
" Uuuuahhh...Jean menguap dengan kepala yang masih pusing. Astaga...Aku ketiduran, kok bisa ya?" Jean bingung bercampur malu. Ia mengerjabkan matanya yang berat berkali- kali dengan susah payah, agar bisa terbangun dengan baik.
"Tidak apa nak, Mungkin beberapa hari ini nak Jean kurang istirahat."Ujar Pak Maknum sang penghulu dengan tersenyum.
" Syukurlah ia terlelap setelah Syah, jadi tidak merusak rukun. " Ujar salah seorang saksi.
Yang lain saling melempar pandangan. Sebagian berbisik- bisik. Kegaduhan mulai terdengar. Pak penghulu cepat tanggap, ia segera memangkas kegaduhan itu dengan memulai doa bersama. Setelah mendengar lantunan doa pembuka dari mulut pemuka agama itu, semua terdiam menundukkanwajah dan mengangkat tangan. Apalagi kalimat doa diucapkan dengan suara indah dan nada yang baik, hingga orang makin larut. Selanjutnya mereka mulai menyahut setiap akhir kalimat untaian doa itu dengan kata Amiin.Hingga doa berakhir dengan khusuk.
Doa bersama itu berhasil membuat orang melupakan kekacauan barusan. Juga ketika piring- piring berdering diatur, hidangan menggugah selera disuguhkan kehadapan para tamu. Perhatian beralih pada makanan.
" Semua yang dihadapkan kedepan kita, tentu untuk dinikmati, Ayo bapak ibu, tua dan muda,kita makan bersama. " Ajak papa Ella.
" Tentu, kita mulai saja makan besarnya." jawab hadirin antusias. Semua mulai mengisi piring.
Lalu detik berikutnya semuapun fokus pada piring masing- masing, makan dengan lahap, kecuali Ella, Jean dan Frem.
Ella karna kepikiran terus bagaimana suaminya bisa ketiduran diujung acara.
Jean yang takkuat meneruskan suapannya karna masih ngantuk berat.
Serta Frem yang memang sengaja tidak makan karna masih kenyang.Wafi yang merasa lambung
nya panjang,mewakili makan hidangan untuk Frem.
" Biar aku saja yang makan bos, kalau ada apa- apanya, biar aku yang menanggung." Ujar Wafi.
" Aku saja bos,andai sekedar obat tidur, paling akunya terlelap sampai pagi, andai ada racun, kalau aku mati ngak bakal banyak yang berduka." Timpal Edi.
Frem menoyor kening Edi. " Ngomong jangan sembarangan, justru kalau kau mati rencara pernikahanku bakal gawat, karna calon istriku akan sibuk membujuk anak remaja itu." Ujar Frem menatap Edi tajam.
" Aku juga ngak habis fikir, kau sangat diluar jangkauan Ed, dimana kenalnya sama anak itu, eh datang- datang udah gandengan saja." Wafi menghentikan makannya, terbanyang keberuntungan sekaligus masalah besar yang akan dihadapi oleh Edi kedepannya karna sudah berani bermain hati dengan putri konglomerat kelas atas seperti Nabila.
Edi tiba- tiba kehilangan nafsu makannya. Pria itu bahkan menepuk Jidatnya beberapa kali." Ya Tuhan..Aku lupa calling dia apa aman sampai dirumah. Ujar Edi lemas.
Kemudian Edi menatap Frem penuh harap.
Bos...tolong dong, tanya nona apa mereka aman dari interogasi setiba sirumah." Rengek Edi
__ADS_1
khawatir.
" Kalau aku yang menghubungi, nanti ketahuan jadi berabe." tambahnya lagi.
" Kau sendirilah, Emang siapa yang sudah berani bermain api, ya harus siap terbakar dong." Timpal sarkas Frem.
" Tolonglah Bos...Aku belum siap dihajar sebelum pernikahanmu, Apa bos tidak kasihan wajahku yang Tampan ORI ini bonyot???" Tanya Edi dengan lebih sarkas lagi.
Frem tersenyum Geli." Teruskan makanmu, jangan meregek seperti bayi, bagaimana bermimpi menjadi menantu tuan besar itu, kalau baru tahap awal saja sudah cengeng begini." Ujar Frem.
Melihat Edi masih terdiam, Frem menyentuh pundak cowok itu. " Tenanglah...Hari ini kakak ipar membebaskan pertemuan dengan adiknya." Ujar Frem.
Edi terseyum lebar sembari mengangkat tangannya tinggi- tinggi." Terima kasih Tuhan,
Aamiin."Ujarnya. Namun Wafi sudah membekap mulut Edi dengan tangan. "Jangan sampai teriakanmumenciptakan kegaduhan baru. " Bisik Wafi menilik hadirin yang masih asyik menikmati santapannya.
*
*
*
Kali ini Jessi tidak marah besar lagi karna kegagalan rencananya, ia hanya menggeleng pasrah.
Sementara Hendra tiba dikamar membawakan sepiring makanan untuk Jessi. " Kalau sudah biasa merecok, ngak membuat recok jadi canggung ya? " Sindirnya membuat Jessi tersentak kaget.
Ketika Jessi ingin bicara, Hendra buru- buru menyumpal mulutnya dengan sesendok nasi.
" Ya Udahlah...Dengarkan saja suamimu ini, kita terima saja menantu baru kita itu, karna hakekat hidup yang sebenarnya, tak ada orang mendapatkan apa kehendak hatinya, tapi hatilah yang diminta menerima apa yang tidak kita suka agar dapat hidup tenang dengan bersyukur dengan
menerima sesuatu apa adanya.
Melihat Jessi diam sambil terus menikmati suapan Hendra. Hendra kembali berkata dengan lembut."
Terus memaksakan ego sama dengan bunuh diri sayang...Karna apabila Ego berbenturan dengan takdir diri kita, seseorang yang memiliki Ego tinggi itu tanpa sengaja menjatuhkan diri sendiri kejurang dengan bebatuan yang tajam.
" Kain yang disangkutkan pada paku, jika ditarik pasti akan meninggalkan bekas. Sedangkan hati yang dipautkan pada seorang manusia saja, jika ditarik tidak akan meninggalkan bekas. Manusia itu sendiri akan kehilangan. Belum tentu juga bermenantukan Sonia hidup kita akan bergembira, karna siapa tahu emang Jean hoki dan jodohnya dengan perempuan ini, bukan Sonia. Walau sekarang perempuan itu terlihat biasa Dimatamu, siapa tahu ia perempuan luarbiasa yang diberikan Allah SWT buat Jean. Manusia tidak akan hidup dengan rezeki orang lain Jessi, tapi kita hidup dengan apa yang sudah direzkikan untuknya.
__ADS_1
" Jessi tersenyum, seraya menatap Hendra.
" Sayang kerasukan Jin Alim dari mana sih?perasaan kemaren- kemaren masih Jahat?." Goda Jessi.
Hendra tertunduk dan tersenyum malu- malu." Entahlah....Aku hanya ingin lebih baik, juga orang yang kusayang kalau mau. " Ucap Hendra lirih.
Jessi menyentuh dagu suaminya, mengangkat wajah pria yang sudah tulus menerimanya diusia tua ini. Hatinya sungguh tersentuh oleh semua yang dikatakan pria itu, tapi kebiasaan lama memang susah dihentikan dalam waktu singkat.
" Semoga berangsur- angsur aku bisa menolak godaan yang selalu berbisik untuk berbuat jahat." Gumam Jessi.
" Amiin..." Seru Hendra penuh harap.
.
.
.
Berbeda pula dengan Fredy dikota B, papi Frem sedang bersidekap memeluk tubuh sendiri.
Sebenarnya ia merasakan ketenangan baru dalam hidup sejak berteman dengan Arifin. Itu membuat hatinya semakin dekat dengan kebaikan.
" Ternyata rekan akan berpengaruh besar
dengan seseorang.Aku bersyukur Sonia putri mengantarku pada saudara seperti Arif disisa hidupku." Batinnya.
Mendapat kabar dari papi tentang pernikahan Jean dan rencana perkawinan Frem dan Sonia, hati Predy gembira, iatak hentinya meminta agar acara kedua putranya berjalan lancar, walau dia tidak bisa hadir diacara penting kedua penerusnya itu, tapi hatinya tak luput dari keduanya.
" Aku adalah orang tua yang sudah banyak menepikan kasih sayangku demi hidup dan keselamatan putraku. Bertahun- tahun aku jauh dari Frem untuk melindunginya. Sekarangpun aku harus berpisah dengan keduanya demi melindungi mereka dari bahaya dirumah sendiri.Seakan seorang ayah yang tak punya rasa rindu. Tapi aku yakin, Tuhan tahu bukan seperti ini yang kumau, namun kenyataan yang mengharuskanku mampu menjalaninya." Ucap lirih Fredy.
" Hidup berjalan bukan menurut kehendak kita. Tapi kita harus menerima semua dengan lapang dada." Pangkas Arif.
" Ya, Jangan sedih, bawa santai aja Coy...He...He...kekeh Fredy menghibur diri sendiri dengan gaya anak muda sekarang.Ha.ha..ha...
Kedua pria yang sudah takmuda itu tertawa terkikik- kikik, Walau mereka tahu sedang mengetawakan diri sendiri. Rasanya lebih baik seperti ini. Daripada diketawai orang lain, itu akan terasa sakit.
Bersambung...
__ADS_1