
"Salam Yang Mulia Raja" sapa Briant.
Mereka berjalan menuju ruang tamu.
"Jelaskan kenapa kamu membawa putriku untuk tinggal bersamamu!!" kata Raja dengan murka.
" Ampun beribu ampun jika hamba lancang telah mengambil keputusan, apa yang saya lakukan demi keselamatan Dewi Mawar.
"Apa maksudmu Briant!"
"Beberapa hari yang lalu hamba mendapati seseorang yang mengawasi Dewi Mawar, namun ketika saya mengejar orang tersebut telah pergi dan saya merasakan aura kegelapan pada orang tersebut, untuk itu saya mengajak Dewi Mawar untuk tinggal bersama saya di kediaman, ampun beribu ampun Yang Mulia".
Raja menghela nafas panjang, ada beban berat yang ia pikul berkenaan dengan putrinya Mawar. Meskipun mendengar penjelasan Briant ada sedikit kelegaan dalam hatinya.
"Ayahanda.. maafkan Mawar karena tinggal bersama Briant" kata Mawar.
"Ayahanda sedikit kecewa dengan keputusan kalian berdua", Raja terlihat menghela nafas lagi. "Ada hal penting yang perlu kalian berdua ketahui". Kata sang Raja.
"Apa itu Ayahanda" tanya Mawar.
"Putriku Mawar kamu memiliki garis takdir kelahiran phoenix, itulah mengapa Ayahanda tidak bisa merestui hubungan kalian berdua kecuali jika Briant adalah pasangan takdirmu".
Mendengar perkataan Sang Raja baik Briant maupun Mawar sangat terkejut. Baik Mawar maupun Briant berusaha tetap tenang.
__ADS_1
"Jika kami tetap teguh bersama apa dampak dari hal itu Ayahanda?" tanya Mawar.
"Jika kalian tetap memutuskan untuk bersama maka baik kamu maupun Briant tidak akan memiliki umur panjang, energi kehidupan kalian akan terkuras habis. Putriku Mawar ingat kamu bukanlah gadis biasa, kamu adalah Putri seorang Raja tanggung jawabmu sangatlah besar, jika kamu tiada siapa yang nantinya akan meneruskan tahta dan bagaimana nasib rakyat selanjutnya, Putriku itulah garis takdirmu, maka kamu harus menjalaninya".
Hati Mawar terasa hancur berkeping-keping tatkala mendengarkan perkataan Ayahnya, tidak berdaya itulah yang ia rasakan. Jika hanya dirinya yang mengalami kemalangan Mawar tentu mampu menahan segala kesulitan, namun jika sang kekasih juga merasakan penderitaan atas takdir yang telah ditetapkan untuknya ia merasa tidak sanggup untuk itu. Kemalangan ini datang darinya, tak seharusnya sang kekasih juga turut merasakan penderitaan.
Apa yang dirasakan Briant juga sama, betapa ia sangat mencintai sang kekasih. Briant menggenggam tangan Mawar untuk menguatkannya seakan-akan ia tidak apa-apa. Genggaman tangan yang Briant lakukan berangsur-angsur menguatkan hati Mawar.
Melihat kesedihan sang putri, Raja merasa hatinya dihujam begitu sakitnya. Tak ada seorang ayah yang ingin melihat kesedihan pada putrinya.
"Ayahanda kebenaran yang engkau utarakan sungguh berat. Berpisah dengan Briant sama dengan kematian begitu pun kebersamaan kami itu juga kematian, hal apa yang harus hamba lakukan untuk itu Ayahanda?" tanya Mawar.
Pertanyaan yang diutarakan putrinya membuat sang Raja bungkam.
Sang Raja menghela nafas kembali, berdiri dan menepuk pundak Briant berjalan untuk pergi dari kediaman Briant, langkahnya terhenti dan Raja berkata "apa pun keputusan kalian Ayahanda akan mendukung sepenuhnya", Raja diikuti pengawalnya berlalu pergi dari kediaman Briant.
Sepeninggal Raja keduanya masih berdiam diri di ruang tamu, setelah beberapa saat Briant bertanya.
"Apa keputusanmu tentang masalah ini sayangku?"
Bukannya menjawab pertanyaan Briant namun Mawar berkata "buka bajumu!"
"Apa!"
__ADS_1
"Buka bajumu Bri!"
Briant tercengang dengan perkataan Mawar, dia tak menyangka bahwa kekasihnya berpikir ke arah.. padahal situasi lagi begini.
"Jangan salah sangka.. aku hanya ingin tau apakah kamu adalah naga dari pasangan phoenix" kata Mawar.
Mendengar penjelasan sang kekasih membuat Briant malu sampai telinganya memerah, namun Briant segera menetralkan hatinya agar tidak diketahui sang kekasih.
Briant membuka pakaiannya dan Mawar mengamati sudut-sudut tubuh Briant depan belakang samping namun hasilnya nihil tidak ada tanda naga di tubuh Briant, harapan yang sebelumnya ada kini sirna kembali.
"Bri.. ternyata kamu bukan Naga pendamping phoenix" kata Mawar dengan lesu.
Briant menarik tangan Mawar agar dusuk mereka berdekatan, diraihnya kedua tangan itu dan digenggamnya sambil berkata "tidak apa-apa, apakah kamu siap hidup bersamaku meskipun kita tidak hidup lama didunia ini my dear.."
Mawar menganggukkan kepala dan berkata "ya"
"Kalau begitu sudah diputuskan bahwa kita tetap bersama apapun yang akan terjadi nantinya" kata Briant.
"Lalu bagaimana dengan penerus Ayahanda Bri.." tanya Mawar.
"Jangan hawatirkan hal itu, untuk penerus Raja Kahyangan bisa kita turunkan kepada anak kita nantinya, bagaimana menurutmu?"
Mawar mengangguk tanda setuju
__ADS_1