
Dua orang security masuk dan mendatangi Frem dan Wafi. " Waktu bezuk sudah habis sejak tadi tuan- tuan. " Ujar kedua security itu.
" Tapi kakek kami menghilang dibawa Mimi! " teriak Wafi memelototi kedua penjaga keamanan itu.
" Oh...Nona Mimi...Tidak apa, kalau bersamanya semua Lansia pasti aman dan nyaman. Sebaiknya tuan- tuan kembali, kalau mau berkunjung lagi, tunggu besok siang. " Ucap Petugas yang lebih tua.
Walau fikirannya berkecamuk, Frem akhirnya keluar dari gedung ini diikuti Wafi.
" Ini gara- gara Aki- aki genit itu, bagaimana bisa seorang CEO terkemuka yang biasa membuat orang tunduk, sekarang diusir halus hanya oleh penjaga
keamanan biasa sebuah panti sosial. Gadis itu keterlaluan, bagaimana bisa ia langsung membawa kakek kedalam, mengapa cincin mami ada dijarinya? Aku tak salah, itu cincin mami. Sonia...Sonia...tega nian memberikan cincin yang Seno khususkan untuk Nia diberikan pada gadis lain.
Sepanjang jalan Frem terdiam dengan fikiran berkecamuk. Karna Yang bawa mobil Siance, wafi duduk dekat Bosnya, seraya memperhatikan Frem yang terlihat banyak fikiran.
Setelah berkali- kali mengatur nafas, Wafi mencoba menyentuh pundak Frem. " Jangan memikirkan yang tadi Bos, emang tidak waktunya berkunjung kepanti dijam begitu kecuali urusan darurat. " Ucap Wafi mencoba meraba hati tuannya.
Sungguh diluar dugaan semua orang, Frem tidak lagi marah, tapi dari sudut matanya jatuh bulir bening. Wafi segera mengeluarkan sapu tangan biru dari saku
bajunya dan memberikan pada Frem.
Frem meraih sapu tangan itu dan menggenggamnya Erat. " Dengan sapu tangan berwarna biru seperti ini aku berikan padanya milikku yang paling berharga dengan harapan dimasa depan kami akan bertemu dan cincin itu sebagai tanda pengenal dan pengikat diantara kami. Tapi apa yang kudapatkan hari ini Waf, kekasih masa kecilku tega memberikan cincinnya pada gadis lain. " Ucap Lirih Frem yang membuat Wafi mengernyitkan dahinya dengan sempurna.
" Pada siapa bos? " Wafi tak terkendali bertanya, bahkan setelah ia tersadar ia menutup mulutnya dengan tangannya.
" Kenapa? jangan takut, aku sedang teramat sedih, jadi takkan mampu memarahimu untuk saat ini. " Ucap Frem semakin lirih, nyaris ditelan udara malam.
" Apa kau yakin papiku masih hidup Waf? Apa benar ia yang sudah menelfonmu? Kenapa ia tidak menelfonku? Apa ini tidak bagian dari sandiwara Jessi? " tanya Frem bertubi, kenyataan yang ia temukan tentang Sonia hari ini membuatnya semakin meragukan dunia ini.
" Yakin Bos! Setelah mengirim pesan, tuan besar juga menelfon." Jawab Wafi mantap.
__ADS_1
" Kalau begitu telfon sekarang? Aku tidak akan percaya begitu saja, sebelum melihat wajahnya sendiri. " Ujar Frem yang masih sendu.
Wafi segera menghubungkan panggilan, tapi hanya operator yang menjawab panggilan itu.
" Tu kan? Nomornya tidak aktif, bagaimana aku percaya begitu saja? Jangan- jangan Jessi yang bekerjasama dengan pemilik rumah sakit itu. " Ujar Frem semakin berfikiran buruk.
Sedang anak buahnya yang belum begitu memahami bahasa Indonesia yang bercampur bahasa daerah yang Frem dan Wafi gunakan, hanya cengar- cengir melihat kesedihan Bosnya.
Frem memang sengaja curhat pada wafi dengan bahasa maminya, selain karna kangen mami, ia tidak mau ada yang lain yang mengetahui rahasia hatinya selain Wafi, sedang pada kakek saja, sampai hari ini Frem tak kunjung berani cerita. Ini mungkin karna perasaan sedih itu sudah meluap, hingga tidak bisa lagi ditahan didadanya.
" Tapi untuk tuan besar, aku tidak berfirasat buruk Bos, apalagi kakekmu sepertinya tidak sedih sedikitpun, mana mungkin ada seorang ayah yang bisa tersenyum tatkala putranya dalam bahaya, bahkan dalam mimpipun mereka akan dapat firasat. Jadi urusan tuan kita lihat saja reaksi Jessi dirumah nanti, kalau dari PC tadi siang, wajah tuan tidak ada nampak sedikitpun dalam pemaksaan." Ujar Wafi seraya menepuk- nepuk pelan Pundak Frem.
" Mudah- mudahan benar firasatmu, sebab aku tak kuat lagi untuk menahan duka ditinggal orang tercinta dengan cara yang sama. " balas Frem lirih.
Frem kembali menggeser layar telfonnya. " Ini namanya katamu Mimi juga, kenapa wajahnya beda? " Tanya Frem menyerahkan fhoto yang dikirim Wafi Empat tahun yang lalu.
" Aku tidak jelas namanya Bos? Yang jelasnya ia gadis panti dan murid Wushu kakek satu- satunya.
"Ya...Aku mencuri photo itu saat pagi mereka siap latihan. Setelah itu, aku tak bisa menemukan mereka latihan lagi. " Ucap Wafi angkat bahu.
" Tapi katamu Mimi itu jago juga bela dirinya, pernah ia mengalahkan anak buah Jessi. " tanya Frem lagi teringat penjelasan wafi waktu dulu.
" Ya Ampun, bos otaknya sebesar apa ya? Kok semua yang aku lisankan bahkan dengan bergumam, tercatat rapi dimemorinya." Batin Wafi tanpa sengaja ia mengusap dadanya sendiri.
" Kenapa bengong? " tanya Frem
menyikut Wafi.
" A- Anu Bos, Mungkin Mimi dengan gadis
__ADS_1
itu erat hubungannya dengan pemilik panti, karna mereka begitu istimewa diperlakukan oleh baik karyawan maupun
penghuni panti. " tebak Wafi tak sengaja terlontar begitu saja karna gugup dikejutkan Frem.
" Atau Sonia menyamar jadi mereka? " Frem malah menganggap serius.
" Ya Ampun Bos! Itu tak mungkin, mana ada nona besar yang mau tinggal dipanti bersama orang- orang yang sudah bau tanah begitu. Akrap dan penuh kasih sayang, pasti gadis itu gadis biasa, ngak mungkin putri Sonia. " Ujar Wafi mantap.
" Emang kau sudah pernah melihat putri Sonia? " tanya Frem.
Wafi menggeleng kuat. " Abangnya mengurung Sonia dan tak pernah membiarkan adiknya muncul dimedia Sosial Bos. " Tebak Wafi.
路径正确吗 Boss Lùjìng zhèngquè ma Boss ( Apakah jalannya sudah benar Bos) ? " Tanya Sian yang merasa ragu setelah tadi melewati pertigaan jalan, karna bosnya Asyik, ia jadi segan.
Setelah merasa jalannya keluar dari kota, baru ia berani bertanya.
" Ya Ampun...Kita tersesat. " Ucap Wafi dengan menepuk jidat.
" Tepikan mobil, biar aku yang bawa. " Pinta Wafi. Sedang Frem hanya tersenyum kecut. Mereka sudah tersesat
beberapa KM, karna ia sudah tak sengaja curhat pada asistennya dalam mobil, sedang anak buahnya belum pernah kerumah Utama.
Pukul Satu lewat tengah malam mereka tiba dimansion
Utama. Jean yang sudah sadar dan dari tadi terus menangis, ditenangkan paman Fei, melihat Kakaknya datang, Sontak berdiri, teriak dan menghambur kepelukan Frem.
" Kak Seno !!! Hik...Aku tak yakin itu Papi, aku tak percaya papi terkena Corona, petugas itu bahkan tega menguburnya tanpa bisa dilihat dulu oleh keluarga. Hik...Hik...Ini tak adil kak...ini kejam sekali..Uuuuu....Jean kembali meraung seperti anak kecil, airmatanya menganak sungai.
Lama Frem memeluk adiknya dalam diam, ia tak peduli ada mata yang menatapnya tak berkedip. Dua puluh tahun ia menutupi keinginannya untuk menginjakkan kaki dimansion mamynya ini, sejak dirawat secara rahasia selama setahun karna sakit akibat diracun dan dikurung Jessi. Airmata Frem pun mengalir lebih deras, tapi ia menangis tanpa suara.
__ADS_1
Wafi datang menepuk pundak Jean dan Frem. Kedua orang itu mengurai pelukan.Jean melihat airmata kakak dan asisten papinya sudah membasahi baju mereka.
" Aku tak percaya, tapi ternyata nyata, papi sudah tiada. Bahkan kakak kembali malam ini juga. " Batin Jean.