Deliverance Love

Deliverance Love
58


__ADS_3

Kediaman orang tua Briant.


Setelah mengetahui keadaan yang terjadi di Istana Kahyangan. Mama Briant meminta Briant untuk membawa Mawar di kamarnya untuk beristirahat.


"Bri.. bawa Mawar beristirahat di kamarmu?"


"Baik Ma" Briant beranjak pergi dengan Mawar yang mengikutinya dari belakang mereka menaiki lift menuju kamar Briant.


Briant memencet tombol dan mereka masuk ke dalam lift. Sesampainya mereka di dalam Briant memeluk Mawar dari belakang.


"My dear.. aku butuh asupan vitamin."


"Baiklah.. nanti aku siapkan makanan bergizi agar suamiku sehat" kata Mawar dengan tertawa kecil, sebenarnya ia tau apa maksud suaminya yang super mesum itu.


"Bukan itu maksudku dear.."


"Lalu apa sayang.. katanya kurang asupan gizi?" kata Mawar dengan tertawa.


"Kamu menggoda ku ya..?" Briant memencet hidung Mawar karena gemas.


Ting pintu lift terbuka. Briant mengangkat Mawar di pundaknya. "Bri.. turunin, kepalaku pusing!"


Briant terus berjalan tanpa menghiraukan ocehan Mawar ia menuju kamar dengan Mawar yang ada di pundaknya. Sesampainya keduanya dalam kamar Briant meletakkan Mawar di ranjang dan mengungkung tubuh Mawar berada di bawahnya.


Pandangan keduanya bertemu. Briant mendekatkan wajahnya dan mencium bibir Mawar. Ciuman yang mulanya perlahan kini semakin menuntun seiring dengan hasrat keduanya semakin memburu.


Ciuman Briant turun ke leher. Ah.. desah Mawar, Briant tersenyum dan semakin bersemangat mendengar ******* Lea.


Tangan Briant turun ke bawah meremas dua gundukan itu dan satunya membuka kancing baju Mawar.


"Tok.. tok.. Bri.. ajak Mawar keluar kita makan siang bersama."


Gagal sudah.. kata Briant dalam hati. Briant turun dari atas Mawar dengan perasaan kecewa lalu berbalik turun dari ranjang menuju kamar mandi.


Mawar melihat raut muka suaminya yang nampak kecewa ia merasa tidak tega.


Sebelum Briant turun, Mawar memeluk Briant dari arah belakang.

__ADS_1


Briant merasakan pelukan dari Istrinya. Keduanya terdiam lalu Mawar berkata, "kita lanjutkan nanti malam" kata Mawar lalu berlari menuju kamar mandi meninggalkan Briant.


Bibir Briant terangkat membentuk senyuman.


Mawar masuk kamar mandi dan bersandar di belakang pintu. Kedua tangannya menepuk-nepuk pipi yang nampak merah merona. Setelah hatinya tenang Mawar berkaca dan membenahi penampilannya kemudian ia keluar.


Ceklek pintu kamar mandi terbuka.


Briant melihat Mawar telah rapi kembali, berbanding terbalik dengannya yang masih acak-acakan.


Mawar mendekati Briant dan membantu merapikan penampilannya.


"Terimakasih Istriku.."


Mawar membalas perkataan Briant dengan senyuman. Keduanya berjalan keluar menuju ruang makan.


Setibanya di ruang makan.


Mama dan Papa Briant sudah berada di sana menunggu kedatangan Briant dan Mawar lalu keduanya duduk berdampingan.


"Sepertinya turun kebawah dengan lift membutuhkan waktu yang lama ya Ma.." kata Papa Briant.


Sedangkan Briant dan Mawar keduanya diam dengan muka merah menahan malu.


Melihat muka anak dan menantunya yang memerah karena malu, Mama dan Papa Briant tertawa dengan lebar.


"Leher kamu kenapa sayang.. kok merah-merah?" tanya Mama Briant.


Mawar menatap Briant dengan tatapan yang mengandung arti leherku kenapa?


Briant menghiraukan tatapan Mawar lalu menjawab pertanyaan Mamanya "digigit serangga Ma" jawab Briant.


"Sudah sudah ayo kita makan" kata Papa Briant.


Mereka akhirnya makan dengan tenang.


Setelah selesai makan Briant pamit kepada orang tuanya untuk kembali pulang ke kediamannya.

__ADS_1


"Ma Pa kami pamit pulang.." kata Briant.


Ibu Briant menunjukkan wajah sendu, baru putra dan menantunya pulang ke rumah namun sekarang mereka kembali lagi.


Mawar memegang tangan Mamanya Briant sambil berkata "Ma jika semua urusan kami selesai kami akan sering-sering datang kesini dan kami minta doanya semoga semua masalah bisa kami selesaikan."


"Baiklah putriku.., kalian harus janji untuk sering pulang."


"Baik Ma" kata Mawar.


"Briant ikut Papa ke ruang kerja."


Papa Briant berjalan menuju ruang kerja diikuti Briant dibelakangnya. Sesampainya mereka di ruang kerja mereka masuk ke dalam ruangan.


"Briant apa benar Istana Kahyangan telah diserang?"


"Ia Pa.."


Papa Briant terdiam sesaat dan berkata "Bri.. dari cerita Ibumu Papa menyimpulkan jika orang yang menyerang Istana Kahyangan pasti telah dirasuki kekuatan gelap. Ingat pesan Papa, apapun yang terjadi nantinya jangan sampai kalian terpisah."


"Bagaimana Papa bisa memprediksi tentang kekuatan gelap yang berhubungan dengan masalah ini?"


"Ini hanya praduga saja, namun jika hal itu benar maka ini bukan masalah yang sepele Bri.. berhati-hatilah. Dan Ingat pesan Papa tadi apa pun yang terjadi jangan sampai kalian terpisahkan."


"Baik Pa.. Briant akan menyelidiki dulu masalah ini."


"Kalau begitu kami pamit pulang dulu."


"Ya berhati-hati lah."


"Baik Pa."


Briant dan Ayahnya berjalan keluar dari ruang kerja menuju ruang makan. Setibanya mereka di bawah. Briant dan Mawar Pamit pulang dan mencium punggung tangan mereka.


Briant dan Mawar berjalan menuju mobil. Briant membukakan pintu Mobil dan Mawar masuk kedalam.


Briant berlari kecil membuka pintu mobil dan masuk ke dalam.

__ADS_1


Mobil melaju meninggalkan rumah orang tua Briant. Orang tua Briant masuk ke rumah setelah badan mobil tak terlihat lagi di penglihatan mereka.


__ADS_2