Deliverance Love

Deliverance Love
54


__ADS_3

Di bumi tengah malam.


Hutan nampak gelap gulita. Dalam kegelapan Ayahanda dan Ibunda Mawar berlari tak tentu arah. Keduanya nampak ketakutan. Ibunda Mawar yang tengah berlari terjatuh tersandung ranting pohon yang menjalar di tanah.


"Aaaaa.." jeritnya karena terkejut dan ketakutan.


Ayahanda Mawar berhenti membantu Ibu Mawar, namun kaki Ibu Mawar tersangkut dan sulit untuk dilepaskan. Sang Raja terus berusaha untuk melepaskan kaki istrinya dari jeratan namun gagal.


Keduanya bertambah panik ketika sesosok berjubah hitam semakin mendekat.


"Suamiku lari lah, selamatkan dirimu tinggalkan aku disini."


"Tidak, aku akan berusaha mengeluarkan kaki mu dari jeratan akar."


Raja terus berusaha mengeluarkan kaki Ratu namun jarak laki-laki berjubah hitam semakin dekat dan dekat hingga jarak mereka tinggal satu langkah.


Laki-laki berjubah hitam mengayunkan pedang ke arah Raja. "Sraaat.." Raja tertusuk pedang pada bagian dada. Laki-laki berjubah hitam terus mengayunkan pedang berulang kali pada tubuh Raja Q1hingga sang Raja tidak bernafas lagi.


Raja meninggal dengan banyak luka ditubuhnya dengan berlumuran darah di seluruh tubuhnya.

__ADS_1


Raja terjatuh tergeletak di tanah.


Ratu yang menyaksikan kematian suaminya menangis histeris. "Tidak.. suamiku.." jeritnya dengan keputusasaan.


Laki-laki berjubah mendekati Ratu tangannya terayun siap untuk membunuhnya. "Sraaaat.." laki-laki berjubah hitam terus menusuk tubuh Ratu tanpa ampun hingga Ratu menghembuskan nafas terakhir.


Keduanya meninggal dengan mengenaskan di dalam hutan.


"Tidak..! Ayahanda.. Ibunda.. Mawar menangis tersedu-sedu dengan mata terpejam.


Briant yang baru pulang kerja saat ia berjalan di tangga menuju kamar terkejut mendengar suara tangisan dari dalam kamarnya. Ia berlari menuju kamar dimana Istrinya berada. Briant membuka pintu kamar dan masuk ke dalam mendekati Mawar yang tertidur dengan tangis dan air mata yang keluar hingga membasahi bantal yang ia kenakan.


Briant membangunkan Mawar dengan memanggilnya dan menggoyang-goyangkan tubuh Mawar. "Sayang bangun.. sayang bangun.. sayang..!"


Mawar terjaga dari tidurnya, ia membuka mata dan mendapati Briant ada di depannya. Mawar beranjak dari tidur dan memeluk Briant yang ada di depannya.


Briant menepuk-nepuk punggung Mawar untuk menenangkannya.


Beberapa saat kemudian Mawar nampak tenang kembali. "Apa yang membuatmu tidur mu hingga menangis tersedu-sedu honey..?" tanya Briant.

__ADS_1


Mawar menguraikan pelukan, keduanya saling menatap "Aku bermimpi ada seseorang yang membunuh Ayahanda dan Ibunda hingga mereka meninggal dengan mengenaskan namun aku tak bisa mengenali siapa pelakunya, ia mengenakan jubah hingga menutupi wajahnya." kata Mawar dengan air mata kembali berlinang di kedua pelupuk matanya.


Briant menghapus air mata yang keluar dengan ibu jari tangannya. "Itu hanya mimpi honey.. tenanglah, belum tentu itu kenyataan. Atau begini saja, aku akan mengutus Ace pergi ke Kahyangan untuk memeriksa keadaan di sana."


Mawar mengangguk setuju dengan apa yang dikatakan Briant. Hatinya masih begitu gelisah entah kenapa ia merasa mimpi yang ia alami nampak seperti kenyataan. Mawar kembali menghamburkan tubuhnya pada Briant untuk mencari ketenangan di sana.


Briant memeluk Mawar mengeratkan pelukan dengan satu tangan dan tangan lainnya meraih hand phone didalam sakunya.


Tut.. telfon tersambung.


"Halo Bos.." sapa sekertaris Briant di balik telfon.


"Ace.. pergilah ke Istana Kahyangan, selidiki terlebih dahulu bagaimana situasi di sana setelah itu segeralah kembali."


"Bos tapi bagaimana cara saya pergi ke sana?"


"Untuk itu datanglah kesini sekarang!"


Tut sambungan telepon terputus. Briant meletakkan handphone nya kembali di dalam saku.

__ADS_1


Nafas Mawar berhembus dengan teratur dan ia kembali tertidur di dalam pelukan Briant. Dengan perlahan Briant menidurkan Mawar kembali di ranjang dengan perlahan. Tangan Briant menarik selimut untuk menutupi tubuh Mawar.


__ADS_2