
Sedangkan Frem mulai menyusun rencana kencannya dengan Sonia, ia ingin bicara dengan gadis itu berdua saja. Setelah menyelesaikan beberapa urusan kantor, ia duduk rileks sebentar, lalu menelfon kakek Tiono. Kali ini ia ingin membuat pengakuan pada kedua kakeknya. "Empat tahun sudah aku menyimpannya. Saatnya aku ungkapkan, semoga keduanya bisa memberi ide kencan klasik yang menarik. " Harap Frem dalam hati.
" Ada apa, tumben nelfon,tidak sabar ingin dihukum?" tanya Tiono dengan menyerobot setelah menyambungkan panggilan.
Frem menarik nafas panjang untuk menata perasaannya. " Kek...Ucapnya seperti merengek.
" Kenapa? katakanlah, kakek sepertinyamendengar angin- angin ada yang mau curhat nich. " timpal Han.
"Ya,tolong kunci pintunya. Dia belumpulangkan?" suara Frem terdengar ragu dan malu- malu.
"Sudah disini dari tadi, sekarang lagi mandi,habis melakukan cek kesehatan para lansia keseluruhan dengan tim medis lainnya. "Jawab Tiono yang mengerti siapa yang dimaksud Frem.
" Kek...Frem kembali merengek, seperti Balitayang minta dibeliin mainan oleh orang tuanya.
"Sayang, kalau begini caramu bicara dihadapan klien pasti semua pada membatalkan rencana kerjasama." debat Han yang tidak sabaran.
" Suut". Tiono meminta adiknya tenang. Ada apa sayang, katakanlah, kakek tidak akan meledekmu. Janji! Kalau kami meledekmu nanti, kau boleh menggantung kami dipohon toge. " Ucap santai Tiono. Padahal ia sudah tak tahan menahan geli, pria itu tak lupa membekap mulut adiknya, lalu mematikan speaker dengan tangannya yang lain.
" He...He...Kakek bisa aja". Frem tertawa, hingga kecanggungannya jadi berkurang. Kek, sebenarnya Mimi kakek itu, adalah Sonia kecilku." Ucap Frem pelan. Tapi telinga lintah milik Tiono sudah terlanjur mendengarnya, seakan usia tidak mengurangi sedikitpun ketajaman Indra pendengaran kakek ini.
Tiono tersenyum puas mendengarnya lalu berbisik pada adiknya, kedua kakek itu sampai loncat- loncat disusul adu- adu jidat saking girang, akhirnya pangeran Es mereka mau membuat pengakuan, walau hanya lewat telfon.
Hening sejenak ditelfon, hingga wajah Frem yang bersemu merah berubah mengernyit.
" Kek..." rengeknya lagi.
" Trus kami diminta mundur teratur karna masih dibawah umur nih ceritanya? " goda Han yang sudah merebut telfon dan kembali menyentuh mode speaker.
Fem geleng- geleng, ia tersenyum menahan tawanya, supaya sang kakek tidak tahu kalau ia balas mengejek keduanya dalam hati." Ngaku bawah umur? Ho...ho..."
Lalu terdengar lagi sahutan dari sebrang.
" Oke tampan! Kalau Kami mengundurkan diri secara resmi, trus apa rencanamu selanjutnya? " tanya Tiono menantang.
" Kek... sepertinya aku ingin memulainya dari awal , melupakan kisah semalam. Aku mau memulai dengan kencan pertama. Bisakah kakek memberi solusi kencan klasik yang menarik, yang akan mengingatkan kami pada masa kecil dulu? " Ujar Frem dengan susah payah.
" Aha....tunggu sebentar, kakek semedi dulu. He...He...Malam ini kau boleh nginap diapertemenmu dulu, setelah dapat ide, baru
kakek telfon. Janji dech! GPL ( Alias Ngak Pake Lama) "Ujar Tiono.
__ADS_1
" Baiklah...kutunggu, kalau tidak dapat ide yang bagus, apalagi sampe kencannya gagal, kalian benar- benar akan kugantung dipohon Cabe." Ujar Frem.
Ha...ha..." Terdengar gelak dari sebrang, sebelum Frem memutus sambungan, bertepatan saat Wafi membuka pintu.
ceklek.
" Waduh...yang lagi kasmaran, jadi Iri. " Canda Wafi, melihat bibir Frem yang masih belum bisa menyembunyikan senyumnya.
" Kita ke Bandung sekarang, biarkan Siance yang nyetir, tapi kamu temani didepan. " Ujar Frem memerintah.
" Oke bos! Siap! " Balas Wafi.
" Pesan banyak oleh- oleh untuk dibawa pada keluarga yang disana. Dan telfon adikmu untuk pamit, agar mereka tidak sibuk nelfon dijalan. " Ujar Frem mengingatkan.
"Sip! "
Wafi segera menelfon OB untuk membelikan berbagai makanan dan minuman yang bisa dikonsumsi oleh orang yang berusia lanjut, berikut aneka cemilan yang bisa dimakan semua usia.
Kemudian turun untuk memeriksa mobil yang akan mereka pakai sepulang kerja.
Malam itu Frem tiba dikediaman Adelia dan Arif tepat pukul Sembilan malam. Setelah penjaga keamanan memeriksa, Frem dan rombongan dibawa menuju pintu utama, setelah satpam itu menelfon pemilik rumah, dan pemilik rumah memberi izin masuk.
" Silahkan masuk nak Frem dan semua." Ajaknya setelah mengerjabkan mata berkali- kali untuk memeriksa wajah Frem.
Baik Onty Ujar Frem seraya mengulurkan tangannya. " Salamnya didalam saja, aku takut sikecil protes nanti, tahu Onty memperlakukan Frem terlalu hangat, siapa tahu ia memonitor kegiatan disini melalui Camera tersembunyi. " Ujar Adelia celingak- celinguk sepertinya mata tuanya mencari- cari letak kamera Sonia.
" He...He...Itu Onty! " tunjuk Frem yang sudah bisa menemukan kamera tersebut dipintu masuk.
Adelia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal." Kan Iya, dia memang paling bisa mengibuli orang ." sungut Adel.
Tatapan memelas dari para pengawal Frem yang keberatan dengan bawaan oleh- oleh, membuat Frem segera masuk.
Ini apaan sih kok banyak bangat Frem? " pekik Adelia yang baru sadar, kalau pengawal frem membawa oleh- oleh yang banyak, sampai kelima pengawalnya semua menanggung beban berat.
" Hanya sedikit makanan, susu dan buah- buahan buat Onty om Arif dan papi." Ujar Frem merendah.
" Repot amat sih, kalau sebanyak gini Onty sih sebaiknya buka warung aja. " Ujar Adelia dengan menggeleng- galeng. Kemudian mengantar Frem keruangan Fredy.
Frem hanya membalas dengan tersenyum.
__ADS_1
Fredy yang sedang mengaji dengan Arif ketika Frem tiba dipintu kamarnya.Melihat Frem tiba, dua orang tua itu menutup wiridnya, lalu Fred menyambut putranya dengan tangis. Semua yang ada diruangan turut terharu, selang beberapa detik, mereka segera meninggalkan anak dan ayah itu untuk berbicara empat mata saja.
" Frem baru sekarang percaya papi masih hidup.Hiks...Kenapa telfonnya tak aktif lagi. " Rengek Frem seperti anak kecil.
" Sonia putri yang meminta. Bagaimana kalian bisa tahu tempat ini? tanya Fredy heran.
Wafi tak sengaja menemukan alamat ini dicatatan Sonia. Ya, karna papi pernah bilang padanya diBandung, ya kami langsung menuju alamat ini." Jelas Frem.
Fred kembali memeluk Frem, melepaskan rasa rindu selama bertahun- tahun. " Fresident PJG yang
baru, kudengar ada serangan dihari pertama penobatanmu. " tanya Fred dalam pelukan putranya.
" Ya Pi, tapi belum bertemu bukti kalau ia dalang dari serangan itu. " Jawab Frem.
" Mhem. Dr putri sedang melakukan penyelidikan terhadap itu." Ujar Fred.
" Aku kesini sekalian minta restu Pi, karna papi sudah memulai hubungan ini, aku bermaksud meneruskannya, bagaimana kalau Sonia putri kujadikan rekan hidup ? " tanya Frem tanpa basa basi.
" Maksudmu istri? " tanya Fred masih belum paham.
" Ya, semacam itulah." Jawab Frem cuek.
" Serius Frem? papi senang mengenal Sonia, tapi dapat bonus jadi mantu belum pernah terfikirkan oleh papi. Apa dia akan menyukaimu?" tanya Fred tak percaya, secara fisik memang Frem pantas mendampingi Sonia, tapi secara sifat mereka bertolak belakang.
" Kalau papi merestui, Frem akan berusaha. " Jawab Frem mantap tanpa menceritakan apa yang sudah terjadi antaranya dan Sonia pada Fredy.
" Jika berhasil mempersunting dan mendapatkan hatinya, papi akan memberikanmu hadiah perkebunan papi yang dipulau K.
" Emang papi punya? " tanya Frem ragu.
" Punyalah, menurut papi, perkebunan adalah pelengkap kejayaan seorang pengusaha." Ujar Frem seraya berjalan menuju lemari,mengambil dan memperlihatkan suratnya pada Frem.
" Hebat papi, berarti ini aset papi yang tidak diketahui Jessi."
" Ya, bukan hanya Jessi, tapi Jean juga, ini aset papi yang dibawah pengelolaan pamanmu, adik mamimu." Hasil bagi dua, tapi lahan milik papi." Jelas Fredy.
" Aku akan berjuang bukan demi ini, tapi kalau dapat bonus ini tak mengapa. Bagaimana bisa gorobak menolak beban?." Ujar Frem seraya mengulurkan tangannya.
" Deal?
__ADS_1
" Deal! " Jawab mantap Fredy.