
Kenyataan hidup memang kadang begitu pahit, sebagai mahluk kita manusia harus
bisa menerima walaupun hati ingin menolak. Mudah- mudahan yang pahit bisa jadi obat yang akan membuat kita semakin kuat.
Jean Berjalan gontai kekamarnya dengan airmata yang masih bercucuran. " Aku bisa terima sebagai orang nomor dua di PJG, tapi aku sangat sakit dan kasihan pada nasipku sendiri, untuk mendapatkan posisi itu saja, aku harus terlahir dari sebuah mesin pembunuh. Kalau sakit saja masih dapat kutahan, tapi rasa malu kemana harus kusembunyikan, jika suatu hari semua terbukti. " Ringis Jean didalam hati.
Jean yang sudah mendapatkan ingatannya sejak dua tahun yang lalu, mulai menyelidiki tentang maminya dengan bantuan orang- orangnya, mendapatkan informasi dan kenyataan tentang mami membuat hatinya luka, sedih dan malu.
Sementara Frem melangkah menuju kamar pribadi papinya. Melihat figura besar Fhoto mami Nabila yang masih terpajang rapi didinding, membuat pandangan mata Frem berbinar.. " Ternyata papi seorang yang sangat setia pada mami. " Ucap Frem lirih.
Lalu pandangan Frem beralih kemeja kerja Fredy, disana juga masih ada Figura kecil fhoto mesra kedua orang tuanya. Frem meraih benda itu, lalu menciumnya. Frem tak lupa mengunci pintu, sebelum merebahkan diri diranjang besar berusia puluhan tahun yang terawat dengan baik.
" Bahkan ranjang pengantinnya pun, papi tidak sudi mengganti, untung terbuat dari besi bagus, jadi tetap kuat, andai aku mendapatkan Cintaku, aku juga akan menjaga hatiku selamanya seperti papi, tapi aku takkan membiarkan siapapun masuk ke rumahku , menyentuhku , makan minumku selain istriku, andai ingin merekrut asisten rumah tangga, aku akan terima yang lelaki saja." Janji Frem sebelum memejamkan matanya dengan memeluk pigura kecil itu.
*****
Sedangkan dipanti Mimi terpaksa merebahkan diri dilantai dengan menggunakan kasur lipat. Karna kedua kakek sejak tiba langsung terkapar letih diatas ranjang . Tiono dan Han tidak banyak cerita jelang bobok. Begitu diberi selimut dan seulas senyum manis Mimi sudah cukup menghantar mereka kealam mimpi. Dengkuran keras kedua pria generasi lama itu sahut menyahut, menambah kesunyian malam kian mencekam.
Sonia terbangun dipertigaan malam. Sebelum kekamar mandi, ia memeriksa kedua kakek. Memperbaiki selimut kedua orang tua itu, karna takut mereka kedinginan. Malam ini sungguh sangat menusuk tulang, tidak biasanya udara diibukota sedingin ini.
Kakek Tiono terbangun disaat Sonia baru selesai salam dan siap berdoa. Tiono menatap Sonia takjup dengan mata senjanya. " Ternyata itu rahasianya sehingga wajahmu selalu cerah dik, ada cahaya Iman menyinari tiap langkahmu,
kalau melihat betapa sempurnanya dirimu, tak pantas rasanya bersanding dengan Prem dengan wajah datarnya. " Gumam Tiono lirih.
Sonia berdiri dan mengemasi pakaian sholatnya. Setelah mengembalikannya kewalk-in closet, Sonia pun melangkah menuju ranjang.
" Sudah bangun kek. " sapa Sonia melihat
mantan gurunya itu memandanginya sambil mengerjap. Kemudian gadis itu duduk dipinggir ranjang.
" Sonia...Kakek sudah bertahan hidup untuk bisa kembali bertemu denganmu dan melanjutkan lamaran itu, kapan Nia menyetujui perjodohan dengan Frem. " Ujar kakek Tiono membuat Sonia langsung terlonjak kaget. Belum sempat Sonia membenahi suasana hatinya, kakek Han sudah menyela.
__ADS_1
" Kakek juga semula hanya berharap hidup dua tahun saja, tapi mendengar Abang begitu semangat kakek juga tak mau kalah, kakek semakin rajin minum obat herbal dan rutin konsultasi dengan dokter, akhirnya kakek juga diperkenankan bertemu dengan Sonia.
Kakekpun tak sabar ingin segera menimang cicit dari kalian. Bagaimana kalau perjodohannya dipercepat? Mumpung kakek masih menikmati bonus umur ini. " Ujar Han cengengesan.
" Ya ampun kakek, Nia kira tadi kakek sedang ngigau, soalnya barusan masih mengaum. He...He..." kekeh Sonia seraya mengusap dada.
" Iya. Adik Han mendengkur begitu keras, mungkin Efek letih perjalanan jauh. " Ujar Tiono menunjuk adiknya seperti dirinya tidak begitu.
" Sepertinya kedua kakek sama, semalaman kamar ini dihuni dua macan yang sedang berkelahi. " kata Sonia dengan tersenyum tipis, membuat kedua kakek akhirnya saling pandang kemudian menutup mulut.
" He...He..." makanya jangan cuma pandai ngejek ko, ternyata tidur Koko juga tak kalah menyeramkan." Ujar Han dengan mencibir abangnya.
" Ya ampun sayang, pasti Nia tak bisa tidur karna kami ya! " pekik Tiono kuat.
Sadar sedang dipanti Iapun kembali membekap mulut sendiri.
Kedua kakek kembali saling tatap, pipi kedua orang tua itu sudah memerah seperti tomat matang habis keinjak.
" Tidak ada gangguan apapun, telinga Sonia sudah biasa lelap dengan nyanyian dengkuran seperti itu. " Balas Sonia santai.
Tiono dan Han langsung duduk dan menggeser tubuh mengapit Sonia dikiri dan dikanan.
" Bagaimana cantik? pilih satu diantara kami, Tiono, Han atau Frem kami?" Ujar keduanya dengan menaik turunkan kedua alis mereka.
Ha...ha...ha...Sonia tertawa lepas menjelang subuh ini, tak tahan menahan geli melihat ekspresi Centil Jackie Chan kembar.
Sedang kedua kakek menatap dengan penuh harap, wajah centil mereka berubah jadi serius.
Sonia makin geli ditatapi intens oleh kedua mantan raja bisnis dengan jarak lima Centimeter. Sonia kemudian turun dari ranjang, berdiri dan berbalik.
" Aku sudah terikat dengan seseorang dimasa kecil kek, ia pria kecil dari desa H. " Ujar Sonia mengulurkan tangan kanannya.
__ADS_1
Tiono menangkup tangan Sonia yang sudah terikat cincin bermata berlian.
Mata tua pria itu berfokus pada cincin itu, sedang jari- jari keriputnya memainkan cincin itu.
Han menahan nafas melihat ekspresi abangnya. Seperti anak muda yang menunggu jawaban calon pacar yang baru ditembak, ia memandang dengan was- was pada Sonia.
Kemudian Han beralih lagi menatap Tiono yang terlihat candu memainkan cincin Sonia.
" Ko...rengek Han bak anak kecil yang kelamaan dibagi mainan.
Tiono tersenyum menggoda, membuat Sonia dan Han mengernyit.
" Kakek kenal pemilik cincin ini, dia putranya day Cang dari desa H, dulu kami sering picnik kedesa itu, setelah maminya terbunuh, ia dibawa ketiongkok, dan bekerja dirumah kakek Han. Sekarang ia disana menjaga rumah.
Tapi, apa benar Sonia mau menerima pria ini dengan sepenuh hati, apapun keadaannya, karna secara adat, dengan memakai cincinnya, Sonia sudah menerima lamaran pria itu. " Ujar Tiono tersenyum penuh misteri.
Sedang Han mengernyit tak mengerti.
" Mana ada pembantuku asal negri ini, apa pula rencananya? " Sungut Han didalam hati.
Sonia menarik nafas, kemudian mengangguk. " Ya kek, bagaimanapun keadaannya aku ingin jumpa..itulah alasannya Nia tidak bisa menerima lamaran kakek untuk Frem, karna Sonia mau bertemu dulu dengan pemilik cincin ini, andai dia tidak suka lagi pada Sonia setelah dewasa, Sonia boleh kembalikan cincinnya dan baru memikirkan lamaran kakek." Ujar Sonia.
Tiono berdiri kemudian berlari kekamar mandi. " Sejak tadi ingin ngompol." Cicitnya sambil berlari.
" Hati- hati kek! " teriak Sonia mengingatkan.
" Menahan pipis saja, masih kuat merayu dan berbohong, untung dia tak sakit sepertiku." ketus Han dalam hati sembari menatap Tiono sampai pintu kamar mandi tertutup.
Bersambung...
Maaf ya say... jika kurang seru, habis penulis kurang fokus, lagi sakit gigi karna panas dalam.
__ADS_1