
Bunga bermekaran. Sukacita terasa di seluruh Kerajaan Kahyangan. Semua rakyat menyiapkan diri dan segala kebutuhan untuk perayaan.
Kue bulan adalah hidangan kusus pada acara festival rakyat, setiap rumah menyiapkan roti bulan di salah satu hidangan yang wajib ada pada hari festival rakyat.
Aroma kue bulan menyebar keseluruh penjuru Kerajaan, sangat harum dan manis.
Namun, suasana sukacita tidak nampak pada ruangan dimana Baginda Raja berada.
"Ibunda bagaimana kondisi Ayahanda?"
"Putriku Mawar, itulah yang menjadi kecemasan Ibunda sekarang, sampai saat ini, Ayahmu masih belum sadarkan diri, Ayahmu seakan mati suri, entah kapan ia akan bangun dari tidurnya, dan yang menjadi kehawatiranku.." berhenti sambil menghela nafas.
Mawar mengerti kesedihan Ibunya, baru saja semalam mereka bersuka cita bisa berkumpul kembali, namun kini duka kembali menyelimuti.
Apalagi acara yang akan berlangsung malam ini, kehadiran sang Raja sangatlah penting.
Banyak perwakilan dari semua kalangan yang akan hadir, baik dalam Kerajaan maupun luar Kerajaan.
Ketidak hadiran Raja takutnya menjadi goncangan untuk kekokohan Istana Kahyangan. Mawar sangat mengetahui dengan pasti posisinya saat ini, sangat tidak memungkinkan untuk menggantikan sang Raja, kecuali jika ia telah menikah.
Sayangnya ia belum menikah.
"Ibunda bila mana aku mengumumkan status kami sebagai tunangan, apakah hal itu bisa menggantikan Ayahanda menghadiri festival rakyat?"
"Apakah kamu yakin putriku? hal itu tentu saja bisa, namun yang menjadi permasalahan adalah status Briant yang hanya seorang manusia biasa".
"Briant bukan manusia biasa Ibunda, ia setengah manusia setengah iblis. Karena itu Briant memiliki keistimewaan, bahkan aku saja kalah darinya Ibunda"
"Baiklah putriku, sebelum kamu mengambil langkah itu, alangkah baiknya jika hal ini kamu utarakan kepada Briant"
"Baik Ibunda"
Setelah pembicaraan panjang Ibu dan anak, Mawar melangkahkan kakinya menuju kamar Briant.
Tok.. tok.. Mawar mengetuk pintu kamar Briant, setelah beberapa saat tidak ada respon dari dalam, akhirnya ia masuk kamar.
Dibukanya pintu kamar Briant, Mawar masuk dan dilihatnya seluruh ruangan tidak ada siapa pun didalam.
Terdengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi. Akhirnya Mawar memutuskan menunggu Briant sampai ia keluar kamar mandi.
__ADS_1
Tak lama kemudian kreek.. terdengar suara pintu kamar mandi terbuka. Briant keluar hanya menggunakan handuk di pinggangnya, nampaklah tubuh kekar dan perut kotak-kotak.
Mawar yang duduk di ranjang langsung menutup muka dengan kedua tangan. Briant melihat adanya Mawar dikamarnya tersenyum, berjalan mendekati Mawar.
Briant mendekatkan dirinya berbisik didekat telinga Mawar, aroma sabun menguar sampai penciumannya, "my dear.. kenapa kamu menutupi mukamu dengan tangan?"
"Bri.. cepat pakai bajumu! ada hal penting yang ingin aku bicarakan padamu" kata Mawar sambil menutup matanya dengan tangan.
"Sudah my dear.. buka tanganmu"
"Mawar membuka tangannya, "kyaa..!" jerit Mawar langsung menutupi lagi matanya dengan tangan.
"Bri.. jangan bercanda, aku serius!"
Melihat respon dari Mawar Briant terkekeh dengan pelan, "baiklah, tunggu sebentar".
Briant mengambil pakaiannya dan memakainya segera, setelah selesai Briant berkata "sudah my dear.., buka matamu". Mawar membuka matanya dilihatnya Briant, dan ia terpana.
Untuk pertama kalinya Mawar melihat Briant memakai baju dengan ciri khas istana Kahyangan. dengan baju dan jubah warna putih yang ia kenakan. Briant nampak berwibawa, menawan.
Briant melihat Mawar melamun sambil melihatnya ia melambaikan tangannya didepan muka Mawar.
"Ada apa my dear.. apa yang membuatmu sampai terpana melihatku?"
Mawar tersipu.. kedua mukanya yang memerah kini semakin merah dan pertanyaan Briant membuatnya semakin salah tingkah.
Namun Mawar segera menguasai dirinya, setelah tenang Mawar mulai mengutarakan niat kedatangannya. Mawar menarik nafasnya, menenangkan diri untuk mengatakan "Bri.. maukah kamu menikah denganku!".
Briant yang mendengar perkataan Mawar tercengang, ia tidak percaya apa yang ia dengar. "Ulangi lagi perkataanmu tadi honey" kata Briant.
"Bri.. sayang maukah kamu menikah denganmu!" kata Mawar lagi.
Briant menarik kedua tangan Mawar dan berkata, aku sangat bahagia mendengarnya harusnya akulah yang meminangmu. Tangan Briant memegang wajah Mawar dan mendekatkan wajahnya dengan Mawar. "Aku akan segera menyiapkan lamaran, kedua orang tuaku akan kemari untuk mempersuntingmu.
"Apakah kamu yakin my dear.. apakah hatimu sudah benar-benar siap menjalani kehidupan pernikahan?" tanya Briant lagi.
Bri.. apa yang aku utarakan ini benar-benar dari hatiku, aku sudah menerimamu dengan sepenuh hati. Hal ini bukan karena keadaan saat ini atau karena hal lain, percayalah padaku.
Briant yang mendengar perkataan Mawar ia merasa sangat bahagia, apa yang ditunggu-tunggu selama ini menjadi kenyataan.
__ADS_1
Brian memeluk Mawar dengan erat dan mengecup keningnya, ia teramat sangat bahagia.
"Bri.. acara festival nanti malam membutuhkan kehadiran Raja, namun sampai sekarang Ayahanda masih belum sadarkan diri. Untuk itu sebagai pengganti kita akan menghadiri acara nanti malam".
"Baiklah.. jangan engkau risaukan masalah itu, aku akan selalu mendampingimu my dear"
Perkataan Briant membuat hati Mawar tenang.
Kalau begitu aku pergi dulu untuk mempersiapkan keperluan untuk nanti malam. Mawar beranjak dari kamar Briant.
Baru beberapa langkah Briant memeluk Mawar, "Biarkan seperti ini sebentar saja my dear".
Mawar berhenti melangkah ia terdiam dan memejamkan matanya begitu juga Briant. Untuk beberapa saat mereka terhanyut dalam kenyamanan.
Setelah beberapa saat Briant melepaskan pelukannya. "Aku pergi dulu Brii" Briant mencium Mawar sekilas dan Mawar berjalan keluar dari kamar Briant.
"Serasa tidak rela untuk membiarkan kamu pergi honey.." kata Briant dengan lirih diiringi dengan senyum bahaginya karena hal yang baru saja terjadi.
Mawar mempersiapkan pakaian dirinya dan Briant. Untuk yang ia kenakan sudah dipersiapkan dan ia tinggal melakukan pengecekan, sedangkan untuk pakaian Briant Mawar dengan segera mempersiapkannya.
Mawar mendatangi penjahit dan mengutarakan keinginan akan disain pakaian yang dikenakan Briant dan harus sudah jadi sore ini, setelah selesai Mawar memilih bahan pakaian, sutra dengan kualitas terbaik telah dipilihnya.
Mawar memberikan kain beserta aksesoris untuk melengkapi keindahan pakaian yang akan dikenakan oleh Briant.
Setelah selesai ia kembali ke Kerajaan.
Setibanya ia di Istana Mawar melihat secara keseluruhan persiapan untuk acara nanti malam, setelah yakin semua persiapan ia kembali untuk menemui Ibunda Ratu.
Dilihatnya sang Ibunda duduk di kamar sang Ayah. Mawar menghampiri Ibundanya, "ibunda.." panggil Mawar.
"Putriku bagaimana dengan tugasmu!"
"Semua persiapan sudah beres Ibunda, nanti malam Briant akan menemaniku dalam menghadiri acara".
"Syukurlah kalau begitu" raut muka sang Ratu terlihat lega, Mawar pun terlihat lega. Karena Mawar sangat khawatir dengan kondisi sang Ibu yang akhir-akhir ini sering jatuh pingsan jika ia mendapatkan berita buruk, untungnya hal itu tidak terjadi.
"Ibunda saya pamit undur diri"
"Iya Putriku" kemudian Mawar keluar dan kembali ke kamarnya.
__ADS_1