
Sonia merenggangkan tubuhnya yang begitulelah,setibanya dikamar.Rasanya tubuh ingin langsung istirahat, tapi Sonia tidak mau melewatkan malam tanpa memeriksa papi mertua dulu sebelum beristirahat.Sedang kedua kakek sudah kembali kepanti bersama para undangan yang terakhir kembali. Sonia melangkah pelan menuju meja rias, harus berhati- hati karna takut ekor gaunnya sampai nyangkut. Gaun pengantin penutup acara,sengaja tidak dilepas sang MUA karna itu milik Sonia sendiri yang dipesan frem dari seorang perancang ternama di awal ia meminang Sonia.
" Sini kubantu bukain!" Ucap Frem mengejutkan Sonia, tatkala Sonia sibuk menurunkan rasleting belakang gaun yang belum juga berhasil dibuka dari beberapa menit yang lalu.
" Se_ sejak kapan kamu disini?tanya Sonia gugup, tatkala merasakan tangan Frem sudah menempel di tengkuknya. Satu tangan menyentuh resleting dan tangan satunya lagi mengusap tengkuk putih Sonia.
Sonia merasa konyol dengan pertanyaannya sendiri, apalagi tadi ia mendengar sendiri gemericik air dikamar mandi saat memasuki kamar.Frem tidak menjawab Sonia, tapi pria itu malah berganti memeluk Sonia dari belakang dan menyandarkan dagunya diatas kepala Sonia.Sonia mendegup Salivanya,karna mendadak tenggorokannya tercekat.Bahkan gadis itu tak sanggup menatap kecermin, malu melihat pantulan wajah sendiri yang sudah berwarna entah bagaimana karna gugup. Apalagi tubuh sixpack Frem hanya dibalut handuk saja, tentu Sonia tak mau ambil resiko menatap pantulan pria itu. Apalagi wangi sabun dan rambut Frem sehabis mandi dan keramas menyelinap memasuki rongga hidung kecil dan mancung milik Sonia. Dengan cepat menyampaikan kepusat syaraf gadis itu, tanpa permisi pada sang pemilik, Pusat syaraf tersebut memberi kesimpulan. " Hah..hah..Wangi sekali! " suara hati Sonia senangkap laporan sang pusat syaraf.
" Gaunnya panas, aku ingin segera mandi!katanya tadi mau bantu bukain." Ujar Sonia setelah dengan susah payah menasehati hatinya agar tidak terlena dengan sentuhan Frem.
" Hahaha...Sory jadi lupa! Habis pemandangan yang baru kulihat sungguh menggoda. Mandilah cepat, kutunggu ditempat tidur. " balas Frem segera melepas pelukannya, lalu menurunkan resleting itu.
" Cik, Tempat tidur? Dasar lelaki, capek begini masih berfikir kesitu. " Sungut Sonia dalam hati. Namun tak dapat dipungkiri otaknya sudah terkontaminasi oleh penuturan Frem.
Deg.
deg.
Jantung didada Sonia memacu lebih cepat dari tadi. Apalagi baru saja punggung indah Sonia terpampang dimata Frem, pria itu langsung panas dingin.Dan tangan Frem tanpa dapat dicegah mengusap lembut punggung putih bersih itu. Malah kemudian lebih dari itu, dengan bergetar, Frem menunduk dan mencium punggung itu.
" Hah...hah...Masih sangat wangi! " Pekik hati Frem memuji aroma tubuh istrinya. Walau sejak mandi pagi Sonia belum pernah membasuh tubuhnya, hanya berganti kostum saja beberapa kali.
" Cepatlah...Aku tak tahan gerah." Keluh Sonia setelah menemukan alasan untuk lepas dari suaminya.
"So_ Sory. " Ucap Frem sembari menegakkan tubuhnya kembali dan memberi jarak dengan istrinya.
Sonia cepat- cepat berjalan menjauh, lalu gadis itu mengambil handuk dan pakaian ganti dari walk-in closet.
" Buka dan masukkan dulu bajunya kekeranjang kain kotor, tenanglah...aku bakal tutup mata." Ujar Frem dengan menyungging kan senyum nakal melihat Sonia bermaksud menyeret gaun setengah terbukanya kekamar mandi.
Sonia berbalik menatap Frem. " Cepat tutup mata! Awas mengintip! "
__ADS_1
" Oke deh...Hamba berupaya mematuhi bu Ratu." Ucap Frem berjalan gontai menuju tempat tidur, duduk dipinggirnya lalu memejamkan mata.
Sonia tersenyum penuh kemenangan, lalu cepat- cepat membuka gaunnya,dan membalut tubuhnya dengan handuk,memasukkan pakaian kotor kekeranjang disudut ruangan dan bergegas kekamar mandi dengan membawa baju ganti.
"Hahaha...Bisa juga dia ketakutan sampai segitunya. " Frem tertawa lebar dalam hatinya.
Sepuluh menit kemudian Sonia keluar dari kamar mandi sudah rapi dengan piyama tidurnya. Melihat Frem terlihat tidur telentang ditempat tidur mereka dengan memakai kimono warna putih bersih, Sonia menghirup nafas lega.
" Syukurlah ia sudah ketiduran. Capek kali ya. " Gumam Sonia. Dengan santai gadis itu mengeringkan rambutnya yang panjang sepinggang dengan hair dryer.
Sonia merapikan rambutnya, Lalu menggulungnya. Mengoleskan bedak tipis diwajahnya, dan sedikit lip balm pada bibir mungil namun sensual itu. Baru saja Sonia selesai berdandan, terdengar ketukan dipintu.
" Siapa? " tanya Sonia setelah menutup kepala, lalu beranjak dari meja rias dan melangkah menuju pintu.
" Waktunya makan malam Tuan dan Nyonya." Ucap sopan kepala pelayan, ketika wajah Sonia sudah melongok dibalik pintu.
" Baiklah pak Jaka...Kami akan segera turun, sekalian mau memeriksa ketiga tamu istimewa kita. " Sahut Sonia lantang yang langsung diangguki oleh kepala pelayan. Pria paruh baya itu menunduk lalu melangkah meninggalkan kamar pengantin.
" Waduhh...Kalau ngak dibangunin ngak mungkin ia kubiarkan tidur dengan perut kosong. " Ucap Sonia lirih. Gadis itu menimbang- nimbang sejenak, lalu memantapkan langkahnya menuju peraduan.
" Frem...Frem...Bangunlah, kita ditunggu papi, Tante dan Om Arif dimeja makan." panggil Sonia sambil mengguncang- guncang tubuh Frem dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya menahan pergerakan tangan Frem.
" OUuuh...Ya Ampun...Aku ketiduran ya." Ucap Frem setelah menguap beberapa kali. Melihat Sonia terlonjak menjauh dengan Alis mengernyit, Frem mengusap pipi sendiri dan merabanya". Apa ada yang aneh diwajahku? " fikirnya."
Sonia sengaja menatap begitu, agar Frem tidak berani mengganggunya. " Ayo kita turun untuk makan! Papi, Tante Adel dan Om Arif sudah menunggu. " Ulang Sonia sekali lagi,
" Tapi_"
" Tak ada tapi- tapian, duduklah...Aku juga capek dan gantuk, jangan berlama- lama, perutku sudah lapar juga. " Sonia berdalih untuk menutupi perasaannya.
Usai makan malam berempat. Adel menatap pengantin baru bergantian." Besok pagi kami kembali, setelah nginap semalam dirumah utama. " Ujar Adelia memecah keheningan.
__ADS_1
" Kalau papi sudah bisa bersama kami disini kan Pi? " timpal Frem langsung keInti.
Fredy menatap Sonia dan beralih keputranya. " Terserah Bu dokter saja, kalau mau menitip papi disini atau dipanti. " Canda Fredy.
" Sonia menyelesaikan minumnya. " Papi tinggal disini sama kita, kedua kakek juga harusnya begitu, tapi mereka memilih tinggal disana, setelah tenang, akan Nia coba bujuk kembali."
" Dia ternyata memiliki fikiran yang sama denganku,
walau kami belum membicarakan hal ini, ternyata Nia dan aku sama- sama menginginkan semua orangtuaku tinggal seatap dengan kita. " Batin Frem mengagumi kepribadian baik dan kepekaan hati istrinya.
" Baiklah...Terserah keputusan bos Besar, andai sudah mantap tinggal bareng menantu, kami terpaksa pulang berdua saja." Ucap pelan Adelia seraya mengangkat bahu.
" Berdua lebih seru...Hahaha..." Fredy tertawa lepas usai menggoda pasangan pengantin usang, namun tatap matanya tertuju pada pasangan pengantin baru. Membuat keduanya sejenak menunduk karna malu.
" Sudahlah...Kembalilah kekamar kalian, Tante melihat wajah kalian terlihat lelah."
" Belum! Aku masih mau memeriksa kesehatan papi." Ujar Sonia.
" Istirahatlah kalian! Tidakkah Nia lihat papi bisa tertawa renyah, ini tandanya papi sehat. Ayo cepat istirahat." Titah Fredy sembari mengibaskan tangannya.
Sonia mengangguk, gadis itu kehilangan kata untuk membantah. Frem menarik tangan istrinya dan membawanya berdiri.
Pak Jaka kepala pelayan melangkah untuk membawa Fredy kekamar.
" Papi benar tak apa? " tanya Sonia sekali lagi sembari menatap Fredy dengan harapan ayah mertua mengerti kalau ia minta perlindungan.
Fredy mengerti makna tatapan menantu cantiknya, tapi ia tak mau bersekongkol melawan putranya. Lalu Fredy mengangguk, dan melangkah diiringi pak Jaka. " Yakinlah! Papi benar sehat dan dalam mode senang." Ujar Fredy membuat Sonia mengangguk lemah.
" Mulailah nak...Kalian harus lebih dekat, tidak sepatutnya aku terlihat tidak sehat, sementara putraku sedang berjuang agar bisa lebih dekat dengan istrinya. " Batin Fredy. Sebenarnya ia iba juga dengan kekhawatiran Sonia, tapi sebuah hubungan butuh proses, dan ia tidak mau jadi penghalang dari proses pendekatan pasangan baru itu.
Bu CICI asisten rumah tangga mulai membersihkan meja, ketika tuan rumah sudah pada melangkah menuju tempat istirahat masing- masing. Sedang petugas kebersihan pesta masih terdengar berkicau riang sembari bekerja, nampaknya mereka ingin menyelesaikan semua sebelum pagi menjelang, memastikan kalau pekerjaan mereka benar- benar beres dan memuaskan.
__ADS_1