
Di hutan kematian. Semua hewan patuh kepada Mawar dan Briant.
"Ini aneh, aku dulu sering datang kemari namun tak ada satu pun hewan yang muncul. Tapi lihatlah.. banyak hewan yang kita temui di sepanjang jalan yang kita lewati."
"Benarkah Bri.."
"Dari pertama aku terbangun dari tidur panjang ku banyak hewan yang menghuni hutan ini Bri? atau memang mereka tidak menampakkan diri mereka di depanmu?"
"Briant mengerutkan dahi merasa heran."
Mawar memanggil singa yang kebetulan ada didekatnya.
"Bolehkah aku bertanya kenapa kalian hanya menampakkan diri dari ku saja selama ini?"
"Karena anda bagaikan ibu bagi kami Nona sedangkan kepadanya kami merasa takut karena ia adalah Raja kami."
Baik Mawar dan Briant terkejut mendengar perkataan hewan singa. Apalagi para hewan di hutan kematian bisa berbicara layaknya manusia dan Briant adalah Raja mereka.
Mawar menatap Briant dengan tanduk di kepalanya, mengamati sosok Briant dengan seksama. Meskipun ia semakin tampan dengan pakaian seperti itu tapi menurut Mawar dua tanduk di kepalanya itu sangat menggangu.
__ADS_1
"Bri sepertinya kamu memang Raja mereka" sambil mengulirkan tangan memegang tanduk di kepala Briant.
Briant yang baru menyadari jika ia mempunyai tanduk terkejut. Tangannya memegang tanduk yang ada di kepalanya.
"Apakah ini bisa hilang?" tanyanya dengan tangan menunjuk tanduk dikepalanya.
Mawar juga gak tau apakah tanduk itu bisa hilang, ia bertanya pada singa disampingnya.
"Singa apakah tanduk itu bisa hilang?"
"Bisa Nona, dengan pikiran fokus dan niatan untuk menghilangkan tanduk."
Briant mencoba saran dari singa.
Briant dan Mawar nampak lega, dengan tidak adanya tanduk Briant tidak nampak menakutkan lagi.
Setelah lama berjalan mengelilingi hutan kematian, keduanya kembali ke goa. Briant dan Mawar berjalan menuju air terjun. Sesampainya di air terjun, Mawar melambaikan tangan dan masuk ke dalam bersama Briant.
"Bri aku mau mandi dulu."
__ADS_1
Briant yang mendengar perkataan Mawar pipinya memerah, bagaimana pun tempat ini tidak ada batas sang bisa menutupi.
Mawar tersenyum mengerti apa yang terjadi pada kekasihnya. Mawar berjalan mendekati kolam dengan bunga Mawar mengambang di permukaan. Tangan Mawar melambai seketika itu ada dinding sekat yang membatasi ruang tersebut.
Briant terkekeh menertawakan dirinya sendiri lantaran berpikiran yang tidak-tidak.
"Aish.." katanya sambil menepuk kepalanya.
Briant menunggu Mawar selesai mandi dengan tiduran di atas kasur gantung. Tak lama kemudian Mawar keluar dengan menggunakan baju tipis berwarna merah.
Mawar nampak menggoda memakai baju itu, dengan rambut tergerai basah wangi bunga Mawar menguar dari tubuhnya.
Gleg.. jakun Briant naik turun melihat penampilan Mawar yang begitu **** menurutnya.
"Bri.. mandilah kamu akan merasa segar."
Tanpa menjawab Briant berlari masuk ke kolam untuk mandi. "Astaga.. hampir saja aku kebablasan gak bisa ngontrol diri. Pernikahan kami harus segera dilaksanakan secepat mungkin, bahaya ini." kata Briant pada dirinya sendiri.
Briant menjalankan ritual mandi namun yang terjadi pikirannya membayangkan Mawar yang kini tengah mandi bersamanya. Aroma Mawar yang tertinggal di kolam memperparah hasratnya untuk bisa dituntaskan.
__ADS_1
Briant yang biasanya mandi hanya sebentar, kini mandi sampai satu jam lamanya.
Mawar yang telah berganti gaun menunggu Briant keluar heran kenapa lama sekali hingga ia ketiduran menunggu Briant selesai mandi.