
Sonia kembali kepanti saat jam menunjukkanpukul 06. 00 Sore. Gadis ini sudah mandi dari rumah sakit. Tidur siang yang tidak biasa itu, membuatnya merasa harus mandi dulu sebelum Ashar dirumah sakit. Dengan ceria karna sudah segar dan merasa lebih baik, Sonia langsung saja mencari kedua kakek kekamar mereka masing- masing. Sonia heran melihat kamar kakek Tiono dikunci." Barangkali kakek Han sudah betah dikamarnya, sekarang mungkin kakek Tiono sedang mengunjunginya. " Ucap Sonia segera berjalan menuju kamar kakek Han.
Begitu sampai didepan kamar Kakek Han, kamar itu juga terkunci. Seorang Care Worker datang dengan tersenyum dari dapur menyambut Sonia. "Nona, kakek Han sedang ketempat tuan muda. tadi mereka berangkat sekitar pukul tiga Sore, mereka pergi dengan membawa bang Asep dan Mamat, kelihatannya buru- buru.Sekarang yang jagain pos Rehan dan Arman, mereka beralih profesi jadi Security untuk menggantikan piket bang Manaf dan Asep sementara, karna mereka bebas tugas melayani kedua kakek. " Jelas Perawat itu.
" Apa? Kok bisa- bisanya kakek bawa satpam tanpa pamit padaku ya? " tanya Sonia heran.
" Baiklah bang Zai, aku akan memeriksa yang lain menunggu waktu buka. " Ujar Sonia setelah berkali menelfon kedua kakek tapi tidak tersambung.
" Oke nona." Balas Zainal seraya tersenyum dan membungkuk hormat. Kemudian lelaki muda itu duduk dikursi jaga depan kamar kakek Han. Sedang Sonia mulai masuk dan memeriksa dari pintu kepintu.
Sebenarnya Sonia sangat ingin bercerita dengan kedua kakek, tapi ia melupakannya setelah asyik dengan para lansia yang lain. Itulah Sonia, hatinya terlalu sederhana dan begitu mudah dibujuk, hanya dengan bercengkrama dengan para bayi besar itu, ia sudah bisa mengatasi kegalauannya tentang hubungannya dengan Frem, Jean dan Jessi.
*****
Setelah Wafi membawa Nona Zhi, keempat sekawan membuka wig mereka. Kemudian keempatnya tertawa dengan saling menunjuk.
Frem juga turut tertawa.
" Aduh, capek kali rasanya berperan seperti itu." Ujar Asep seraya merebut kipas dari tangan bang Manaf.
" Kalian ini, sudah ada AC masih pake kipas tangan protes Frem seraya memandang Asep dan Manaf, lalu dengan gemas mencubiti pipi kedua kakeknya bergantian.
" Kalian juga, kalau bukan karna mengenal sedikit model pipi ini, aku juga pasti pingsan digerayangi oleh empat orang aneh sekalian." ucap Frem.
" Kau ini, tadi Kami disayang- sayang, sekarang pipi cantik mulus kami disakiti. Ini aset berharga kami lho bang...." Ucap bangga kakek Han seraya mengusap- usap bekas cubitan Frem. Sedang Tiono balas menarik jenggot Frem yang baru numbuh habis dicukur.
" Kek, ini idenya Wafi ya? kok aktingnya dapat bangat. Asep dan bang Manaf cepat sekali belajar Mandarinnya. " Puji Frem dengan wajah berbinar.
" Selama ditaksi sibuk menghafal dialog, sampe pas masak juga belajar dalam hati kayak menghafalkan mantra." Curhat Asep.
" Sebenarnya grogi juga, tapi Wafi bilang ini demi kelangsungan hubungan dik Seno dengan nona Sonia kami, kami berusaha sekuat mungkin, walau rasa mau pipis menahan geli." Ujar Manaf.
" Tapi dipikir- pikir kasihan juga tu non cantik ya, datang kesini malah dikerjain sampe pingsan. " Asep teringat pada wajah pucat nona Zhi melihat kemesraan mereka dengan Frem.
" Biarkan saja, Wafi yang urus, kulihat Wafi menyukai gadis itu, semoga ide Wafi bukan hanya membuat Frem lepas dari gadis itu, moga Setelah ini Wafi dapat hikmah yang lain. " Ujar kakek Han.
" Kalau begitu ayo kita menegakkan tiang, nanti biar doa kita ada tempat menggantungnya. " Sindir Tiono mengajak magrib.
" Iya! Cepatlah! Habis ini baru makan, masakan bang Manaf sungguh enak lho. " timpal Manaf.
" Tau dari mana, kan ngak diincip. " Sanggah Manaf
yang kurang percaya diri.
" Siapa yang meragukan masakan banci dadakan.He...he.." Kekeh mereka sebelum melangkah kekamar mandi.
Sedang Frem hanya tersenyum seraya melangkah kekamarnya. " Sebagian diruang mandi dapur, cepatlah sekarang bang Manaf yang jadi Imam. " Titah Frem.
__ADS_1
Tak ada lagi sahutan, hanya suara gemericik air dikamar mandi yang terdengar, Untung Ada tiga kamar mandi, jadi tidak lama membuang waktu.
*****
Keempat sekawan kembali kepanti setelah makan.
taklupa kedua kakek menggoda Frem dengan menciumi pipinya berkali- kali sebelum pergi.
" Jangan sampe sering kami melakukan ini ya, secepatnya atur supaya hubunganmu dengan Mimi agar tak ada lagi yang bisa mengganggu gugat. " Ujar Tiono.
" Sebenarnya bukan salahku kek, wajah tampan ini walau diseram- seramin, terap saja ada yang kepincut. Ngak mungkin juga aku bergaya seperti kalian tadi, bisa didepak aku dari PJG dan SGG. He...He..." Frem mulai narsis
"Pokoknya sepintar apapun kamu ngatur perusahaan, ngak pandai ngatur hubungan dengan pasangan sama aja dengan yang tadi. " Sekarang balik Han yang memberi ceramah.
" Ya udah, pulang sana, nanti mantan pacar nyariin." Usir Frem mengibaskan tangannya.
Tatkala Empat sekawan kembali, Sonia sudah berkurung dikamarnya. Asep dan Manaf kembali menjalani tugas setelah dapat sekepok Plus- plus
honor Jadi aktor dadakan. " Pantas para selep pada kaya, ternyata honor per episode gede gini ya bang..." Ujar Asep berbunga- bunga sembari membelai amplop tebalnya.
" He...He...Iyalah...namanya juga dunia peran. " Balas bang Manaf tak kalah berasa aktor papan atas. Ia mengecup amplopnya seraya membayangkan senyum manis istrinya.
" Besok malam bakal dapat jatah bebas hambatan." Gumamnya.
Asep yang mendengar hanya garuk tengkuk, karna punya kekasih pun ia belum.
Sedangkan kakek Tiono dan Han sudah tak sabar berbagi cerita dengan Sonia. Melihat pintu kamar sudah terkunci mereka terdiam dan saling pandang. Mau membangunkan Sonia mereka tak tega, apalagi jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam.
Baru saja Han ingin menyampaikan kesedihannya dicueki, pintu didorong dari luar.
Ceklek..
Wajah cantik yang mereka harapkan datang dengan membawakan mempan minuman biasa.
" Sayang, kami takut Sonia benar- benar ngak mau lagi berteman dengan kami." Ujar Han dengan bibir mengerucut.
Sonia tersenyum," Habis kalian nakal sih, pake ngerjain gadis cantik sampe pingsan. " Balas Sonia. Kedua kakek memandang mata cincin mereka, lalu saling garuk kepala.
" Kami hanya tidak mau ada orang kelima!!! " Sorak mereka serentak.
He...He ...Orang ketiga dan keempat juga bikin masalah. " Sonia angkat bahu.
" Yang ketiga dan keempat sadar usia." balas Han setelah meminum obatnya.
" Yang ketiga dan keempat tinggal nunggu cicit saja, setelah itu baru kembali kebalik papan." Ujar Tiono.
" Kalau begitu ditunda saja nikahnya beberapa tahun lagi, biar cicitnya lama baru ada, dan uonya tidak kembali! " Ujar Sonia.
__ADS_1
" Jangan gitu dong sayang...Emang tega membuat kami menunggu lama. Cepatlah menikah dengannya dan buatkan kami cicit, setelah itu kami tak mau apa- apa lagi. Jangan ditunda Ya..." Rengek Han.
Sonia tersenyum geli melihat wajah memelas Han dan Tiono, mereka tidak ubahnya seperti little cat yang sedang merengek minta dibagi makanan oleh tuannya.
" Emang seperti membuat godok ya?
" Seperi itulah kira- kira. " Balas Tiono
He...He...Mana ada begitu. Kemudian Sonia seperti seorang yang sedang berfikir keras.
" Difikirkan lagi sekali lagi ya, soalnya Nia tak mau kakek cepat pulang kebalik papan.! " Ujar Sonia. Kedua orang tua itu mengerucutkan bibir mereka, sembari berbaring membelakangi Sonia.
****
Disisi lain, Zhi terbangun dari mimpi buruknya, ditatapnya langit- langit kamar yang berbeda dengan mengernyit. Ketika gadis itu merenggangkan kedua tangannya, kedua tangan itu berbentur benda dikiri dan kanan.Dada gadis itu kembali berdegup tak karuan.
Deg...deg..deg...
" Kakak sudah bangun? " terdengar suara lembut seorang gadis dari sisi kanannya. Zhi membuka matanya lebar- lebar memandang kekanan dan kekiri, bertepatan ketika dua mahluk manis duduk serentak seraya mengulurkan tangan pada Zhi.
" Saya Wahda kak..." Ujar gadis yang dikanan.
" Saya Widya, dan kami adik bang Wafi."
Zhi mengusap pipi kedua gadis itu bergantian, seolah memeriksa itu hadis asli atau tidak. Wahda dan Widya yang mengerti hanya pasrah saja, ketika
nona cantik ini memperlakukan mereka seperti boneka.
你是双胞胎 Nǐ shì shuāngbāotāi ( Kalian kembar) " tanya Zhi setelah mengatur nafas.
Kedua gadis menggeleng. Zhi tersenyum manis dan menyalami kedua gadis bergantian. "Makan Yuk kak...Kakak sudah lebih dari orang puasa lho." Ucap Wahda.
Zhi mengangguk, lalu ketiga gadis itu berbenah diri. Bertepatan setelah mereka merasa siap untuk keluar, pintu diketuk.
" Itu kakak, ia sudah siap memasak." Ujar Warda.
她会做饭吗 Tā huì zuò fàn ma ( Apa dia bisa memasak) " tanya Nona Zhi takjub.
他当然是我们爸爸妈妈的替代品 Tā dāngrán shì wǒmen bàba māmā de tìdài pǐn ( Tentu,ia pengganti ayah dan ibu kami.) " Jawab Widya dengan nada bangga.
Zhi dan kedua adik Wafi berjalan beriring keruang makan, disana sudah duduk menunggu kedua pengawal Zhi yang segera berdiri dan menarik kursi untuk nona mereka.
Tanpa sadar berkali- kali Zhi curi pandang pada Wafi. " Mudah - mudahan yang ini asli." Batin Zhi.
Zhi hampir tidak merasakan pahitnya patah hati, bersama kedua adik perempuan Wafi yang manis dan ramah juga sedikit manja membuat gadis itu betah. Mereka berjalan- jalan berkeliling Ibukota disiang hari. Berwisata kuliner dimalam hari. Zhi menghabiskan waktu seminggu diibukota negara ini. Hingga saat Wafi, Wahda dan Widya mengantarnya ke bandara untuk kembali, rasanya gadis itu enggan meninggalkan Indonesia, seperti ada yang tertinggal disini.
Pesawat mengudara menuju kota B, Wafi tersenyum kecut. " Kalau mimpi jangan ketinggian, misimu hanya menjauhkannya dari Bos, jangan berharap yang lain. " Wafi mengingatkan hatinya sendiri.
__ADS_1
Yang mampir jangan lupa komen, like, fote, Faforit
ya say...