudah seperti putri bagi Fred. Pria itu lalu memeluk kedua ayahnya. Lalu terakhir
Frem.
" Syukurlah nak...Papi bangga padamu! Selain mampu menjadi raja muda didunia bisnis, ternyata kau juga pria paling gagah didunia cinta.Buktinya hanya dengan beberapa Minggu saja kau sudah berhasil membuat menantuku mengandung pewaris keluarga Permana. Kau pejantan yang sangat tangguh,Selamat ya sayang... Jaga dan rawat calon cucu juga menantuku dengan baik! " Ujar Fredy sembari menepuk pundak Frem.
Semua yang semula terharu dengan pertemuan yang diawali pelak- peluk dengan uraian airmata itu, berubah jadi suasana geli.
" Ya Amboy...Bagaimana bisa orangtua sedingin Fredy putraku bisa bicara seabsurt ini didepan semua." Gumam Tiono sembari curi pandang pada wajah Sonia yang tertunduk malu.
Sedang frem dengan senyum lebar manatap papinya.
" Tentu lah Iya papiku...Putramu ini, tak menyiakan waktu dan tenaga sedikitpun untuk segera menanam. Begitu sampai dirumah kakek Han, aku langsung saja bekerja keras untuk itu. Dan syukurlah ternyata bibit unggul ku benar- benar cepat tumbuh. Dan Insya Allah papi akan punya cucu yang banyak. " Ujar bangga Frem lebih tak berbandrol lagi.
" Itu karna kau akan membuatkan anak untukku.
Didalam tubuhmu membonceng Ruhku. " Timpal
Han lebih gila lagi.
" Tentu kakek! Nanti satu dari babyku pasti mirip dirimu! " Balas Frem tak mau mematahkan hati kakek.
" Emang pasukan kecebongmu nyangkutnya berapa? " Bukannya mencegah kekacauan itu, Tiono malah bertanya lebih konyol lagi.
" Sepasang saja cukup menguras tenaga untuk lahan olahan baru." Jawab lantang Frem.
Ger....Semua tertawa.
__ADS_1
Tidak terkecuali para pelayan yang kebetulan lewat membawakan barang-barang Frem Sonia, Han dan Tiono.
Sedang Sonia yang sudah tidak kuasa menahan malu, segera diam- diam melangkah pergi, berjalan kekamar dengan wajah merah. Meninggalkan Empat pria mesum tiga generasi tertawa terbahak diruang tamu.
Tawa Frem terhenti tatkala sadar kalau istrinya sudah tak ada disisi mereka. Pria itu sampai menepuk Jidatnya beberapa kali.
" Ya ampun kakek...Kita lupa kalau kita bergosip dihadapan orangnya, Ia pasti malu dan marah. Parah- parah! Aku pasti terkena masalah gara- gara ini. " Ujar Frem sembari mengusai rambutnya.
" Oh ya! Ampun Frem...Maafkan kami! " pekik ayah dan kakek Frem hampir bersamaan. Mereka juga cemas melihat Frem yang terlihat panik.
Ketiganya turut menggaruk tengkuk, menyaksikan Frem berlari menuju lantai dua.
Sementara Sonia yang sudah sampai dikamar melemparkan dirinya keatas kasur dengan menggerutu."Ternyata pria - pria pendiam itu sangat mesum, benar- benar mereka itu, sekali berkumpul dan bicara sangat tak beraturan , mereka fikir dunia milik mereka berempat! Tak peduli sedikitpun ada aku yang mereka bicarakan diantara mereka. Ihhhhh...Menyebalkan!!! Ayah anak dan cucu sama saja sintingnya!." Kesal Sonia sembari berbaring bergelung menghadap tembok.
Sonia tidak ingin menoleh sedikitpun begitu cekrek bunyi pintu kamar terbuka. Juga ketika suaminya menyapa, Sonia mengabaikannya.
Frem berbaring disisi istrinya sembari memeluk dari samping, sonia diam dan sengaja memejamkan matanya. " Sayang...maafkan Ajo dan juga mereka, kami terlalu senang dan begitu bersemangat. Sekali lagi maafkan kami." Ucap Frem sembari mengusap pundak Sonia.
Tak ada jawaban, juga saat Frem mengecupi tengkuknya, Sonia masih tak bereaksi. Bahkan sampai Frem membalikkan tubuhnya dan menatapnya lembut dibawah kungkungannya, Sonia masih saja bisu.
Ketika Frem mencoba menelusupkan tangannya kebalik blus Sonia. Sonia menepis tangan suaminya itu dengan kasar. Lalu wanita itu segera membuka bajunya dan melemparnya sembarang.
" Awas jangan dekat- dekat! aku lagi kepanasan!" Teriak Sonia galak menjauh dari Frem.
" Kalau tak ingin sakit, jangan dekat- dekat! " Ujar Sonia mendengar suaminya merintih.
Frem terdiam sembari mengusap airmatanya. Ia duduk lemas tersandar dikepala ranjang.
Sampai Sonia tertidur barulah ia menyelimuti istrinya. Setelah menyelimuti Sonia, frem berjalan menuju sofa dan mencoba tidur disana walaupun sangat sulit.
Pukul setengah lima pagi Frem terbangun. Mendapati dirinya sudah berbalut selimut, ia tersenyum senang.
" Walau marah tingkat tinggi, adik Ajo tetap tak tega kiranya. " Ucapnya lirih.
Frem mengusap senjata rahasianya yang sudah menegang karna kebelet pipis. " Oh, ternyata kau masih sehat ya Jon. Kukira semalam takkan mau berdiri lagi. " Batin Frem teringat semalam siJhon sangat kesakitan mendapatkan hantaman keras dari tumit istrinya.
Pria muda itu merenggangkan tubuhnya yang terasa pegal. Setelah merasa lega ia segera menghampiri istrinya ditempat tidur, mencuri kecupan selamat pagi, lalu beranjak menuju kamar mandi.
Sonia yang terbangun karna kecupan Frem, dengan perlahan membuka matanya. Begitu ia berhasil memfokuskan netranya, ia tak lagi melihat sang pencuri kecupan. Kemudian gemericik air dikamar mandi terdengar.
" Pria mesum itu sedang pergi mandi setelah membangunkan ku." Ucap lirih Sonia sembari mengusap bibirnya. Setelah melihat Frem keluar dari kamar mandi, iapun melangkah pelan menuju bilik mandi itu tanpa berniat menyapa suami tatkala sekilas tatapan mereka beradu, sekali lagi Sonia sengaja melengos.
__ADS_1
Frem menarik nafas berat. Setelah mengeringkan rambut dan tubuhnya, ia segera berpakaian dan menyiapkan tikar shalat untuk mereka.
Begitu melihat Suami sudah duduk menunggu disajadah. Sonia bergegas berbenah.
Saat merias wajah sedikit, Sonia melihat layar telfonnya yang menyala diatas meja rias itu.Sonia penasaran siapa yang mengirim pesan. Ia segera membuka pesan- Pasan yang masuk.
" Nia...Kalau aku keJakarta, bolehkah aku mampir
dan menginap dikediamanmu? " Bunyi sebuah pesan.
Sonia menggeleng, ia tidak berminat membalas pesan itu, karna ia sudah berjanji dengan Frem tidak akan membiarkan wanita lain memasuki rumah cinta mereka, walau itu seorang sahabat.
Apalagi pesan itu dikirim sesubuh ini.
Lalu Sonia membuka beberapa pesan lagi.
" Jangan bandel! Cintai, sayangi dan patuhi suami dan jaga keluarga barumu dik, jangan pernah menjaga jarak dengan suami, karna kebahagiaan kita kadang membuat orang iri, dan tidak jarang kekacauan kita membuat sebagian orang senang. Peringatan keras dari abangmu yang paling tampan dan terbaik didunia : Boy.
Sonia tersenyum membaca pesan kakaknya, pesan itu dikirim ulang sampai tiga kali.
" Pasti ia memasang kamera pengintai diruang tamu rumahku. " Gumam Sonia. Namun ia tidak marah pada sikap over protektif sang Abang.
Sonia segera memakai pakaian sholatnya, dan tidak membiarkan suaminya menunggu lebih lama lagi.
" Ayo Pak Imam...Segeralah Iqomah. " Pinta Sonia.
Frem menoleh pada istrinya sembari tersenyum.
Dengan senang hati ia segera mempersiapkan jamaah subuh mereka.
Selanjutnya Bersambung.
Hai say...Jangan lupa yang mampir kasih jejak ya.
Komen
Like
Fote
Faforitkan
__ADS_1
dan beri bintang biar cerita biasa ini jadi istimewa. Karna dukungan pembaca membawa lantera bagi penulis.
Salam hangat selalu untuk semua.