
Wafi menarik nafas lega, begitu petugas sudah berhasil menutup Akses ruangan.
" Untung tadi tuan muda Jean memilih makan diruang ViP, jadi wartawan tidak bisa seenaknya menerobos, ternyata selera tinggi itu tidak selamanya merugikan. " Batin Wafi.
Baru saja Wafi kembali duduk, dering telfonnya kembali ramai. Ia mengambil nafas dahulu sebelum menyambungkan telfon. Telfon masuk berhenti sejenak.
Sebuah notifikasi pesan menyela panggilan telfon. Wafi mencoba membuka pesan itu.
" Perlu bersikap tenang dalam menghadapi setiap situasi. Saya sehat dan ada ditempat yang aman, tapi iyakan saja permintaan para Investor itu. Esok pagi adakan rapat dengan mengumumkan President group kita yang baru, Tuan muda Seno Premudya Permana. " Bunyi pesan yang membuat Wafi otomatis memandang Jean. Ia khawatir Jean akan sakit hati, jika kakaknya diumumkan sebagai presiden PJG yang baru, sedangkan selama ini ia sudah menjadi wakil sang papi.
Jean membalas tatapan Wafi dengan mengernyit, matanya Samar melihat wajah bimbang Wafi. Tapi untuk mempertanyakannya lidahnya sangat berat.
Ella yang selalu setia jadi tongkat bernyawa Jean meremas jemari kekasihnya. Selalu begitu yang ia lakukan, agar kekasihnya itu tidak ragu- ragu menyampaikan perasaan dan keputusannya pada siapapun. Empat tahun pasca kecelakaan, Inilah yang tersisa menurut Ella, Jean sangat sulit menyampaikan perasaannya, harus ada motivasi yang kuat dari orang sekitarnya. Selain itu, pandangannya masih sering kabur, kalau sedang banyak fikiran.
" A- ada Apa? " tanya Jean terbata, setelah mendapat impuls dari Ella.
Wafi menatap ragu. Berkali menarik nafas, barulah ia berkata." Para pemegang saham meminta segera mengadakan rapat dewan direksi, dan meminta Kejelasan direktur yang baru. " Ucap Wafi lirih.
Jean menghela, sadar ia takkan mampu memegang tampuk kekuasaan itu, ia tersenyum pada Wafi. " Minta kakak pulang segera, agar rapat dipimpin olehnya, sekalian penobatannya jadi president Group yang baru. " Ujar Jean santai.
" Tuan yakin menyerahkan ini pada tuan muda pertama? " tanya Wafi sembari menatap dalam kemanik mata Jean, ingin mencari kesesuaian tantang apa yang diucapkan bibir Jean dengan kenyataan dihati pria itu.
Jean berdiri dan menyentil kening Wafi. " Hey! Kok bingung gitu, kau kira aku bercanda? Tidak waf, aku tetap lebih nyaman diposisiku sebagai orang nomor dua, bagiku nomor satu itu terlalu berat, kau tahu kepalaku tidak bisa menahan yang berat- berat. " Ujar Jean seraya beralih menatap kekasihnya.
" Kalau ia tidak setuju punya calon suami orang nomor dua, biar dia cari yang lain saja. " Ucap Jean lagi.
Ella segera menubruk tubuh Jean, mendengar kata calon suami dari bibir pria impiannya, gadis itu benar- benar berbunga- bunga. Selama ini ia mendampingi Jean tanpa ada kata indah dari pria itu, hanya ia saja yang selalu setia membujuk dan merayu, memotivasi kasihnya, sedang Jean tak pernah menyatakan apapun, tidak hanya padanya, pada orang lainpun susah, termasuk urusan bisnis.
Ella tidak tahu, kalau sebenarnya setelah sembuh, Jean pernah menyatakan perasaannya pada seseorang. Tapi orang itu mengaku milik orang lain, sebenarnya sejak itulah Jean susah mengemukakan keinginannya. Tapi yang Ella tahu, itu masih pengaruh kecelakaan.
Ella membenamkan tubuhnya dalam dekapan Jean. Jean meraih dagu Ella dan menatapnya Lekat. " Mengapa memeluk? Tidak kecewa punya calon suami orang nomor dua? " tanya Jean dengan senyum menggoda.
Ella tak lagi bisa menahan hatinya.
Cup
Sebuah kecupan mendarat dibibir Jean.
Jean membalas kecupan itu.
Detik berikutnya mereka berdua sudah saling bertukar Saliva, Suara decapan memenuhi ruangan itu, membuat Wafi terpaksa tutup kuping, dan berjalan menjauh dari mereka.
" Ya Ampun...Nasip- nasip jadi bawahan, giliran Bos marah, kita jadi sasaran, kalau Bos lagi bucin ya gini pula, jadi obat nyamuk dadakan.
__ADS_1
Untung juga Wartawannya sudah pada pergi, kalau masih ada, berita nyebar, kan nanti aku lagi yang punya urusan. " Keluh Wafi dalam hatinya.
Sedang dua manusia itu tak peduli. Keduanya larut dalam
Ciuman hangat, panjang dan menuntut, kalau mereka ditempat yang sepi, tentu ini kategori ciuman berbahaya level 8.
Sebuah ciuman pertama yang dilakukan Jean, sejak Empat tahun ini, kalau sebelumnya jangan ditanya.
" Setelah kau nyaris hilang dari hidupku karna kecelakaan itu, aku sadar aku ternyata tidak hanya mencintai hartamu saja tuan, tapi nyawamu lebih berharga bagiku. Aku juga takkan memaksa calon suamiku menanggung beban yang berat yang akan mengancam nyawanya. Mau jadi orang nomor berapapun, Jean tetap nomor satu dihatiku. " Ucap Ella dengan mata berkaca- kaca.
Jean mengusap bibir Ella yang membengkak karna perbuatannya, walau Ella yang mulai, tapi dalam permainan, Jeanlah yang akhirnya mendominasi.
Jean kemudian menghapus airmata Ella yang ingin jatuh disudut mata bulat Ella dengan ujung hidung mancungnya. " Sudah jangan menangis, kalau papi sudah sembuh, kita segera menikah. " Janji Jean dengan berbisik.
Saat Ella ingin bicara lagi, Jean menutup bibir itu dengan jarinya. " Jangan fikirkan penolakan mami, yang akan menjalani kan aku, bukan dia. " Bisiknya.
Ella kemudian mengangguk.
Sementara diRumah sakit.
Dua pengawal Frem mengangkat kakek Tiono ketempat tidur. Sedang Kakek Han mencoba berdiri dengan sisa tenaganya. Tiba- tiba saja ada yang berdenyut lagi dibawah, dengan tertatih- tatih Han Tanoe menghampiri abangnya. Frem menatap kakeknya dengan cemas, bagaimana bisa nasipnya seperti ini. Belum sempat bertemu papi, kakek Tiono sudah pingsan, kakek yang satunya kambuh pula sakitnya. Dalam kekacauan fikirannya, diangkatnya kakek Han dengan tangannya sendiri, lalu dibaringkan disisi kakek Tiono karna melihat ranjang rumah sakit ini berukuran
besar.
Benar saja perkiraan mereka, setelah melihat kedua kakeknya terbaring lemah, Frem mulai geram. " Apa saja guna kalian, cepat panggil dokter! " Titahnya dengan wajah merah.
" Ba- baik Tuan. " Jawab mereka segera mengatur langkah.
" Otak dipakai! Yang pergi satu saja! " Hardik sinis Frem, melihat para pengawalnya mau melangkah sama- sama.
Baru saja Siance berjalan kedepan pintu, terdengar derap langkah beberapa orang menuju ruangan.
Frem berbalik memandang kearah pintu. Dari sana datang beberapa perawat, disusul seorang dokter Wanita. Semua tim medis itu memakai masker serba biru.
" Cepat periksa kedua kakekku! " Frem bicara dengan keras.
Dokter muda wanita itu tersenyum, itu terlihat dari sudut matanya. Hanya melihat jidat dan mata dokter ini saja, entah mengapa Frem merasa hatinya lain, seperti magnet, mata gadis itu menarik Frem lebih dekat dan dekat lagi.
Tapi teringat papinya ia menepis perasaan yang muncul tiba- tiba itu.
" Cepat sadarkan kakekku! Setelah ini aku akan menuntut pihak rumah sakit jika
Papiku tidak ditemukan. " Ujar Frem menunjukkan sikap garangnya.
__ADS_1
Dokter itu kembali tersenyum sembari memeriksa kakek Tiono, sedang kakek Han mulai sembuh sendirinya, melihat mata jernih dan mendapat sentuhan tangan halus dari Dokter yang ia yakini pasti sangat cantik dibalik cadar, ia merasa putranya baik- baik saja. Mana mungkin rumah sakit sebagus ini dengan santai kehilangan pasiennya, biar kuikuti saja sandiwara ini. " Batin Han, entah mengapa cahaya mata, suara halus, dan sentuhan sang dokter saja sudah bisa menyembuhkan sakitnya, belum lagi ia menulis resepnya, apalagi menelan obatnya.
Han duduk dan tersenyum, membuat Frem mengusap kasar wajahnya.
" Bagaimana ia bisa tersenyum, sedang kakaknya belum sadar! Dasar lelaki buaya, buahnya saja masih belum sembuh total, sudah pandai genit pada wanita. " Geram Frem dalam hati.
Dokter menatap Frem dan kembali tersenyum. " Keluarlah beserta anak buahmu, saya akan memeriksa kakek lebih lanjut. " Ucap lembut dokter muda.
Ya masih terlalu muda, Frem menaksir gadis itu baru menamatkan dokter umumnya, itupun dengan waktu cepat. " Mungkin usia gadis ini dua tahun dibawahku. " Batin Frem. Ia masih berdiri mematung, sedang anak buahnya sudah keluar.
Kakek Han menatap Dokter makin intens, membuat Frem makin kesal. " Kakek keluar juga, kan matanya sudah jelalatan, berarti tidak ada yang sakit! " Ujar Frem kesal. Entah mengapa ia melihat kakeknya menjadi pria tua paling menyebalkan didunia, sebelumnya Frem hampir tak pernah marah pada pria yang tergolong patuh dan pendiam ini.
" Kakek masih ingin disini, ia lelah setelah
perjalanan jauh, anda yang saya minta keluar tuan. " Ujar Dokter masih bernada lembut tapi isinya tajam.
Huhhh....
Frem mendengus kesal sembari melangkah keluar. Baru saja Frem sampai diluar, pintu sudah menutup rapat.
" Gila! Mau dia apakan kakek? Sedang papi saja belum terlihat? Tapi ada perawat juga ya, ngak mungkin mereka group para wanita predator Aki- aki. " Frem mencoba berfikir positif.
" Sebaiknya cari OB itu! " titah Frem pada anak buahnya.
感谢上帝 Gǎnxiè shàngdì ( Baik tuan). " Jawab mereka patuh dan mulai berjalan menuju ruangan karyawan OB, pantri, hingga dapur umum rumah sakit.
Tapi gadis dicari tak kunjung mereka jumpai. Yang mereka dapatkan hanyalah tatapan ketakutan dari para petugas CS dan Juru masak yang kebetulan berpapasan dengan mereka.
Dengan langkah gontai mereka kembali.
无影无踪的少女 Wú yǐng wú zōng de shàonǚ ( Gadis tak Berjejak ) ! " Seru mereka tanpa sengaja, begitu sudah tiba didepan Frem.
Baru saja Frem ingin memarahi anak buahnya, terdengar suara pintu terbuka. Para perawat keluar ruangan. Sedang pintu kembali menutup.
Frem benar- benar marah, dengan kasar ia menggedor pintu, karna pintunya benar- benar terkunci.
Bersambung...
Yang Mampir kasih jejak ya say...
Like, komen, love Fote dan kalau bisa kasih bintang lima biar makin bersinar ya. Sudah dua hari ini cerita terhitung kontrak, semoga rezekinya lancar, nanti kalau banyak kemajuan, diakhir cerita kita Adakan Give A Way buat peringkat top Fans teratas, Insya Allah...
Salam Cinta buat semua pembaca.
__ADS_1