
Malam harinya, Frem tak membiarkan istrinya keluar kamar. Bahkan untuk makan malam, ia sendiri yang membawakan kekamar untuk Sonia.
" Nia masih ingin bertemu Papi sebelum tidur Seno.." Rengek Sonia setelah makan.
Frem memandangi istrinya itu dengan lekat, Seno tak habis fikir Sonia masih memikirkan papinya,setelah mengalami perlakuan kasar dari anaknya. Frem menuntun Sonia melangkah, membawa perempuannya itu kepembaringan ,lalu merebahkan tubuh mungil itu ditempat tidur dengan lembut. " Istirahatlah..Aku sudah menyampaikan ucapan selamat tidur darimu untuk papi, jadi ngak lucu kalau orang yang dinyatakan sudah tidur, datang lagi kepadanya." Ujar Frem membuat Sonia akhirnya diam.
Frem duduk disisi pembaringan Sonia, dan mulai memijiti tubuh Istrinya. Melihat banyak tanda yang sudah ia buat dileher dan makin kebawahnya kian banyak, Frem kembali merasa bersalah, karna kulit mulus Sonia seperti macan tutul, akibat ulahnya.
Frem turun dari tempat tidur, mencari foundation dimeja rias dan mulai membedaki bekas kiss mark tersebut satu persatu.
" Masih sakit? Tanya Frem dengan tatapan penuh sesal sudah bermain diluar kendali terhadap wanita yang paling ia sayang setelah Almarhumah maminya itu.
Sonia mengangguk." Sakitnya tu disini! Disini!Disini! Disini.." Ujar Sonia dengan seringai, sembari menyentuh dada, perut dan menunjuk kebawah dengan bibirnya. Sebenarnya tidak segitunya, Sonia hanya ingin melihat reaksi Frem berikutnya.
" Maaf..." Ucap Frem polos dan tulus. Lalu ia menunduk dan dengan cepat memeriksa kebawah sana, meniupinya dengan rasa iba. Sonia tentu malu diperlakukan begitu, tapi Frem tampak serius, dan wajah sesal Frem membuat Sonia akhirnya diam dan menikmati sisi sebenarnya darisuaminya.
" Nia tau tidak? jika lelaki itu pantang dibohongi oleh wanitanya. Punya istri matre biasa, pemarah lumrah, cerewet sudah sifat utama kebanyakan wanita. Tapi dibohongi itu sakitnya tiada banding." Ucap Frem memecah keheningan, setelah ia terbaring sendu disisi Sonia.
" Tapi_ perempuan juga paling tidak bisa dikasari lho, itu akan membekas dalam hati selamanya." Balas Sonia tak kalah sendu.
Frem kembali merasa sangat bersalah." Maaf..ini takkan terjadi kalau Nia tidak bohong, tah untuk apa bohong segala, tidak ada untungnya sama sekali, kalau Nia bilang Nia belum siap, Seno takkan melakukannya, pasti akan menunggu sampai Nia siap. Cinta itu bukan sekedar pelampiasan hasrat, kalau Seno seorang maniak sudah dari dulu Seno berhubungan dengan Wanita. Tapi nyatanya Nia orang yang pertama,dan berharap jadi yang terakhir juga, kalau Nia tahan dengan Seno.Sebenarnya Ini juga terasa sakit sudah mengasari perempuan yang paling_ Frem menjeda ucapannya, tatkala meraba dadanya sendiri, ia rasakan ngilu, sampai Frem menggigit bibirnya menahan perih hati itu.
__ADS_1
" Nia seharusnya tahu itu, Seno sudah banyak mengalami derita dimasa lalu, sudah banyak kebohongan juga yang menyakitinya hati, penghianatan yang melukai hati Seno yang paling dalam. Jadi mohon...Jangan bohong dan sekalipun berniat mengkhianati Seno, kalau Nia tidak mau membunuh Seno pelan- pelan. " Ucap Seno dengan tatapan memohon.
" Tapi Seno melukai Nia sekali, kita saling menyakiti diawal hubungan kita. Bisakah kedepannya kita baik- baik saja? " Tanya Sonia pada diri sendiri dan Suaminya.
" Bisa.. Kalau kita saling memaafkan dan memperbaiki segalanya.Sekali lagi Seno minta maaf, Seno akan minta maaf tiap hari, sampai Nia memaafkan Seno." Janji Seno yang diangguki Sonia.
Sonia mendegup Salivanya, memejamkan matanya sejenak."Maafkan Nia juga Seno, Nia punya banyak hal lain yang akan membuat Seno terkejut. Nia belum sempat jujur sebelum kita menikah." Ucap Sonia bergetar.
" Tentang apa lagi?sudahlah... jangan meracau, Seno tahu Nia sakit, tapi istirahatlah, Seno janji tidak akan melakukannya lagi, kalau Nia belum merasa baik". Seno meraih tangan Sonia dan membawanya kebibirnya. " Maaf...maaf...maaf.. " Ucapnya berkali- kali.
Sonia tidak menjawab lagi, sebagai gantinya ia menggeser kepalanya lebih dekat. Frempun merengkuh istrinya, kemudian membelai rambut panjang itu, sampai Sonia terlelap.
*
*
*
Sonia sudah terlelap dalam pelukan Frem, Frem mengecup puncak kepala istrinya.Ia tak habis fikir mengapa ia begitu marah dibohongi oleh Sonia, sampai ia tega pada perempuan tersayangnya itu.
" Apa salah Istriku? Mengapa ia harus mengalami hal seperti ini,mengapa aku tak bisa mengontrol Emosi tadi ? mungkinkah anak yang tidak dididik dengan baik dalam keluarga sepertiku memang akan menjadi tega sepertiku? Aku terlahir dari perempuan yang lembut, tapi dididik olehkejamnya dunia, sejak mamiku direnggut. Aku harus mengalami kehidupan zaman purba, sampai aku diantar pada kakek Han yang menyayangiku dan membesarkanku dengan tulus, tapi tetap dingin dan tak bisa membuatku jadi lelaki yang lembut."
__ADS_1
" Tidurlah...Bukankah katanya besok mau ke Beijing? " Ucap sebuah suara yang membuyarkan lamunan Frem.
" Nia... panggil Frem sembari menatap lekat pada Sonia. Pria itu kemudian mengguncang tubuh istrinya." Nia....panggilnya lagi.Setelah berkali dipanggil, tapi Sonia masih terpejam dengan nafas yang teratur.
" Dia bicara dalam tidurnya, nadanya tidak ada marah dan dendam. Sesimpel itulah perasaan gadisku? " Frem kian merasa bersalah pada pautan hatinya ini. Sampai menjelang tengah malam Frem tak bisa tidur. Frem akhirnya memutuskan untuk turun, membasuh muka dan menenggelamkan dirinya dalam Sujud, mengungkapkan rasa bersalahnya dihadapan yang Maha Kuasa melalui curhatan yang panjang, airmatanya terus mengalir, sampai ia kembali kesisi Sonia.Tangis itu tak kunjung berhenti.
Sonia terbangun karna sayup mendengar Isak tangis dan goncangan disisi pembaringannya. Lama Sonia mengerjabkan matanya,baru berhasil memfokuskan netranya. Setelah ia sadar betul pria perkasa disisinya benar- benar Menangis pilu, lebih menyedihkan dari tangis seorang perempuan lemah yang terluka. Sonia mendekatkan tubuhnya pada Frem. Dengan bergetar ia memberanikan diri mengusap Kepala suaminya. " Sudahlah....Jangan begitu tersiksa, Nia jadi tak tega. Nia janji akan melupakan yang tadi, kita akan memulainya dari awal, ayo kita tidur. " Bujuk Sonia lembut.
Sonia teringat kembali pada Vidio itu, Vidio yang menceritakan betapa Frem harus mengalami banyak hal untuk bertahan hidup dimasa lalu.
Ia berjanji akan belajar memahami lelaki yang sekarang jadi bagian dari hidupnya ini.
" Mungkin Trauma masa kecil mempengaruhi alam bawah sadar suamiku, ia jadi pribadi yang seperti ini. Begitu sadar dari sikapnya, ia menjadi terlihat tersiksa dalam penyesalan." Batin Sonia.
Psikolog Kate Eshleman mengatakan,anak-anak seringkali tumbuh dengan peristiwa traumatis. Memang tidak ada luka fisik yang dialami Frem dariperistiwa masa kecilnya.Namun luka fsikis akibat kehilangan bunda dan pernah jadi target pembunuhan berencana beberapa kali menyebabkan jiwanya tumbuh tidak biasa.
Frem telah terlelap. Sonia menatap pria itu dalam- dalam."Kurasa aku tidak bisa membencinya,aku akan bantu menghapus traumatisnya, memberikan terapi dengan mendatangkan seorang ahli kejiwaan, tanpa ia sadari dalam masapemulihan dengan terapi . " Sonia memikirkan rencana.
Itulah Sonia, ia selalu memikirkan kebaikan untuk orang- orang disisinya."Aku juga akan mengatasi traumaku dengan caraku sendiri." Gumam Sonia kemudian.
Bersambung...
__ADS_1
Maaf ya sobat pembacaku, jika makin kesini ceritanya makin aneh. Kebiasaan Autor yang buat cerita ngak pake kerangka. Idenya dapat dijalan, ya gini lah, apa yang nampak dijalan sering terbawa ketulisan...Maaf...Barangkali Autornya juga butuh terapi. He...He...Terapinya dari pembaca aja ya, rameikan lapak ini,tolong komen- komen untuk mengingatkan Autor selalu, jangan lupa like, fote, dan beri apresiasi. Moga kedepannya lebih baik.
Salam kangen selalu buat semua pembaca setia, dan salam kenal buat pembaca Baru.