
Mereka semua berkumpul dengan menengadahkan kepala ke arah langit melihat pergerakan sang naga yang tengah berputar-putar di angkasa.
Sang Naga turun ke bumi di belakang Briant dan Mawar.
"Wahai rakyatku penghuni hutan kematian..! malam ini adalah malam bulan purnama, malam sakral bagi kaum Iblis untuk memperkuat dan menyempurnakan kekuatan mereka. Untuk itu aku dan Istriku membutuhkan bantuan kalian untuk menyerang Istana Kahyangan yang sekarang dalam kekuasaan Iblis yang tengah bersemayam dalam tubuh Bintang" pidato Briant.
"Graauw.." suara hewan saling bersautan bersamaan dengan perubahan wujud mereka menyerupai manusia.
"Kami siap menyerang Istana Kahyangan bersama dengan anda Tuanku" jawab Lion pemimpin para siluman di hutan kematian.
Semua hewan di hutan kematian tunduk patuh pada Mawar dan Briant.
"Mari kita berangkat!" kata Briant.
"Tuanku.. tidakkah kita perlu membawa para prajurit kita di bumi?" tanya Ace.
"Tidak Ace.. yang kita hadapi bukanlah manusia biasa dan jika kita membawa mereka akan terjadi masalah kedepannya karena mereka bisa terkena pengaruh dari Iblis dan pada akhirnya akan berubah menjadi Iblis."
Ace menganggukkan kepala mengerti penjelasan Briant.
__ADS_1
Briant menggerakkan tangannya membentuk portal melingkar dengan ukiran rumit mengelilinginya. Briant, Mawar, Ace dan para penghuni hutan kematian masuk ke dalam portal.
Portal menghilang setelah mereka semua masuk kedalam.
_______
Di Istana Kahyangan.
Bintang merafalkan mantra dengan tangan diangkat keatas diikuti oleh seluruh pasukannya. Suara mantra bergema di seluruh Istana.
Cahaya bulan jatuh turun dengan posisi yang hampir memasuki cawan yang ada di depan Briant.
Di sisi lain, portal muncul di udara. Briant keluar dari sana diikuti Mawar, Ace dan para pasukan. Setelah semua keluar dari dalam portal portal tertutup dan menghilang.
Briant diikuti Mawar, Ace dan para pasukan segera berjalan menuju Istana Kahyangan. Sesampainya mereka di Istana Kahyangan mereka bergerak sesuai strategi pengaturan yang telah ditetapkan untuk melakukan penyerangan.
Waktu terus berjalan cahaya rembulan bergerak sedikit demi sedikit ke dalam wadah cawan yang ada di depan Bintang.
Para pasukan Briant bergerak dengan berpacu waktu. Mereka masuk ke dalam Istana dari berbagai posisi.
__ADS_1
Peperangan terjadi antara prajurit penjaga Istana Bintang dengan prajurit Briant.
Satu persatu prajurit penjaga Bintang tumbang satu persatu.
Tiupan terompet terdengar menggema di seluruh penjuru Istana. Bintang berdiri dari duduknya diikuti para bawahannya yang juga ikut berdiri.
Ekor mata Bintang menajam ke arah pengawal yang berada di dekatnya.
Pengawal yang mendapat tatapan menakutkan dari Bintang membungkukkan badan dengan gemetar ketakutan sambil berkata "akan saya bereskan Yang Mulia."
Bintang mengibaskan tangannya sebagai jawaban "jangan sampai ada yang mengganggu upacara ini!" kata Bintang memperingati bawahannya.
Pengawal berlalu pergi dari upacara sedangkan Bintang dan bawahannya duduk bersila melanjutkan kembali apa yang mereka lakukan.
Waktu terus berjalan cahaya rembulan terus bergeser mendekati posisi tengah cawan. Bintang dan para bawahannya larut dalam prosesi upacara untuk memperkuat dan menyempurnakan kekuatan mereka. Upacara berlangsung dengan hikmat.
Sedangkan di sisi lain pertempuran berlangsung dengan sengit. Para hewan siluman yang telah menjelma menjadi manusia menumbangkan setiap pasukan Bintang.
Pertahanan Bintang semakin melemah, para pasukan Briant berhasil menembus penjagaan dan mereka menuju aula tempat berlangsungnya upacara.
__ADS_1