Deliverance Love

Deliverance Love
61


__ADS_3

Di goa didalam hutan.


Pergerakan prajurit Bintang tidak seketat seperti sebelumnya.


"Yang Mulia bagaimana jika kita keluar dan pergi ke kediaman Pangeran Briant?"


"Bersabarlah Istriku.. aku yakin Mawar dan Briant tengah mengusahakan bagaimana cara bisa membebaskan kita, untuk sekarang lebih baik kita tetap disini dan jangan bertindak gegabah."


Ratu sangat tidak tenang karena pikirannya tertuju pada Putrinya, Mawar. Meskipun Suaminya selalu menenangkan perasaannya tetapi entah kenapa hatinya selalu gelisah.


Sepuluh hari telah berlalu dan itu terasa sangat lama mereka rasakan.


Di dalam hutan mereka bertahan hidup dengan mengandalkan hasil alam sekitar.


Mereka menunggu waktu yang tepat kapan mereka bisa keluar dari persembunyian.


**


Mawar menghubungi Fox untuk menemuinya di kediaman Briant.


Hal penting apa yang membuat Dewi Mawar sampai memintaku untuk kembali kata Fox dalam hati, Fox merasa penasaran sebenarnya apa yang terjadi.


Pagi hari. Fox memasuki kediaman Pangeran Briant. Fox sampai didepan kediaman, kepala pelayan menyambut kedatangannya dan mengantarkannya menuju ruang kerja Briant.


Kepala pelayan berjalan di depan dengan Fox mengikuti dibelakangnya. Setelah naik lift dan berjalan menyusuri ruang memanjang tibalah mereka di depan ruang kerja Briant.


Kepala pelayan mengetuk pintu ruang kerja Briant.


Tok.. tok..


"Tuan muda tamu Nona Mawar telah tiba."


"Persilahkan dia masuk."

__ADS_1


Kepala pelayan membuka pintu.


Ceklek pintu terbuka.


Kepala pelayan mempersilahkan Fox masuk ke dalam ruang kerja.


Fox berjalan masuk. Di dalam ruangan sudah ada Briant dan Mawar yang tengah duduk di sofa disudut ruang kerja.


Fox yang melihat dimana keduanya berada ia berjalan menuju sofa. Sesampainya di depan sofa Fox membungkukkan tubuhnya memberi penghormatan pada Mawar dan Briant.


"Selamat pagi Tuan, Nona."


"Selamat pagi.." jawab Briant dan Mawar bersamaan.


"Untuk sementara ini serahkan perusahaan pada orang yang kepercayaan mu, ada tugas penting untukmu!"


"Tugas apa Nona."


"Siapkan bala tentara kita untuk berperang."


"Fox Istana Kahyangan telah di serang. Kepemilikan Istana Kahyangan bukan lagi orang tuaku tapi Bintang."


"Apa! bukankah ia sudah meninggal?" Foxi terkejut mengetahui fakta bahwa Istana sekarang berada dalam kekuasaan Bintang. Hal yang sangat mustahil apalagi ia telah mendapat hukuman dipenjara di istana dingin. Bukan rahasia lagi jika siapa pun yang mendapat hukuman dipenjara istana dingin tidak akan bisa pergi dengan keadaan hidup-hidup.


"Ya.. tapi faktanya tidaklah demikian, Bintang masih hidup bahkan tak kekurangan suatu apapun."


"Ini pasti ada yang tidak beres Nona!."


"Ya, untuk itu segera siapkan prajurit kita untuk berperang?"


"Baik Nona."


Foxi yang mendapat perintah untuk berperang segera pergi untuk menyiapkan para prajurit.

__ADS_1


Sebelum pergi Fox membungkukkan badan lalu berbalik berjalan pergi dari ruang kerja Briant.


Fox keluar sari sana, sesampainya ia didepan pintu ia disambut kepala pelayan. Kepala pelayan mengantarkan Foxi turun sampai depan kediaman.


______


Mawar berdiri di samping jendela dengan pandangan menatap langit.


Briant menghampiri istrinya, dipeluknya Mawar dari belakang dan semakin mengerutkan pelukannya.


"Apa yang kamu pikirkan dear.."


Mawar menghela nafas lalu menjawab pertanyaan suaminya. "Orang tuaku.. sepuluh hari berlalu Bri.. dan mereka hidup diluar sana. Bagaimana tidurnya, makannya.. hanya memikirkannya saja aku gak tega."


"Bersabarlah sayang.. besok kita akan jemput mereka."


Mawar menganggukkan kepala sebagai jawaban berbalik badan lalu menenggelamkan dirinya dalam pelukan suaminya.


*


*


Di sisi lain di Kahyangan, Bintang yang tengah duduk di singgasananya mendengarkan laporan pengawalnya.


"Hormat hamba Yang Mulia Raja Yang Agung" kata pengawal duduk dengan satu kaki ditekuk dan kedua tangan bersatu di atas kepala dengan menunduk.


"Katakan!"


"Yang Mulia semua berjalan sesuai rencana"


"Bagus! teruskan sampai para rakyat kehilangan kepercayaan sepenuhnya pada Raja terdahulu."


"Siap laksanakan."

__ADS_1


Pengawal membungkukkan badan dengan posisi duduk dengan kaki ditekuk satu dengan tangan di atas kepala. lalu beranjak pergi dari hadapan Briant.


Bibir Briant terangkat keatas membentuk senyuman merasa puas dengan kabar yang ia harapkan.l


__ADS_2