
Hari berganti hari minggu berganti minggu bulan berganti bulan. Tak terasa kini usia kehamilan Mawar telah mencapai usia sembilan bulan.
Dan seperti biasa Briant tambah cinta dan satu lagi posesif.
Aku berkutat di dapur menyiapkan sarapan untuk Briant. Ya semenjak kejadian permasalahan dengan Bintang selesai Ayahanda tidak lagi memaksa ku untuk menjadi penggantinya. Beliau membebaskan apa yang menjadi pilihanku. Namun disinilah permasalahan timbul diantara Ayahanda dan Kakek Briant. Anak yang belum lahir ke dunia telah menjadi rebutan diantara keduanya.
Lalu.. siapa yang nantinya akan menjadi penerus Ayahanda dan Ibunda? jika kondisinya sekarang putra yang dalam rahimku yang belum terlahir ke dunia saja menjadi rebutan. Itulah yang menjadi keributan akhir-akhir ini.
Aku menjalani rutinitas seperti manusia biasa, rasanya benar-benar tanpa beban. Sangat menyenangkan, namun jika kondisi sangat diperlukan mau gak mau aku harus kembali ke Istana Kahyangan hingga tiba saatnya terlahir nya sang pewaris tahta Kahyangan.
Dengan cekatan aku menyiapkan makan siang untuk sang suami tercinta.
Pelukan hangat dan harum yang familiar aku rasakan. Seseorang yang tak lain adalah Briant tengah memeluk ku dari belakang.
"Bri.. jangan peluk-peluk, aku bau asap kompor" kataku pada Suamiku.
Briant yang mendengar celotehku malah mengendus-endus leher bagian belakang hingga aku merasa kegelian.
"Hentikan Bri!" kataku.
"Bau apanya sayang.. kamu selalu wangi kok" dengan posisi terus mencium leher bahkan kini ciumannya semakin turun. "Istriku.. olahraga yuk biar lahiran kamu gampang nanti" pintanya padaku.
Dahi ku mengeryit mendengar permintaan suamiku.
"Aku kan sudah olahraga Bri.. sudah ada instrukturnya juga kan? kamu sendiri juga tau itu kan?" kataku dengan heran.
"Nurut ya.. kata Suami, pahala juga lo sayang.." kata Briant dengan mengangkat tubuh Mawar. Kini posisi Mawar berada dalam gendongan Briant.
Briant membawa Mawar menuju kamar keduanya. Sedangkan Mawar mengalungkan tangan pada leher Briant dengan pikiran yang penuh dengan tanda tanya apa yang akan Briant lakukan.
Sesampainya keduanya di dalam kamar Briant meletakkan Mawar dengan perlahan dan ia berada di atas mengungkung tubuh sang Istri dengan perlahan mencium Mawar.
Mawar yang mendapat serangan yang tiba-tiba dari sang suami tersenyum seketika ia mengerti apa yang menjadi maksud suaminya mengajak olahraga bersama.
"Modus" kata Mawar setelah ciuman keduanya terlepas.
__ADS_1
Dengan terkekeh Briant berkata "Tidak sayangku.. ini beneran kok" lalu Briant menyerang Istrinya dan keduanya larut dalam kenikmatan.
____
Tibalah hari yang ditunggu-tunggu. Mawar yang kala itu tengah mengganti baju yang dikenakannya merasakan sakit pada perutnya.
"Au.. " sambil memegang perut.
Dengan langkah kesulitan ia berjalan keluar ruang ganti setelah baju telah ia dikenakan.
"Bri.." panggil Mawar pada suaminya dengan suara lirih.
"Sakit.. " kata Mawar dengan memegang perutnya yang terasa sakit luar biasa.
Tubuh Mawar luruh ke bawah dengan darah mengalir di salah satu kakinya.
Ceklek.. pintu kamar terbuka. Briant masuk ke dalam kamar terkejut karena melihat kondisi Istrinya yang terjatuh di lantai. Ia langsung berlari dan langsung menggendongnya. Tangannya bergerak membuat portal lalu ia masuk ke dalam portal.
Portal muncul di lorong rumah sakit yang nampak sepi itu. Briant keluar dari portal dengan Mawar yang berada dalam gendongannya.
Suster yang mendapat panggilan terpana dengan ketampanan Briant.
Briant memanggil suster lagi untuk menyadarkannya.
"Suster tolong istri saya!" kata Briant lagi dengan suara meninggi.
Suster yang tersadar lalu arah pandangan ya beralih melihat perempuan dalam gendongan Briant, dengan sigap menyiapkan ranjang pasien.
Briant menidurkan Mawar dengan perlahan.
Suster mendorong ranjang dengan diikuti Briant dibelakangnya menuju ruangan bersalin.
Mawar meringis menahan sakit pada perutnya dengan Briant memegang tangan Mawar untuk memberi kekuatan.
Setibanya mereka di ruang bersalin. Dokter dan suster segera masuk ke dalam ruangan bersalin meninggalkan Briant diluar ruangan.
__ADS_1
Namun dengan sigap Briant menahan pintu yang akan tertutup itu. Dengan kekuatan yang ia keluarkan dengan sendirinya dokter mengizinkan Briant masuk kedalam.
Di dalam ruangan tangan Briant bergerak dan muncul kamera untuk mengabadikan momen lahirnya baby nya.
Briant memegang tangan Mawar untuk memberikan kekuatan padanya.
Beberapa saat kemudian lahirlah baby boy twins.
Briant tak henti-hentinya mengucapkan rasa syukur dengan mencium seluruh muka Mawar. Ia benar-benar merasa sangat bahagia.
Begitu juga dengan Mawar hatinya penuh dengan rasa syukur dan kebahagiaan yang tiada tara.
Setelah baby twins dibersihkan, kini keduanya tengah menyusu pada Mawar, dengan Briant yang kini berada di samping Istri dan anaknya sebagai Papa siaga.
"Mommy.. Daddy lupa ngabarin orang rumah bahwa kamu sudah lahiran" kata Briant pada Mawar.
Mawar yang mendengar panggilan suaminya yang tak biasa tertawa kecil.
"Kok tertawa Mom?" tanya Briant.
Mawar kembali tertawa mendengar panggilan Briant. "Manggilnya kok gitu.. aneh aja" kata Mawar.
"Nanti kalau anak kita dengar ikut manggil kamu my dear gimana?" kata Briant.
"Iya juga ya.. tapi anak kita masih kecil Bri" kata Mawar.
Briant mengangguk menyetujui perkataan istrinya.
"Sebentar ya sayang.. aku mau kasih kabar orang tua kita" kata Briant lalu ia keluar dari ruangan.
Setelah mendapat kabar dari Briant orang tua Mawar, orang tua Briant dan Kakek Briant datang ke rumah sakit.
Mereka semua bahagia atas kelahiran baby twins dan dengan terlahir nya baby twins perselisihan antara Kakek Briant dan orang tua Mawar selesai sudah.
Kini semua orang berkumpul di ruang perawatan Mawar dengan suasana suka cita.
__ADS_1