Deliverance Love

Deliverance Love
53


__ADS_3

Raja, Ratu dan satu pengawal berjalan dengan tergesa di dalam lorong ruang bawah tanah. Keduanya tidak bisa membuat portal lantaran hal itu bisa menjadi celah petunjuk lokasi dimana mereka berada.


Mereka hanya mengandalkan cahaya obor untuk terus berjalan di dalam lorong sempit yang hanya muat untuk ukuran satu orang.


Setelah beberapa lama mereka berjalan didalam lorong, akhirnya tibalah mereka di ujung lorong.


Sinar matahari nampak masuk ke dalam celah pada ujung lorong. Pengawal menyentuh tombol rahasia pada dinding sebelah kiri lorong. Pintu lorong terbuka sinar matahari masuk ke ujung lorong.


Mereka semua keluar dari dalam lorong dan masuk ke dalam kereta. Kereta terbang menjauh dari Istana Kahyangan menuju tempat persembunyian.


*


*


*


Di dalam Istana Kahyangan.


Bintang murka karena prajurit utusannya tidak berhasil menemukan keberadaan Raja dan Ratu.


"Maafkan hamba Paduka kami tidak berhasil menemukan keberadaan Raja dan Ratu. Keberadaan mereka tak terlacak sama sekali bagaikan ditelan bumi."


"Bodoh kalian, mencari dua orang tua saja kalian tak sanggup!" Sraaaas.. api yang keluar dari tangan Bintang membakar sampai tak tersisa salah satu prajurit. "Aaaaaa.." teriakan kesakitan menggema di seluruh Istana.


Pengawal dan para prajurit yang menyaksikan peristiwa itu ketakutan melihat teman mereka terbakar hingga menjadi abu.


"Terus cari keberadaan keduanya, baik dalam kondisi hidup atau mati!."

__ADS_1


"Baik Paduka."


Pengawal dan prajurit membungkuk lalu berbalik pergi dengan kaki gemetar ketakutan.


Diluar aula istana mereka terjatuh lantaran kaki mereka bergetar karena ketakutan. Para prajurit yang berjaga diluar menghampiri dan membantu memapah mereka menuju ruang peristirahatan.


"Apa yang terjadi pada kalian?"


"Raja Bintang membakar Teo hingga.."


Belum selesai prajurit itu bercerita tubuhnya meleleh didepan mereka. Prajurit dan pengawal yang berada ditempat mereka lari tunggang langgang karena ketakutan.


"Aaaaa" teriakan kesakitan terdengar kembali menggema dalam kamar peristirahatan.


"Apa yang terjadi?" tanya prajurit lain yang datang mendengar suara teriakan.


Penyesalan melanda hati karena telah bergabung menjadi pasukan Bintang dengan iming-iming kekayaan yang telah ditawarkan Bintang. Kini mereka tidak akan bisa kembali lagi karena kekuatan hitam telah merasuk di dalam tubuh mereka. Jika mereka sampai berkhianat maka nasib mereka adalah mati dengan tubuh meleleh dan rasa sakit yang sangat menyakitkan.


Mereka sangat sangat menyesal namun tak ada jalan kembali.


Satu hal yang bisa mereka lakukan yaitu tetap satia dan patuh pada apa yang Raja Bintang perintahkan.


Prajurit dan pengawal yang menyaksikan kejadian mengerikan, mereka terdiam dengan pandangan kosong. Prajurit lain yang melihat perubahan teman mereka bertanya-tanya apa gerangan yang telah terjadi.


Namun mereka tak mendapatkan jawaban dari rasa keingintahuan mereka.


Waktu berlalu kegiatan berjalan sebagaimana mestinya dan peristiwa itu pada akhirnya dilupakan begitu saja.

__ADS_1


Pencarian Raja dan Ratu terdahulu tetap berjalan namun tak membuahkan hasil sama sekali.


Hari ke lima, pagi hari di ruang pertemuan rakyat. Raja Bintang menaiki Menara tertinggi setelah semua rakyat, dewa, dewi, petinggi Kerajaan Kahyangan berkumpul.


"Wahai rakyatku.. perkenalkan akulah penguasa baru, Raja penguasa Istana Kahyangan. Raja Bintang."


"Kami tidak menerima Raja selain Yang Mulia yang Agung!"


"Benar." jawab rakyat saling bersautan.


"Kami tidak menerima penguasa baru"!


Para rakyat berbondong-bondong menolak kepemimpinan Bintang. Kondisi ruang pertemuan rakyat kacau karena penolakan para rakyat.


Bintang murka, tangannya bergerak dan keluarlah api mengenai rakyat yang secara terang-terangan menolak kepemimpinannya.


Jerit kesakitan terdengar. Rakyat yang terkena api tubuhnya meleleh hingga menjadi abu. "Aaaaaaa.."


Mereka yang hadir di ruang pertemuan terdiam gemetar ketakutan. Suasana Ruang pertemuan kini sunyi tak ada seorang pun yang berani bersuara sedikitpun.


"Siapa pun yang menolak ku maka sebagai hukuman adalah kematian!" kata Bintang dengan suara lantang. "Aku tidak menerima penolakan!"


"Hidup Yang Mulia Agung Raja Bintang!"


"Hidup!"


"Hidup!"

__ADS_1


Bunyi sautan terdengar mengelu-elukan Bintang sebagai Raja baru mereka. Kini tak ada yang berani menolak Bintang sebagai Raja mereka.


__ADS_2