Deliverance Love

Deliverance Love
28


__ADS_3

Setelah mendengar pernyataan Dewi Mawar, tamu undangan akhirnya bisa menerima status Mawar pantas sebagai pengganti dari Yang Mulia Raja.


Pihak yang menginginkan tahta merasa tidak senang akan fakta yang mereka dengar pada acara perjamuan malam itu. Peluang mereka mendapatkan tahta hilang.


Namun mereka tidak putus asa, ada seseorang yang berusaha menciptakan masalah pada acara malam itu.


"Kalau saya boleh tau, siapakah gerangan sosok yang mendampingi Dewi Mawar?"


Mawar yang mendengar pernyataan itu hatinya gelisah, karena Briant hanyalah manusia bumi. Karena derajat manusia sangatlah rendah di mata mereka. Briant merasakan kegelisahan Mawar, tangan Briant menggenggam tangan Mawar untuk menenangkannya.


Ketika tatapan mereka berdua saling melihat, Briant meyakinkan Mawar, seakan-akan tatapan Briant mengatakan jangan hawatir semua baik-baik saja, serahkan semua padaku, sambil mengelus tangan Mawar dengan jari jempolnya.


Briant berkata dengan lantang dan mengatakan "Perkenalkan nama saya El Lionel Briant saya tidak berasal dari langit, namun saya dilahirkan dan dibesarkan dibumi."


Perkataan Briant menimbulkan reaksi yang awalnya tenang kini kembali bergejolak.


Panglima perang Antaraksa berdiri dan berkata "jika kamu adalah manusia maka kamu tidak pantas menjadi pendamping Dewi Mawar."


"Oh ya.." kata Briant sambil berdiri. "Jika bukan aku sebagai pendamping Dewi Mawar lalu siapakah yang pantas sebagai pendampingnya?"


Briant tidak menahan auranya lagi, Panglima Perang Antaraksa berdiri sambil gemetar. Briant berjalan mendekati Panglima Perang Antaraksa, tangan Briant menyentuh dahinya dan Panglima Perang Antaraksa jatuh pingsan.


Semua orang terkejut melihat kejadian itu, para tamu undangan juga gemetar ketakutan.


"Saya ulangi lagi kalau bukan saya siapakah diantara tuan-tuan yang pantas mendampingi Dewi Mawar?" kata Briant.


Melihat respon mereka yang bungkam Briant merasa puas. Briant berkata "Dewi Mawar adalah milikku, istriku, siapapun yang menginginkannya maka hanya satu hal untuknya yaitu kematian".


Setelah mengatakan hal itu Briant kembali duduk ditempatnya.


Mawar merasa tenang, Briant benar-benar membuat Mawar bersandar padanya dengan sepenuhnya.


Gejolak yang tadinya memanas kini mereda kembali. Acara berlangsung dengan lancar, tibalah saatnya acara perjamuan, para tamu undangan dibawa ke acara perjamuan. Berbagai hidangan telah disiapkan.


Mereka semua menikmati hidangan dengan antusias. Acara pada malam itu telah usai dengan sempurna. Para tamu undangan kembali ke kediaman mereka masing-masing.

__ADS_1


Begitu juga Briant dan Mawar, Briant berjalan sambil membopong Mawar dan Mawar semakin mempererat pelukan dengan kepala yang bersandar di dada Briant.


Dalam dekapan Briant Mawar merasa aman dan nyaman. Mawar semakin nyenyak dalam tidurnya.


Briant melihat Mawar dalam gendongan terkekeh pelan, tingkah wanitanya sangat menggemaskan.


Briant mempercepat langkahnya menuju tempat dimana ia beristirahat, Briant sudah tidak perduli lagi dengan etika, lagian dia sudah mengumumkan kepemilikannya secara mutlak pada Mawar.


Jika calon mertuanya marah mengetahui mereka bersama dalam satu kamar, maka Briant akan langsung menikahi Mawar. Bukankah itu mempermudah langkahnya untuk segera memiliki Mawar seutuhnya.


Briant tersenyum kecil jika apa yang ia pikirkan jadi kenyataan.


Sesampainya mereka di kamar istirahat Briant, Briant merebahkan tubuh Mawar disisi ranjang. Briant mengambil air membersihkan tubuh Mawar.


Sungguh godaan yang sangat berbahaya kata Briant dalam hati.


Mawar tertidur dengan sangat menggoda, kulitnya yang halus seputih porselen menambah gejolak dalam diri Briant. Briant melepaskan baju Mawar satu persatu.


Glek.. jakun Briant bergerak hasratnya kian membara, juniornya bahkan telah berdiri. Dengan sekuat tenaga Briant menahan keinginannya itu.


Briant menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya, lima belas menit telah berlalu, Briant keluar kamar mandi dengan pakaian tidur dan masuk kedalam selimut dan tidur memeluk Mawar.


Keduanya tidur dengan lelapnya.


Disisi lain, hati seseorang tengah terbakar, ia tidak terima jika rencananya telah gagal. Sejak dalam acara perjamuan festival rakyat kedua tangannya terkepal dengan erat dikedua sisi tubuhnya.


Hatinya bergejolak dengan amarah yang membara. Rencananya untuk mendapatkan tahta dan Dewi Mawar gagal total. Namun ia tidak patah arang, ia akan terus merencanakan aksinya, "tunggu pembalasanku Briant, aku akan merebut Mawar dan tahtanya."


Siapapun pasti mendambakan Dewi Mawar, sosok yang sangat diidam-idamkan semua orang untuk dijadikan pendamping. Apalagi dengan adanya tahta yang membuat banyak orang ingin mendapatkannya.


Rencana licik segera didapatkannya kembali, ia tertawa didalam kediamannya, tawa yang sangat menakutkan siapapun yang melihatnya. Wajahnya seperti hantu sangat menyeramkan.


Tiba-tiba ada anak kecil, putra dari seorang dayang. Bola yang ia mainkan menggelinding dan berhenti didekat kaki sang Tuan. Anak kecil itu berlari mengejar bola dan mengambil bola yang berada didekatnya.


Setelah bola didapat, anak laki-laki itu mendongak melihat wajah yang menakutkan. Seketika itu ia menangis dengan histeris.

__ADS_1


Sang Ibu yang mendengar anaknya menangis segera mencari keberadaan anaknya dan mendapati anaknya di dekat Tuannya.


Hatinya bergetar dengan hebat, ia sangat ketakutan. Dengan tubuh gemetar pembantu itu menggendong anaknya dan memohon pengampunan sebelum ia pergi dari tempat itu.


"Jangan pernah kau ulangi apa yang telah terjadi, segera bawa anakmu pulang!" baik Tuan.


Setelah kepergian pembatu itu angin berhembus dengan kencang, suasana malam semakin menakutkan. Seseorang yang berdiri di aula yang tak lain adalah Panglima Perang Antaraksa juga merasakan ada yang berbeda.


Dengan tenaga dalam ia menahan tubuhnya agar tidak terbawa angin yang berhembus kuat, hembusan angin berangsur-angsur mereda. Nampak sosok dibelakang Panglima Perang Antaraksa, sosok yang mengenakan jubah hitam dengan topeng menutupi wajahnya, sosoknya nampak menakutkan.


Panglima Perang Antaraksa berbalik menghadap ke belakang melihat siapa yang berada dibelakangnya yang membuat bulu kuduknya merinding ketakutan seperti bertemu hantu.


Panglima Perang Antaraksa melihat sosok di belangkangnya penuh dengan aura iblis sangat terkejut.


"Siapa kamu, ada keperluan apa kamu menemuiku?." tanya Panglima Perang Antaraksa.


"Ha.. ha.. ha.. " tawa sosok itu dengan menggelegar, sangat menakutkan.


"Panglima Perang Antaraksa yang malang.." panggil sosok itu dengan tatapan meremehkan, kamu sedang bermimpi disiang bolong. Siapa kamu bisa bersanding dengan Dewi Mawar, sangat tidak pantas" kata sosok yang menyeramkan itu pada Panglima Perang Antaraksa.


"Kurang ajar berani kau menghinaku" jawab Panglima Perang Antaraksa.


"Siapa yang menghinamu, apa yang aku katakan adalah kenyataan bukan?" kata sosok itu dengan senyum menyeringai. Sosok itu merasa senang bahwa korban sudah masuk dalam jebakan yang ia rencanakan.


"Panglima Perang Antaraksa bahkan kekuatanmu tidak sebanding dengan Dewi Mawar apalagi dengan seseorang yang kini menjadi calon suami Dewi Mawar, bukankah yang aku katakan adalah sebuah kebenaran!" kata sosok itu.


Panglima Perang Antaraksa dalam hati membenarkan ucapan sosok itu namun ia mengingkari kebenaran akan ketidakmampuannya.


"Kurang ajar!" Panglima perang Antaraksa marah dan mengayunkan tangannya untuk memberi pukulan pada sosok itu, namun hanya menggunakan lambaian tangan panglima Perang Antaraksa terjatuh terhempas ke lantai.


"Bodoh!" kata sosok itu dengan menghina, sosok itu berjalan mendekati Panglima Perang Antaraksa dan mencengkram lehernya sambil berkata "kedatanganku kesini adalah untuk menawarkan kerjasama, aku akan membantumu mendapatkan Dewi Mawar beserta tahtanya" kata sosok itu.


Sosok itu melepaskan cengkramannya, Panglima Perang Antaraksa terbatuk-batuk.№


"Bekerja samalah denganku dan sebagai imbalan aku akan memberikan Dewi Mawar dan tahtanya"

__ADS_1


__ADS_2