
Berbeda dengan Briant yang memakan makanan dengan lahap. Sendok yang dipegangnya hanya ia tusuk-tusuk saja pada makanan yang ada di piringnya.
Ekor mata Briant melirik kelakuan Istrinya. Setelah menyelesaikan makannya Briant mengambil piring Mawar. Briant menyendok makanan di piring untuk menyuapi Mawar.
"Aa.. kata Briant. Mawar menggeleng gak mau makan.
Briant menghela nafas "lalu kamu mau makan apa?"
"Gak mau makan, rasanya gak enak Bri.."
Apa aku keterlaluan ya hingga istriku kelelahan sampai gak enak makan kata Briant dalam hati sambil melirik jam pada dinding yang menunjukkan angka mendekati angka dua belas.
"Kamu ingin makan apa?" tanya Briant.
"Buah" kata Mawar.
Briant memerintahkan pelayan untuk membawakan Buah. Tak berselang lama pelayan datang membawa buah dan Briant menyuapi istrinya.
Setelah selesai Briant bertanya "apa masih sakit dear..?" tanya Briant.
Mawar mengangguk sebagai jawaban. Briant menggendong Mawar lagi menuju kamar dan Mawar tertidur kembali dalam pelukan Briant.
__ADS_1
Di sudut lain tanpa disadari Briant dan Mawar sikap mereka berdua disaksikan orang tua Mawar dan Briant.
Orang tua Mawar bangga karena sikap putra mereka yang ternyata sangat penyayang pada istrinya sekaligus terkejut melihat Briant yang selalu dingin dsn cuek pada orang lain bisa seperhatian itu pada istrinya.
Sedangkan orang tua Mawar melihat kelakuan menantunya yang sangat menyayangi Mawar sangat bahagia sekaligus malu karena kelakuan anaknya yang terlewat manja.
"Maafkan kelakuan putri kami, sebelumnya ia tak pernah semanja itu, ini kali pertama kami melihatnya."
"Tak perlu sungkan besan, ya.. mungkin karena Mawar kelelahan" jawab ibu Briant. Ibu Briant jadi teringat dengan masa lalunya ia sampai lemas karena ulah Suaminya, sepertinya Mawar juga mengalami hal sama katanya dalam hati.
Setibanya Briant di kamar, ia meletakkan Mawar dengan perlahan. Briant sampai bingung Istrinya baru bangun tapi sekarang tidur lagi. Apa aku benar-benar keterlaluan sampai-sampai ia kelelahan.
Tok.. tok.. terdengar suara ketukan pintu. Briant berjalan menuju pintu.
Mata Briant terkejut melihat orang yang berdiri didepannya. Bisa-bisanya ia melupakan hal penting yaitu keberadaan orang tua Mawar dan sejak kapan orang tuanya juga berada di kediamannya?
Ayahanda, Ibunda, Papa, Mama.. sapa Briant.
"Ada hal yang perlu kami bicarakan padamu."
Briant mengangguk sebagai jawaban. Mereka berjalan menuju ruang kerja Briant.
__ADS_1
Sesampainya mereka di ruang kerja Briant. Keempatnya duduk di kursi dengan Briant ditatap ke empatnya seperti nara pidana.
"Apa benar jika menantuku terluka?"
"Tidak Ma, Mawar baik-baik saja."
"Jangan bohong.. jika baik-baik saja kenapa dengan Mawar sekarang?
"Itu.." bingung Briant harus menjawab apa, kan gak mungkin juga jika ia mengatakan keadaan Mawar seperti itu karena kegiatan panas yang mereka lakukan.
Ke empat orang tua di sana menunggu jawaban Briant. Namun Briant hanya diam bingung mau mengatakan apa.
Setelah berfikir beberapa saat Briant menceritakan kejadian bagaimana Mawar tertidur karena mantra Bintang, oleh karena itu kondisi Mawar masih dalam tahap pemulihan. Setelah mendengarkan cerita Briant mereka berempat akhirnya merasa lega.
"Antar kan kami untuk bertemu Mawar" kata Mama Briant.
Briant terkejut dengan permintaan para tetua pasalnya Briant telah membuat tanda ditubuh Istrinya, yang lama saja belum hilang malah ada tanda baru sampai tumpang tindih. Bisa gawat ini kata Briant dalam hati.
"Le lebih baik nanti saja karena sekarang Mawar sedang tidur."
Mereka terdiam beberapa saat lalu berkata "baiklah"
__ADS_1
Akhirnya mereka keluar dan tinggallah Briant di ruang kerja sendirian.