
Sosok hitam yang tersenyum karena ia bisa melihat Dewi Mawar, tak lain adalah Dewa Bintang yang telah keluar dari penjara, lebih tepatnya melarikan diri dari penjara dingin.
Lalu kenapa tidak ada yang mengetahui jika Dewa Bintang telah meninggalkan penjara dingin yaitu karena siasat yang telah ia jalankan.
Penjara dingin adalah tempat yang paling tidak diperhatikan karena siapapun yang masuk kesana pasti akan mati. Oleh karena itu banyak pihak yang tidak waspada dan hal itu mempermudah langkah Dewa Bintang menyusun rencana.
Dewa Bintang menggantikan tubuhnya dengan tubuh lain yang memiliki kemiripan dengan dirinya, karena kondisi penjara dingin yang mengakibatkan hancurnya tubuh siapa saja yang berada disana hal itu mempermudah Dewa Bintang, sehingga ia siasat yang ia susun tidak akan ketahuan.
Mayat yang menggantikan Dewa Bintang ditemukan dalam kondisi membusuk, sehingga berita kematian Dewa Bintang ditetapkan dan dilaporkan kepada Yang Mulia Raja dan Ratu.
Rencana Dewa Bintang berjalan dengan lancar.
Dalam persembunyiannya Dewa Bintang memperkuat diri dan membuat pasukan iblis. Persiapan yang ia lakukan mendekati sempurna, sehingga ia tidak bisa turun langsung menampakkan dirinya.
"Tuan rencana yang kita susun pada acara festival telah gagal, Istana Kahyangan sekarang dalam kondisi stabil" kata mata-mata yang Dewa Bintang tugaskan.
"Ya.. itu hanyalah permulaan abaikan saja" kata Dewa Bintang.
"Kalau begitu saya pamit undur diri" kata sang mata-mata.
Briant hanya melambaikan tangannya sebagai tanda jawaban, dan mata-mata itu melesat pergi dalam kegelapan.
Keinginan Bintang untuk membuat posisi Mawar terjepit dan pada akhirnya mau menikah dengannya telah gagal. Dewa Bintang mengetahui bahwa ia memiliki rival yang kuat yang tidak dapat ia remehkan. Apalagi ia pernah kalah darinya saat hari pernikahannya dengan Mawar, ingatan Dewa Bintang berputar pada hari pernikahan yang gagal karena calon istrinya Dewi Mawar dibawa pergi dan ia kalah telak dan berakhir di penjara dingin.
Kedua tangan Dewa Bintang terkepal amarah memenuhi dirinya, matanya berubah menjadi merah dengan wajah yang menyeramkan ketika ia teringat kejadian itu, ia bersumpah akan menghancurkan siapapun untuk mendapatkan tahta dan Dewi Mawar.
Apapun itu akan ia lakukan untuk mencapai tujuannya.
Di sisi lain, Burung Garuda yang di kendarai Mawar dan Briant mendarat di mansion Briant, Briant turun dengan menggendong Mawar.
"Kya.." jerit Mawar. "Turunin Bri!" kata Mawar lagi.
Briant terus melangkahkan kakinya menuju mansion, tanpa mempedulikan permintaan Mawar.
"Bri.. turunin, aku bisa jalan sendiri!" pinta Mawar lagi.
Briant tersenyum mendengar permintaan Mawar, "my dear.. didepan banyak sekali orang apa kamu tidak malu terus berteriak dari tadi?" kata Briant.
Mawar mengeratkan pelukannya dan membenamkan kepalanya di dada Briant, kedua pipinya merona karena malu.
"Dengan pipi merona kenapa sayangku nampak semakin cantik" kata Briant dalam hati.
Briant terus melangkah menuju kamarnya, kedatangannnya disambut antusias oleh para pekerja disana.
"Selamat datang Tuan, nona" sapa kepala pekerja.
__ADS_1
"hem.." jawab Briant sambil menganggukkan kepala.
Setelah menaiki lift Briant telah sampai di kamarnya dan menurunkan Mawar di ranjang.
"Sudah tiba my dear.." kata Briant.
Mawar melihat sekeliling ruangan berwarna putih. "ruangan ini terkesan maskulin" kata Mawar dalam hati.
"Istirahatlah my dear.." kata Briant.
Briant membuka pintu pakaian dan mengambil pakaian dari sana dan berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Mawar hanya melihat segala tingkah laku Briant dari tadi, Briant yang merasa diperhatikan mendatangi Mawar dan mengecup kening Mawar.
Mawar mendapat perlakuan manis dari Briant terdiam dengan raut muka terkejut.
Briant berjalan menuju kamar mandi dan Mawar memegang pipinya dengan tangan kanan dan senyuman terkembang disana.
Suara gemericik air terdengar dari kamar mandi.
Mawar melihat sekeliling ruangan kamar, "kenapa ada foto Briant, apakah ini kamar Briant?" kata Mawar pada dirinya sendiri.
Tak berselang lama Briant keluar dari kamar mandi dengan memakai handuk dipinggangnya.
Briant mendekati Mawar dan memeluknya dari belakang. Tubuh Mawar menegang.
"My dear.. kenapa membalikkan badan?" tanya Briant.
Jantung Mawar berdetak semakin cepat begitu juga dengan Briant, Briant yang awalnya hanya menggoda Mawar kini ia sendiri termakan oleh godaan yang ia buat.
Briant menyadari kondisinya yang semakin berbahaya ia langsung melepaskan pelukannya pada Mawar, kedua nampak salah tingkah.
Mawar berlari memasuki kamar mandi setelah Briant melepaskan pelukannya. Setelah menutup pintu Mawar menyandarkan tubuhnya di pintu untuk menenangkan debaran jantungnya dengan tangan ditaruh di dada.
Tak lama kemudian Mawar keluar dari kamar mandi.
Briant telah memakai pakaiannya menunggu Mawar keluar. Tatapan keduanya tanpa sengaja bertemu dan keadaan menjadi canggung.
Untuk mencairkan suasana Mawar bertanya pada Briant "Bri.. apakah ini kamarmu?"
"Ya" jawab Briant.
"Lalu nanti aku tidur dimana, kalau ini kamarmu?" tanya Mawar.
"Tidur disini" kata Briant sambil menepuk-nepuk tempat tidur yang ia duduki.
__ADS_1
"Bri.. jangan aneh-aneh dech!" kata Mawar.
Briant berdiri dengan tangan bersedekap dan berkata "tidak ada yang aneh" kata Briant.
Mawar menghela nafas, "bisa bahaya jika kita tidur bareng terus, nanti kalau aku tekdung gimana" kata Mawar dalam hati.
"Bri.. kita belum nikah, bahaya tau jika kita setiap hari tidur bareng!" kata Mawar.
"Tidak bahaya my dear.. malah enak" jawab Briant dengan wajah tanpa dosa.
"Mawar capek ngadepin kamu Bri.. kan Mawar takut kita khilaf nanti" kata Mawar.
"Capek apanya my dear.. kita nikmati saja" kata Briant.
"Carikan aku kamar lain Bri..!" pinta Mawar.
"Gak ada kamar kosong my dear, yang tinggal disini banyak jadi gak ada kamar kosong" jawab Briant.
Mawar hanya menghela nafas mendengar perkataan Briant.
"Oke dech.. tapi janji ya jangan buat Mawar tekdung" pinta Mawar.
"Gak janji!" jawab Briant.
"Bri!!!" kata Mawar dengan intonasi tinggi.
"Baiklah.." kata Briant.
"Kalau begitu kita turun kebawah untuk makan" ajak Briant.
Keduanya turun kebawah menuju ruang makan. Sesampainya diruang makan berbagai macam makanan telah tersedia disana keduanya duduk di meja dan makan dengan diam.
Setelah selesai Briant mengajak Mawar berkeliling mansion. Dibawanya Mawar menuju taman bunga yang penuh dengan bunga Mawar merah yang tumbuh disana.
Mawar merasa sangat takjub akan keindahan taman di mansion Briant. Keindahan taman mengingatkan Mawar akan hutan kematian yang dulu menjadi tempat tinggalnya sampai ia bisa terbebas dan dapat keluar dari sana.
Briant menarik Mawar kedalam pelukan dan mencium bibir Mawar.
Mawar yang awalnya tidak siap menerima ciuman Briant tapi dengan perlahan mengikuti ritme ciuman Briant yang semakin liar.
Bunga Mawar yang tumbuh di taman bergerak dan berbunga, bunga yang awalnya masih berupa kuncup ikut bermekaran. Taman bunga itu menjadi semakin indah.
Mata Briant melirik kondisi disekitarnya yang tidak biasa, "apakah ini karena ia berciuman dengan Mawar sehingga bunga-bunga bermekaran."
Setelah nafas keduanya tersengal-sengal, Briant melepaskan ciuman diantara mereka, mengusap bibir Mawar dan berkata "aku mencintaimu my dear."
__ADS_1