
Keesokan harinya, Mawar mengeliat dari tidurnya. "Kenapa pinggangku terasa berat, aduh.. mataku susah dibuka." Dengan mata yang masih terpejam Mawar memindahkan sesuatu yang menindih pinggangnya.
"Akhirnya berhasil juga"
Setelah beberapa saat kedua mata Mawar terbuka. Mawar melihat tempat tidur sebelahnya, "apa tadi yang menindih ku?"
Mata Mawar membulat melihat Brian tidur di tempat sama dengannya entah ini yang ke berapa. Mawar menjewer telinga Brian, "aduh.. sakit honey.." katanya dengan mata terpejam.
"Kamu bandel ya.. rasain sakit kan?" masih dengan menjewer telinga Briant.
Briant kesal karena tidurnya terganggu, Briant bangun menangkap Mawar mengungkungnya dibawah tubuhnya. Glek.. Mawar merasa takut. "Kamu marah ya Bri?"
"Iyalah.. marah banget malah."
Briant mendekatkan wajahnya. "Geser Bri.. aku mau ke kamar mandi" kata Mawar mengalihkan suasana.
"Geser kemana?"
"Ke samping"
"Ke samping mana?"
"Oh.. ya ampun, berasa ngomong sama orang utan" Mawar sudah mulai sebel.
"Kamu ngatain aku orang utan hem..?"
"Enggak..! kecuali kamu yang ngrasa"
"Berani ya.." niat awal mau ngerjain, eh.. jadinya.. Briant mencium Mawar, Mata Mawar membulat, gawat ini kalau lanjut gimana? posisi kita kayak gini!" Mawar panik jika Briant tidak bisa mengendalikan diri.
Keduanya terhanyut, setengah jam kemudian Brian melepas pagutannya. Bibir Mawar terlihat merah dan bengkak. Briant mengusapnya dengan ibu jari tangan. "Hampir saja aku lepas kendali, maaf..!"
"Sukur lah.. aku mau ke kamar mandi"
Briant menggeser tubuhnya disamping Mawar, Mawar beranjak dari ranjang, berjalan menuju kamar mandi.
__ADS_1
Setelah beberapa saat Mawar keluar dari kamar mandi dengan rambut basah. "Kenapa keluar dengan kondisi begitu sih dear.. godain aku ya?" kata Briant.
"Godain gimana, habis mandi ya memang begini penampilanku, apanya yang godain"
"Haah.." desah Briant, "benar juga, kamu biasa aja aku selalu tergoda memakan mu apa lagi dengan kamu seperti ini" Briant berjalan mendekati Mawar yang kini berada di depan meja rias sedang mengeringkan rambutnya.
Dari arah belakang Briant melingkarkan tangannya membungkuk menempelkan dagu di pundak Mawar. Briant mencium aroma lembut bunga Mawar dari tubuh Mawar, sambil memejamkan mata. Terasa menenangkan.
"Bri.. jangan gitu, kamu menggangu ku! geser! rambutku gak kering-kering ini nanti"
Briant masih dalam posisi sama tanpa beranjak dari sana . "Bener kan berasa ngomong sama orang utan, gak nyambung!"
Briant mendengar kata-kata Mawar mengerutkan dahi, membuka mata meraih hair dryer dari tangan Mawar. Lalu ia mengeringkan rambut Mawar.
"Masih ngatain aku orang utan hem.."
"Ya.."
"Ok kalau begitu.. tunggu aku ada kejutan untukmu"
Briant dengan telaten mengeringkan Rambut Mawar yang panjangnya sepinggang, "setelah kita menikah nantinya aku yang akan mengeringkan rambutmu"
"Oh.. ya"
"Tentu"
Lima belas menit kemudian, Briant menarik tangan Mawar menuju ranjang memangku Mawar di atas tubuhnya, menciumnya lagi kali ini tengah brutal. Ciuman Briant turun ke leher menandai setiap inci leher Mawar.
Mawar mendesah, Briant menjatuhkan tubuhnya disamping kiri Mawar. "Ayo kita siap-siap, setelah sarapan kita pergi ke Kahyangan, biar cepat sah bisa gawat ini."
"Ok" kata Mawar dengan tertawa. Mawar bersyukur Briant tetap menjaga kehormatannya.
Briant bangun berjalan masuk kamar mandi, sedangkan Mawar bersiap diri. Tak lama kemudian Briant keluar kamar mandi hanya mengenakan handuk di pinggang. Mawar tidak sengaja melihatnya membalikkan badan dengan wajah memerah. Briant melihat Mawar membalikkan badan tersenyum menyeringai.
Briant mendekati Mawar dan memeluknya dari belakang. "Kenapa balik badan hem.."
__ADS_1
Mawar yang mendapat pelukan, semakin gugup. "Bri.. aku lapar, bisa cepat pakai bajunya?"
"Dengan senang hati"
"Lalu kenapa tidak dilepaskan pelukannya?"
"Ada syaratnya dear.."
"Bri.. lepas gak!"
"Ok aku lepas tapi kamu bantuin aku pakai bajunya"
Dengan berat hati Mawar menyetujui keinginan Brian "baiklah." Briant melepaskan pelukannya dan Mawar lari keluar kamar, sambil berteriak "maaf ya Bri.. pakai sendiri ya.."
Briant yang tidak terima mau mengejar Mawar, namun ia teringat hanya mengenakan handuk saja, akhirnya ia urungkan, "awas saja" kata Briant sambil tersenyum.
Mawar menunggu Briant di ruang makan. Setelah beberapa saat terdengar langkah kaki yang tak lain adalah Briant. Briant pura-pura memasang wajah cemberut dan duduk disamping Mawar.
Mawar menyiapkan sarapan Briant.
"Bri.. mau makan apa?" tanya Mawar.
Yang ditanya tetap saja diam.
"Bri.. mau kopi atau teh?" Briant masih diam. Mawar mendesah. "Udah dong jangan ngambek, maaf ya.."
Briant masih saja diam.
"Maaf ya.." kata Mawar sambil menggoyang-goyangkan lengan Briant.
Brian masih saja diam.
"Cup" karena usahanya berulang kali tidak berhasil Mawar mencium pipi Briant. Briant terkejut, dan detik kemudian tersenyum sambil memegang pipi yang tadi dicium Mawar, sangat jarang Mawar inisiatif merayu Briant bahkan untuk ciuman tidak pernah malah.
Maunya pura-pura tapi malah menang banyak ini. Mawar melihat Briant tersenyum hatinya lega kembali. Keduanya memulai sarapan pagi dengan manis dengan drama manis.
__ADS_1