
Malam tiba, cahaya bersinar disepanjang jalan. Malam yang begitu gelap menjadi terang. lampu lampion dinyalakan disepanjang jalan, jalan-jalan dihiasi menambah suasana menjadi semakin meriah.
Para penjual makanan, minuman, pakaian dan segala kebutuhan dijual pada malam itu. Anak-anak berlarian dengan gembira.
Aroma kue bulan yang manis, tercium di setiap rumah.
Mawar membawa nampan berisi pakaian yang akan dikenakan Briant. Diketuknya pintu kamar Briant. Tok.. tok.. tak berselang lama pintu terbuka, Briant mendapati calon istrinya wajahnya nampak begitu bahagia.
Briant menarik tangan Mawar dan mengajaknya Masuk kendalam.
Setelah sampai Mawar menyerahkan nampan berisi pakaian kepada Briant. Briant menerima nampan dan hanya terdiam.
"Masuklah ke kamar mandi, segera ganti bajumu, aku tunggu kamu disini untuk melihat apakah pakaian itu sudah sesuai kamu kenakan atau belum.
Mawar yang berbicara panjang lebar ketika melihat respon Briant hatinya merasa jengkel.
"Bri.. cepat!" katanya sambil mendorong Briant berjalan menuju kamar mandi.
Dalam hati Briant ingin sekali ia dilayani oleh calon istri tercinta, "hah.. sudahlah sekarang aku melepaskanmu, tapi nanti jika kita sudah sah maka tidak aku tidak akan melepasmu".
Briant berjalan menuju kamar mandi, tak berselang lama ia keluar.
Mawar melihat penampilan Briant dari atas sampai bawah, Mawar sampai terpesona. "Sempurna" katanya sambil mengacungkan kedua jempol tangannya dengan tersenyum.
"Em.. karena sudah kamu juga sudah mencoba pakaianmu, aku kembali dulu"
Mawar berjalan keluar kamar Briant, tapi tiba-tiba grep.. Briant membopong Mawar membawanya ke ranjang dan mengungkung tubuh Mawar dibawahnya.
"Kyaa.." jerit Mawar.
"Sayangku.. tidakkah kamu melupakan sesuatu?"
"Mawar nampak berfikir, " tidak ada jawab Mawar".
"Em.. dehem Briant sambil membelai mata hidung, pipi dan mulut Mawar. "Sepertinya aku perlu mengingatkan sesuatu honey".
"Apa?" jawab Mawar.
Briant dengan agresih mencium seluruh muka Mawar kemudian menuju mulut dan ********** begitu lama, setelah itu turun ke leher dan meninggalkan tanda cinta disana.
Lenguhan terdengar dari bibir cantik Mawar
Egh.. ah..
Briant yang mendapati respon Mawar kini hasratnya semakin membara, namun tak berselang lama Briant melepaskan Mawar dan turun dari atas tubuhnya.
__ADS_1
Kini tubuh Briant berbaring disebelah Mawar dan menariknya kedalam pelukan, cup ciuman singkat mendarat dikening Mawar.
Mawar mendapat perlakuan begitu intim untuk pertama kali dalam hidupnya, nafasnya memburu dengan cepat dan terengah-engah.
Tubuhnya memanas kini tubuhnya dikuasai hasrat. Jika saja Briant tidak melepaskannya, pasti Mawar telah menyerahkan dirinya begitu saja dengan rela.
Dalam pelukan detak jantung keduanya berirama begitu cepat.
"Maaf sayang.. aku hampir saja tak bisa mengontrol tadi".
Briant yang berniat hanya memberi hukuman pada calon istrinya, hukuman itu berbalik padanya. Tubuhnya memanas, sang junior juga meronta ingin dipuaskan, "sepertinya aku harus mandi lagi" katanya dalam hati".
Mawar yang mendengar perkataan Briant hanya diam, pelukan Briant merenggang dan Mawar keluar dengan berlari kecil menuju pintu.
Briant membiarkan Mawar keluar dan ia sendiri berjalan menuju kamar mandi untuk mendinginkan tubuhnya.
Malam tiba, acara yang dinanti-nanti semua orang sebentar lagi akan dimulai.
Mawar telah siap untuk membuka acara dengan Briant sebagai pendamping yang selalu disisinya. Dengan mengenakan pakaian berwarna putih keduanya nampak sangat serasi.
Mawar dan Briant berjalan menuju panggung, semua orang yang melihat hal itu bertanya-tanya, siapa gerangan sosok tampan yang mendampingi Dewi Mawar.
"Wahai rakyat Istana Kayangan, selaku perwakilan dari Yang Mulia Raja yang tidak dapat menghadiri acara dikarenakan kondisi kesehatan yang tidak memungkinkan dan dengan penuh suka cita saya akan membuka acara perayaan pada malam hari ini. Dan mohon doa untuk kesembuhan Yang Mulia Raja".
Terdengar suara petasan terbang ke langit dan meletus diatas dengan indahnya kemudian petasan lain saling bersautan membuat acara semakin meriah.
Duar.. duar..
Setelah membuka acara Mawar turun dari mimbar dengan Briant menggandeng tangan Mawar menuruni tangga, mereka nampak seperti pasangan yang ditakdirkan langit dan nampak romantis.
Pertunjukan pada acara demi acara berlangsung diatas panggung.
Briant dan Mawar menuju keruangan Ibunda Ratu baru setelah itu keduanya pergi menuju perjamuan. Tangan Mawar menggandeng Briant, mereka berjalan beriringan, setiap mata memandang pasti berdecak kagum pada keduanya.
"Selamat malam Yang Mulia Ratu" sapa Briant.
"Selamat Malam nak Briant, jangan panggil Yang Mulia Ratu putraku.. sebentar lagi kamu akan menjadi menantuku, panggil aku seperti putriku Mawar".
"Baik Yang.. em maksud saya Ibunda"
"Bagus seperti itu putraku"
"Ibunda restuilah kami berdua dan berikan berkat Ibunda pada kami" kata Briant.
"Tentu putraku"
__ADS_1
"Ibunda kami akan mengantar Ibunda untuk beristirahat, jika Ibunda berkenan" kata Mawar.
"Baiklah putriku.. kebetulan aku juga merasa lelah"
Akhirnya Briant dan Mawar mengantar Ibunya menuju tempat istirahat. Setelah mengantar Ibunda Ratu istirahat, Briant dan Mawar berjalan menuju ke tempat perjamuan.
Setibanya di tempat perjamuan, penjaga memberikan instruksi kedatangan Mawar dan Briant.
"Dewi Mawar dan Tuan Briant memasuki ruangan" kata penjaga.
Mawar dan Briant melangkah masuk ke ruangan perjamuan. Kemudian duduk ditempat yang telah dipersiapkan.
Semua tamu undangan didalam ruang perjamuan, pada mulanya berdiri menyambut kedatangan Briant dan Mawar, kini mereka duduk kembali setelah Mawar dan Briant duduk.
Pandangan para tamu undangan tertuju pada Briant, apalagi kondisi pada perayaan ini berbeda dari biasanya karena ketidak hadiran Raja ditambah dengan keberadaan Briant yang berada disamping Dewi Mawar.
Keberadaan Briant membuat mereka para tamu undangan penasaran.
"Saya ucapkan beribu-ribu terima kasih akan kedatangan para tamu undangan sekalian" Kata Mawar dengan berdiri mengepalkan kedua tangan di dada.
Para tamu undangan menganggukkan kepala.
"Dewi Mawar saya mendengar bahwa kondisi Yang Mulia Raja dalam keadaan tidak sehat, apakah hal itu benar?".
"Ya berita yang anda dengar itu benar adanya, atas kesediaan tuan-tuan untuk sudi kiranya mendoakan kesembuhan Yang Mulia Raja dan sebagai perwakilan dari Yang Mulia Raja saya memohonkan maaf yang sebesar-besarnya jawab Mawar
"Bukankah anda tidak pantas menjadi pengganti dengan status anda yang masih sendiri Dewi Mawar?"
Meskipun status Mawar adalah putri dari Raja, namun ia masih sendiri dan syarat untuk menjadi penerus adalah harus sudah menikah selain itu statusnya sebagai penerus telah diresmikan.
Sedangkan Mawar sendiri statusnya sebagai penerus belum diresmikan dengan upacara pengangkatan. Hal itu menimbulkan gejolak dalam kerajaan, mereka yang menginginkan tahta, berlomba-lomba membuat siasat mendapatkan tahta.
Akhirnya apa yang menjadi kehawatiran Dewi Mawar terjadi juga, dengan tenang Mawar menjawab.
"Saya mengerti kehawatiran kalian, disini saya akan menjelaskan hal yang meresahkan para tuan-tuan terhormat, memang benar bahwa status saya sebagai penerus belum resmi meskipun Yang Mulia Raja telah memberikan mandat kepada saya."
"Namun status saya yang masih sendiri itu tidaklah benar, untuk itu saya perkenalkan kepada tuan-tuan terhormat, seseorang yang sangat berarti bagi saya seseorang yang saat ini berada disamping saya adalah calon suami saya yang akan mendampingi saya dikemudian hari" jawab Mawar dengan tegas."
Briant yang diperkenalkan oleh Mawar, berdiri mengepalkan kedua tangannya didepan dada.
Para tamu undangan festival rakyat melihat Briant, mereka bungkam apalagi dengan aura yang terpancar dari sosoknya dengan natural mereka mengakui akan keberadaan Briant meskipun mereka tidak mengetahui apa status Briant, seakan mereka terhipnotis oleh aura sosok Briant yang begitu besar.
Mawar sendiri juga merasakan aura Briant yang berbeda, ini pertama kalinya Mawar merasakan sosok Briant yang berbeda yang tak pernah ia temui selama bersamanya.
Dengan kehadiran Briant telah memberikan dampak yang luar biasa pada acara perjamuan pada malam itu. Dalam hati Mawar merasa sangat lega karena apa yang menjadi kehawatiran Mawar telah terselesaikan.
__ADS_1