
Pukul Sembilan pagi private jet Frem mendarat diBandar Udara Internasional Gimhae. Sonia tersenyum dan rasa ingin berteriak senang karna akhirnya ia sampai dinegri ginseng ini untuk berbulan madu. Walau Sonia anak sultan, tapi kekorea selatan, ini baru kali pertama untuknya,
Sejak kepergian kedua orang tuanya, Sonia melupakan keinginan untuk berliburan diakhir tahun. Baginya bersama bergurau dan cerita dengan para lansia diwaktu liburan cukup menghibur, bahkan mampu memadamkan keinginannya untuk keliling dunia. Apalagi kebanyakan diantara kakek nenek yang dititip dipantinya adalah mantan petualang dunia.Duduk mendengar cerita mereka cukup membuat Sonia merasa menjelajah kemana- mana.Sedang bagi Usia lanjut, menceritakan masa lalu dan mengungkapkan khayal yang masih tersisa membuat wajah keriput mereka berbinar kembali, apalagi ada yang bersedia mendengar dansedikit melambungkan hati mereka, itu membuat sisa hidup mereka terasa sangat berharga. Sonia jago benar membuat mereka bahagia, karna Sonia melakukan semuanya dengan tulus.
Tiga hari saja jatah bulan madu ini. Lebih tepatnya katakan saja seperti liburan akhir pekan. Tapi walau singkat, Frem janji akan membawa istrinya ketempat- tempat Faforit disini.
Pertama sekali pasangan ini memutuskan untuk mengunjungi Haedong Yonggungsa. Headong Yonggungsa merupakan kuil Budha yang berada di Gijang-gun, Busan.
Keduanya menunjukkan wajah gembira bisa jalan berdua mengintari kuil yang berada di pinggir pantai, seraya memandang laut yang indah.
Sejarahnya, Kuil yang menakjubkan ini telah dibangun sejak tahun 1376 oleh Naong selama Dinasti Goryeo.Di tempat ini, suasana alam yang natural menambah kesan keindahan kuil, ditambah dengan adanya patung, pagoda, serta tangga yang unik.Selain itu, kuil ini dikelilingi oleh banyak tumbuhan dan pohon yang subur.
Musim semi telah berlalu.Memasuki musim panas,waktu yang tepat untuk berlibur Outdoor seperti ini. Banyak wisatawan meramaikan lokasi wisata yang cukup Faforit diBusan. Sonia dan Frem memutuskan istirahat dibawah kursi pohon untuk menikmati pantai setelah puas mengagumi keunikan kuil. Frem melihat cemilan Sonia sudah habis. Ia segera meraih telfon genggam disaku untuk meminta pada Tian pengawalnya untuk mencarikan cemilan. Hari ini Tian ikut, karna dua hari yang lalu, Tian datang kerumah utama mengaku tidak ingin melanjutkan cutiseminggunya karna merasa bosan. Sonia mengusulkan untuk membawa lelaki muda ini ikut dengan mereka, Setelah sebelumnya meminta pengawal pribadi suaminya itu mengurus Administrasi perjalanan tigahari mereka bertiga.
Pria tampan persi China ini tentu dengan senang hati mengurus semuanya. " Mumpung gratis nona, siapa tahu ketemu cewek Indonesia yang manis saat lagi liburan disana. " Ujar senang Tian tanpa sengaja terlontar sendiri.
" Cari cewek Indonesia kok keKorea, tinggal balik dan cari diJakarta aja! " Protes Sonia kala itu.
" Kalau ketemunya di Jakarta kan beda pula kisahnya Bos cantik. " Sahut Centil Tian yang membuat Sonia geleng- geleng kepala.
" Tian...Tian...Awas ucapanmu terekam kamera CCTV lho, bayangkan apa yang akan dilakukan tuanmu mendengar celotehan kacaumu itu. "
Tian sontak menepuk mulut sendiri dan mata sipitnya mulai celingak-celinguk mencari kalau- kalau ada Camera tersembunyi seperti yang dikatakan oleh nonanya. " Kalau ada, gigiku ini pasti akan copot sebelum menemukan gadis manisku di Busan.Tian menggeleng membayangkan andai andai ia ketahuan menggoda nyonyanya walau tidak sengaja.
Sonia tersenyum pada Tian." Tenanglah...Camera aman.Tadi sudah aku singkirkan, karna tak mau ia unfokus bekerja hanya karna sibuk menonton diriku dirumah ini. Lain kali kalau memujiku cukup dihati saja, kalau tidak mau berhenti makan tulang sebelum usia tua. " Ujar Sonia dengan senyum sarkas.
" Tidak nona, gigi ini satu diantara asetku yang sangat berharga." Balas Tian menunduk.
Sonia menahan senyum. Ia tahu benar Tian paling suka dengan sup tulang, makanya dia mengatakan itu.Dan ternyata trik Sonia berhasil juga.Mulai detik itu,Tian tidak berani lagi mengangkat wajahnya, apalagi menentang manik mata perempuan kepunyaan tuannya ini.
" Sayang...Ngapain senyum- senyum gitu ? " tanya curiga Frem melihat Sudut bibir istrinya menyembunyikan senyum ketika Tian sudah berlalu sehabis mengantar sekantong kresek penuh Cemilan dengan wajah menunduk.
" Ya senanglah Ajo...masak cemberut udah dibeliin cemilan. " Kilah Sonia.
Frem masih memandang istrinya dengan Curiga. " Kalau tahu begini, mending ngak izinin sayang,bawa pria itu bareng kita. " Sungut Frem.
Sonia menyentil bibir suaminya yang mengerucut.
" Aku merasa lucu aja sayang...Masak Tian mau cari cewek Indonesia disini. Kan disana bisa? " jelas Sonia akhirnya memutuskan untuk buka kartu.
" OOO...hanya karna itu? Baiklah, aku akan bantu ia bertemu dengan cewek Indonesia sore nanti diPantai Haeundae." Balas Frem yang sekarang balik membuat Sonia yang cemberut.
__ADS_1
" Cik, rupanya Ajo bahkan berani janjian dengan wanita lain disela bulan madu kita yang hanya singkat ini."
" He...He....Maaf sayang...Ia putri pengusaha Baja dari kota C, kabur kesini, abang memintaku nenemui wanita ini dan berharap Nia bisa membujuknya pulang, karna mamanya ingin berbaikan dengan putrinya itu, dan berharap putri satu- satunya itu mau membantunya lagi diperusahaan. Ia putri teman Abang, semula mereka berniat menjodohkan dengan Bahar, tapi Bahar menolak mentah, hingga Riani yang ternyata menyukai ponakan bandelmu itu patah hati dan kabur enam bulan yang lalu kekorea."Jelas Frem.
" Kapan kau berhasil membuat janji dengan perempuan itu?" Sonia masih belum bisa terima suaminya membuat janji secara pribadi dengan wanita lain, walau itu atas permintaan abangnya.
" Kemaren sayang...Maaf belum sempat memberi tahu, karna semalam sibuk bercinta, jadi tak teringat urusan apapun selain bidadari Ajo seorang. " Rayu Frem sembari menarik Sonia agar bersandar didada bidangnya.
" Gerah ah...Ngak suka dempet- dempet. " Ujar Sonia berdiri dan hendak pergi. Baru saja ia melangkah dua langkah, kakinya terhenti, namun bukan karna panggilan Suaminya.Tapi kuping lintahnya mendengar suara Tian memanggil nama Rianti.
" Dik Rianti...Akang akan mengenalkan dik Rianti dengan Bos tampan dan cantik akang Tian yang berasal dari negri kita. "
Mata Sonia membola dengan sempurna, melihat pasangan mesra didepannya.
" Ya Ampun Tian! Kapan kenalnya,kok bisa lengket begini???" tanya Spontan Sonia dengan berteriak. Wanita ini tak habis fikir gimana bisa perempuan dari bangsanya bisa langsung kayak permen karet dengan lelaki yang baru dikenal berapa jam dinegri orang pula. Itupun ia tidak asing dengan wajah manis didepannya.
" Rianti? Dirimu kah? " tanya Sonia kesal bercampur takjub.
Gadis manis itu melepas pengangannya pada tangan Tian dan menghampiri Sonia." Apa sicantik benar- benar masih mengenalku? " Rianti balik bertanya.
" Kau jelas Rianti Aulia bukan! " sorak Sonia gitang.
Rianti mengangguk, melihat tatapan Sonia yang penuh selidik, Rianti sedikit menahan hati untuk memeluk teman lamanya itu.
" Kami sudah kenal sejak tiga bulan yang lalu melalui medsos. Jumpa satu kali di Beijing.Setelahnya kami terus komunikasi melalui aplikasi." Jelas Rianti seraya mengulurkan tangannya menyalami Sonia.
" Jadi sudah move on dan siap melangkah maju kayaknya."
" Sepertinya semua perlu dicoba, kurasa kami cocok dan nyambung. " Jawab mantab Rianti.
Detik berikutnya mereka sudah saling peluk.
" Apa kau yakin mamamu akan setuju dengan ini? " Tanya Sonia dengan berbisik pada perempuan berwajah manis dengan kulit sawo matang ini.
Rianti kembali memeluk Sonia dan berbisik " Sejak ponakanmu menolakku, mami membebaskanku memilih sendiri pautan hati. " Balas Rianti, keduanya semakin asyik, tanpa sadar dua pria sejak tadi melongo menatap mereka.
" Kalian saling kenal??? Sejak kapan?" keduanya memburu wanita mereka dengan pertanyaan setelah dapat menyela sebentar.
" Ini seniorku yang paling cantik diSekolah! "
" Ia adik kelas yang paling manis dan ceriwis zaman sekolahan. " Balas Sonia.
__ADS_1
" Sekolah apa? " Sambung Frem penasaran.
" SMP ! " Jawab Cuek Sonia.
Kedua wanita itu sekarang berjalan bergandeng, meninggalkan pasangan mereka.
" SMP? Ingatan mereka setajam itu?Adakah cowok remaja yang berkesan bagi Sonia dimasa remaja itu. " Hati Frem dirasuki hantu cemburu.
Apalagi keduanya makin sibuk berbincang tak putus- putusnya. Bahkan sesampainya dimeja makan, sepertinya mereka lebih senang bernostalgia ketimbang makan.
Juga ketika tiba dipantai sore hari. Keduanya teriak- teriak tak jelas dibibir pantai berpasir putih itu.
" Wuuiiiiiiiiii....
" Tidak disangka kabur kekorea membuatku menemukanmu Nia!
" Yoiiiii !!! Hidup memang penuh teka- teki. Bahkan kau sampai dijodohkan dengan ponakanku aku tak tahu." Balas Sonia sembari menarik hidung kurang mancung milik Rianti.
" Tentu Mimi cantik...Kau kan sibuk dengan Bayi besarmu kata mereka. "
" Kiranya kau sempat akrab juga dengan dia ya?
" Iyalah...makanya aku sakit sekali pas ditolak. " Keluh Rianti. Tawanya berganti dengan titik-
titik airmata.
Sonia mengusap sudut mata junior yang biasa panggil nama dengannya itu, karna pautan usia mereka yang tidaklah seberapa.
" Udah nangisnya! Kau jelek kalau menangis, hidungmu yang kurang langsing itu akan kembang kempis.Tidak malu terlihat jelek didepan gebetan baru." Goda Sonia.
Rianti menggeleng. " Tidak! Aku ingin mencurahkan semuanya pada angin, laut, ombak dan langit jingga juga dirimu Nia. Setelah ini aku akan kembali pada mamaku dan berharap bisa memulai hidupku yang baru." Ujar Rianti seraya berlari mengejar ombak yang tiada belas kasih menerjang bibir pantai.
Rianti kemudian teriak sekeras mungkin." Hoiiii!!!Bahar Bhalendra putra! Aku bersumpah akan membuatmu menitikkan airmata dihari pernikahanku!!!."
Sonia menarik Rianti, mengajaknya main ombak.
" Jangan banyak- banyak mengutuk pria brengsek itu sayang...Nia mohon teriak saja yang kuat dan katakan kau membencinya.Tapi jangan mengutukinya. " Bujuk Sonia.
Rianti terdiam sembari menatap Nia.Lalu mengangguk. " Ya..." Balasnya dengan suara lirih, nyaris tertelan ombak.
" Sepertinya bos harus sabar, bulan madunya terusik nostalgia."
__ADS_1
" Biarkan mereka reunian berdua Tian. Kita akan menjadi pengawal hari ini. Yang penting istriku senang. " pangkas Frem yang diangguki oleh Tian.