Cool CEO Couple Stubborn Girl

Cool CEO Couple Stubborn Girl
Ibu Sejati.


__ADS_3

Usai subuh, Frem kembali menghampiri istri seraya mengulurkan tangannya. Sonia yang teringat pesan abangnya dan seseorang yang berani mengusiknya sesubuh ini, spontan menerima salam Frem dan mengecup punggung tangan suaminya itu.


" Aku takkan memberi jarak sedikitpun lagi dengan dia hanya karna canda yang kelewatan. Suamiku sudah bermurah hati mengulurkan tangannya padaku, walau semalam aku sudah membalasnya dengan sangat keterlaluan." Fikir Sonia.


Sonia menatap dalam-dalam manik mata Frem, seolah mencari ketulusan disana. Begitu merasakan ketulusan Frem, iapun mengangguk


"Oke! Kali ini Nia maafin Ajo! Tapi awas jangan pernah membuat janji dengan perempuan manapun tanpa didampingi istri. " Ujar Sonia yang membuat kedua alis Frem nyaris beradu.


" Ini istri Napa juga jadi ngak nyambung? Masa urusan percandaan kemaren larinya keWanita lain?" Menyadari istrinya cemburu, terulas senyum tipis frem tak dapat disembunyikan.


Melihat Sonia menajamkan tatapannya lagi karna seringai tipisnya, Frem mencoba menyusun kata untuk membujuk sang istri.


" Sayang... Ajo senang Nia cemburuin Ajo, itu pertanda sayang. Tapi Ajo sedikit bingung, napa nyasar kesitu?Tapi tak apalah, yang penting Nia maafin Ajo. Urusan wanita, percayalah...Hanya Nia selamanya didalam sini." Ujar Frem seraya menarik lembut tangan Sonia dan meletakkan didada bidangnya.


Sonia megalihkan tatapan matanya, tanpa berusaha melepaskan tangannya dari pelukan Frem, mesti melengos, Sonia menikmati debaran jantung suami yang tersentuh telapak tangannya, getaran itu beresonansi kedadanya sendiri.


Deg.


Sonia merasakan degupan jantungnya tak kalah cepat dari Frem, karna Frem mengusap dan menekan jemarinya dengan lembut dipermukaan dada pria itu, seakan aliran listrik menyengat keduanya. Terlebih Sonia, ia sebenarnya sangat sensitif sekarang dengan sentuhan suami, tapi Sonia menggigit bibirnya untuk menekan rasa itu, ia tak mau terlihat begitu mudah luluh.


" Ngak usah bahas yang semalam! pokoknya tak boleh lagi catingan, apalagi mengadakan pertemuan dengan wanita atau banci sekalipun tanpa Nia! " Suara Sonia masih tinggi, sedang bibirnya sengaja mengerucut.


Frem merasa geli dengan tingkah istrinya yang sangat berbeda, tapi ia hanya tersenyum lembut dan mengangguk, lalu segera menarik perempuannya itu kedalam dekapannya.


" Ya,sayang...Ajo takkan buat lagi seperti dikota B, walau presiden sekalipun yang memberi perintah


bertemu gadis lain, Ajo akan mencari cara halus untuk tidak terima, jika Nia tidak mengizinkan. " Janji Frem seraya mengecupi puncuk kepala istrinya. Mengingat Sonia sudah menyimpan benihnya dalam rahim perempuan itu, ia mencoba bersikap ekstra sabar mulai sekarang , apalagi Frem sadar sepenuhnya, andai Sonia akan bersikap tidak jauh berbeda dengan sikap dirinya yang dingin dan pemarah, cemburuan juga tergesa saat mengandung, ia tidak akan mengeluh.


" Selama ini orang sekitarku cukup susah menghadapi sikapku. Tapi mereka bertahan karna menyayangiku. Akupun pasti kuat menghadapi perobahan yang mungkin terjadi pada Soniaku selama sembilan bulan, karna akupun menyayangi dan mencintainya." Batin Frem.


Untuk kedepannya,Frem bertekad dalam hati untuk lebih baik lagi,agar kelak dapat menjadi idola yang pantas bagi buah hati mereka. Frem tak mau putra putrinya nanti tumbuh menjadi pribadi yang dingin dan kasar sepertinya. Karna sikap Frem dimasa lalu tidaklah warisan genetika, melainkan pelampiasan dari Syok terhadap lingkungan sosialnya. Ia berjanji akan berusaha menciptakan lingkungan yang Indah untuk para penerusnya, agar tidakmengalami yang yang serupa. Kita doakan semoga


semesta mendukungnya ya.🤭


*


*


*


Sementara di Bali, didepan resort tempat ia menginap,Rianti berdiri menatap laut lepas dengan tatapan yang hampa.


Kalau Frem mengalami Syok sosial dimasa pertumbuhan raga dan Jiwanya. Kebalikan dari dirinya adalah Rianti yang selalu mendapatkan kejutan menarik yang membuatnya banyak bersyukur dengan hidup. Perubahan hidup yang terus membaik dari kecil, limpahan kasih sayang dari orangtua membuatnya sulit untuk berlaku


tega sesuai permintaan ibu kandungnya. Walau dewasa ini Rianti mengalami beberapa kekecewaan tentang nasip cintanya, tapi itu ia alami setelah dewasa, tidak meninggalkan trauma apapun.Baru mulai melakukan hal yang kejam sedikit saja , malah membuat jiwa halus Rianti tersiksa dalam kegelisahan.


"Hingga detik ini Nia belum membalas pesanku. Apa ia sudah curiga dengan niatku dari awal.?


Apa aku akan kuat mengganggu ketenangan seniorku sendiri yang selama ini begitu aku kagumi?" Rianti tengah berkecamuk dalam hatinya, seperti dihempas ombak, hatinya terombang -ambing diantara gelombang baik dan buruk yang datang silih berganti.


Rianti berkali mendengus sembari menelan salivanya kasar, sudah lewat jam delapan pagi, ia masih belum berminat untuk memesan sarapan.


Dering telfon dari Tian kekasih barunya, sejak subuh ia abaikan.Rianti terdampar dalam lautan fikiran yang kacau.

__ADS_1


" Hari masih pagi! kok putri mama sudah termenung?, ntar penuaan dini lho! " Sergah suara yang membuat Rianti tersentak kaget sampai terlonjak kebelakang.


" Ma_ Mama? Kok bisa ada disini? Kapan datangnya?" Tanya beruntun Rianti setelah mengucek matanya beberapa kali. Wanita itu tidak menyangka sama sekali, mama yang sebenarnya sangat ia rindukan sudah ada disini didekat nya.


Enam bulan berpisah, membuatnya sudah tak kuasa didera rindu, walau Aulia bukan wanita yang melahirkannya, tapi Aulia sangat menyayanginya,


ia betul- betul terlahir dari hati perempuan yang masih cantik diusia menjelang senja ini.


Mama tidak menjawab, namun mengembangkan kedua tangannya.


Rianti menatap sejenak mamanya dengan kedua tangan terbuka lebar siap untuk mendekapnya. Rianti dengan senang hati menenggelamkan diri dalam pelukan sang mama. Mama yang melimpahinya dengan kasih sayang dan ketulusan selama ini, yang tidak bisa memarahinya apalagi benci, bahkan ketika enam bulan yang lalu ia memutuskan lari dari rumah, karna pertunangan dengan Bahar Bhalendra putra yang dia dan sang mama impikan gagal. Aulia terus berusaha mencarinya, menghubunginya setiap waktu begitu Rianti kembali mengaktifkan ponselnya, memintanya kembali kepangkuannya, bahkan tidak segan sang mama menghubungi siapa saja yang bisa terkoneksi dengan Rianti untuk membujuk putrinya itu kembali kedekapannya.


" Ouhhhh...Hangat dan tulus sekali pelukan mama..." Gumam Rianti. Rianti merasakan separuh dari kegalauan hatinya menguap tanpa terasa. Hingga Rianti semakin membenamkan tubuh mungilnya didada sang ibu.


" Maafkan Ria ma...Sudah meninggalkan mama cukup lama." Gumam Rianti terisak haru.


Aulia melepas pelukannya, kemudian menatap Rianti intens. Lalu dengan gemas menyentil hidung Ria.


" Udah ngak usah nangis! Jelek tau." Ujar Aulia kemudian mengusap bulir bening yang mengalir dipipi putrinya dengan ujung telunjuknya.


Melihat Ria hanya mengangguk balam dalam tatapan yang masih menerawang, Aulia menatap Rianti penuh selidik.


" Minta maaf itu yang tulus! Apa gunanya berulang berucap maaf, tapi insyafnya entah kapan! Masak balik ketanah air tidak langsung kepangkuan mama, malah milih pergi liburan, dan mama lihat liburannya galau pula . Apa namanya begini anak nakal? Mikirin apa sih?Masih belum move on Ya?Ngak dapat juga opa koreanya walau sudah setengah tahun mengembara? " Aulia menyerocos sekalian menggoda putrinya. Paket lengkap mama cerewet.😃😃😃


" He...He...Mama- mama.... Sekarang Ria sudah lupa tuh yang lewat, cuma iklan biasa! " Rianti terkikik seraya balas menggoda sang mama.


" Kok masih galau? Jika sudah dapat opa Korea?"


Aulia jadi penasaran.


" Wouuu!!! Mama jadi juga nih dapat mantu! " Kapan dikenalin? " Sorak Aulia tidak sabar melihat


Ria sudah berubah ceria.


" Sabar ma..." Rianti meremas jemari sang mama.


" Mana tahan, kebelet nih..."


" He...He..." Keduanya terkekeh senang. Lalu kembali berpelukan, tidak peduli orang- orang yang menatap heran pada keduanya.


" Kayaknya putri mama lapar deh, sarapan dulu ya! " Ajak Aulia mendengar bunyi perut Rianti.


" Boleh DECH...tapi mama yang traktir ya. Biar imbalannya bulan depan dikenalin sama akang


baru Ria." Ujar Rianti sembari melangkah mengikuti mama Aulia.


"Kok berubah jadi rubah licik anak mama, titisan dari mana sih?" Balas Aulia membuat Rianti terdiam dan berhenti melangkah dengan bibir memucat.


Deg


Deg.


" Apa mama sudah mencium gelagat niat tidak baikku? " Ringis takut Rianti dalam hati. Ia yang dasarnya baik, sangat tersiksa dengan tuntutan mami Jessi. Sampai mengira mama Aulia sengaja menyindirnya.

__ADS_1


Aulia berbalik badan begitu tidak mendengar ocehan Ria. Melihat Rianti tertunduk dengan wajah pucat ia mengernyit bingung.


" Hey sayang...Apa ucapan mama menyinggungmu? Padahal mama hanya bercanda lho." Ucap Aulia mendekat, spontan mengusap wajah Rianti.


" Kamu ada apa sih sayang? Cerita sama mama, jangan menyimpan beban sendiri yang nanti bisa membuat hati dan kepalamu letih." Aulia mengusap pundak Ria, menatap putrinya dengan curiga.


" Jiwa putriku seperti berbeban, siapa yang membuatnya tertekan, hingga fikirannya tak fokus dan hatinya mudah tersinggung, aku mesti cari tahu." batin Aulia.


Aulia mengusap wajah Rianti . " Maafin mama kalau mama salah kata. " Ucapnya lirih menatap dalam ke manik redup gadis manisnya.


Rianti menggeleng. " Ngak kok ma, aku hanya sedikit bingung, mengapa mama menghampiriku sendiri?Apa papa ngak ikut? " Tanya Rianti berkilah.


" Papamu sudah menikah lagi! Kami sudah cerai tigabulan yang lalu. " Jawab Aulia santai.


" Apa???Mangapa mama tak pernah cerita pada Ria?Bukankah sebelumnya kalian baik- baik saja? Kok tiba- tiba pisah tanpa bilang sama anakmu ini?


Tega mama menyembunyikan hal sebesar ini dari Ria?" Tanya Bertubi Rianti dengan bibir cemberut.


" He...He...Sudahlah...Jangan membahas yang telah berlalu, mama sudah ikhlas kok Ria, bahkan mama sendiri yang melamarkan perempuan yang sekarang jadi istri papa. " Ujar Aulia masih terlihat


Sangat santai. Berbeda dengan Rianti yang kembali memucat.


" Apa!!! papa sudah menikah lagi dan mama yang melamarkan wanita pengganti?? Rianti Syok dengan berita ini dan sikap biasa sang mama yang penuh tanda tanya. Rianti menggeleng pusing beberapa kali, hingga pandangannya berkunang- kunang.


Aulia cepat tanggap, melihat wajah Ria kembali memucat, ia waspada. Aulia segera menangkap tubuh Rianti yang ingin roboh, hingga gadisnya tak sempat tersungkur dipantai berpasir putih ini.


" Sayang...Syukurlah kamu ngak sampai pingsan! " Pekik senang Aulia melihat mata Rianti masih terbuka dalam gendongannya.


" Ya ma...kepala Ria mendadak pusing, mungkin efek kejutan mama dan kelaparan." Cicit Rianti setelah merasa baikan.


" Turunkan Ria wonder woman..." Rengek Rianti merasa canggung karna orang- orang sampai berhenti menatap padanya dan ibunya.


" Baiklah sayangku...Ayo makan cepat! Makanya sarapan dulu sebelum kenana- mana! Tu kan jadi gini karna lalai sama perut sendiri!. " Gerutu sang mama sembari menurunkan Rianti, kemudian membimbing Rianti menuju resort .


" Baiklah wonder Women ceriwisku! Lainkali putrimu ini tidak akan lalai lagi." Balas Rianti.


Ger... Orang - orang yang sempat mendengar ucapan Ria terkikik geli. Sedang sang mama mulai memasang wajah garang.


" Muji yang ikhlas! Jangan sambil ngejek! " Ujar Aulia melotot.


" Kayaknya rubah akan ditelan bulat oleh Singa! Untung hampir tiba dimeja makan, semoga singanya bisa disogok dengan daging olahan. Ha..ha...ha..


Keduanya lalu tertawa. Sebentar kemudian pelayan sudah datang mengantar pesanan kemeja itu. Karna sebelum menemui putrinya, Aulia sudah memesan sarapan pagi untuk mereka.


Keduanya duduk dan mulai menikmati makan pagi dengan khidmat seperti sedang upacara.


" Ibu sejati hanya peduli kebaikan dan keselamatan putrinya, bukan pencapaian obsesinya.. " Racau Rianti begitu selesai makan


sembari mengusap perutnya yang kenyang dengan tangan kirinya.


" Sayang kamu kenapa? Aulia kembali bingung dengan ocehan putrinya.


" Ngak ma...Ria teringat sama novel yang semalam Ria baca. Melihat mama yang begitu apik menjaga Ria selama ini, Ria teringat karakter ibu dicerita itu sama kayak mama, makanya jadi terucap. " Kilah Rianti lagi.

__ADS_1


" O...begitu....


Bersambung.


__ADS_2