Deliverance Love

Deliverance Love
76


__ADS_3

Di tempat lain di Desa Kencono.


Briant telah sampai di kediaman Kakeknya. Mobil berhenti di depan rumah. Briant keluar dari mobil, ia lalu berjalan menuju rumah Kakeknya.


"Selamat siang Tuan Muda" sapa kepala pelayan dengan berdiri dan menundukkan kepala kepada Briant.


Briant menganggukkan kepala sebagai jawaban. Briant melepaskan mantel yang ia kenakan, kepala pelayan menerima dan menyerahkan kepada bawahannya lalu mempersilahkan Briant masuk kedalam.


Briant berjalan masuk ke dalam kediaman dengan kepala pelayan mengikuti dibelakang.


"Dimana Kakek?" tanyanya pada kepala pelayan.


"Beliau berada di taman belakang" jawab kepala pelayan.


"Mari ikuti saya Tuan Muda"


"Tidak perlu" kata Briant langkahnya berhenti sambil mengangkat tangan memberi tanda kepada Kepala pelayan untuk pergi, tidak perlu mengantarkannya.


Briant beejalan menuju taman belakang dimana sang Kakek berada.


Tibalah ia di taman belakang, Briant berjalan pelan tatkala ia melihat sang Kakek tengah melukis.


"Masih ingat dengan Kakek mu?" kata sang Kakek dengan perkataan yang kasar.

__ADS_1


Briant menyunggingkan senyum di bibirnya sambil berjalan mendekat ke arah Kakeknya. Semula ia berjalan perlahan karena takut mengganggu konsentrasi Kakeknya kini ia berjalan dengan langkah biasa.


"Tentu selalu ingat Kakek!" kata Briant sambil duduk di sebelah Kakeknya.


"Huh.." sang Kakek mendengus kesal "jika masih ingat kenapa lupa kasih kabar kalau kamu telah menikah?" protesnya karena merasa tidak terima ia tidak mendapat kabar tentang pernikahan Briant. "Atau kamu sudah tidak menganggap ku sebagai Kakek mu Briant?"


Briant menghela nafas mendengar kekecewaan yang diutarakan Kakeknya. Ia benar-benar lupa memberi kabar pada sang Kakek.


"Maaf Kek" kata Briant penuh penyesalan.


Kakek menghela nafas lalu berkata "Kakek memaafkan mu tapi dengan syarat."


"Apa syaratnya Kek?"


"Apa! bagaiamana bisa seperti itu Kek?"


"Ya terserah kamu mau apa tidak!, kalau kamu mau maka Kakek memaafkan mu jika tidak jangan pernah kesini lagi menemui Kakek mu."


"Baiklah" jawab Briant dengan terpaksa.


"Bagus" kata Kakek dengan tersenyum puas.


"Apa yang membawa mu sampai datang mengunjungi Kakek mu?"

__ADS_1


"Ya Kek.. ada hal penting yang membawaku kemari."


"Katakan Briant."


"Apakah Kakek mengetahui tentang Iblis hitam?"


Kakek Briant yang tengah melukis menghentikan gerakan tangannya setelah mendengar perkataan Briant tentang Iblis hitam.


Kakek berdiri dari duduknya lalu berkata "ikuti aku."


Sang Kakek melangkah memasuki kediaman diikuti Briant dibelakangnya. Langkahnya berayun menuju ruang yang berada diujung koridor. Setibanya mereka di depan sebuah pintu, sang Kakek membuka pintu lalu masuk ke dalam diikuti Briant di belakangnya.


"Kunci pintunya" perintahnya pada Briant.


Briant segera mengunci pintu dari dalam ruangan.


Ruangan yang sangat luas dengan banyaknya buku yang tersusun dengan rapi di sana.


Sang Kakek berjalan menuju dinding yang terletak paling sudut, ia menggeser lukisan yang ada di dinding lalu pintu rahasia terbuka. Kakek berjalan masuk menuruni tangga diikuti Briant yang berada di belakangnya.


"Sudah lama sekali aku tidak pernah masuk kedalam ruang rahasia ini, terakhir kali saat Ibunda mu masih muda, waktu itu tanpa sengaja ia melihat buku tentang Iblis Hitam" kenang sang Kakek dengan kepala menengadah ke atas mengingat masa lalu.


"Hal penting apa yang membawamu kemari hingga menanyakan tentang perihal buku tentang Iblis Hitam Briant?" tanya sang Kakek pada Cucunya.

__ADS_1


__ADS_2