
Di dalam hutan.
Di sebuah bangunan nampak para prajurit berlatih dengan giat, jumlah mereka dari hari ke hari kian bertambah banyak.
Laki-laki dengan jubah menutupi wajahnya tersenyum melihat perkembangan para prajurit sesuai dengan apa di harapkan selama ini. Tak sia-sia perjuangannya selama ini. Impiannya untuk menguasai kerajaan atas dan memperistri Dewi Mawar akan segera dapat ia wujudkan.
Kekuatan yang ia himpun hampir siap kali ini.
Setiap malam ia selalu pergi mencari mangsa baru untuk memperkuat ilmu yang kini ia miliki. Ia akan membalas semua rasa sakit yang ia dapatkan hingga ia sampai di titik terburuk dalam hidupnya. Apa salah jika ia begitu mencintai putri dari Kaisar Kahyangan, ia sangat-sangat mencintai Dewi Mawar, apakah itu sebuah kejahatan hingga ia sampai dihukum sampai seperti ini.
Apa yang ia lakukan hanya karena rasa cintanya yang begitu besar pada Dewi Mawar. Raja Kahyangan tunggu pembalasanku, kau yang membuat aku sampai seperti ini, gara-gara kau ilmu ku hilang dan aku terpisah dengan gadis yang aku cintai.
"Dewi Mawar tunggu kedatanganku, aku akan menjemputmu!"
Laki-laki yang menutupi tubuhnya dengan jubah di seluruh tubuhnya tak lain adalah Dewa Bintang.
Pasukan yang ia himpun terdiri dari manusia dan iblis. Ia memberikan aura hitam pada tubuh prajurit di setiap harinya. Sehingga mereka memiliki kekuatan melebihi kekuatan prajurit Kahyangan.
Manusia biasa tak akan mempunyai kekuatan seperti para prajurit yang ia kumpulkan. Dewa Bintang puas dengan pencapaiannya.
Matahari telah berganti dengan sinar rembulan. Bulan purnama bersinar menyinari bumi dengan cahayanya. Namun bagi Dewa Bintang bulan purnama adalah puncak penyempurna kekuatan miliknya. Di malam ini ia harus mendapatkan seratus darah perawan dalam satu malam.
__ADS_1
Taring yang tersembunyi di dalam mulutnya terasa gatal. Tenggorokannya terasa haus ingin segera ia puaskan dengan segarnya darah gadis perawan. Kaki Dewa Bintang melangkah dengan sendirinya ketika ia mencium aroma darah yang menyegarkan. Tanpa sadar ia berjalan keluar dari persembunyiannya di dalam hutan.
Briant memasuki perkampungan penduduk. "Harum.." racaunya dengan terus berjalan mengikuti aroma yang tercium di indra penciumannya.
Langkah Bintang berhenti di depan salah satu rumah. Pintu terbuka dengan sendirinya. Bintang masuk ke dalam mengikuti bau harum yang tercium dari hidungnya.
Sesampainya ia di depan kamar, pintu kamar terbuka dan Bintang masuk kedalam. Nampak seorang gadis terbaring di sana. Tangan Bintang bergerak, gadis yang tertidur bergerak melayang di udara.
Tangan Briant terbuka menangkap gadis yang terbang melayang mendekat ke arahnya. Taring di mulut Briant terbuka siap menghisap darah dari leher gadis itu.
Tiba-tiba mata gadis itu terbuka, sang gadis terkejut. Sebelum mangsa buruannya berteriak Bintang telah membuat gadis itu kehilangan suaranya. Crasss..
Bintang menancapkan taringnya dan menghisap darahnya hingga habis tak bersisa. Bintang menjentikkan jarinya keluarlah api dan membakar Tubuh yang hanya tersisa kulit dan tulang untuk menghilangkan jejak.
Setelah selesai Bintang melanjutkan langkahnya keluar meninggalkan rumah itu.
Briant berjalan untuk mencari mangsa selanjutnya. Ia berjalan dengan hidung yang tak berhenti mengendus keberadaan gadis perawan.
Bintang memasuki rumah selanjutnya. Pintu rumah terbuka dengan sendirinya. Bintang masuk melangkah menuju kamar gadis perawan berada.
Sesampainya ia di depan kamar. Pintu kamar terbuka, Bintang masuk menggerakkan tangan seketika itu tubuh gadis itu melayang ke arahnya. Bintang menangkapnya dan menghisap gadis itu pada bagian leher hingga bersisa hanya tulang dan kulitnya. Seperti sebelumnya tangan Briant bergerak dan seketika itu juga keluar api dari jemarinya untuk membakar sisa tubuh gadis itu.
__ADS_1
Bintang keluar rumah, seketika rumah kembali tertutup seperti semula seperti tidak ada seorang pun yang telah masuk kedalamnya kecuali anggota keluarga mereka.
Perjalanan Bintang malam itu berlanjut terus sampai ia mendapatkan darah gadis perawan dengan jumlah seratus gadis.
*
*
Pagi harinya penduduk desa digegerkan dengan hilangnya anak gadis mereka yang hilang tanpa tau dimana rimbanya. Anehnya hal ini terjadi tidak hanya satu keluarga namun banyak keluarga.
Para warga resah akan kejadian yang terjadi tiba-tiba tanpa tau apa-apa. Para warga berkumpul untuk mendiskusikan masalah itu. Para warga membentuk kelompok pencarian para gadis yang hilang.
Dari pertemuan yang mereka adakan, mereka mengetahui bahwa ada satu kesamaan yaitu semua korban adalah seorang gadis yang masih perawan. Kemudian saat mereka mendata jumlah korban mereka terkejut dengan jumlah gadis yang hilang.
Mereka bertanya-tanya siapa yang berani-beraninya sampai hati berbuat demikian.
Malam menjelang, kelompok yang telah terbentuk berjaga secara bergantian. Dan dilanjutkan keesokan harinya mereka melakukan pencarian untuk menemukan di mana keberadaan anak-anak mereka yang hilang.
Hal itu terus berlanjut hingga seminggu kemudian. Namun usaha yang mereka lakukan tidak membuahkan hasil.
Waktu terus berjalan hingga satu bulan lamanya. Hari berganti hari minggu berganti minggu bulan berganti bulan, usaha yang mereka lakukan tetap berjalan hingga berbulan-bulan lamanya hingga satu persatu dari mereka putus asa dan menghentikan pencarian.
__ADS_1
Kini hanya doa sebagai pengiring dan penyelamat anaknya yang setiap hari mereka panjatkan kepada sang pencipta.