
" Cepatlah dik, jangan biarkan penghulu dan semua
menunggu lama. " Ucap Frem setelah Frem mengurai pelukan.
" Ya Kak, mohon doa restumu mewakili orang tua kita." Jean menatap kakaknya dengan tatapan memohon.
" Kalau sudah yakin dengan pilihan kita, orang tua hanya meluruskan saja dik, jika papi dan kakek ada, mereka pasti merestuinya. Semoga pilihanmu ini adalah yang dihatimu. Mudah-mudahan yang terbaik." Ujar Frem, ia sengaja tidak membahas Jessi, tidak mau merusak hatinya sendiri pada adiknya, mengingat Jean dari perempuan itu.
" Sudah, cepatlah. " Ujar Frem melihat semua menatap pada mereka. Dan Ellapun sudah turun dari lantai dua. Gadis itu mengenakan kebaya berwarna putih mutiara dengan bewahan berwarna merah maron rancangan desainer ternama dinegri ini. Ella terlihat sangat cantik dan anggun malam ini. Pandangan khalayak beralih pada dara yang melangkah menuruni tangga.
" Wah...Ellanor terlihat seperti Cinderella modern." Sorak kagum beberapa orang yang tidak tahan tak mengungkapkan keterpanaannya pada model iklan
putri Cosmetic ini.
Jeanpun tak luput pandangannya dari calon istrinya. Ia reflek maju dengan cepat menuju tempat pernikahan, tak sabar ingin segera menghalalkan perempuan yang sudah empat tahun ini dengan sabar mendampinginya sebagai teman, sahabat dan sekaligus kekasih, walau baru akhir- akhir ini Jean sadar, kalau ia sudah menerima perempuan ini dilubuh hatinya
__ADS_1
Dulu dimasa remaja ia ataupun Ella hanya berniat mengejar kesenangan dan melakukan hubungan saling menguntungkan. Tapi itulah hidup, apa yang akan terjadi kedepan, tidak bisa kita tebak saat ini.
" Gimana nak Jean, sudah siap? " tanya pak penghulu melihat Jean masih terpaku menatap Ella yang sudah duduk disisinya.
" A- Tentu sudah siap pak, saya siap lahir batin. " Ujar Jean sedikit gagap.
Sedangkan Ella juga sama, ia sibuk mengagumi ketampanan Jean dalam hatinya. " Ya Tuhan, tamannya calon ayah dari anak- anakku, tidak kusangka akhirnya perjuangan cintaku sampai ditahap ini. Semoga pernikahannya lancar, dan mami Jessi tidak ada niat untuk menggagalkannya. Andai ia masih ada niat buruk, tolong halangi langkahnya.Jika niatnya memberi restu, tolong ringankan langkahnya menuju tempat ini." Ella terus berucap dalam hati sembari menatap
kearah pintu.
Jean menatap Ella yang juga sering melihat arah pintu utama dengan terlihat gelisah. " Tenanglah sayang, tadi pagi aku sudah kerumahnya meminta restu. Mami tidak lagi protes, cuma ia tak bisa datang, karna magnya lagi kambuh, suaminya bahkan mendatangkan dokter pribadi untuk merawatnya." Bisik Jean membuat Ella mengangguk.
" Non Ella apa sudah siap? " pak Penghulu balik menanya mempelai wanita.
" Ella tersenyum sembari mengangguk, saking haru
__ADS_1
dan senang, suaranya nyaris hilang. Dengan suara parau, ia menyatakan kesediaannya.
Pak penghulu menerima surat permintaan nikah berwakil dari papa Ella, karna merasa kurang sanggup, ia mewakilkan Wali pada pak penghulu yang juga menjabat sebagai petugas kantor Urusan Agama tersebut.
Setelah diulang ketiga kalinya, barulah para saksi menyerukan kata Syahh serentak. Sebuah ciuman mendarat dikening Ella. Cukup lama Jean melakukan itu, sampai orang- orang menahan nafas. Mengira mata dan fikiran Jean gelap kembali, hingga ia lupa mereka masih dihadapan ratusan orang yang menyaksikan peristiwa sakral itu.
" Bos ngak ketiduran kan? " Edi mencolek punggung Jean.
Jean masih saja terdiam. Akhirnya Ella yang mengguncang tubuh suaminya.
" Sayang? Malu sama papa, kak Frem, penghulu dan orang- orang." Ujarnya.
" Astaga!!! Semua orang berseru kaget. Karna Jean ternyata benar- benar tidur.
" Ternyata restu seperti ini yang mami kasih? Ya Allah...kapan nyadarnya mami. " Ella menggeleng- gelengkan kepalanya. Sedang yang lain pada heboh, bagaimana mempelai pria tidur lelap setelah mengucap Ijab Qobul.
__ADS_1
Maaf pembaca setia, baru segini bisanya Up hari ini, cukup sibuk hari ini. Semoga esok sehat kita sambung yang cukup dan lebih baik.