Cool CEO Couple Stubborn Girl

Cool CEO Couple Stubborn Girl
Tidak dapat lagi menahan untuk tidak membalas kesakitan itu.


__ADS_3

Jessika membuka matanya lebar- lebar untuk memperbesar cahaya masuk, ketika ia tersadar dalam ruangan yang sangat gelap. " Dimana aku? Apa yang terjadi? Tadi aku diculik pagi hari, kenapa sekarang kok gelap. Apa sudah malam?" Batin Jessi bingung bercampur takut.


Dari luar Angin mulai berembus masuk dari ventilasi. Gorden- gorden berwarna putih tersibak karna angin. Sesekali suara petir menggelegar, membuat jantung Jessi berdetak Kian kencang.


Tiba- tiba saja Jessi kembali teringat ancaman ditelfon, membuat dadanya makin sesak.


" Jean...Dimana Jeanku? " tanyanya dengan bergumam.


Jessi mencoba meraba- raba, berharap bisa menemukan ponselnya, agar ia bisa menggunakan benda itu sebagai senter. Namun sia- sia, sepertinya benda itu sudah disita oleh sang penculik misterius. Cahaya kilat sekilas membuat Jessi bisa tahu, jika sekarang ia sedang berada ditempat tidur usang.


" Penculik itu tidak mengikatku, ia membaringkanku ditempat tidur. Siapa dia? Apa maksud ancamannya tadi? Ruangan apa ini? Kok gelap sekali ? " Jessi berusaha untuk bangun dan turun dari tempat tidur, meraba- raba dinding, berharap bisa menemukan saklar lampu. Namun malang ia malah tersandung benda yang membuatnya terjatuh benimpa benda itu.


" Apa ini? Kok rasanya dingin dan baunya seperti?


" U....Ulaaaaar!!!! Hik...hik....Jessi berteriak dan airmatanya mulai berderaian ketika suara desisan terdengar dikupingnya, seiring kilatan sepasang mata reptil menatap tajam kearah Jessi. Kepala sang pemilik tubuh yang Jessi tindih siap untuk menyerangnya. Dengan sisa tenaganya Jessi berusaha bangun, namun seluruh tulangnya terasa lemas. Padahal reptil yang ia duga piton ini baru akan menggulungnya.


" Tot...too.." Suara Jessi tercekat ketika ular panjang dan besar itu siap menggulung tubuhnya. Seluruh tubuh Jessi bergetar hebat karna ketakutan dan lidahnya jadi kaku. Teriakannya tertelan dikerongkongan, seperti dalam mimpi, Jessi teriak tampa suara. Airmata dan keringat Jessi mengucur dengan deras, hawa dingin dan hujan yang mulai turun tak dapat mendinginkan tubuh tua yang ketakutan itu.


Jessi merasa malaikat mautnya telah tiba, ia memejamkan mata dengan pasrah, tatkala reptil itu betul- betul telah berhasil menggulung tubuh Jessi dengan sempurna.


" Selamat tinggal Jean, mami akhirnya meninggalkan dunia ini tanpa melihatmu untuk yang terakhir...Hik...hik..." Tangis Jessi dalam hati.


Detik berikutnya lampu diruangan itu menyala ,Walau Jessi belum menyadarinya. Lalu terdengar detak beberapa pasang sepatu menuju ruangan itu.


Jessika yang merasakan sesak didadanya berkurang, mencoba untuk duduk dengan mata yang masih terpejam , Jessi meraba tubuhnya, tak merasakan lagi ada yang melilitnya. Iapun memberanikan diri membuka mata.


Kedua mata Jessi menatap reptil panjang dan besar meluncur dengan santai menuju pintu keluar. Ia menarik nafas.


" Ufff....Ternyata nyawaku masih ada. " Ucapnya meraba dada.


" Kenapa ular itu melepaskan ku? Apa karna takut mendengar suara sepatu itu? Apa ular itu peliharaan penculikku? Lalu mana orang - orang itu? " Gumam Jessi melihat ular itu benar- benar meninggalkan kamar melewati pintu yang tengah terbuka.


" Aku takkan membiarkanmu mati semudah itu Jessi! Aku akan membuatmu menderita dulu sampai kau sendiri memutuskan untuk tak mau hidup lagi, dan memohon kematian itu padaku! " Ujar Suara tua namun masih terdengar tegas.


Deg....


Dada Jesi kembali bekecamuk. Ia berbalik badan menuju sumber suara.


" Siapa kau? Aku tak kenal dirimu? Tak ada urusanmu denganku! Kembalikan putraku! " Jessi berdiri dan menatap tajam pria tua didepannya dengan pengawal orang- orang yang terlihat aneh. Dengan segenap keberanian yang masih tertinggal.


" Masih punya nyali kau ternyata! Kau tahu sedang ditangan siapa nyawamu dan putramu sekarang?" Ujar Pria tua dengan tatapan sinis.


" Tentu aku punya nyali! Karna aku rasa kau salah sasaran. Kembalian putraku. Kurasa kita tak ada urusan. Sepertinya kakek salah orang! " Ujar Jessi dengan percaya diri karna merasa tak mengenal pria tua didepannya.


" Hei wanita beracun! Kau memang tidak pernah berurusan denganku secara langsung! Tapi kau sudah melenyapkan Perempuanku dimasa lalu." Ucap kakek itu membuat Jessi makin megernyit tak mengerti.


" Perempuan yang mana? Aku tak pernah melenyapkan wanitamu, kenal denganmu saja tidak kakek! "


Kakek itu tersenyum pahit, lalu detik berikutnya seorang wanita setengah baya masuk kedalam ruangan, melangkah kaku menghampiri Jessi membuat Jessi terbelalak kaget.

__ADS_1


" Mami Tha_ Kedua mata Jessi membola, seiring badannya yang kembali bergetar, tatkala wanita cantik dengan tangan dingin menyentuh kulit wajahnya.


" Kau tidak melupakan wajah ini kan..kan.kan.." Suara wanita yang jauh lebih muda dari Jessi itu menggema dalam ruangan.


" Tidak mungkin! Mami tidak mungkin masih..." Ujar Jessi dengan bergetar. Wanita itu meraba seluruh tubuh Jessi, hingga Jessi makin menggigil ketakutan.


" Ini pasti mimpi...Mami Thalia tak mungkin masih hidup dan semuda saat aku meracuninya. Ini apa? Kok sentuhannya lebih dingin dari piton tadi? Hantukah dia? Tidak! Aku tak percaya hantu! " Tolak Hati Jessi, tapi itu tak berhasil membuatnya tenang, apalagi wanita mirip mami Thalia itu mulai memeluk Jessi dan berbisik dikuping wanita yang sudah terkencing berdiri saking takut dan gugupnya diperlakukan begini oleh Wanita yang mirip mantan mama mertua yang tak pernah menerimanya ini.


" Aku masih hidup, untuk menuntunmu menuju kematian Sayang...yang...yang..." Terdengar lagi bisikan yang menggema. lalu disusul suara tawa. Ha...ha...ha....Hi...hi...hi....


Bugh....


Tubuh Jessi benar- benar ambruk dilantai dengan keringat bercucuran. Diluar hujan mulai Reda,


namun Jessi tak dapat mendengar dan merasakan apapun lagi.


" Ia pingsan Frof! " Seru para pengawal kakek Das.


" Ya! Ia tidak mungkin mati karna matinya orang jahat itu sangat susah! " Ketus pria yang dipanggil Frofesor oleh anak buahnya itu.


"Angkat wanita beracun ini ketempat tidur dan bawa putranya keruangan ini juga! Biarkan ia bangun dan memilih cara kematian yang pantas untuknya dan putra haramnya itu nanti! " Titah kakek dengan tatapan sinis dan keji.


" Baik Frofesor Das." Jawab patuh para anak buah kakek serentak. Lalu mereka menjalankan apa yang diminta oleh tuannya.


Sedang Kakek mengikuti langkah Thalia menuju keluar. Tak ada yang tahu jika saat ini sang Frofesor tengah menitikkan airmata sembari melewati lobi, melangkah menuju ruangan penelitiannya.


" Kalau bukan karna wanita itu, aku sampai hari ini masih bisa melihat perempuanku hidup bahagia dengan anak cucunya, meski bukan denganku, aku sudah ikhlas, tapi kematiannya yang tak wajar lah membuatku segila ini. Aku hidup hanya untuk menunggu saat ini tiba, dimana wanita itu menangis meminta kematian padaku. Setelah menyaksikan orang yang melenyapkan sahabat dan kekasih masa kecilku ini tersiksa dan memilih melenyapkan dirinya sendiri dihadapan kedua mataku, barulah aku bisa mati dengan tenang. " Ucap pria hampir satu abad itu dalam tangis yang tertahan.


Kami selalu bersama dan saling menyayangi, sampai aku meninggalkannya untuk kuliah keluar negri. Saat itu datanglah pria sipit itu kedalam kehidupannya,membuat ia jatuh cinta padanya.


" Begitu aku kembali, Thaliaku sudah memutuskan untuk menyerahkan hidupnya pada Tiono. Aku takkan lupa betapa aku sangat sakit saat mendengar gadis yang kucintai dan menjadi perempuan satu- satunya dalam hidupku memilih pria lain. Tapi melihat binar indah diwajah adik angkat yang tak sengaja kucinta itu ketika menceritakan debaran hatinya karna pria Cina itu, aku tak kuasa menghancurkan kebahagiaan itu. Aku mengikhlaskan mereka, dengan mengubur dalam proklamasi cinta yang sudah kusiapkan sejak lama. Aku memilih mundur teratur, walau ibu kami melihat kekecewaan dalam hatiku dan memintaku untuk jujur sebelum Thalia Syah menjadi milik pria itu. Aku menolaknya demi kebahagiaan cinta pertama dan terakhirku. " Lirih Kakek Daston.


Sang kakek menggeleng sembari mengusap air matanya.


" Rasa sakit itu tak sebanding dengan sakit yang lebih tak terampuni, ketika aku mendengar kabar kematian Thalia. Aku hampir tak percaya ketika melihat cantikku terbujur kaku dengan bibir membiru. Wanita bejat itu tega meracuninya, hanya karna ia menolak mengakui sebagai menantu. " Ingatan itu terus berputar- putar dikepala kakek Das. Rasa sakit itu kembali meremas hati sang kakek, tatkala melihat wanita yang sudah merenggut cintanya dari dunia masihbisa hidup bebas didunia, iatak dapat lagi menahan untuk tidak membalas kesakitan itu.


Thalia tidak bereaksi apapun dengan keluh kesah Das, ia membaringkan diri diatas brankar. Kakek Das menutup tubuh itu dengan selimut setelah mengatur pemasangan semua tombol dibeberapa titik tubuh wanita mirip Thalia itu,lalu pergi meninggalkan ruangan itu, menuju ruang Jessi.


" Nanti ketika kau terbangun, aku takkan membuatnya dapat bernafas dengan baik lagi. Banyak kejutan untukmu wanita jahat! " Seringai Das memeriksa Jessi dan anak buahnya yang baru saja selesai memindahkan Jean dengan brankar kesamping tempat tidur Jessi.


" Anak muda yang malang...Ternyata Kau kurang sehat juga! Maaf...Mau tidak mau kau harus merasakan sedikit derita karna kejahatan mamimu." Ketus Frof Daston menatap sinis pada tubuh Jean yang terbaring tak sadarkan diri diatas Brankar.


*


*


*


Sementara digedung PJG, Frem berjuang keras menghadapi para investor yang menuntutnya untuk menyerahkan jabatan pada yang lain.

__ADS_1


" Jean adikku adalah pemilik saham terbesar kedua di perusahaan ini. Aku takkan menyerahkan kepemimpinan pada yang tidak memenuhi kriteria baik kwalitas maupun kwantitas!." Jawab tegas Frem.


" Tapi tuan Jean entah dimana! Sepertinya Yas sebagai pemilik saham terbesar ketiga bisa menggantikan anda tuan Frem, karna anda terbukti tak becus menjaga anak buah bahkan adik sendiri, juga telah menyebabkan file penting perusahaan kita hampir saja diculik pihak lain. Artinya kwalitas anda perlu dipertanyakan." Ujar Wira, Pria sebaya Fredy yang selama ini sering mencari celah untuk menurunkan Citra keluarga permana.


" Kalian tak bisa menurunkan Frem, Karna saya sudah mendapatkan dalang dari semua


peristiwa semalam. Masalah ini tidak akan berpengaruh dengan masa depan perusahaan. Saya jamin itu! Dan mengenai Saham, saya sudah membeli 15 persen dari sahamnya milik Yas malam tadi atas nama Sonia Rendra . Jadi saat ini pemilik Saham terbesar ketiga setelah Jean adalah Sonia Rendra! Sekarang hanya ada dua pilihan. Pilih tetap CEO Frem atau Sonia? " Ujar Tegas seseorang dengan langkah pasti menuju ruangan rapat PJG.


Semua mata tertuju kesumber suara, sejenak orang seakan terbius dengan kedatangan pria yang


masih gagah diusia menjelang setengah abad itu.


Setelah beberapa detik berlalu, barulah mereka buka suara." Tuan B..." Ucap Semua hampir bersamaan, menatap kearah sumber suara.


" Ya,Aku telah melakukan transaksi dengan pak Yas untuk adikku Sonia semalam. Tolong perlihatkan berkasnya Pak Hafis! " Titah Boy pada asisten yang ada disampingnya.


Semua terdiam kembali tatkala mendengarkan berkas yang dibacakan Hafis dihadapan mereka.


" Jadi sekarang pilihannya hanya dua! Frem yang akan mengatasi masalah ini atau CEO baru yang kebijakannya belum tentu akan bisa membuat posisi beberapa diantara anda- anda terjamin aman." Ujar Boy lagi.


Semua terdiam dan saling pandang." Lanjutkan perjuangan tuan Frem saja. " Jawab salah seorang yang kemudian diiuti oleh lainnya.


" Ya. Tuan Frem saja..


" Boy tersenyum puas, sedang Frem senang bercampur malu menatap mata sang kakak ipar, namun sebagai pimpinan ia kembali meneruskan rapat dengan ekspresi seperti biasa Sersan ( Serius tapi santai ).


Sementara kakek Das menyiapkan kejutan menyambut bangunnya Jessi kembali.Kakek Tiono dan Han menyusun rencana bagaimana menyelamatkan Jean dari sarang kakek


Das.


Hari sebenarnya masih siang. Hanya dilokasi gedung penelitian kakek Daston yang gelap, hingga tempat ini terlihat malam.


Hujan petir dan kilat sengaja diciptakan demi untuk membuat suasana makin menakutkan bagi Jessi.


Semua dilakukan Das hanya untuk dua kata. " Balas Dendam!


" Kalau Jessi harus meregang nyawa disarang Daston tak apa, dengan begitu kita tak perlu mengotori tangan untuk membalas wanita itu.


Dengan kematian Jessi ditangan musuh yang lebih ganas, Frem otomatis terpaksa melupakan dendamnya pada wanita itu.Karna toh wanita itu sudah tiada." Ucap Tiono lirih.


" Tapi saat ini Jean juga disana. Entah apa rencana Daston padanya?Bagaimanapun juga Jean tak bersalah, ia hanyalah korban dari masalah yang dibuat maminya. " Ujar Tiono menatap layar monitor yang memperlihatkan kondisi dilokasi. Tapi dititik- titik rahasia gedung itu tak terjangkau oleh Camera Pengintai, karna orang suruhan Tiono tak dapat menyusupkan kamera kekamar- kamar Rahasia sang Ilmuan bawah tanah itu, hingga hanya beberapa tempat saja yang bisa dipantau.


" Dan Jean adalah darah daging papi.Kita harus cari cara mengeluarkan Jean darisitu tanpa kurang


satu apapun." Balas Sonia


" Ya dik! Tapi kita harus ekstra hati- hati menghadapi pria yang yang tak tertebak itu. " Timpal Han.


" Hhem..Tentu. " Balas sang cucu mantu. Lalu Sonia melangkah cepat menuju gerbang utama sembari menghubungi seseorang, sebelum kedua kakek mampu mencegah, Sonia sudah tiba di pelataran, masuk kemobilnya dan siap untuk berangkat.

__ADS_1


" Sa_ Sayang jangan Pergi! " Pekik Kakek Han. Namun terlambat karna mobil Sonia sudah meluncur meninggalkan pelataran rumah mewahnya.


__ADS_2