
Pagi hari di Mansion Briant.
Mawar berjalan menuruni tangga menuju ke ruang makan. Setibanya ia di sana Mawar duduk di sebelah kanan Briant.
Seperti biasa Mawar menyiapkan makanan Briant terlebih dahulu baru kemudian ia mengambil makanan untuk dirinya.
Keduanya makan dengan tenang.
Tak lama kemudian mereka selesai. Briant menggandeng tangan Mawar menaiki tangga. Namun baru ia melangkahkan kaki di tangga dengan Mawar. Ace datang dengan raut muka gelisah.
"Tuan muda..!" panggil Ace dengan terburu-buru.
Melihat raut muka Ace Briant merasa ada hal yang tidak baik yang telah terjadi di Istana Kahyangan.
Briant berjalan menuju ruang kerja dengan menggandeng tangan Mawar dan diikuti Ace dibelakangnya.
Setibanya di ruang kerja Briant dan Mawar duduk di sofa yang terletak di sudut ruangan. Sedang Ace berdiri disamping Briant.
"Tuan muda telah terjadi penyerangan di istana Kahyangan."
Mawar dan Briant terkejut mendengar kabar yang Ace katakan. Mawar reflek berdiri dari duduknya "Bagaimana dengan kondisi Ayahanda dan Ibunda?" tanya Mawar dengan tubuh limbung terjatuh dalam dekapan Briant yang sigap menangkap tubuh Mawar.
"Mereka berhasil melarikan diri, hingga kini keduanya tengah menjadi buronan."
Mendengar kabar ini hati Mawar merasa lega. Setidaknya orang tuanya masih hidup.
__ADS_1
"Siapa yang melakukan penyerangan?"
"Penyerangan dilakukan oleh Dewa Bintang."
"Apa! bagaimana mungkin!" kata Briant dan Mawar bersamaan.
"Ya inilah yang membuat saya tidak mengerti. Setau saya Dewa Bintang telah meninggal di penjara dingin. Bahkan saya sendiri yang memastikan kebenaran berita ini. Tapi apa yang saya lihat benar-benar nyata. Saya melihat Dewa Bintang mempublikasikan dirinya bahwa ialah penguasa Istana Kahyangan dan ia memerintahkan para prajurit untuk menangkap Raja dan Ratu."
"Jangan kau panggil dia dengan sebutan Dewa lagi Ace! dia bukan Dewa sekarang!" kata Mawar dengan murka.
"Maafkan saya Nona."
"Apakah kau mengetahui keberadaan Ayahanda dan Ibunda Ace?"
"Belum Nona"
"Aku mengerti apa yang kamu rasakan. Namun jangan lakukan itu sekarang karena itu adalah tindakan ceroboh. Jangan khawatir dear.. jika kondisi kondusif maka aku sendiri yang akan mencari Ayahanda dan Ibunda" kata Briant sambil memegang pipi Mawar.
"Apa ada hal penting lain yang perlu kamu sampaikan Ace?" tanya Brian.
"Tidak ada Tuan, kalau begitu saya pamit undur diri."
"Ya" jawab Briant.
Ace berjalan pergi meninggalkan Kediaman Briant.
__ADS_1
Raut wajah Mawar nampak gelisah setelah ia mengetahui kabar tentang Istana Kahyangan.
Briant menarik tangan Mawar dan membawanya ke dalam pelukan untuk menenangkan Istrinya.
"Bri.. ada hal yang tidak beres yang telah terjadi, ini mengenai Bintang."
"Ya aku rasa juga begitu."
"Tak ada satu orang pun yang bisa selamat dari penjara dingin, kita perlu menyelidiki hal ini Bri.."
"Ya.. dear"
Briant melambaikan tangan dan keluarlah naga dari tangannya. "Selidiki apa yang sebenarnya terjadi dengan Bintang dan Istana Kahyangan."
"Baik Tuanku" setelah membungkukkan kepala sebagai tanda penghormatan, naga pergi menuju Istana Kahyangan.
"Bri yang menjadi pertanyaan ku bagaimana bisa bintang luput dari pengawasan, bahkan tidak ada seorang pun yang mengetahui bahwa sebenarnya ia masih hidup bahkan sampai bisa membuat rencana merebut Istana Kahyangan."
"Apa yang kamu katakan benar adanya dear.., pasti ada hal yang tidak biasa yang telah terjadi."
"Sambil menunggu informasi dari naga, ikutlah dengan ku."
Briant mengulurkan tangan dan Mawar meraih tangan Briant. Keduanya berjalan berpegangan.
Briant menggerakkan tangan untuk membuat portal. Tangan Mawar bergerak memegang tangan Briant untuk mencegahnya membuat portal. "Untuk sementara jangan membuat portal dulu, aku takut jika hal itu mempermudah Bintang untuk mengetahui keberadaan kita."
__ADS_1
"Baiklah."
Briant menggenggam tangan Mawar berjalan menuju tempat parkir. Sesampainya di sana keduanya memasuki mobil. Mobil melaju membelah jalan raya berlalu menuju tempat yang mereka tuju.