Deliverance Love

Deliverance Love
68


__ADS_3

Mawar terbangun dari tidurnya. Matanya bergerak-gerak karena pantulan cahaya sinar mentari yang mengganggu tidur lelapnya.


Mawar melihat ke kanan kiri namun tidak ada Briant di kamar mereka. Namun ada hal yang berbeda dari kamar yang ia tempati.


Bunga Mawar tumbuh bergerombol dengan cantiknya. Mawar memperhatikan bunga mawar yang tumbuh di langit-langit kamar bentuknya seperti bunga yang ditata padahal mereka sebenarnya bunga yang tumbuh menjalar di langit-langit kamarnya.


Dan satu hal lagi yang tak biasa, warnanya putih bukan merah seperti biasanya. Ada hal apa sebenarnya kenapa bunga yang tumbuh disekitar ku berubah warnanya menjadi putih.


Ceklek.. pintu kamar terbuka. Briant masuk ke dalam kamar dan mendapati istrinya telah bangun dari tidurnya.


Briant berjalan mendekat lalu memeluk Mawar. Seperti biasa aroma bunga mawar yang menyegarkan memenuhi penciumannya namun ada yang beda kali ini, aromanya sangat lembut.


Briant melepaskan pelukannya, ditatapnya wajah Istrinya. Kenapa Istriku nampak cantik seperti, kecantikannya seperti aura keibuan yang nampak padanya kata Briant dalam hati.


"Apa ada hal yang aneh pada diriku Bri..?"


"Tidak ada dear.. hanya aku merasa kamu berbeda, semakin cantik."


"Benarkah?"


"Ya dear."


Mawar tersenyum mendengar perkataan Suaminya.

__ADS_1


"Aku mau keluar menemui Ayahanda dan Ibunda."


Briant terdiam mendengar perkataan Istrinya.


"kenapa?" tanya Mawar. Tanpa menjawab pertanyaan Istrinya Briant melepaskan pelukan pada tubuh Mawar lalu berjalan menuju kaca dengan menggandeng tangan Mawar. Briant menempatkan Mawar di depan kaca.


Mawar melihat pantulan dirinya didepan kaca, pandangannya tertuju pada leher yang penuh dengan tanda merah keunguan.


Mata Mawar membola karena terkejut, lalu ia membalikkan badan. "Bri..! kata Mawar dengan memukul dada suaminya dengan tangan.


Briant tertawa melihat reaksi istrinya. Mawar semakin menjadi memukul Briant.


"Ampun istriku.. sayang maaf" kata Briant dengan berlari, keduanya berakhir dengan saling kejar-kejaran.


Hos.. hos.. baik Briant dan Mawar terengah-engah dan jatuh di tempat tidur.


"Te.. te terus aku gi ma na keluar nya?" Mawar bertanya dengan nafas yang masih terengah-engah.


Setelah nafas mereka kembali stabil, Briant beranjak dari tidur nya lalu ia berjalan menuju walk in closed.


Tak berselang lama ia keluar dengan membawa baju ditangannya. Briant memberikan baju itu pada Mawar "pakai ini"


Mawar meraih baju itu, mengamati sejenak kemudian ia berjalan menuju walk in closed untuk berganti pakaian.

__ADS_1


Mawar mematut dirinya di depan kaca. Baju dengan leher tinggi menutupi leher. Ia lalu tersenyum walau sebelumnya ia sempat jengkel pada Briant lantaran bekas percintaan mereka yang terlihat di leher nya bahkan sampai tumpang tindih.


Mawar keluar "Ayo kita turun kebawah menemui Ayahanda dan Ibunda."


Briant mengangguk sebagai jawaban.


Keduanya keluar kamar dan turun menuju ruang makan.


Di ruang makan. ruang makan yang besar nan luas dominan dengan warna putih dengan ornamen-ornamen warna emas. Mununjukan suasana berkelas dan mewah.


Briant dan Mawar menuruni anak tangga dengan bergandengan tangan. Keduanya nampak serasi.


Orang tua Mawar dan Briant merasa bahagia melihat anak dan menantu mereka nampak bahagia.


Pandangan Mawar yang mengarah pada ruang makan nampak orang tua mereka. Mawar melempar senyum pada mereka, begitu pula sebaliknya.


Sayangnya dua orang yang sama hanya diam seperti balok es. Siapa lagi kalau bukan Briant dan Ayahnya.


Mawar dan Briant telah sampai di ruang makan.


Selamat siang Ma, Pa, Ayahanda dan Ibunda.


"Selamat siang Nak." jawab mereka dengan ramah.

__ADS_1


Briant menggeser kursi lalu Mawar duduk di sana. Baru kemudian ia menggeser kursi untuknya lalu ia duduk di sana, di sebelah Mawar.


Mereka semua makan dengan tenang.


__ADS_2