
Jessi yang sudah capek dan terkantuk- kantuk karna menangis dengan bersandiwara sejak dari sore, dengan puncaknya ketika Fredy diantar Ambulance menuju pemakaman.
" Hufff...Ternyata Tangis terpaksa ini cukup menguras energi." Dengusnya dalam hati.
Apalagi Jessi menangis keras, disertai raungan dan rintihan, demi melengkapi drama berkabungnya dengan kepergian suami yang sudah lama ia rencanakan itu. Tentu sangat melelahkan.
Ditengah Jessi sibuk bersorak dalam hatinya, karna sekali lagi, rencana Jessi sepertinya mendapat restu dari alam semesta.
" Untung saat aku memberi obat pada Fredy, pria itu ternyata terlebih dahulu sudah terjangkit virus Corona, jadi aku tidak perlu bekerja keras untuk cuci tangan seperti sebelumnya, pihak rumah sakit sendiri yang membersihkan namaku. " Soraknya senang didalam hati
Seraya menahan senyum dan tawa.
Hari ini, dengan kepergian Predy, Jessi membayangkan akan bebas dari segala masalah, termasuk merdeka menjalani hubungan dengan kekasihnya.
Tatkala Jessi sedang duduk menunduk, mengikuti para pendoa dipenghujung Acara. Wanita itu tersentak saat mendengar Jean putranya memanggil Seseorang dengan nama yang membuat wajah Jessi mengeras.
Jessi sontak menegakkan kepalanya, menatap kearah sumber suara.
Didepan pintu terlihat seorang pria muda tampan dengan Aura maskulin.
Pria berwajah perpaduan Cina Jawa dan Eropa. Dengan alis tebal khas tanah air,
rambut hitam lebat, mata tidak sipit dan tidak lebar. Dagu dan rahang tegas dan Jelas. Pria dengan tinggai kira- kira 175 Cm itu memiliki kulit kuning langsat yang berkilauan dibawah cahaya lampu.
" Sangat tampan! " Begitu suara hati orang setiap memandang Frem, sebelum mereka mengenal pribadinya.
Jessipun tak sengaja bergumam begitu, tapi nama pria itu adalah
nama yang tidak ingin didengar Jessi seumur hidup
Seno..." Gimana mungkin. " tolak keras hati Jessi hingga ia merasa jantungnya seolah bergeser dari tempatnya, untuk sejenak pandangannya kabur, ia bagai mati suri, tubuhnya membeku ditempat duduknya.
Apalagi Melihat putranya memeluk anak muda itu dengan menangis. Meneriakkan kata " kakak". Seperti terbangun dari mimpi yang sangat mengerikan. Mata Wanita itu merah dan melotot sempurna. Wafi langsung mengarahkan netra tajamnya kearah Jessi.
" Ini asisten Fredy pake tatapan nyelidik lagi. Sok awas bangat sih orang.! " Kesal hati Jessi mendapat tatapan dari Wafi.
Jessi mengambil nafas untuk menenangkan hatinya, sebagai ratu drama, ia tak mau suasana hatinya terbaca dari Cahaya mukanya. Ia mencoba belajar tersenyum.
Jessi kembali berfikir, ia benar- benar tak percaya, mengapa malam ini tiba- tiba nama Seno terdengar lagi ditelinganya. Nama yang sudah lama tidak disebut dikeluarga Permana." Ini pasti ilusi, jelas- jelas aku sudah memberinya beberapa tetes dan Day Cang sudah mengurung anak itu digudang tua dipinggiran desa H, saat acara picnik keluarga itu. Bahkan aku melihat jelas Jasad bocah usia 5 tahun itu sudah membiru ketika dibungkus. Ngak mungkin dia hidup lagi, andai bereinkarnasi pun, mana mungkin usianya akan terlihat sama. " Jessi berbicara terus didalam hatinya.
" Ini pasti orang kenalan Jean, putraku kan banyak sekali temannya, lagian, andai mereka merekayasa kematian Seno, mana mungkin anak itu bisa tumbuh sesehat dan segagah ini, racun itu pasti merusak hati dan paru- parunya, setidaknya ia akan menderita sakit lever dan paru- paru akut." Jessi terus bertarung dengan berbagai dugaan dalam hatinya. Kemudian ia tersenyum seraya mendekati Frem dan Jean.
__ADS_1
" Kamu temannya Jean nak?Namamu mirip dengan kakaknya Jean yang sudah meninggal. Apa kamu Kakak kelas nya?" tanya Jessi langsung keinti.
Jean menatap abangnya dan Jessi bergantian. Sementara Wafi bingung harus bagaimana. " Apa sudah saatnya semua terungkap? " Wafi bertanya dalam
hati, ia sedikit kesusahan mengontrol nafasnya yang mulai naik turun. Tak tahu apa yang harus dilakukan, iapun berbalik
menatap Edi.
Edi yang sibuk menutup doa dengan para pendoa, mendapat tatapan dari Wafi ia angkat bahu,dan sesekali melirik
Sedang Frem mengepalkan tinju dibalik Jaket kulitnya.
" Santai sekali gayamu siluman." Geramnya dalam hati, menilik Jessi.
Frem menegakkan kepalanya menatap Jessi, ia sudah siap dengan apapun yang akan terjadi. Toh sudah lama ia menyiapkan fisik dan mental untuk menghadapi perempuan yang sudah menghancurkan keluarganya ini.
Jean mendekati Jesi dan menyentuh pundaknya. " Benar mami... dia kakak kelasku, dia yang menyumbangkan darahnya padaku saat aku kecelakaan, kebetulan darah kami golongannya sama, aku dan papi sangat berterima kasih padanya, sejak saat itu kami saling kontak, mendengar papi meninggal ia langsung datang, ia anak pengusaha dari negara B, SMAnya kak Sen disini, ikut pamannya, setelah menolongku, ia lulus, lalu kembali dan kuliah dinegrinya Sekalian meneruskan bisnis keluarga. Ayahnya pemilik 60 persen saham di PJG. " Jelas Jean santai.
" Apa? Emang papimu menjual sahamnya
sebesar itu pada orang luar? " tanya Jessi dengan mata kembali melotot.
" Mami sih yang salah, ngak tau aja mami, saham perusahaan- perusahaan dinegara kita dewasa ini, banyak dikuasai oleh orang luar. Mami sih, taunya cuma berfoya- foya! Ngak tahu setengah tahun yang lalu Permana Jaya Group mengalami coleps." Lanjut Jean santai.
Kemudian ia berbisik pada abangnya, ayo istirahat, papi sudah dikebumikan, akupun tidak diberi kesempatan melihat.
Tak ada gunanya begadang, besok pagi dengan terpaksa kita harus mengadakan rapat dewan direksi. Para anggota Group menuntut President PJG yang baru yang lebih tangguh." Bisik Jean sembari mengusap sudut matanya yang berair.
Hati Jessi sebagian lega, namun sebagian yang lain makin kacau. " Kalau ayahnya pemilik saham terbesar, bisa jadi ia yang akan dinaikkan menjadi direktur Utama PJG, bagaimana ini, apalagi kesehatannya dan penampilannya sangat meyakinkan. Pokoknya aku
harus berusaha agar Jean yang maju, apapun caranya. " Jessi kembali berencana dalam hati.
" Sayang, sebaiknya istirahat saja dikamar, sebentar lagi juga para pendoa akan pulang. " Ujar Jessi mencoba bermulut manis.
" Dasar Ular betina, sedang khawatir saja masih sempat menjulurkan lidah manis berbisanya." Batin Frem.
Walau Frem sudah sangat muak dan benci melihat sandiwara Jessi, tapi ia masih berusaha menahan hati.
Setelah mendegup Salivanya yang terasa pahit. " Frem berusaha menanggapi wanita itu.
好的阿姨 Hǎo de āyí ( Baik Tante)! " Ujarnya pendek.
__ADS_1
Jessi membalas dengan senyuman.
" Wafi yang dari tadi mengalihkan pandangan dari mereka dan memilih jadi pendengar angkat bicara." Ya, tuan muda, sebaiknya kita istirahat, hari sudah larut. " timpal wafi seraya menarik lembut tangan Jean, seolah hanya Jean tuannya.
Detik berikutnya, Jean melepas tangan Wafi.
" Bawa kakak Sen Taiyong Kedalam dulu! " titahnya.
Wafi menjawab dengan menunduk dan mengangguk.
Orang- orang yang mendoapun bubar, setelah paman Feihong dan Edi membagikan uang jalan dalam amplop.
Frem dan Edi melangkah menuju kedalam.
" Waf, Bawa anak buahku keapartemenmu, besok pagi aku dan Jean langsung berangkat kekantor PJG dengan Edi. Kita ketemu dikantor! Titah Frem dengan berbisik
setelah mereka tiba dikamar Frem.
" Oke...Sesuai perintah Bos. Hati- hati...." Balasnya juga dengan berbisik. Kemudian berjalan meninggalkan Frem.
Sementara Jean masih diruang keluarga dengan maminya. Jesi nampak sedang berfikir keras.
Sebuah tepukan tangan Jean memanggil pengawal mengejutkannya.
Tiga pengawal Jean datang . " Siap Bos." Ujar mereka dengan menunduk.
" Bawa nyonya kembali kerumahnya dibelakang! " titah Jean yang membuat mata Jessi membelalak.
" Jean kau! Mami ingin tidur dikamar papimu, tega sekali mengusir mami dalam keadaan berkabung begini." Sanggah Jessi marah.
Jean tidak langsung menjawab, ia menatap wajah maminya. " Terlalu cepat mami... " bisik Jean lirih.
Lalu Jean menatap tajam ketiga pengawalnya. Sadar makna tatapan tuannya, ketiga pengawal Jean langsung menyeret Jessi kebelakang.
" Maaf mi...Papi dari dulu menempatkan mu disitu, takmau begitu papiku dikubur, mami kembali kerumah ini dan menguasai ruang pribadinya dengan Almarhum mami Kak Frem , nanti arwah papiku jadi tidak tenang, karna sampai beberapa hari sebelum ini, ia masih tidak bisa menerima perempuan yang sudah melahirkan ku ini." Batin Frem sedih.
Beberapa bulir bening mengalir dipipinya, sesungguhnya Jean sangat terluka berbuat begitu, tapi tingkah laku Jessi yang sampai hari ini belum berubah, membuatnya yakin kalau keputusan papinya tidak salah menolak habis kehadiran Jessi dalam hidupnya.
Bersambung...
Ramaikan tulisan ini dengan like, Fote, hadiah, Faforit dan komentarnya ya say...
__ADS_1